
Selesai dengan permainannya, Lian yin membaringkan tubuh Yiwen, di ranjang. Seakan tubuhnya tak mau lepas darinya. "Makasih syang, kamu, memuaskan aku setiap hari. Sebelum kita punya anak. Aku ingin setiap hari, nanti kalau kita punya anak, ku gak bisa lagi seperti ini tiap hari, pasti anak kita akan ganggu nantinya. Jadi gak bisa leluasa nantinya." gumam Lian yin, menyilakan rambut Yiwen, yang menghalangi bibirnya.
"Iya, yang. Aku ingin secepatnya punya anak, meski dalam situasi bahaya. Aku tetap akan melindungi dia, sampai aku harus mengorbankan diri aku sendiri." Yiwen, membalikkan badannya, menatap ke arah Lian yin, sangat dekat, membuat hembusan napas berat mereka terasa jelas, dan semakin berpacu sangat cepat.
"Aku juga sama, aku merasa pasti akan lengkap, jika kita punya anak. Tapi gimana kalau kita periksa nantinya. kenapa kamu belum bisa punya anak" tanya Lian yin.
"Gak usah, aku percaya sama Tuhan. Dia pasti akan segera memberikan aku anak." gumam Yiwen, memeluk tubuh Lian yin, menyandarkan kepalanya di dada bidang Lian yin.
Drrt... Drtt..
Ponsel Lian yin, terdengar bergetar, ia segera meraih ponselnya. Tepat di samping ia berbaring, sembari tetap memeluk tubuh Yiwen, Lian yin membuka pesan dari seseorang yang belum tahu, siapa yang mengirimkannya pesan.
"Dari siapa syang?" tanya Yiwen, menatap ke arah ponsel Lian yin di atasnya.
"Dari Lay, bentar aku baca apa oesannya." ucap Lian yin, yang mukai memvca pesan dari Lay.
"Aku masih pergi sekarang, bersama debgan gadis kecil nyebelin itu. Kalau kalian kumpul, aku menyusul. Sekrang lebih penting memulangkan Amerta dulu. Sebelum tambah masalah baru nantinya." Lian yin membacakan pesan itu keras, agar Yiwen bisa mendengarnya, san dia tidak curiga dengannya.
"Soal Amerta, ku sudah tahu.Tadi aku bertemu Lay saat keluar daeu kamar, katanta memang mau bertemu dengan Amerta, mau mengantarkan dia pulang." gumam Yiwen.
Lian yin meletakkan ponselnya, ia menatap dada Yiwen yang menatang, ia tak memegangnya lagi. Mengusap lembut, sambil berbincang dengan Yiwen. Tentang masa depan bersama anaknya, dan rencana apa yangbakan ia lakukan selanjutnya.
------
Sedangkan Changmin, yang sudah hampir setengah jam, ia mandi. Dan Grace bahkan berendam sampai ketiduran di dalam bathup kamar mandi.
"Grace!!" panggil Changmin.
Ia membuka sedikit tirai yang menutupi kamar mandi. Menatap Grace yang masih tertidur di bathup.
"Grace, bangun!! Mana handuknya?" tanya Changmin.
"Emm.. Ambil sendiri." ucap Grace, yang masih malas membuka matanya.
Changmin, menatap sekelilingnya. Ia melihat handuk tepat di bekakang Grace. Dnegan segera ia mengambil handuknya san beranjak pergi, belum sempat, ia melangkahkan kakinya pergi, Changmin menatap wajah Grace, ia melihat wajah yang begitu cantik itu di depannya.
Changmin, mendekat ke arah Grace, menatap detai wajah indah Grace. "Kamu sangat cantik Grace, seandainya dulu aku tidak kenal Mei, dan lebih pertama bertemu denganmu. Pasti aku akan cinta mati padamu. Kamu cinta pertamaku," ucap Changmin, mengecup pipi Grace. Seketika Grace, membuka matanya. Menatap wajah Changmin yang begitu dekat dengannya.
"Aaaa..."
"Changmin, kamu mau ngapain," tanya Grace, menutupi tubuhnya.
"Aku gak macam-macam denganmu," Changmin, mengangkat tangannya ke depan, mengibaskan tangannya dan beranjak pergi.
"Aku akan ambilkan baju kamu," teriak Changmin, yang merasa sangat malu, ia beranjak keluar lebih dulu.
Dasar aneh, tapi sepertinya dia tadi mencium pipiku. Dan apa yang dia katakan tadi aku tidak begitu mendengarnya jelas.
Changmin mengetuk.pintu kamar mandi.
"Grace, ini baju kamu. Cepat pakailah." ucap Changmin. Di balik pintu.
Grace, beranjak bengkit dari dalam bathup, berjalan mengambil bajunya. Ia membuka sedikit pintunya, mengeluarkan tangan kanannya.
"Mana!!" ucap Grace.
__ADS_1
"Ini, ambilah. Aku tunggu kamu, jangan lama-lama." ucap Changmin.
Grace segera mengambil, an emnutup kembali pintunya. "Oya, Changmin. Kamu salin file yang sudha berhasil kamu resta kemarin. Nanti serahkan apda Lian yin." ucap Grace di dalam kamar mandi, sembari memakai bajunya.
