
"Kita mau kemana nanti?" tanya Yiwen. Ia bingung setelah menikah dia akan tinggal di mana untuk beberapa hari di Itali. Apa kembali ke hotel atau kemana ia juga tidak tahu.
"Kita akan ke Vila" ucap Lian yin.
"Vila?? Kamu punya Vila di sini atau kamu punya rumah di sini" tanya yiwen.
"Aku punya rumah dan vila sebenarnya di sini. Tapi kenapa kamarin menginap di hotel itu karena aku mau yang dekat dengan gedung pernikahan kita. Lagian kalau mau ke rumahku itu jaraknya jauh banget. Mungkin sekitar 1 jam. Aku takutnya entar kamu capek. Karena perjalanan jauh. Jadi aku memilih yang dekat aja." Ucap Lian yin menjelaskan pada Yiwen.
"Oo... jadi begitu. Tapi kapan kita balik lagi ke rumah kamu dan bertemu dengan yeman-teman kamu lagi" tanya Yiwen.
"Mungkin 3 atau 2 hari lagi. Tergantung situasi di sana nantinya. Kalau ada hal mendesak ia segera kembali. Karena pekerjaan juga masih banyak. Tapi kan aku mau bulan madu dengamu dulu" goda Lian yin pada Yiwen.
"Apaan sih, aku gak mau gimana?" ucap Yiwen.
"Kenapa gak mau, itu sudah jadi kewajibanmu melayani suamimu" ucap Lian yin.
"Tapi aku belum tahu tentang masa laluku. Aku ingi mengetahui semuanya dulu. Aku gak mau kamu kecewa nantinya." ucap Yiwen menunduk.
"Sudahlah kita akan cari tahu tentang kamu bersama-sama. Aku juga akan mencari tahu semua rahasia pada diriku yang belum terpecahkan."ucap Lian yin. "Aku yakin jika kita sama-sama bersama memecahkan rahasia kita berdua pasti semua akan ada jawaban."lanjutnya.
Yiwen terdiam, ia berpikir sejenak. Apa iya aku harus menuruti apa kata Lian yin dan sepenuhnya percaya dengannya. Tapi lian yin memang tidak mencurigakan, gumam Yiwen menatap ke arah Lian yin.
"Baiklah. Kita akan sama-sama memecahkan semua rahasia dalam diri kita. Tapi aku mau kamu selalu bersamaku, menjagaku ya."ucap Yiwen polos.
Lian yin memegang tangan Yiwen. " Siap aku akan selalu menjagamu, kamu jangan pernah khawatirkan itu. Bahkan selamanya aku akan selalu menjagamu. Mulai dari sekarang dan selamanya."gumam Lian yin mejelaskan.
Yiwen tersenyum menatap Lian yin di sampingnya, ia benar-benar merasa sangat nyaman dalam genggaman Lian Yin.
Lama perjalanan mereka menghabiskan waktu berbincang berdua. Yiwen menemani Lian yin ngobrol berdua agar ia tak terlalu capek untuk nyetir sendiri. Lagian gak ada yang gantikan Lian yin jadi meskipun mata Yiwen benar-benar sudah ngantuk. Ia memaksakan untuk tetap terbuka dan menemani perjalanan Lian yin.
Hingga mereka sampai di sebuah Vila yang tak jauh dai pusat kota. Di dekat pantai di Italian dengan pemandangan yang indah. Dan Vila itu sepertinya tak jauh dari pusat keramaian jadi Yiwen merasa tak begitu takut.
"Kamu capek gak?" tanya Lian yin pada Yiwen yang masih duduk di sampingnya. Ia mulai membuka sabuk pengaman di tubuhnya dan tak lupa dengan sabuk pengaman di tubuh Yiwen.
"Lumayan Sih."ucap Yiwen memegang pundaknya yang terasa sangat capek.
Lian yin bergegas untuk segera turun dari mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan mengangkat Yiwen untuk masuk ke dalam Vila. "Apa aku boleh minta sekarang"tanya Lian yin menggoda.
"Minta apa?" Ucap Yiwen bingung.
"Minta itu"mata Lian yin menjalar ke tubuh Yiwen.
"Mata kamu dijaga jangan jelalatan begitu" ucap Yiwen mengingatkan.
"Masak sama istri sendiri gak boleh sih" ucap Lian yin.
"Boleh tapi setidaknya jangan sekarang dulu"ucap Yiwen mengerutkan bibirnya.
"Baiklah..baik. aku gak minta sekarang kok tapi setidaknya aku sudah meminta ke kamu ya. Kamu mau kasih kapapun aku akan menerimanya." ungkap Lian yin. "Tapi sebenarnya kita pernah kalau dulu sering melakukan hal itu denganku, berkali kali malahan" bisik Lian yin menggoda.
Yiwen terdiam, apa benar yang di bilang oleh Lian yin akun pernah berkali-kali tidur denganya.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu ragu dengan yang aku ucapkan. Kalau gak percaya ya sudah tapi aku udah tahu semua dalam punya kamu" ucap Lian yin menggoda.
