Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Gawat


__ADS_3

Lian yin yang semula menatap ponselnya melihat pesan dari Lie Wei. Ia meletakkan kembali ponselnya di meja kecil samping ranjangnya. Ia beranjak naik ke ranjang, lelaki itu merasa kasihan melihat Yiwen yang terbaring ketakutan di balut selimut menutupi sekujur tubuhnya.


Lian yin berbaring di samping Yiwen menutupi sekujur tubuhnya juga dengan selimut. Ia merengkuh tubuh Yiwen Sangat erat. "Jangan takut ada aku" gumam Lian yin dari dalam selimut itu. Ia mencoba menenangkan rasa takut yang menjalar di tubuh Yiwen.


Glurr...glur...


Suara petir itu semakin keras tubuh Yiwen gemetar seketika. Ia spontan memeluk tubuh Lian yin di sampingnya. "Aku takut..." rintihnya. yiwen semakin merengkuh erat tubuh Lian yin. Seolah menarik kata-katanya tadi jika tidak mau berbaring berdua dengan Lian yin. "Jangan takut! Ada aku syang" bisik Lian yin. Mengusap lembut kepala Yiwen.


Yiwen perlahan mulai tenang, ia yang merasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat tubuh Lian yin. Dan mulai tertidur pulas dengan tangan masih merengkuh erat tubuh Lian yin.


Lelaki itu terus mengusap lembut rambut Yiwen mencoba membuat ia tenang dan tertidur lelap.


Keesokan harinya sinar matahari sudah menembus sela-sela lubang kecil selambu yang menutupi kaca. Yiwen yang terasa terganggu dengan sinar matahari itu ia mulai membuka matanya. Melihat di sampingnya ada Lian yin yang merengkuh erat tubuhnya, sontak ia beranjak duduk di ranjang. Meleparkan tangan Lian yin menjauh darinya.


"Lian yin!! Kenapa kamu di sini?" Tanya Yiwen. Suara keras Yiwen membuat Lian yin tersadar dari tidurnya. Ia perlahan mulai membuka matanya. "Ada apa sih?" gumam Lian yin dengan tangan mengusap ke dua matanya yang terlihat masih sangat susah terbuka.


"Kamu turun kenapa ada di sini" ucap Lian yin.


Drrttt...drtt.. ponsel Lian yin bergetar membuat Lian yin tak menggubris perkataan Yiwen dan lebih memilih memandang ponselnya.


Sebuah pesan masuk dari Ley. "Lee dan Yhing yhi ternyata berhasil kabur. Benar seperti dugaanmu. Dan sekarang aku sudah suruh orang untuk mencari di mana mereka berada. Tapi setiap beberapa jam lalu salah satu orang kita melaporkan jika Lee berada di pesawat yang akan menuju ke Italia."


Pesan itu seketika mengejutkan dirinya. "Arrggg... Ini benar-benar gawat, di saat seperti ini dia akan datang." decak kesal Lian yin.


Yiwen yang masih duduk di ranjang sampingnya, menatap ke arahnya bingung. "Ada apa?" tanya Yiwen penasaran.


Lian yin menatap Yiwen dengan tangan memegang pundaknya.


"Tawanan yang kemarin aku ceritakan dia kabur dan sekarang dia dalam perjalanan kemari" ucap Lian yin memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.


Yiwen yang semula kesal dengan Lian yin, ia semakin mendekatkan duduknya, memegang pundak suaminya itu. Sebagai istri ia juga harus bisa menenangkan hati suaminya yang lagi banyak masalah sekarang. "Tenanglah, aku sudah tidak takut lagi berhadapan dengan Lee. Selagi masih ada kamu aku akan siap menghadapi apapun"ucap Yiwen membuat Lian yin ternganga tak percaya. Subuah kata-kata yang pernah Yiwen dulu ucapkan.


Yiwen menutup melutnya ia merasa tak sadar mengucapkan kata itu. "Apa yang kamu ucapkan tadi?" tanya Lian yin mematiskan.

__ADS_1


"Entah apa yang aku bicarakan tadi seolah kata itu sudah tersimpan lama di otakku. Maaf sebelumnya" ucap Yiwen menunduk.


Lian yin tersenyum lebar, di saat seperti ini sosok. Wanita yang dulu bersamanya dan sekarang sudah jadi istrinya itu. Perlahan ingatanya mulai kembali. Ia berharap ingatan itu cepat kembali dan bisa bersamanya melupakan semua dunia mafia.


Lian yi langsung memeluk erat yiwen. "Kamu sudah ingat Yiwen"ucap Lian yin membuat Yiwen bingung. Wanita itu spontan melepaskan pelukan Lian yin.


"Udah ingat apa?" tanya Yiwen bingung.


"Udah ingat jika kamu akan selalu berada di sisiku"ucap Lian yin penuh rasa gembira meluap-luap dalam dirinya.