"Baiklah!!"
Selesai memakai baju, ia beranjak keluar. Ia menubggu Cgangmin yang masih nenyalin file. "Gimana sudah?" tanya Grcae, duduk di sofa.
"Bentar lagi!! 1 menit lagi." ucap Changmin.
"Ini udah selesai, ayo sekarang kita pergi. Nanti takutnya mereka lama nunggu kita."
Cgangmin, meraih tangan Grace, menggenggamnya erat, berjalan keluar.
----
Selesai bersiap, semua melangkahkan kakinya beranjak menuju ke ruang kerja Lian yin. Dan Changmin dengan Grace serta Lyli sudah duduk lebih dulu. Tinggal menunggu Yiwen dan Lian yin. Yang entah masih kemana, mereka sangat lama datangnya. Bahkan Changmin dan yang lainnya sudah sepuluh menit menunggu.
"Kalian lama menunggu?" tabya Lian yin, berjalan menggenggam tangan Yiwen masuk ke dalam ruang kerja.
"Iya, tapi sepertinya ada yang beda dari Yiwen?" tanya Lyli, memastikan setiap detail tubuh Yiwen.
"Tumben kamu pakai gaun," tanya Changmin.
"Iya, karena lagi ingin saja. Ini juga keinginan, laki-laki di sampingku" jawab Yiwen, menyenggol bahu Lian yin.
-----
Lian yin dan yang lainya kumpul di ruang kerja, tanpa kecuali Yiwen, ia sudah duduk santai bersandar di sofa, dengan ke dua tangan bersendekap menatap ke arah Lian yin.
Sudah dua hari berlalu, keadaan Grace perlahan sudah mulai pulih, obat dari dokter mampu meresap dalam tubuhnya dengan baik. membuat perlahan tubuh mungilnya itu terlihat lebih bugar dari biasanya. Dan Changmin juga tak lepas selalu membantunya, ia dengan tulus merawatnya.
Suasana di ruangan tersebut, yang semula merenggang santai, kini berubah menjagi tegang. Raut wajah mereka semua berbuah dalam waktu beberapa detik saja. Bebeda dengan Yiwen yang jauh lebih santai, dia memang sangat santai dari pada yang lainnya.
Raut wajahnya dua hari ini terlihat sangat bahagia, semenjak bisa memuaskan Lian yin, entah kenapa hatinya merasa tenang dan lega. Apalagi jika dia punya anak nantinya.
“Yin, kita harus segera bertindak sekarang?” ucap Grace, yang sedang duduk di sofa, samping Lyli.
“Iya, lebih baik kita harus bertindak lebih cepat dari mereka. Aku gak mau jika banyak korban nantinya. Mereka bukan orang biasa.” Sambung Lyli.
“Karena memang dia bukan orang biasa, kita harus lebih hati-hati dalam nertindak. Jangan langsung terus terang masuk dalam lingkungannya, atau bahkan terang-terangan untuk menyerang. Ini sangat, berbahaya!” saut Lay, yang semual diam, memikirkan cara apa yang akan ia lakukan. Ia mulai membuak suaranya, mentap ke arah Lyli.
“Benar kata Lay, kita tidak boleh ceroboh.” Sambung Lian yin.
“Terus apa yang akan ita lakukan, mereka bahkan sudah berani terus terang menyerang kita. Apa aku ada cara lain, agar mereka segera pergi dari kita.” Ucap Changmin.
Lian yin mentap ke arah Yiwen, dengan piosisi duduk yang masih sama seperti tadi. Dengan oandangan kosong, dan senyum tipis terukir di bibirnya.
“Yiwen!” panggil Lian yin, membuat semua mata mengarah pada Yiwen.
“Ada apa?” tanya Yiwen, dengan nada santainya.
“Apa kamu dengar apa yag kita bicarakan tadi?” tanya Lian yin, mentap curiga pada istrinya itu.
"Apa sih, Yin. Masalah begitu saja di bikin pusing. Aku yang akan masuk ke dalam rumah Jack.” Ucap Yiwen, membuat semua mata tercengang dengan keputusan tiba-tiba darinya.
__ADS_1
“Apa kamu sudah gila, Yiwen?” umpat Grace, tak percaya dengan keputusan Yiwen, yang menurutnya akan membahayakan dirinya.
“Kamu sangat ceroboh, aku gak kan biarkan kamu masuk ke sana.” Ucap Lian yin tegas.
“Kenapa, apa kamu meragukan acktingku?” tanya Yiwen, berjalan mendekati Lian yin dan duduk di dekatnya.
“Yiwen! Lebih baik kamu pikirkan dulu, jangan bertindak bodoh, biar aku saja yang akan menyusup ke sana.” Sambung Changmin.
“Apa kamu mau menyerahkan diri kamu jika kamu masuk ke sana. Di sana semua penjagaan sangat ketak, dari setiap sudut rumah.” Jawab Yiwen, menatap ke arah Changmin.
