
Keesokan harinya.
Lay yang semula masih berbaring dan menutup matanya. Ia perlahan membuka matanya, dengan jemari tangan bergerak satu per satu. Ia membuka matanya lebar, menatap sekelilingnya. "Di mana aku? kenapa aku ada di kamar aku sendiri?" batin Lay.
Ia melihat ke samping, melihat Lyli yang ketiduran dengan posisi duduk dan kepala tergeletakkan di pinggir ranjangnya. Lay tersenyum, melihat wajah Lyli yang menggemaskan saat ia tertidur. Ia berusaha untuk duduk meski punggungnya merasa sangat sakit. Jemari tangannya memegang wajah putih Lyli yang memabuatnya tak bisa berhenti tersenyum.
"Kamu yang menjaga aku semalaman? Makasih ya!!" ucap Lay lirih, ia menyentuh ujung hidung Lyli dengan telunjuk tangannya.
Lyli yang masih tertidur pulas, ia merasa geli, menggosok-gosok hidungnya.
"Makasih kamu selalu ada buat aku!! Dan sekarang aku merasa lebih enak sakit begini bisa terus di jaga olehmu" lanjutnya, mengusap pelan kepala Lyli hingga membuat Lyli yang semula masih tertidur, ia mulai terbangun merasakan sentuhan Lay.
Lyli mengusap matanya berkali-kali, apa benar yang ia lihat di depannya itu Lay. Ia masih belum percaya dan terus mengusap matanya. Membuat Lay yang melihatnya tersenyum, memegang tangan kanan Lyli.
"Kamu kenapa?" tanya Lay, tangannya mulai turun dari pipi menuju ke dagunya.
"Lay! Apa ini benar kamu? Apa aku mimpi? Kamu sudah sadar? Dan aap kamu baik-baik saja" tanya Lyli beruntun membuat Lay tersenyum. Baru kali ini ada wanita yang begitu khawatir dengan keadaannya. Dia wanita pertama yang selalu menjaganya di saat sakit. Dulu setiap terluka karena tembakan atau yang lainya selalu Changmin dan Lian yin yang merawatnya bergantian.
Lay mengusap pipi Lyli. "Kamu gak mimpi!! Ini aku Lay, dan aku sudah baik-baik saja" Lay memegang pipi kanan Lyli, mengusapnya lembut seperti binatang peliharaannya.
"Tapi aku masih sakit!! Kamu mau gak manjain aku tiap hari" ucap Lay dengan kedipan menggoda.
Lyli sontak berdiri, melihat sekujur tubuh Lay. Ia tidak sadar jika Lay hanya menggodanya.
"Mana yang sakit? Apa perlu aku panggil dokter sekarang?" tanya Lyli. "Atau aku buatkan kamu soup!! Atau kamu mau ganti perban? Kamu bilang ya padaku, jika kamu butuh apa-apa" lanjutnya, yang sudah terlihat sangat panik.
Lay memegang ke dua pipi Lyli dengan ke dua tangannya. Menarik wajahnya, semakin dekat di pandangan mata Lyli. "Aku hanya butuh kamu di sisiku, aku hanya butuh kamu di hatiku. Selama kamu ada di sampingku. Aku akan selalu sehat, rasa sakit ini juga tidak akan terasa." ucap Lay, membuat Lyli tersenyum. Ia mencubit hidung Lay.
"kamu jangan gemesin gitu napa" ucap Lyli dengan senyum terpaut di wajahnya.
Lay memegang tangan Lyli lembut.
"Kamu sekarang berani menyentuhku?" tanya Lay.
"Emangnya kenapa gak berani? Emangnya kamu hantu? Atau apa?" tanya Lyli.
"Apa kamu sudah mulai mencintaiku" lanjut Lay, menggoda.
"Enggak siapa yang suka!!
"Jangan bohong!! Tapi aku yakin jika kamu suka denganku, semua juga butuh waktu" ucap Lay menggoda, semakin mendekatkan wajahnya. Sontak Lyli mendorong tubuh Lay menjauh darinya.
"Awww... Sakit!!" ucap Changmin, memegang punggungnya sebisa tangannya, meraskan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kamu gak apa-apa? Maaf tadi aku gak sengaja, Aku tadi spontan saja mendirong kamu, maafkan aku" ucap Lyli, memegang lengan Lay, mencoba menyentuh lukanya yang masih di balut dengan perban.
"Apa ini sakit?" tanya Lyli memastikan. Ia mencoba memegang luka di perban Lay, menatapnya detail.
"Aww.. Sakit Lyli!!" ucap Lay, memejamkan matanya menahan rasa sakit.
