
Amerta yang masih tertidur di dalam mobil, perlahan dia mulai membuka matanya, matanya mengernyit dengan tangan kanan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Apa yang tetrjadi?" tanya Amerta, memutar matanya melihat sekelilingnya. Keningnya mengerutkan melihat Changmin tak ada di sampingnya, dia memutar tubuhnya cepat ke belakang.
"Di mana dia?" tanyanya.
"Apa dia ninggalin aku di sini sendiri?" lanjutnya duduk tegap, dengan tangan mengepal kesal, dia menatap ke depan melihat sebuah club malam di depannya.
"Dasar pria batu, udah di bilangin masih saja tetap di sana. Apa sih enaknya menyelesaikan masalah dnegan minum-minum." umpat kesal Amerta, beranjak keluar dari mobilnya, berjalan dengan langkah terburu-buru masuk ke dalam club, suara club malam yang sangat keras telinganya bergidik, dia memelankan langkahnya, memutar matanya memandang sekelilingnya, nuansa lampu remang membuat penglihatannya tak bisa sempurna mencari Changmin.
"Di mana dia?" gumamnya.
"Hai cantik!!" goda seorang wanita menoleh dagu Amerta, dan langsung di tepis oleh bahunya.
"Gadis kecil yang manis," ucap yang lainya. Mencoba menyentuh Amerta.
"Jangan dekat-dekat!!" ucap Amerta kesal.
"Oya.. Gimana kalau kita minum, aku akan ajarkan kamu gimana minum dan menikmati di sini,"
"Percuma!! Bukanya dia lebih ahli dari kita," saut yang lainya.
Dasar laki-laki dia belum tahu siapa aku, apa aku harus kasih mereka pelajaran. Tapi kalau aku buat keributan di sini. Sama saja aku cari mati, tapi aku ingin tahu apa yang mereka lakukan padaku. Amerta menarik bibirnya sinis.
"Ayo, syang!!" ucap salah satu laki-laki itu memegang tangan Maerta, dan langsung di tepis olehnya.
"Jangan kurang ajar," bentak Amerta.
"Wah.. Ternyata galak juga, tapi kamu cantik, main-main dikit denganku," ucap salah seorang pria.
"Mau main-main denganku?" tanya Amerta tersenyum tipis.
"Iya,"
"Oke baiklah, ikut aku sekarang ke kamar mandi"
"Kamu yakin sekarang," tanya salah satu pria antusias mendengar hal itu.
Amerta hanya tersrnyum, dan melangkahkan kakinya pergi, mencari kamar mandi pria di sana.
Di sisi lain Changmin yang melihat Amerta dengan para laki-laki dia mengusap.ke dua katanya lagi, mencoba memastikan apa benar itu dia.
__ADS_1
"Kenapa Amerta bersama dengan laki-laki," ujarnya sembari menarik bibirnya. "Dasar nurahan!!" umpatnya, beranjak pergi keluar dari dalam club, dia menatap mobilnya melihat jika Amerta memang tidak ada di sana.
"Apa aku benar-benar pastikan itu Amerta atau bukan? Sepertinya aku harus pastikan itu semuanya,"
Wanita murahan itu selalu bikin aku repot.
------
Amerta pov.
"Gimana kita lakukan sekarang," salah satu laki-laki memegang tangan Amerta, dan langsung di tarik ke belakang tangannya, dia memutar badan laki-laki yang menyentuhnya, lalu menendangnya dari belakang.
"Kalau kamu mau menyentuh aku, lawan aku!!" ucap Amerta, mengulurkan tangannya dengan menggerak-gerakan jemari tangannya seakan mengundang untuk para laki-laki itu maju.
"Kamu gak akan bisa lolos dari kami!!" ucap laki-laki itu, mulai mendekap tubuh Amerta. Dan langsung di hujani dengan tendangan ke arah belakang tepat kengenai srnjata laki-laki itu.
"Makanya jangan seenaknya peluk orang," umpat kesal Maerya, dan langsung mengeluarkan kecepatan tangan dan kakinya, memukul, dia sudah siap menggunakan teknikan tangan yang selama ini dia dapat untuk.melumpuhkan musuhnya, menarik salah satu tangan musuh, dengan kaki menendang yang lainnya dari samping dan belakang, dia memutar tubuhnya dengan ke dua tangan bertumpu pada tangan musuh, tubuhnya seakan ringan seperti kapas melompat dan menendang orang yang ada di belakangnya, Terkahir tendangan memutar dari kaki kirinya tepat mengenai wajahnya, membuat mereka terkapar di lantai. Tendangan yang sederhana miliknya membuat semua laki-laki itu tersungkur ke lantai.
"Enak?" tanya Ameta, menepuk-nepuk yanganya, tertawa kecil dan beranjak pergi meninggalkan mereka semua yang masih kesakitan di buatnya.
Tak lama Amerta pergi, Changmin berlari masuk ke dalam.kamar mandi, ia hanya melihat semua laki-laki yang bersamanya tadi tersungkur ke lantai dengan ujung bibir mengeluarkan darah segar, dan sebagain lebam biru.
