
Yiwen, Grace, dan Mei beranjak turun, menuju kamar Lay. Mereka ingin menjenguk Lay.
Sudah dari kemarin hari ini Ia tidak melihat Lay dan lyli sama sekali. Dia benar-benar betah di dalam kamarnya berdua. Entah apa yang mereka lakukan, semua juga tidak perduli akan hal itu, bagi mereka Lyli hanya merawat Lay, dan tidak mungkin akan berbuat macam-macam di dalam kamarnya. Apalagi masih dalam ke adaan sakit.
Yiwen menuntun tubuh Grace menurruni anak tangga.
"Yiwen!! Kenapa kamu mau merawatku?" Tanya Grace.
"Aku sebagai teman baru kamu, akan selalu merawat kamu. Lagian kamu itu baik, kamu sudah menolongku dan Lian yin. Dan kamu terluka seperti ini juga karena Menolong orang yang aku syang!!" Jawab Yiwen penuh keramahan. Ia sudah bisa berlapang dada menerima kenyataan itu. Dan bisa menerima Grace sebagai temannya.
Grace hanya diam, ia tersenyum tipis. "Maksih!! Aku gak tahu lagi jika gak ada kamu di sini!!" ucap Grace. "Setelah aku menyelesaikan semuanya. Aku akan pergi, dan kembali lagi ke Timur"
"Kenapa kamu mau pergi!! Di sini banyak orang yang saayng denganmu. Banyak yang jaga kamu" Yiwen menghentikan langkahnya.
"Biarkan saja dia pergi!! Di sini hanya merebut pacar orang" sindir Mei sinis.
Yiwen yang mulai gerah dengan ucapan Mei yang semakin tajam. Ia bangkit dan menatap tajam ke arah Mei.
"Mei tutup mulutmu. Aku selama ini baik denganmu. Di rumah ini aku gak menginginkan pertengkaran. Jika kamu gak suka silahkan pergi." ucap yiwen penuh kemarahan.
"Kenapa jadi membela dia!!"
"Aku gak membela siapa-siapa di sini. Kamu memang salah, dan patut di salahkan. Di dalam kondiri seperti ini kamu malah menyalahkan orang lain. Jangan pikirkan egomu. Pikir perasaan orang yang kamu sakiti dengan ucapan tajammu" Yiwen,
"Kamu nih!! Mendingan kamu juga segera cari pendamping hidup" ucap Yiwen semakin meninggikan suaranya.
"Baiklah, kalau kalia semua tidak menganggap aku di sini lebih baik aku akan pergi dari sini" ucap Mei.
"Terserah kamu!! Aku gak suka ada orang berpikir seperti anak kecil di sini. Aku sudah menganggap kamu teman. Bahkan selalu mempercayai kamu. Tapi aku gak suka sifat kamu itu. Di sini kita semua teman, jangan ada yang bertengkar. Kalau masih tidak suka silahkan pergi"
Mei memainkan bibirnya, dengan rahang menggertak kesal. "Baiklah aku akan pergi!!" ucap Mei tegas, ia beranjak pergi menuju kamarnya. Menyiapkan semua pakaiannya.
---
"Yiwen, kenapa.kamu berbicara seperti itu dengan Mei." ucap Grace lembut.
"biar dia bisa memahami apa yang di terapkan di rumah ini. Aku gak suka ada orang yanghanya memikirkan perasaannya sendiri tidak memikirkan hati orang lain" ucap Yiwen. "Udah biarkan saja dia, sekarang kita pergi ke tempat Lay, sekalian ambil makanan dulu nantinya"
"tapi aku merasa gak enak dengan Mei, dia pasti menganggap aku yang mempengaruhi kalian semuanya."
"Sudah gak usah pikirin soal itu lagi. Kita bawakan makanan ini untuk Lyli dan Lay"
"tapi apa kita gak ganggu mereka nantinya?" tanya Grace.
"Enggak tenang saja, oya kamu cepat cari pasangan biar kamu bisa romantisan dengan pasangan kamu!!" goda Yiwen.
Grace terdiam, ia teringat dengan ayahnya yang akan menikahkan dia dengan Luhan. Tapi ia lebih memilih menolak mentah-mentah, karena dia gak suka dengan Luhan. Tapi semenjak ia kabur dari Luhan ia tidak pernah bertemu dengannya bahkan dia juga tidak menghubunginya sama sekali. Apa kabar Tao dan luhan sekarang?
Yiwen menggerakkan kepalanya, menatap ke arah Grace yang tiba-tiba melamun.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Yiwen.
"Gak apa-apa, hanya saja ingat seseorang." Jawab Grace.