"Soal itu, udah lupain sekarang aku mau mandi dulu" ucap Yiwen mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah kamu cepat mandi sana" ucap Lian yin mengusap rambut Yiwen.


"Iya.." Yiwen tersenyum dan beranjak berdiri.


"Perlu aku temenin gak" gumam Lian yin.


"Gak perlu aku bisa kok mandi sendiri"ucap Yiwen.


"Tetap saja gak perlu"ucap Yiwen langsung berjalan masuk ke kamar mandi.


Kenapa Lian yin jadi sering berpikir mesum sih, padahal baru saja menikah. Tapi apakah istri harus melayani suaminya terus ya nantinya. Pernikahan yang terjadi bukan atas dasar mengenal. Tapi antara yakin dan ragu menyelimuti hatiku tentang Lian yin. Gumam Yiwen dalam hatinya.


Lian yin yang berada di kamar segera menelfon Ley. Ia ingin memastikan gimana kelanjutan pencarian Lee dan Yhing yhi. Dia tak mau mereka berdua lolos dari genggamannya. Karena meraka pantas untuk di hukum dan di adili. Mereka juga sudah bersekongkol untuk menghancurkannya.


"Ley gimana ?" tanya Lian yin.


"Mereka sudah dalam penerbangan ke Italia. Dan kamu harus hati-hati mereka membawa senjata hasil curian dari ruang senjata kita." ucap Ley yang seakan sudah tau apa maksud dari perkataan Lian yin.


"Aku sekarang lebih mengkhawatirkan Yiwen . Pasti mereka akan menyakiti Yiwen


Aku gak bisa tinggal diam kali ini. " ucap Lian yin.

__ADS_1


"Aku sebentar lagi akan menuju ke sana. Aku juga tak bisa tinggal diam jika mereka berani mengikuti kamu sampai ke sana. Apalagi kamu tanpa menggunakan ataupun membawa senjata sama sekali di sana"ucap Ley.


"Baiklah, gimana perkembangan Lie Wei dan Mei" tanya Lian yin.


"Mereka berhasil membuat perusahaan Lee terombang ambing. Dan sekarang tinggal menunggu dia menyerah. Tapi sebelum dia menyerah sepertinya dia akan melukaimu dan juga Yiwen di sana" ucap Ley.


"Baiklah, aku akan hati-hati di sini. Kamu suruh Lie Wei pantau terus perusahaan Lee" gumam Lian yin segera menutup telponnya.


Lama menunggu Yiwen mandi, Lian yin beranjak berdiri membuka selambu dan mentap pemandangan laut yang brgitu indah. Ia menarik tangannya ke atas merenggangkan ototnya yang terasa kaku sehabis bangun tidur.


"Yin kamu tadi telfon siapa" tanya Yiwen yang tiba-tiba sudah di belakangnya. Masih mengenakan handuk menutupi sekujur tubuhnya.


Lian yin menatap nakal ke arah tubuh yiwen. Wanita itu sadar dan langsung menutupi dadanya dengan ke dua tangannya.


"Apa yang kamu lihat?" bentak Yiwen melotot seketika menatap Lian yin.


"Lihat dikit saja gak boleh" ucap Lian yin.


"Gak boleh" ucap Yiwen tegas. "Lagian aku tadi kan tanya kamu tadi telfon dengan siapa?" Lanjut Yiwen.


"Iya..iya. aku tadi telfon Ley." jawab Lian yin datar "Apa kamu khawatir ya. Aku telfon dengan wanita lain"ucap Lian yin menggoda Yiwen, ia mencolek dagu manis wanita itu.


"Siapa juga yang khawatir, aku hanya tanya saja"ucap Yiwen kesal.


"Gak usah malu-malu gitu. Itu coba lihat deh wajah kamu sudah mulai memerah" ucap Lian Yin.


Yiwen memegang ke dua lipinya, ia beranjak menuju ke kaca melihat wajahnya yang memang terlihat memerah. "Arrgh... kenapa dengan wajahku." ucap Yiwen.


"Ya, mana aku tahu" ucap Lian yin singkat. Ia menarik handuk Yiwen hingga tanpa sadar jatuh kebawah. Lian yin melirik sekilas ia segera masuk ke dalam kamar mandi sebelum Yiwen marah-marah dengannya.


"Aaaa..... "Yiwen segera meraih handuknya yang jatuh lalu menutup lagi tubuhnya.


"LIAN YiN...." teriak Yiwen menggelegar ke penjuru ruangan itu.

__ADS_1


Lian yin di balik kamar mandi mendengar teriakan Yiwen ia tertawa kecil dan segera merendam tubuhnya di dalam bathup.


"Awas kamu beraninya bermain denganku" ucap Yiwen mengepalkan tangannya. Ia segera mengambil baju dalam lemari dan mulai memakainya.


__ADS_2