Lyli mengangkat ke dua tangannya. "Ehh.. Maaf aku gak tahu kalau sakit!!" ucap Lyli yang terlihat begitu polos. "Tapi kamu jangan sakit lagi ya, aku mau kamu cepat sembuh" Lanjutnya dengan wajah polos memohon.
"Aku sembuh kok" ucap Lay, pria itu meraih tangan lyli meletakkan di dadanya. "Ini yang selama ini selalu menangung sakit"
"Sembuh gimana? Kenapa perban kamu mengeluarkan darah. Pasti ini gara-gara aku ya? Maaf, Aku pannggil dokter dulu ya. Apa sekarang luka mamu pindah di dada." belum sempat menyelesaikan ucapan polos Lyli yang membuat Lay semakin gemas di buatnya. Lay nengecup bibir Lyli membuatnya terdiam seketika, dengan mata terbelelalak saling memandang.
Lyli mengedip-ngedipkan matanya, ia merasakan lembutnya kecupan Lay yang entah kenapa tidak bisa ia tolak. Lay menyudahi kecupannya, memegang bibir Lyli yang dari tadi hanya diam menatap ke arahnya.
"jangan terlalu khawatir!! aku baik-baik saja. Tadi aku hanya bercanda" ucap Lay.
__ADS_1
Lyli hanya diam, bagi dia itu adalah kecupan pertamanya. Dan baru pertama kali ada orang yang berani mengecupnya seperti itu. Lyli memegang bibirnya, ia masih belum menyangka dengan semua yang terjadi. Kecupan yang belum pernah ia rasakan, dan hatinya menerima begitu saja. Apa inj namanya cinta yang sesungguhnya, pikirnya
Lay menggerakkan kepalanya pelan ke kanan dan ke kiri bergantian, memandang setiap detai raut wajah Lyli yang terlihat bengong tanpa suara.
Ia mengibaskan tangannya ke depan wajah Lyli. "Haii. Apa akmu kerasukan? Kenapa kamu diam? Apa ada masalah?" tanya Lay yang terlihat bingung dengan apa yang di katakan Lyli.
"Eh.. iya gak apa-apa" ucap Lyli yang baru tersadar.
"Apa kamu gak suka aku melakukan itu. Maaf ya!! Aku bersihkan sekarang" sambung Lay, mengusap bibir Lyli dengan jemari tangannya.
"Jangan sentuh!!" Ucap Lyli memegang tangan Lay. "Biarkan saja membekas, aku ingin bisa merasakan setiap detik kevupan ini di otakku. Agar aku bisa tahu siapa yang tulus mencintaiku"
Mereka yang terus berbincang dan saling menunjukan ke romantisan. Ke dua nata mereka saling tertuju saling tertuju satu sama lain. Detak jantung semakin tidak beraturan, hembusan napas berat berpacu dalam satu pandangan yang sama.
"Emm maaf!!" ucap Lyli yang langsung melepaskan Tangan Lay.
"Gak apa-apa, aku malah suka kalau kamu seperti kemarin, selalu megang tanganku, kecup tanganku. Tapi sekarang kamu kenapa jadi malu-malu" ucap Lay, mendekatkan wajahnya, menarik ke dua alisnya ke atas.
"Apaan sih Lay!! Udah gak usah bahas itu lagi" ucap Lyli memalingkan padangannya, ia terlihat mulai malu dengan wajah yang sudah perlahan memerah.
"Malu ya?" tanya Lay, memegang dagu Lyli.
"Siapa yang malu!! Aku gak malu, ngapain juga aku malu segala!!"
"Itu wajah kamu memerah gitu?" ucap Changmin, menujuk pipi Lyli yang memerah dengan telunjuk tangannya.
Lyli menepis tangan Lay, "Udah gak usah pegang-pagang. Sekarang kamu makan ya!!" ucap Lyli mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak mau!!"
"Kenapa gak mau!! kalau kamu gak mau aku paksa sampai mau."
"Terus, kamu mau makan sendiri?"
"Enggak juga!! Aku mau kamu suapi aku pakai ini" ucap Lay dengan senyum menggoda, dengan jemari tangannya memegang bibir pink alami milik Lyli.
Lyli menepis tangan Lay dari bibirnya.
"Jauhkan tangan kamu dari bibirku. Jangan pernah seenaknya menyentuhku" ucap Lyli.
Lay hanya diam, dan tersenyum manis di raut wajahnya. Dengan tangan mengusap kepala Lyli lembut, membuat rambutnya berantakan.
"Kamu ini lucu juga ya!!" ucap Lay.