“Dengarkan penjelasanku dulu, aku gak mungkin tertangkap, kamu tahu posisi aku apa, aku masih dalam status agen intelijen, da aku punya kartu anggota khusus dan pasti akan dengan mudah masuk ke sana melewati para penjaga.” Ucap Yiwen, mulai menjelaskan. Ia kini memasang wajah seriusnya.
“Tapi sama saja, Jack sudah tahu kalau kamu istri aku,” ucap Lian yin.
Yiwen menghela napasnya, “Kenapa kalian semua belum juga paham. Aku masuk itu sebsgai tamu, tidak diam-diam. Dan sudahlah, aku tidak akan tertangkap olehnya. Percaya dulu pada acting aku nantinya.” Jelas Yiwen, emntap ke arah Lian yin.
“Tapi apa kamu yakin?” tanya Lyli memastikan.
“Aku yakin! Sangat-sangat yakin!” jawab tegas Yiwen.
“baiklah, aku akan bantu kamu nantinya.” Ucap Grace.
"Biarkan aku sendiri, jika kamu ikut ayah kamu pasti tahu. Kalau kamu ada di sini, apa kamu mau pulang?” tanya Yiwen.
“Dengar dulu!!” ucap Grace. “aku belum menjelaskan pada kalian. Aku sudah meretas semua data di sana, jadi kita akan mudah jika menyusup masuk untuk tujuan apa, aku hanya ingin kamu mengambil sesuatu yang jadi hak kamu di sana.” Ucap Grace. Membuat semua orang di sana menatapnya bingung.
“Mengambil sesuatu apa?" tanya Lian yin, mulai mendekatkan tubuhnya ke depan.
“kamu mencari sebuah potongan peta itu kan. Merekalah yang sudah berhasil membawanya. Dan sekarang Jack menyembunyikan di suatu tempat.” Jelas Grace.
“Tapi itu sangat berbahaya bagi Yiwen.” Sambung Lay.
“Tidak!! Semua akan berjalan dengan sempurna nantinya.” Saut Lyli, yang semula diam menjadi pendengar yang baik, ia mulai mengeluarkan suaranya.
“Maksud kalian?” tanya Yiwen, yang bingung dengan ke dua teman barunya itu.
“Kita akan bantu kamu dari sini, jika kita ikut maka akan berbahaya juga bagi keselamatan kita semua. Jadi Lyli akan pasangkan semua camera kecil yang bakan tidak akan terdeteksi mata manusia, dia akan menyelipkan di baju kamu, dan semua baju kamu.” Ucap Grace menjelaskan.
“Dan ingat, camera itu juga bisa mendengarkan apa yang kamu biacarakan, jadi kita bisa memantau dari jauh. Saat kamu dalam bahaya kita bisa langsung bertindak nantinya.” Sambung Lyli.
Yiwen mengangguk pelan, seakan dia sudah peham dengan penjalsan dua teman wanitanya itu. Dengan senyum tipis. “Baiklah, aku akan segera bergerak,” ucap yiwen.
Lian yin memegang tangan Yiwen, seakan ia tidak mengijinkan Yiwen untuk pergi, “jangan pergi!!” ucap Lian yin.
Yiwen memegang lengan Lian yin, "Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja. Aku yakin pasti bisa melakukan semua tugasnya dengan segera.” Ucap Yiwen, mencoba meyakinkan Lian yin.
“Yiwen benar, jangan khawatirkan dia, percayalah dia pasti bisa melakukan semuanya, dengan baik, lagian kalian bisa saling berhubungan nantinya. Aku sudah membuatkan sebuah gelang transparan yang akan tampil, seperti layar ponsel di tangan kamu, dan kamu bisa kirim pesan dan vidio call sesukamu.” sambung changmin.
“Aku sudah punya, dan sekarang masih aku simpan dengan baik. Dan lebih baik kalian buatkan Lian yin dan untuk kalian semuanya juga, aku sudah punya banyak perlatan canggih juga untuk jaga diri aku, dan aku juga bisa minta bantuan ayah aku nantinya.” Ucap Yiwen, mentap ke arah teman-temannya.
Lian yin menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba untuk bisa menerima keputusan yang di ambil oleh Yiwen, dan gimanapun juga dia harus membantu Yiwen nantinya. “Baiklah, aku biarkan kamu pergi, tapi ingat jangan ceroboh, dan kamu harus selalu menguhubungi aku nantinya, jika kamu dalam bahaya, atau situasi terpepet.” Ucap Lian yin, memegang lengan Yiwen, menatap dalam mata wanitanya itu. Dengan wajah penuh kekhawatiran dalam dirinya.
Meski ia merasa sangat berat untuk melepaskan Yiwen pergi, tapi keinginan istrinya itu sangat kuat. Ia tidak bisa menolaknya lagi.
“Baik, sekarang kita akan rencanakan yang liannya, untuk membantu Yiwen nanti. Jangan biarkan dia bertindak sendiri.” Ucap Grace.
__ADS_1
Changmin menghela napasnya, ia sebenarnya tidak tega, membiarkan seorang wanita masuk sendiri ke dalam kediaman musuh. Tapi sepertinya melihat wajah Lian yin yang mulai mengijinkan istrinya itu, ia tidak bisa mencegah Yiwen.