Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Mata-mata


__ADS_3

Yiwen berdiri mondar-mandir di depan pintu masuk Vilanya. Ia merasa sangat resah kali ini, tak berhenti berdesah kesal, tubuhnya juga tak bisa berhenti untuk tetap diam menunggu dia pulang. Ingin sekali kakinya mepangkah keluar jauh dari Vila, mencari di mana Lian yin berada.


Tetapi Itu hal yang mustahil bagi Yiwen, Vila itu sangat jauh dari pusat keramaian. Dan ia juga tidak tahu di mana Lian yin berada. Yiwen merasa bingung harus mulai dari mana untuk mencarinya.


Tak lama sebuha halicopter turun tepat di depan pandangannya. Di pinggiran pantai , tepat saat ini ia matanya tertuju memandang. "Ley?" di pandangannya saat ini hanya melihat Ley, ia belum melihat ada tanda-tanda Lian yin di halicopter itu.


Yiwen memejamkan matanya, dengan ke dua tangan seakan memohon agar Lian yin sekarang berada tepat di depannya. Ia tak mau kehilangan Lian yin lagi. Ia berharap Lian yin datang dengan selamat berada di depannya memeluknya.


Lian yin berjalan perlahan mendekati Yiwen, berdiri dengan kaki terus gemetar, dan mata terpejam. Lelaki itu memegang ke dua pinggang langsing Yiwen, Sebuah kecupan di kening Yiwen, sontak membuat yiwen terkejut. Ia langsung membuka matanya, tanpa sebuah kata-kata lagi, ia sudah bersyukur bisa melihat Lian yin lagi kali ini.


Yiwen memeluk erat tubuh kekar Lian yin, "Kenapa kamu gak ajak aku." Yiwen berdecak kesal.


Lian yin membalas pelukan Yiwen, "Aku tidak mau kemu kenapa-napa nanti, setidaknya kamu bisa tenang di Vila. Tanpa ada hal bahaya yang mengintaimu" Yiwen melepaskan pelukannya. "Tenang katamu? Gimana aku bisa tenang, jika kamu pergi tanpa kabar, dan aku gak tahu kamu di sana dalam bahaya atau tidak, jika aku terus di sisimu maka aku juga bisa membantumu, meskipun dapam bahaya dan kesulitan apapun yang menimpamu. Kita akan terus bersama, menempuh bahaya apapun berdua" cerocos Yiwen tak hentinya,


Lian yin mengusap lembut ujung rambut Yiwen. "Jangan bilang seperti itu, setidaknya kamu adalah orang yang paling berharga bagiku. Aku tidak mau kamu terlibat dalam bahaya, syang. Tolong mengertilah" Lian yin menegaskan.


Yiwen memukul dada Lian yin.


"Harusnya kamu yang mengerti bagaimana perasaanku, saat kamu gak ada di sini, aku merasa kesepian. Dan di luar sana kamu dalam bahaya. Kamu bisa seenaknya bilang tenang. Hati ini gak bisa segampang itu tenang jika orang yang paling ia cintai dalam bahaya. Meskipun harus nyawa taruhannya, kita akan berjuang bersama, dalam bahaya bersama, dan mengatasinya bersama" Lian yin terdiam, menarik kepala Yiwen bersandar di dadanya.


"Baiklah,mulai sekarang kita akan melewatinya bersama" gumam Lian yin, mengusap lembut rambut Yiwen.


Yiwen terdiam, seraya air matanya sudah kering, tak bisa untuk keluar. Ia merasa sangat kesal sekaligus khawatir pada keselamatan Lian yin. Apalagi sekarang Chengyi pasti tidak akan tinggal diam, sepertinya aku harus menjaganya. Dan ikut dia ke kota lagi, aku tidak mungkin terus berdiam sendiri di Vila, sedangkan lian yin terus menghadapai segala bahaya, gumamnya dalam hati.


Ley yang melihat kemesraan mereka, membuat ia iri. Derita laki-laki single, bagi Ley, membuat ia merasa ingin mememiliki wanita yang seperti Yiwen.


Lelaki balutan jas hitam dan kemeja putih itu, berjalan menuju ke arah Lian yin. Ia menepuk pundak lian yin. "Kita harus pergi" gumam Ley, "Chengyi sedang menuju ke sini, sepertinya mereka sudah tahu apa rencana kita. Kita tidak punya wakti lagi" bisik Ley,

__ADS_1


Meskipun lirih bisikan itu terdengar jelas di telinga Yiwen, ia melepaskan tangan Lian yin. Tanpa banyak bicara, atau bertanya pada Lian yin dan Ley, ia segera berlari menuju kamarnya membereskan semua bajunya dan Lian yin.


"Bibi Lu bantu aku cepat, kita harus segera pergi" teriak Yiwen.


"Baik, non." bibi Lu berlari kecil mengikuti Yiwen.