"Ingat siapa? Pacar kamu ya?" Tanya Yiwen menggoda.
"Bukan!! Udah ayo lihat Lay" Grace mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah!!"
TOK...TOK.. TOK...
"Sepertinya ada yang orang mau jenguk kamu!" Ucap Lyli. "Aku buka pintu dulu, kamu di sini diam dulu, dan lanjutin makannya" lanjut Lyli beranjak berdiri membuka pintunya kamar Lay.
__ADS_1
"Lyli aku ganggu kalian ya?" Tanya Grace.
"Gak kok!! Lagian aku masih nyuapin Lay tadi." Ucap Lyli tanpa rasa malu.Ia seakan bangga dengan dirinya sekarang. Yang peralahan sudah bisa menerima Lay untuk ada di hatinya.
"Ciye sekarang udah mulai suka nih sama Lay!!" Goda Yiwen dengan senyum tipisnya.
"udah ayo masuk, kalian mau kihat kondisi Lay ya?" Tanya Lyli.
"Iya
Lay gimana keadaan kamu?" Tanya Grace, mencoba berjalan dengan tangan berpegangan tangan Yiwen.
"Kalian? Di mana Changmin dan juga Lian yin?" Tanya Lay, yang emmang dari kemarin belum melihat dua temannya itu.
"Entahlah... Aku saja dari kemarin gak Liat Lian yin?" Ucap yiwen kesal.
"Terus kamu gak marah dengannya?" Tanya Lay.
"Ngapain juga amrah, lagian dia pergi dengan Changmin, aku yakin dia tidak kemana-mana. Pasti ada yang ingin di selesaikan." Ucap Yiwen. "Apa kamu tahu apa yang mereka lakukan?"
"Tapi semenjak aku terbaring, aku gak tahu apa yang mereka lakukan. Dan aku juga sama Lyli terus"
"Iya, iya pasangan baru, ya gitu pemgannya selalu berdua. Mendingan kalian segera menikah!!" Ucap Yiwen menggoda.
"Aku belum pacaran dengannya" ucap Lyli menunduk.
"Semoga saja aku bisa cepat seperti kamu dan Lian yin." Saut Lay.
"Kalau aku kapan?" Sambung Lay.
"La tergentung kamu menh nikahnya sama siapa, Changmin atau sama orang lain" goda Lay, membuat yiwen melebarkan matanya.
"Kenapa harus Changmin lagi sih!! Aku gak mau bahas dia, aku udah bener-bener mau pergi dari dia, meski hanya teman tapi kedekataku dengannya membuat orang terluka" ucap Grace menundukkan kepalanya.
"Keputusan kamu sudah benar, aku yakin jika kamu akan dapat orang yang lebih baik nantinya di luar sana" ucap Grace.
"Tapi aku tahu Changmin itu gimana? Jima dia suka sama seseorang dia gak bakalan mau menyerah, dan aku tahu perasaannya dari dulu. Rasa nyaman karena belaian kasih syang dari sosok wanita, itu berbeda dar sosok yang selalu ada di hatinya" ucap Lay, dengan nada lirih, membuat semua wanita di sampingnya menatap ke arahnya.
Yiwen dan Grace mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa yang di katakan Lay itu. "Maksud kamu apa?" Tanya Lyli yang juga penasaran dengan temannya itu.
"Bukannya kamu juga kenal Changmin sejak lama, meski kamu gak terlalu dekat dengannya. Dan orang yang selalu setia di sampingnya di dekatnya yang tahu apa isi hati Changmin sekarang" lanjutnya. Jawaban itu seketika membuat Grace terdiam, ia mengingat kejadian lalu saat ia bersama dengan Changmin dia memang teman kecilnya yang beda usia. Tapi setidaknya dia memang orang benar-benar baik.
"Udah jangan bahas itu lagi sekarang. Oya kamu coba hubungi Lian yin. Dari kemarin aku gak bisa terhubung dengannya dan Changmin juga sama" ucap Yiwen pada Lay.
"Baiklah!!"
"Bisa mabilkan ponsel aku" ucap Lay, memegang tangan Lyli.
"Iya!!" Lyli mengambilakan ponsel Lay, dan dengan segera ia menghubungi lian yin.
"Sepertinya terhubung!!" Ucap Lay.
"Benarkah!! Udah bicra belom?" Tanya Yiwen, mendekat ke arah Lay.
"Belum di angkat!!"
Tut... tut...
"Gak di angkat!!" Ucap Lay.
"Coba hubungi lagi!!" Jawab Yiwen antusias.
"Iya bentar, ini masih aku hubungi lagi!!"
"Kalian kenapa sibuk sendiri" ucap Grace.
