
Selesai makan, Lian yin segera mengangkat tubuh Yiwen ala bridal style menuju ke kamar Yiwen sendiri yang dulu pernah ia siapkan untuknya, dan bahkan beberapa hari ia pernah tidur di sana, saat Lian uin sakit dan sekarang saat lelaki utu marah dengannya, sebelum Yiwen pergi dia juga tidur bersama Lian yin di tempat itu. Ia tidak mau Yiwen terus kelelahan, meski rasa marah dan cinta itu kadang selalu bentrokkan di hatinya. Membuat Lian yin nampak bingung harus memilih apa yang ada dalam hatinya.
Lian yin juga sudah membereskan semuanya sisa makan, dan piring di atas meja. Dan menyisakan beberapa makanan untuk Yiwen, ia meletakkan makanan itu di meja kamar Yiwen. Ia menatap sejenak, ke arah Yiwen berbaring. "Yin, jangan marah lagi, aku gak mau kamu matah denganku. Aku syang dengan kamu." ucap Yiwen yang mengigau. Tiba-tiba meneteskan air matanya.
Hati Lian yin merasa sakit, melihat tetesan air mata Yiwen saat ke dua matanya terpejam itu. Kemarahannya sampai ke dalam mimpi Yiwen, membuat hati istrinya terluka. Saat tertidur-pun ia masih sempat menetesakn air matanya lagi. Tak mau di lihat Yiwen saat bangun nantinya, Lian yin segera pergi dari kamar Istrinya.
"Maaf, untuk semua yang aku lakukan. Aku gak tega jika melihat kamu terus mengeluarkan air mata seperti ini." ucap Lian yin mengecup kening Yiwen, dan segera melangkahkan kakinya pergi, menutup pintu kamarnya.
----000----
beberapa jam berlalu, jarum jam menunjukan pukul sebelas malam. Yiwen mengerutkan matanya. Mencoba untuk membukanya perlahan, emm.. Ini aku di mana? Tanya Yiwen dengan ke dua tangan meraba ranjang di sekitarnya. Ia bingjng kenapa bisa di ranjangnya lagi.
Sontak wanita itu terbangun, dan duduk dengan wajah terkejutnya. Ia teringat dengan masakannya tadi di meja makan, apa Lian yin sudah makan atau belum. Dan ia masih bingung kenapa bisa di ranjang. Yiwen memegang kepalanya, mencoba mengingat apa yang dia lakukan sebelumnya, sebelum berada di ranjangnya sendiri.
Ia hanya ingat jka tertidur di meja makan, bahkan dia tidak ingat jika Lian yin yang membawanya ke kamar.
"Bagaimana bisa aku ada di sini?" gumam Yiwen yang sudah tidak ingat dengan apa yang terjadi, ia membuka selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya dan segera berlari menuju ke meja makan, matanya melebar seketika. Tidak ada makanan di meja, semuanya sudah bersih dan rapi.
"Siapa yang makan? Apa Lian yin tadi turun dan makan, lalu mengangkat aku pergi tidur di kamar" gumam Yiwen dengan wjaah bingungnya.
"Apa perlu aku tanya padanya sekarang, tapi dia pasti sudah tidur" gumam Yiwen dalam dirinya. "Gak mungkin, pasti dia akan marah dan malah mengusirku. Lebih baik aku diam, dan akan terus menjaganya di sini. Aku gak bisa meninggalkan dia sendirian. Aku gak bisa.." ucap Yiwen tak hentinya, ia membalikkan badanya melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya kembali.
__ADS_1
Lian yin hanya diam, menatap Yiwen yang berjalan dengan pandangan kosong menuju ke kamarnya. Hati Lian yin merasa sudah hancur dengan apa yang ia lakukan pada Yiwen sekarang. Dia yang membuat Yiwen jadi seperti ini, terus melamun dan memikirkan apa yang dia lakukan padanya tanpa penjelasna ia tiba-tiba marah dengan Yiwen.
"Aku gak sanggup jika terus melihat dia seperti itu" ucap Lian yin.
Lian yin membalikkan badannya berjalan masuk ke kamarnya kembali, ia ingin memikirkan cara yang terbaik untuk Yiwen nantinya. Lian yin menghentikan langkahnya. Ia sadar jika besok adalah ulang tahun Yiwen. Dan kebetulan Mei dan yang lainnya juga akan pulang besok.
Mungkin aku harus memaafkan dan mendengarkan apa yang di katakan Yiwen. Aku gak sanggup melihat dia seperti ini, dia sudah terlalu baik denganku. Dia lebih memikirkan aku dari pada dirinya. Sekarang ingatannya sudah sembuh, harusnya aku ada untuk dia. Bukan malah ninggalin dia, gumam Lian yin membaringkan tubuhnya di atas ranjang putih miliknya.