Lian yin tak perdulikan Yiwen lagi, ia tahu jika dia masuk ke dalam rumah, itu gak membuat ia khawatir. Namun yang lebih ia khawatirkan adalah Chengyi, kali ini.


"Dimana dia sekarang?" Lian yin menatap sekelilingnya. Sepertinya ada seseorang yang mengintai mereka. Ley, tahundari tatapan Lian yin, ia segera beranjak menuju ke halicopter yang terparkir di pinggi pantai. Tanpa menjawab sepatah kata pertanyaan Lian yin. Ia sadar sekarang posisinya sangat genting.


Bukk.buk..buk..


Suara hentakan sepatu milik Yiwen membuat Lian yin terkejut, "Bi cepat naik duluan ke sana. "Baik,non." sambung Bibi Lu, yang berjalan di belakang Yiwen.


Lian yin menatap bingung ke arah Yiwen, seraya mulutnya ingin bertanya padanya. Namun Yiwen yang sudah paham Lian yin ia berbicara lebih dulu.


"Aku tahu semuanya, udah sekarang jangan terus berdiam diri di sini, cepat kita pergi".


Dor...Dor..


"Ley?" Yiwen berlari menuju ke halicopter itu dan segera naik.


Lian yin yang berjalan pelan melirik ke arah kanan, melihat ada seauatu yang bergerak, ia segera menembaknya.


Dor..


Lian yin meniup sebuah asap keluar pistolnya,

__ADS_1


Meong..meong..


Lelali itu yang terlihat serius kini ia menghela napasnya kesal, ternyata seekor kucing yang keluar dari balik semak-semak. Membuat ia hanya bisa tepuk jidad, untung saja tu kucing tidak terkena tembakan tadi, gumam Lian yin kesal.


Dengan langkah dangat hati-hati Lian yin segera naik ke Halicopter, yang sudah mulai beranjak naik perlahan.


Dor...Dor...


Suara tembakan mengara pada Lian yin yang menggelangtung. Saat mereka perlahan pergi, semua orang yang bersembunyi di sana keluar dari tempat persembunyiannya. Dan satu tembakan Khusus dari Yiwen.


Door....


Kini wajah yang semula polos terlihat mengerikan, bahkan lebih mengerikan lagi darinya.


Tembakan jitu itu tempat mengenai salah seorang yang berdiri di bawahnya. Yiwen tersenyum kecut. "Jangan harap kamu bisa mengalahkan tembakanku".


Lian yin terdiam, menatap ke arah Yiwen. Dengan hati terus bergumam. Ternyata benar apa yang di katakan Ley, Yiwen punya keahlian khusus di balik tingkahnya yang khoyol dan selalu ceroboh dalam bertindak. Namun saat menembak, dia melihatkan sisi sadis dari Yiwen, seakan itu adalah hantu bagi para wanitanya.


Melihat Lian yin hanya diam, Yiwen menepuk pundaknya. "Kenapa kamu diam?" tanya Yiwen memiringkan kepalanya, menatap Lian yin yang terlihat bengong, dengan mulut menganga tanpa suara. Membuat Yiwen merasa aneh pada Lelakinya itu.


Lian yin memegang ke dua bahu Yiwen, menatap detail wajah yang kelihatan lagi dan polos itu.


"Gak napa-napa. Kenapa kamu menyembunyikan topeng wajah itu di balik kepolosanmu. Di balik wajah ini ada wajah yang sangat mengerikan untuk membunuh seperti seorang monster yang haus dengan darah" gumam Lian yin.


Yiwen tersenyum tipis, "Apakah kamu tidak suka dengan semua itu." Yiwen tertawa kecil kali ini.


Lian yin terdiam, "Aku suka melihatmu seperti itu, bukannya kamu bilang akan menembus bahaya bersama denganku. Kita akan menghadapi bahaya itu dengan keganasan kita, dan kesadisan kita" Lian yin kali ini benar-benar sudah menemukan sesorang patner yang cocok untuknya, selain Lie Wei dan Ley ada sosok wanita yang juga terlihat sangat sadis di sampingnya itu, kan menjadi momok berharga buwat Lian yin.

__ADS_1


"Ley kita ke tempat persembunyian kita, dan segera hubungi Lie Wei untuk ke sana dan bawa juga itu dua wanita yang bersamanya. Mei dan wanita tahanan itu" raut wajah Lian yin mulai berubah, seperti seekor singa yang baru bangun dari tidurnya. Kini ia benar-benar ingin membalas semuanya. Tapi sebelum ia bisa memecahkan sebuah gambar yang ia bawa tadi dari rumah kosong itu.


Yiwen terdiam melihat raut wajah Lian yin berubah, baginya itu tak masalah, mau ia jadi sadis pun, ia juga sudah tak perduli. Baginya terus bersamanya menghadapi semua rintangan yang ada, sudah membuat ia merasa sangat senang.


__ADS_2