
Yiwen dan Lian yin beranjak lebih pergi menuju ke rumahnya. Jika berangkat siang banyak orang yang tahu. Lagian perjalanan ke rumahnya memakan waktu 2 jam. Jadi harus berangkat lebih pagi.
Ia berangkat jam 5 pagi, dan matahari belum menampakkan sinarnya. Saat di perjalanan bahkan Yiwen terus tertidur meski matahari sudah menyambutnya memantulkan sinarnya di dalam mobil.
Dua jam berlalu, Lian yin sampai di rumah Yiwen. Namun, mereka tidak langsung turun dari mobil, karena Lian yin masih nampak ragu dan curiga.
"Yiwen, ini benar rumah kamu kan?" Tanya Lian yin memastikan, ingatannya tentang rumah Yiwen terasa samar di otaknya. Bagi dia ada yang aneh dari rumahnya, rumah yang dulunya terlihat sangat kecil dengat taman yang luas di depannya. Kini rumah itu terlihat sangat besar dengan bebagai paviliun kecil di depannya.
Di depan rumah yang dulunya adalah taman, berubah kenjadi sebuah paviliun. Dan dulu yang tidak ada parkiran mobil, tiba-tiba mobilnya bisa langsung masuk ke dalam parkiran.
"iya ini rumah aku, aku yakin. Lagian aku sudah lama tinggal di sini. Tapi sepertinya ayah pulang dan merombak semuanya" ucap Yiwen, yang mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman rumahnya.
Rumah yang sudah lama ia tinggalkan, kini rumah itu beda dari yang pernah ia tinggali dulu. Tapi bentuk dan warnanya masih sama tidak ada yang berubah sama yang dulu. "Ayah semoga kamu masih di sana, aku ingin melihat kamu" ucap Yiwen dalam hatinya.
Dengan terpaksa Lian yin mengikuti langkah kaki Yiwen untuk masuk ke dalam rumahnya. Seperti biasa, pintu rumah Yiwen selalu terbuka sendiri saat ia ingin masuk ke dalam rumahnya. Dan Lian yin hanya diam menatap kagum, dengan segera ia ikut masuk ke dalamnya.
"Syang sepertinya sepi" ucap Lian yin, memutar matanya melihat seisi rumah itu. Ada beberapa photo yang terpajang di ruang tamunya. Dan pandangannya terhenti saat melihat foto yang sangat familiar di matanya."Sepertinya aku pernah melihat foto itu tapi di mana aku lupa?" Ucap Lian yin, mencoba mengingat foto itu. Perlahan ia berjalan mendekati beberapa foto yang terpajang.
"Yin, ada apa?" Tanya Yiwen, berjalan mendekati Lian yin.
"Aku sepertinya pernah melihat foto itu, tapi di mana ya, aku lupa" ucap Lian yin.
"Mungkin kamu salah lihat, bukannya kamu belum pernah masuk ke rumah aku sebelumnya. Hanya Changmin yang pernah masuk ke rumah aku dulu" ucap Yiwen.
Lian yin langsung menoleh ke arah Yiwen. "Apa katamu? Changmin pernah ke sini, apa dia pernah bertemu dengan ayah kamu?" Tanya Lian yin, memastikan.
"Pernah sekali, ada Tao dan ayah aku di sini" gumam Yiwen.
"Oo. Tapi dia ngapain di sini?" Tanya Lian yin masi semakin curiga dan cemburu. Padahal dirinya saja belum pernah bertemu dengan ayahnya. Tapi sudah di dahului oleh Changmin.
"kamu mau di sini atau pergi ikut denganku masuk" ucap Yiwen, melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas, ia ingin melihat kamarnya dulu. Dan sekalian mau meletakkan semua barang dan bajunya.
__ADS_1
"Aku ikut dengan kamu" gumam Lian yin berlari mengikuti Yiwen.
langkahnya terhenti tepat di depan kamar Yiwen. "Ini kamar kamu?" Tanya Lian yin, memastikan. Kamar yang memang terlihat kecil dan bahkan lebih luas kamarnya saat di rumah Lian yin.
"Iya kenapa? Apa kamu gak suka?" Tanya Yiwen menatap ke arah Lian yin yang masih berdiri di depan pintu.
"Bukannya gak suka, tadi aku hanya tanya syang" gumam Lian yin, yang mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Yiwen.
Yiwen membuka jendela kamarnya, dan terlihat jelas halaman rumahnya dari atas. Meski tidak ada balkon kamar yang besar seperti kamarnya dulu. Tapi kamar ini bagi Yiwen sangat nyaman lebih nyaman dari kamarnya di rumah Lian yin.
"udara pagi ini sejuk ya" Ucap Yiwen memejamkan matanya, meraskana udara srjuk pagi hari di rumah lamanya.
Jarum jam masih menunjukan pukul tujuh pagi, dan udara masih sejuknya. "kamu pulang juga" ucap seorang laki-laki yang sangat familiar di telinga Yiwen, sontak ia langsung membuka matanyan, menoleh ke arah pintu kamarnya. Wajahnya langsung memancarkan sebuah senyuman manis. Melihat ayahnya beridiri di depannya.
"AYAH!" Teriak Yiwen, berlari menghampiri Ayahnya dan langsung memeluk erat tubuhnya. Lian yin hanya diam, menoleh ke arah Ayah Yiwen.
"Jadi ini orang yang sangat di cari dalam bidang IT dunia, aku belum pernah melihat wajahnya sebelumnya. Dan sekarang aku sudah tahu dan bisa melihatnya." Gumam Lian yin dalam hatinya.