Yiwen sontak melonjat turun dari gendongan Lian yin. Ia menatap tajam ke arah Lian yin. Meski belum begitu percaya dengannya tapi dari cara dia bicara sepertinya memang Lian yin tidak bohong dengannya.
__ADS_1
"Aku mau ganti baju dulu, setelah itu kita makan" ucap Yiwen mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau membahas masalalunya tentang itu. Jika masalah cinta dengannya dulu mungkin menarik untuk di bahas. Tapi kalau hubungan intim Yiwen masih belum sanggup mendengarnya.
"Baiklah, aku bantu kamu lepasin gaun berat ini ya. Lagiam kamu apa bisa copot gaun ini sendirian" gumam Lian yin.
Yiwen dengan terpaksa harus menerima tawaran Lian yin. Kalau tidak dia siapa juga yang bisa membantunya melepaskan gaun berat yang menutupi tubuhnya itu.
"Baiklah, cepat bawa koper kita yang di bagasi dulu. Aku tunggu kamu di kamar. Kamarnya di lantai dua kan" ucap Yiwen mematiskan.
"Baiklah. "Lian yin bergegas mengambil koper di dalam bagasi mobilnya. Tak mau lama-lama di luar, ia segera masuk ke dalam Vila dan menuju kamar di lantai 2.
Yiwen sudah menunggunya di sana, ia berdiri di depan cermin terus memandangi dirinya sendiri di depan cermin yang begitu cantik hari ini. Di hari pernikahan tadi ia benar-benar tampil sangat cantik dan mempesona banyak tamu. Dan Lian yin juga tak buruk, dia begitu tampan. Gumam Yiwen tersenyum membayangkan wajah tampan Lian yin saat pernikahan tadi.
"Hyo.. apa yang kamu lamunin, di depan kaca?" tanya Lian yin meletakkan kopernya. Ia segera membuka kopernya, lalu mengambil baju untuk Yiwen dan dirinya. "Itu aku sudah siapkan baju untuk kamu" gumam Lian yin meletakan baju Yiwen di ranjangnya.
"Ya udah, cepat bantu aku lepaskan gaun ini aku cepek" ucap Yiwen lirih, seolah ia sangat malu untuk meminta bantuan pada Lian yin. "Eh.. tapi kamu tutup mata ya"lanjutnya.
"Kenapa harus tutup mata sih?" tanya Lian yin. Yang mulai memegang resleting gaunya.
"Ya pokoknya jangan lihat, kamu harus tutup mata"ucap Yiwen menegaskan.
"Baiklah" Lian yin segera menutup matanya dan membuka resleting gaun pengantin yang menjular ke bawah. Ia membantu membuka baju itu dan dengan sengaja memeluk tubuh Yiwen dari belakang tanpa balutan gaun.
"Yin lepaskan aku"ucap Yiwen mencoba melepaskan rengkuhan Lian yin.
"Kecup dulu"ucap Lian yin menggoda.
Lian yi memberikan pipinya ke arah Yiwen, dan dengan terpaksa Yiwen harus mengecup pipinya lagian dia, kan, tutup mata.
"Udah cepat lepaskan"ucap Yiwen.
Lian yin segera melepaskan rengkuhannya dan membantu Yiwen mengangkat Gaun yang berat itu ke ranjang. Dengan segera Yiwen mengambil baju yang sudah di siapakan oleh Lian yin tadi. Tanpa basa-basi tangannya sangat lihai dengan cepat memakai baju dan celana hotpend pendek.
Lian yin tanpa ragu ia membuka bajunya dan segera memakai kaos pendek untuk di gunakan sehari-harinya nanti.
"Ayo masak bareng" gumam Lian yin.
"Masak apa? Aku gak bisa masak?" Tanya Yiwen.
"Masak terserah kamu saja" ucap Lian yin. "Aku mau masakan dari kamu sekarang, terserah apa mie instan pun juga gak apa-apa yang penting buwatan tangan kamu" pinta Lian yin.
"Benar gak apa-apa?" tanya Yiwen memastikan.
"Iya, udah ayo cepat turun. Aku sudah beli persediaan makanan di kulkas untuk stok 2 hari dan sekalian lengkap dengan minuman dan cemilan untuk kamu selama di sini."ucap Lian yin memegang tangan yiwen menariknya keluar dari kamar menuju ke dapur.
Lian yin mengambil 2 mie instan dan mengulurkan ke arah Yiwen. "Udah buwatkan aku, aku tunggu kamu di meja makan"pintah Lian yin.
Ya dengan terpaksa Yiwen menuruti apa kata suaminya itu. Ia segera membuat 2 mie instan untuk dirinya dan Lian yin. Tak butuh waktu lama 15 menit 2 Mie instan itu jadi sebuah masakan yang lezat. Hanya 2 mangkuk mie kuah.
Yiwen segera meletakkan di depan Lian yin yang sudah lama menunggunya di meja makan.
"Udah cepat makan" pinta Yiwen.
"Baik syang, tapi masih panas. Sambil nunggu panasnya hilang aku mau tanya denganmu boleh gak?" ucap Lian yin.