Lyli mengerutkan keningnya, menyipitkan matanya. "Lucu? Emangnya aku boneka apa?" umpat kesal Lyli.
"Kamu itu lebih dari boneka!!"
"Terus apaan!!"
"Ikan lohan!!" ucap Lay, sambil senyum cekikikan.
Mendengar hal itu, Lyli sontak berdiri, berkacak pinggang. dan menatap tajam ke arah Lay. "Apa katamu, bibir aku lebih cantik gini kamu bialng ikan lohan?" ucap Lyli kesal.
"Iya maaf!! Lagian aku itu hanya bercanda, jangan di ambil hati. Lagian dari tadi kamu menyun terus, bikin bete orang yang melihatnya" ucap Lay.
Yiwen yang melihat dari balik pintu yang terbuka sedikit, hanya bisa tersenyum menatap mereka. Akhirnya mereka bisa menemukan kebahagiaan masing-masing. Ia yang semula ingin masuk, harus mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Lay. Ia tidak mau jika mengganggu ke romantisan mereka nantinya.
~~
__ADS_1
"Eh. Yiwen kenapa kamu di sini, gak jadi masuk?" ucap Changmin, menepuk pundak Yiwen.
Yiwen menutup mulut Changmin seketika. "Ssstttt.... Jangan bicara keras-keras." ucap Yiwen memelankan suaranya.
"Ada apa?" Changmin nengintip di balik pintu, melihat Lay yabg terus bermanja ria dengan Lyli.
"Melihat Lay bahagia gitu rasanya senang juga" ucap Changmin
"Makanya kamu jangan ganggu!!" ucap Yiwen.
Pria itu menagnggukan kepalanya pelan. "Baik-baik."
"Udah ayo pergi" Yiwen menarik tangan Changmin menjauh dari kamar Lay.
"Eh.. tapi aku mau bicara dengan Lay dulu!!"
"Gak usah!! Lain kali saja"
"Tapi ini penting"
"Gak ada yang lebih penting dari kebahagiaan seorang teman" ucap Yiwen, melemaparkan tubuh Changmin duduk di atas sofa ruang tamu.
"Udah duduk sini!!" ucap Yiwen tegas.
Changmin menarik napasnya, gimanapun ia tidak bisa melawan istri temannya itu.
"Baiklah!!" Gumam Changmin, melipat ke dua tangannya di atas perutnya.
"Yiwen!! Kamu di mana?" teriak Lian yin, menuruni anak tangga, langakhnya terhenti saat melihat Yiwen dan Changmin di ruang tamu. Ia berjalan ringan mendekati Yiwen.
"Kalian dari mana?" tanya Lian yin, berjalan menghampiri Yiwen dan Changmin.
Yiwen dan Changmin menoleh kompak ke sumber suara di belakangnya. "Lian yin!! Wah gawat kalau dia salah paham nantinya" batin Changmin.
"Yin, aku baru saja dari kamar Lay mau jenguk sekalian melihat kondisi dia, tapi gak jadi masuk tadi." ucap Yiwen.
"Terus kenapa gak jadi?" tanya Lian yin penasaran.
"Dia lagi bermesraan dengan pasangan barunya" sambung Changmin.
"Apa benar? Berarti Lyli bisa mulai mencintai orang lain lagi." ucap Lian yin penuh kebahagiaan. Ia yang ingin menyatukan mereka sekarang sudah ada hasil yang positif. Tinggal mereka bisa saling mengungkaokan perasaan dan segera menikah nantinya.
"Iya, mereka bahkan udah saling ini" ucap Yiwen menyebtuh bibirnya memberi kode pada Lian yin.
"Ini apa maksudnya?" tanya Changmin yang juga penasaran.
"Jangan ikut tahu, lebih baik kamu urus pacara kamu biar kamu tahu" sindir Yiwen.
"Baiklah!! Aku pergi sepertinya kamu mau praktek juga ya" Changmin bergegas berdiri, melangkahkan kakinya pergi tanpa menunggu jawaban dari Yiwen.
"Dia marah ya" Ucap Lian yin, tersenyum tipis.
"Hehe. Sepertinya begitu syang!!" ucap Yiwen, memeluk lengan Lian yin.
"Ada apa ini peluk-peluk pagi gini?" tanya Lian yin.
"Emangnya gak boleh, aku mau lebih romantis dari pada Lay dan lyli. Lagian kita itu kan udah suami istri masak kita kalah dengan yang baru mau pendekatan" gumam Yiwen, menyandarkan kepalanya di bahu Lian yin.
Lian yin tersenyum, mengusap kepala Yiwen. "Kamu ini bisa saja" Ucap Lian yin.
__ADS_1