
Lian yin terlihat menunduk seolah ia menyembunyikan kesedihannya. Yiwen yang sadar jika Lian yin lagi sedih ia mendekati duduk di sebelahnya dan merengkuh bahu kekar Lian yin meskipun tangan kecilnya itu tak sampai di tangannya.
"Kenapa kamu cengeng gitu, kamu harus kuat dong, jangan sedih, lihatlah semua semua foto keluarga kalian di sini menatap kamu. Jika kamu sedih mereka pasti juga akan sedih disana. Tenang saja aku akan bantu kamu selidiki semuanya. Segera mungkin menjebloskan dia ke penjara"ucap Yiwen.
"Tapi apa bisa ditemukan siapa pembunuhnya?" tanya Lian yin menatap wajah yiwen.
"Percaya padaku, aku akan menemukannya dalam waktu 2 hari. Kamu harus dukung aku, sekarang kalau kamu mau berangkat kerja silahkan. kamu tenang saja aku di rumah gak akan keluar kemana-mana kok."Gumam Yiwen terasenyum mengusap rmabut lian yin yang sudah tertata rapi.
"Baiklah"ucap Lian yin.
Yiwen mengusap air mata yang tak sengaja menetes di mata Lian yin, ia meraih dasi lian yin dan merapikan dasinya, lalu merapikan kerahnya. "Kemu kerja yang tenang jangan pikirkan masalah itu lagi, sekarang kamu pergilah aku akan selidiki ini semua sendiri. Jadi jangan buwat alasan ini menganggu pekerjaan kamu"gumam Yiwen.
Ia menarik ke dua pipi Lian yin agar dia bisa tersenyum lagi. "Jangan cemberut terus senyum dong"goda Yiwen.
Lian yin tersenyum tipis menatap istrinya itu, ia memegang pipi Yiwen.
"Nah gitu dong senyum"gumam Yiwen.
tanpa membalas Lian yin mengecup kening Yiwen dan bibir Yiwen sejenak sebelum berangkat kerja. "Aku kerja dulu, kamu hati-hati di rumah. Dan ingat jangan keluar kaman-mana, jika kamu ingin keluar panggil Mei untuk temani kamu"ucap Lian yin.
Meski mereka sempat curiga dengan Mei tapi sebelum bukti itu sudah menunjukan jelas jika itu Mei maka mereka tak berani menyimpulkan dulu dan langsung menuduh Mei. Yiwen dan lian yin nunggu dari Changmin gimana dengan apa yang selidiki.
"Siap"Yiwen meraih tangan Lian yin mengecupnya lembut dengan senyum manis untuk menemani kerjanya nanti.
"Semua sudah diatur dengan sempurna, aku bisa mendapatkan istri yang begitu pengertian denganku. Meskipun dia hilang ingatan tapi dia masih mencintaiku. Perasaan itu masih sama tak pernah bisa hilang meskiun berbagai cara di hapus dari hatinya"gumam lian yin dalam hatinya. Ia segera melangkahkan kakinya pergi. Dan yiwen masih di dalam ruangan itu terdiam sejenak di sana menatap sekeliling sudut ruangan itu.
Ia melanjutkan lagi penyelidikannya, karena masih banyak teka teki yang belum terselesaikan di dalam kematian orang tua Lian yin. Bahkan mereka tidak ada yang tahu sama sekali termasuk polisi.
"Para pelayan tahu gak ya jika orang tua Yin dibunuh"gumam Yiwen.
"Lebih baik nanti aku coba tanyakan saja" lanjutnya. Ia menatap sekilas semua keluarganya. Foto keluarga besar Lian yin, di ambil waktu Lian yin masih sangat kecil. Mereka berkumpul dan berfoto bersama. Namun ada yang aneh di balik foto itu. Seorang wanita memakai kaos kaki di namun dia memakai higles.
__ADS_1
"Dasar wanita aneh, kenapa dia berpenampilan aneh gitu ya? dan kenapa wanita itu pakai kaos kaki? apa bisa jalan dia?" gerutu Yiwen yang penuh banyak pertanyaan di pikirannya.
Sekilas Yiwen melihat ekspresi wajah Wanita itu, yang melirik tajam ke ibu yang sedang memangku foto anak Kecil. "Sepertinya ini foto Lian yin"gumam yiwen.