__ADS_1
"Apa kamu ga perduli dengan Changmin? Kamu pasti juga bertanya-tanya juga di mana dia" ucap Yiwen yang entah kenapa bisa keceplosan berbicara seperti itu.
Grace terdiam, ia tidak marah dengan apa yang di katakan Yiwen tapi ia merasa ada yang holang dari dirinya. Tapi entahlah, mungkin semuanga juga sudah terjadi, ia terlanjur mengucapkan tidak bisa di tarik kembali.
Lay yang terus berusaha menghubungi Lian yin. Akhirnya ia bisa membuahkan hasil juga.
~~
"Ada apa Lay?"
"kamu di mana sekarang, nih istri kamu rewel banget mau bicara dengan--" belum smepat melanjutkan ucapanya Yiwen mengambil ponsel Lay.
"Yin, kamu di mana? Kenapa kamu gak menghubungiku, dan kenapa kamu sudah dua hari gak ada kabar? Sebenarnya kamu di mana? Dan dengan siapa kamu pergi?" Yiwen terus beruntun mengajukan pertanyaan pada suaminya itu.
"Yiwen, jadi kamu yang suruh Lay biat hubungi aku." ucap Lian yin.
"Iya, gak boleh. Padahal aku kangen banget sama kamu. Aku kangen kamu, kenapa kamu gak pulang\-pulang" ucap Yiwen melembutkan suaranya dengan bibir sedikit manyun.
"Iya, syang. Bentar lagi aku pulang kok. Sekarang maaf aku gak bisa pualng dulu masih banyak tugas. Kamu jaga diri ya. dan, tenang saja aku dan Changmin gak sama perempuan lain"
"Awas saja jika kamu berani dengan perempuan lain. Aku gak akan beri ampun lagi." ucap Yiwen kesal.
"Iya, syang. Udah sekarang aku mau matikan dulu ponselnya ya" gumam Lian yin, yang segera mematikan ponselnya.
Tut.. Tut...
"Ya, di matiin. Kenapa dia gak amu bicara denganku" gumam Kesal Yiwen.
"Ini!!" Yiwen mengulurkan ponselnya kesal ke arah Lay.
"Gimana dapat jawaban apa dari Lian yin!!" tanya Lay.
"Dia dan Changmin melakukan tugas" ucap Yiwen yang masih terlihat kesal.
"Tugas apa? Kenapa dia gak bicara dengan aku?" ucap Lay.
"Emangnya kamu mau bantu mereka?" saut Lyli menatap tajam ke arah Lay.
"Kalau aku tahu, aku mau oergi dengan mereka. Aku mana bisa hanya diam. Dan mereka melakukan bajaya sendiri." ucap Lay, mengusap lembut pipi Lyli. "Aku tahu kamu pasti khawatir. Tapi mereka sudah aku anggap saudara aku, jadi aku gak bisa hiarkan mereka dalam bahaya sendiri" lanjutnya menjelaskan.
"Baiklah!! tapi kamu juga harus mengerti kondiri kamu juga. Jangan terus memaksakan diri kamu" ucap Lyli.
"ehem.. Di sini ada orang, jangan saling bermesraan sendiri di depanku" ucap Yiwen.
"Hehe. Iya maaf. Kamu bawa apa itu?" tanya Lay, menatap Grace yang membawa satu nampan makanan.
"Kamu sidah lihat aku bawa makanan masih tanya" ucap Yiwen.
"Udah sekaramh kalian makan, dan kamu Lay kamu itu harus cepat sembuh jangan lupa minum obat. Biat kamu bisa ajak Lyli keluar jalan-jalan nantinya" sambung Grace.
"Siap!!"
Lyli segera mengambil satu nampan makanan di tangan Grace. Yiwen bersama dengan Grace beranjak pergi meninggalkan Lyli dan Lay. Mereka menuju meja makan untuk menyantap makanan yang sudah di siapkan dari tadi.
Langkah Yiwen terhenti saat melihat Mei benar-benar mau pergi. Dia baru saja keluar dari kamarnya membawa koper yang sudha berisikan semua baju-bajunya.
"Kamu benar mau pergi?" tanya Yiwen.
"Iya, kalian sudah tidak menginginkan aku di sini!!" kata Mei.
"Siapa bilang. Aku hanya ingin kamu sadar. Jangan terlalu terbawa emosi hatimu sendiri. Aku tahu juga perasaan kamu, tapi setidaknya beri dia kesempatan untuk merubah semuanya." gumam Yiwen.
Mei tetap melangkahkan kakinya pergi, tanpa perdulikan Yiwen dan Grace lagi yang amsih menatap ke arahnya.
__ADS_1