~
Di sisi lain, Yiwen masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan semakin ke dalam, langkahnya terhenti saat melihat ada beberapa makanan tersedia di meja kamarnya. "Apa Lian yin yang membawa sebagian makannya ke sini. Pasti di sudah makan tadi, jadi aku gak perlu khawatir lagi dengannya" gumam Yiwen, dengan senyum menyungging di bibirnya. Ia melangkahkan kakinya berjalan ringan duduk di sofa kamarnya.
Krukkkk....
Yiwen memberi semangat untuk dirinya sendiri dan. Tes, butiran air mata menetes dari dua mata bulat Yiwen. "Aku tahu kamu masih perhatian denganku, aku tahu kamu gak bakalan bisa melupakanku, ataupun marah lama denganku, dari perhatianmu diam-diam seperti ini tanda jika kamu gak bisa terus marah denganku" gumam Yiwen, menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
Yiwen segera memakan habis makanan di meja yang memang sudah di sediakan oleh Lian yin. Ada beberapa cemilan ringan yang juga di sediakan di meja kecil samping ranjangnya. Lian yin tahu gimana kebiasaan Yiwen setiap malam yang mencari cemilan untuk di makan. Namun, dia sekarang tidak selera untuk makan cemilan
"Aku yakin jika dia pasti akan memafkanku" gumam yiwen. Semakin lahap menyantap makanan yang ada.
Beberapa menit kemudian..
__ADS_1
Semua sudah lenyap habis di makan Yiwen dengan lahapnya. Yiwen tak bisa tidur, ia masih terpikir gimana Lian yin di dalam, apakah dia sudah minum obat, atau dia sudah tidur pilas sekarang. Pikiran rasa khawatir, cemas jadi satu menghantui dirinya.
"Semoga dia baik-baik saja, dan besok dia sudah bisa sembuh" ucap Yiwen, yang mulai memejamkan matanya lagi.
~
Di sisi lain, Lian yin juga sama, ia tidak bisa tidur karena tindakannya pada Yiwen, yang sangat keterlaluan. Dia bahkan sudah memarahi istrinya sendiri yang susah payah dulu ia dapatkan. Ia terpikir jika Yiwen benar-benar pergi meninggalkan dia, suatu saat penyesalan itu pasti ada.
"Lebih baik aku sekarang temui dia, meski dia sudah tidur setidaknya aku berada di samping dia" ucap Lian yin, beranjak bangkit dari duduknya di sofa. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Menuju ke kamar Yiwen. Di bukanya pintu itu perlahan, Lian yin memasukan setengah badanya, mengintip lebih dulu suasana di dalam kamar Yiwen, apa Yiwen sudah tidur atau belum. Ia juga tidak mau jika mengganggu Yiwen tidur nantinya.
"Dia tidur?" gumam Lian yin, mulai membuka lebar pintu kamar Yiwen, dengan langkah ringan ia mulai masuk ke dalam. Ia sengaja memelankan langkah kakinya. Agar Yiwen tidak terganggu.
Lian yin berjalan mendekati Yiwen, menarik selimut Yiwen, yang tidak menutupi tubuhnya, di tatapnya setiap sudut wajah Yiwen saat tertidur membuat hatinya merasa lunak seketika. Ia tidak bisa marah lagi dengan wanita secantik dia. Jika dia melepaskan Yiwen maka penyesalan akan menghantui seumur hidupnya.
"Maafkan aku, tadi aku marah dengan kamu" gumam Lian yin, mengusap lembut rambut Yiwen.
Yiwen memegang tangan Lian yin, sontak membuat lelaki itu terkejut. Ia takut jika Yiwen tersadar dari tidurnya. "Dia bangun" batin Lian yin.
"Yin, jangan pergi" ucap Yiwen, yang masih memejamkan matanya.
Lian yin menghela napas lega, ia mengira jika Yiwen akan bangun. Dengan segera Lian yin mencoba melepaskan tangan Yiwen, namun pegangannya sangat erat membuat ia kesusahan untuk melepasnya. Lian yin juga tidak mau jika samoai Yiwen terbangun nantinya.
__ADS_1
Lian yin mulai pasrah, ia mengeluarkan wajah kesalnya. Merasa Yiwen sudah lengah, dan tangannya tak begitu menyentuhnya kuat. Lelaki itu segera melepaskan tangan Yiwen dan duduk di ranjang samping Yiwen.
Jarum jam sudah menunjukan pukul empat pagi, Lian yin masih belum juga bisa tidur, ia berbaring di samping Yiwen, dengan tubuh membelakangi tubuh Yiwen.