"Terus kenapa wanita itu menatap tajam ke arah Lian yin. Dan kenapa wajahnya seakab tidak ingin ayah Lian yin dekat dekat dengan wanita di samping ayahnya. Dari wajahnya saja bisa di simpulkan dia sangat tidak suka bahkan sudah sangat dendam"Gumam Yiwen berusaha meraih foto itu segera membawanya pergi dari ruangan itu.
"Aku harus tanyakan ini pada para pelayan di rumah ini atau Lian yin"ucap yiwen.
Ia melangkahkan kakinya terburu-buru hingga tak sengaja menbarak seseorang.
Brukkk... ia menabrak salah satu pelayan yang melintas di sampingnya.
"Maaf non saya gak lihat tadi"Ucap pelayan itu menunduk.
"Udah gak apa-apa bi, lagian aku gak kenapa-napa."Ucap yiwen penuh keramahan pada pelayan yang lumayan sudah tua.
Pelayan itu menatap ke arah foto yang ia bawa, "Itu buat apa non?" tanya pelayan itu penuh keraguan, seakan ia takut menatap foto itu.
Tubuh pelayan itu tiba-tiba bergetar ketakutan, seolah ia menyembunyikan sesuatu. wjahnyabterus menunduk tak berani menatap ke depan bahkan memandang foto itu saja ia tidak berani.
"Bi ada apa?" tanya Yiwen memegang pundak pelayan itu.
"Gak apa non, saya masih banyak tugas non, mau pergi dulu" Gumam pelyan itu beranjak pergi meninggalkan Yiwen lagi. Ia terus menunduk ke bawah tak bernai menatap Yiwen. ia takut jika selama ini yang ada dalam pikirannya terbaca.
"Aneh banget sih pelayan itu" gumam yiwen.
"Entar siang sepertinya aku harus susul Lian yin di kantornya, nanti akun ajak Mei sekalian, aku mau segera tanya tentang foto ini siapa. Apa dia keluarga Lian yin juga atau siapa"gerutu Yiwen berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Sebuah pesan masuk, dari siapa ya"Yiwen membuka ponselnya.
"Yiwen kamu di rumah tidak aku akan kesana nanti." pesan dari Mei.
__ADS_1
"Kebetulan sekali dia mau kesini"gumam yiwen.
"Baiklah aku tunggu, di rumah lama Lian yin."jemari yiwen sangat lihai mengetik pesan, lalu mengirimnya segera ke nomor Mei.
Yiwen berjalan menuju ke balkon kamarnya, ia melihat pelayan tadi masuk ke dalam paviliun kecil. "Apa yang dia lakukan di sana?" gumam Yiwen.
"Ah.. mungkin itu adalah tempat tinggal dia di sini. Kenapa aku harus curiga pada pembantu Lian yin yang sudah tua itu."gumam Yiwen.
Haa... banyak banget yang harus aku pikirkan, tapi karena Lian yin sudah membantu aku, harus balas dia, aku juga akan membantu semua masalahnya sampai selesai. Setelah itu entah kedepannya gimana. Apa aku harus tetap bersama lian yin. Atau aku pergi meninggalkannya. Dan mencari jati diriku sebenarnya siapa. gumam Yiwen dalam hatinya.
Kring.. kring...
siapa yang telefon aku, nomornya gak di kenal lagi, ku angkat sjaa deh, gumam Yiwen.
"Siapa?" tanya Yiwen.
"Yiwen gimana kabar kamu, ini aku Tao, masak kamu lupa"
"Tao?" Yiwen terdiam sejenak memikirkan siapa Tao.
"Kenapa banyak sekali orang baru muncul di kehidupanku, sebanarnya aku siapa?" gumam Yiwen dalam hatinya.
"Yiwen kenapa kamu diam?" tanya Tao
"Kamu Tao siapa, aku gak tahu"ucap yiwen lirih.
"Madak kamu gak tahu sih, aku Tao teman kecil kamu. Ya, meskipun dulu kita pernah menjalin cinta namun itu dulu. Habis itu kita sudah tidak bisa bertemu lagi sejak kamu bersama dengan Lian yin."ucap Tao.
Tanpa menjawab Yiwen mematikan ponselnya, ia berpikir sejenak tentang masa lalunya itu, apa benar yang di bilang dia itu mantanya.
Berkali-kali ponselnya berbunyi Yiwen tak perdulikan itu, banyak pesan masuk juga dari Tao Yiwen belum juga membukanya.
__ADS_1
"Apa aku tanya sekalian ke Lian yin nantinya"gumam Yiwen.