Wo Jian ayah Yiwen menatap ke arah Lian yin, dan perlahan melepaskan pelukan anaknya. "Ternyata kamu jadi menikah dengan Lian yin?" Tanya ayah Yiwen.
"Aku sudah tahu, siapa yang gak kenal dunia mafia di sini" ucap ayah Yiwen. "Dan kamu ternyata ada di sini di depan aku juga" lanjutnya.
"Maaf, kenapa anda bisa tahu jika aku adalah pemimpin dunia mafia di sini. Dan anda juga sudah tahu nama aku?" Tanya Lian yin yang juga bingung di buatnya.
"Aku sebenarnya gak suka jika kalian menikah, dan aku tidak suka jika anak aku menikah dengan orang yang berkecimpung dalam dunua mafia. Aku dulu pernah menjodohkan dia dengan Tao. Tapi jika ini sudah keputusan anak aku. Mau gimana lagi, aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku akan mendukungmu juga " ucap Ayah Yiwen.
"Nanti temui aku di ruang kerja kalau kalian sudah beres-beres. Aku mau bicara dengan kalian." lanjutnya.
Yiwen semakin bingung di buatnya. Ia tidak menyangka jika ayahnya tahu semuanya. "Ayah tahu juga kalau aku sementara tinggal di sini" ucap Yiwen.
"Aku tahu semua masalah kamu, dan lebih baik kalian tinggal di sini di rumah kecil ini sementara waktu." Ucap ayah Yiwen. "Dan mobil kamu juga sudah aku masukan dalam parkiran bawah tanah" ucap Wo jian pada Lian yin.
__ADS_1
Lian yin yang bingung dengan apa yang di katakan ayah Yiwen. Ia langsung melihat mobilnya dari jendela kamar Yiwen. Dan benar, mobilnya tidak ada di parkiran depan. "Aneh, tadi tidak ada suara mobil aku" ucap Lian yin.
"Jelas saja syang gak ada suara, mobil kamu seperti hilang di telan bumi" ucap Yiwen menggoda. "Udah sekarang lebih baik beres-beres kamar kita, dan merapikan semua baju kita" ucap Yiwen.
"Aku tunggu kalian di ruang kerja aku" ucap ayah Yiwen yang mulai melangkahkan kakinya pergi menuju ke ruang kerjanya.
Dan Yiwen hanya tersenyum, ia segera merapikan semuanya. Termasuk baju lamanya di dalam lemari juga masih banyak yang perlu harus di tata lagi.
"Syang itu ayah kamu memang dingin gitu ya?" Tanya Lian yin hang merasa takut dengan sifat dingin mertuanya itu.
"iya, kalau ada orang asing atau orang yang tidak dia suka. Meamng dulu dia menjodohkan aku dengan Tao dan aku tiga bulan lagi akan menikah dengannya dulu. Tapi saat aku memutuskan untuk pergi ke rumah Luhan dan ternyata ayah malah menjodohkan aku dengan Luhan . aku sempat kecewa dulu, tapi mau gimana lagi, semuanya sudah berlalu. Sekarang aku menikah dengan kamu. Dan berharap jadi yang terbaik buat kamu" ucap Yiwen, duduk di atas ranjangnya.
"Terus apa yang akan di katakan ayah kamu nanto di ruang kerjanya. Apa dia akan marah dengan aku?" Tanya Lian yin, yang terlihat sangat takut. Akan terjadi sesuatu dengannya, atau ayahnya akan mengusirnya pergi nanti. Atau malah ayahnya ingin dia pisah dengan Yiwen. Kalau itu terjadi ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia juga tidak bisa kalau harus meninggalkan Yiwen.
"Sudah jangan khawatir, aku yakin ayah aku pasti suka dengam kamu nantinya" gumam Yiwen, menepuk pundak Lian yin membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Tapi aku gak yakin" gumam Lian yin ragu.
"Kenapa kamu gak yakin, padahal ayah aku baik. Dia gak mungkin melarang aku denganmu" ucap Yiwen.
"Semoga saja begitu" ucap Lian yin.
"Sudah selesai belum, aku mau ambil minuman dulu di dapur. Setelah itu kita ke ruang kerja ayah aku." Gumam yiwen.
"Ya sudah cepat ambil, aku haus" gumam Lian yin.
Yiwen segera nengambil minuman botol di dapur, dan segera kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin beralam di dapur, lagian ayahnya juga jngin berbicara dengannya. Sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan padanya dan Lian yin.
"Ini minumannya" ucap Yiwen, melemparkan botol minuman dingin pada Lian yin. "Setelah ini kita ke ruang kerja ayah aku" ucap Yiwen, yang langsung terdiam. Ia teringat saat ke ruang kerja ayahnya dulu bersama Tao, ia memasuki sebuah ruangan rahasia. Tapi bukannya ayah tidak ingin menujukan ruangan itu pada siapapun kecuali Tao dan aku. Tapi kenapa sekarang dia memberi tahu Lian yin juga, gumamnya dalam hati.
"Syang, kenapa kamu diam?" tanya Lian yin, bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Yiwen yang berdiri melamun di depannya.
__ADS_1
"Eh.. gak apa-apa syang. aku hanya kepikiran sesuatu. Lebih baik sekarang kita pergi ke ruangan ayah aku" ucap Yiwen.
"Baiklah" ucap Lian yin, yang selalu mengikuti apa yang Yiwen katakan.