Changmin berjalan masuk ke dalam, memutar matanya mencari Amerta yang entah sekarang ada di mana, wajahnya terlihat sangat panik. Dia menatap tajam ke arah salah satu laki-laki yang masih duduk memegang pipinya yang lebam.
"Dia pergi baru saja,"
"Terus siapa yang buat kamu seperti ini?"
"Iya dia juga!!" jawabnya takut.
"Argghhh..." Changmin mendorong tubuh Laki-laki itu dan beranjak untuk pergi meninggalkan mereka.
Ternyata dia bukan wanita hiasan, sangat unik. Wanita yang bisa jaga diri sendiri. Tak perlu susah payah aku melindunginya. gumam Changmin.
Changmin berlari mencoba mencari Amerta. Ke dua matanya mengernyit saat melihat Amerta duduk di bar, dengan langkah ringan dia berjalan dengan langkah sempoyongan berjalan mendekati Amerta dan duduk di sampingnya. "Kamu luar biasa ternyata?" ucap Changmin.
"Kak Changmin, kamu di sini. Tadi aku mencari kamu kemana-mana. Dan kamu gak ada, sekarang aku ingin kamu pergi denganku," ucap Ametha menggebu beranjak berdiri dengan ke samua tangan menggenggam bahunya
"Pergi sendiri!!" jawabnya.
"Aku ingin kamu pergi denganku, ayolah.. Aku yang padamu. Aku ingin kamu pergi jangan sakiti hati kamu sendiri. Dan ingat masih ada orang alin yang masih perduli denganmu. Dan tidak akan pernah saling lupa.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Changmin, hanya menarik salah satu alisnya, menepis kasar tangan Amerta yang menyentuh ringan tangannya.
"Karena aku ingin perduli denganmu,"
"Siapa suruh kamu perduli denganku, dan aku tidak ingin di perdulian olehmu. Lebih baik kamu pergi. Dan ini bukan tempat kamu," ucap Changmin seakan dia perduli dengan Amerta. Dari sikapnya menunjukan dia ingin tahu tentangnya. Tapi dia terus menolak akan perasaan itu. Dan bersikukuh untuk tetap cuek padanya.
"Apa kamu perduli denganku?" ganya Amerya dengan senyum tipisnya.
"Gak sama sekali!!" jawabnya tegas.
"Padahal aku ingin sekali bisa dekat denganmu," ucap Amerta tanpa rasa sakit dengan apa yang di katakan Changmin tadi. Ia sangat yakin jika Changmin itu perduli. Kalau enggak kenapa dia tahu kalau dirinya tadi di kamar mandi laki-laki
" Tapi, Aku gak mau," ucap Changmin tegas? sembari menunjuk ke wajah Amerta.
"Terserah kamu. Tapi aku gak bakalan menyerah u tuk bisa dekat denganmu. Dan aku akan selalu berjuang untuk dapatkan cinta kamu.
"Oke!! Terserah!!" jawab singkat Changmin, berjalan keluar dari bar, masuk ke dalam mobilnya, tanpa menunggu Amerta.
Dasar wanita aneh, aku gak suka masih saja memaksa. Udah bilang ribuan kali masih saja mau dekat denganku. Dasar gila!!
Changmin bergegas masuk ke dalam mobilnya, dan Amerta berlari keluar dari club mengikuti kemana Changmin pergi.
"Kak tunggu!!" teriak Amerta berlari tepat di belakang mobil Changmin yang perlahan menjauh.
"Malas banget aku harus melihatnya," decak kesal Changmin.
Amerta terus berlari sekuat tenaganya, kakinya yang terada sakit dia sudah tak snaggup lagi terus berlari, hingga dia terjatuh tersungkur ke jalan. "Kak Changmin!!" teriak Amerta, tangan kanannya mencoba meraih mobil yang sudah menjauh darinya.
-------
Changmin Pov.
"Sepertinya aku sudah menjauh darinya. " ucap Changmin.
Dia memutar tubuhnya melihat ke belakang, rasa kasihan terbesit dalam pikirannya.
Gimana kalau dia kenapa-napa nantinya. Anak orang lagi, nanti aku juga yang repot. Gumam Changmin.
"Shit... Kenapa aku khawatir dengannya. Padahal aku gak suka l," hampir kesal Changmin memukul keras setir mobilnya. Dia segera memutar balik mobilnya dengan kecepatan tinggi melaju pesat, mencoba mencari Amerta yang memang sengaja dia tinggalkan tadi.
Changmin berhenti tepat di depan tempat Amerta jatuh. Tapi, dia tidak ada di tempatnya. "Kemana dia pergi?" tanya Chamgmin dalam hatinya.
__ADS_1
"Shit... Nyusahin banget tu cewek," Changmin menggeram kesal, tak hentinya kata-kata kasar keluar dari mulutnya.
Changmin memelankan laju mobilnya, ke dua matanya memutar ke kanan dan ke kiri mencoba melihat kemana Amerta pergi.