"Iya mau tanya apa?" ucap yiwen yang mulai duduk di depan Lian yin.
__ADS_1
"Kamu mau kan masakin buwat aku kedepannya nanti." ucap Lian yin.
Yiwen mengerutkan keningnya, menatap aneh pada suaminya itu.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu, apa ada yang salah, aku kan hanya ingin minta kamu melayani suamimu" ucap Lian yin.
Yiwen menghela napasnya, terpaksa menerima tawaran Lian yin. Gitu juga sekarang Lian yin adalah suaminya. Jadi apa yang di minta dia harus di turuti. Suka gak suka harus suka.
"Baiklah aku mau, tapi aku belajar dulu ya" ucap Yiwen.
"Baiklah itu gak masalah, aku akan mengajari kamu juga saat ada waktu senggang" ucap Lian yin yang mulai menyeruput mie yang sudah tak panas itu.
"Udah kamu juga cepat makan" suruh Lian yin.
Drrttt....drtttt...
Ponsel Lian yin bergetar di meja makan itu, membuat pembicaraan mereka di meja makan terhenti. Yin segera meraih ponselnya dan mengangkat telfon yang ternyata dari Ley.
"Iya Ley ada apa?" tanya Lian yin.
"Kita sudah berhasil memancing Lee, dan kini dia dalam perangkap kita. Kapan kamu pulang. Dia sudah berada di penjara bawah tanah bersama dengan Yhing yhi." ucap Ley.
"Begitu cepat kalian menangkap dia, tapi sepertinya kalian harus menjaganya ekstra ketat. Karena dia gak mungkin orang biasa. Banyak rencana licik dan cerdas yang dia buwat. Sewaktu-waktu dia bakalan keluar lagi dan akan kembali lagi bikin onar." gumam Lian yin.
Ley terdiam, ada benarnya juga apa yang di katakan lian yin. Ia tak tahu kenapa musuh begitu mudah terpancing. Jika dia punya pikiran cerdas harusnya tak mudah terpancing dengan robot buatanya sendiri. Dan robot itu juga ciptaan dirinya sendiri. Pasti ada hal khusus yang membedakan di antara mereka dan hanya dia yang tahu, gumam Ley dalam hatinya.
"Ley kamu mendengar apa yang aku katakan tidak??" tanya Lian Yin.
"Iya aku dengar, tadi aku hanya kepikiran ada benarnya juga yang kamu katakan. Lebih baik aku periksa sekarang di ruang bawah tanah. Changmin dan Mei juga sibuk di kantor Lie Wei semua perusahaanmu. Dan tak ada yang jaga mereka berdua di ruang bawah tanah" ucap Ley segera mematikan ponselnya.
"Sepertinya dia akan kabur" gumam Lian yin, meletakkan kembali ponselnya di meja.
"Ada apa?" tanya Yiwen memegang tangan Lian yin. Mencoba menenangkan hati Lian yin yang sepertinya lagi gundah.
"Aku merasa ada yang aneh dengan tawanan aku sekarang" ucap Lian yin.
Yiwen mengerutkan keningnya. "Tawanan apa??" tanya Yiwen bingung.
"Sebanarnya aku punya tawanan permepuan yang berani mencuri di tempatku. Dan 2 lelaki teman aku kemarin juga berhasil menangka Lee orang yang membuat kamu seperti ini. Dan aku tidak akan membiarkan dia berbuwat seenaknya saja denganmu. Bahkan berani menyakitimu lagi akan berurusan dengaku. Aku tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut masalah kamu" ucap Lian yin menjelaskan pada Yiwen. Dengan tangan memegang tangan yiwen.
Yiwen terdiam menatap kagum pada Lian yin. Di saat ia tak ingat apa-apa ada orang yang sangat perduli dengannya. Bahkan sangat perhatian seakan dialah nyawanya.
"Oya kamu sudah kenyang belum?" tanya Lian yin mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sudah!!. Apa kamu mau tidur?" tanya Yiwen tersenyum.
"Iya tidur seranjang ya kita" ucap Lian yin menggoda. Kali ini ia harus minta izin dulu. Karena ingatanya belum sepenuhnya pulih ia tak mau memaksakan Yiwen. Jika yiwen sama seperti dulu udah di ajak bulan madu buwat baby. Tapi Lian yin mengerti dengan kondisi Yiwen saat ini. Dari pada di paksakan msmbuat yiwen semakin ilfil dengannya nanti. Lebih baik tanya baiknya gimana nantinya.
"Gak mau" ucap Yiwen singkat, seolah hati Lian yin menciut mendengar ucapan Yiwen.
Ia gak menyangka dapat penolakan darinya. "Ya, sudah gak apa, aku bisa tidur di sofa yang penting sekamar agar aku bisa stand bye selalu menjaga kamu" ucap Lian yin.
"Baiklah terserah kamu" ucap Yiwen beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Dan Lian yin mengikuti setiap langkah Yiwen pergi. Seolah ia tak membiarkan Yiwen pergi sendiri meskipun ke kamar Mandi pun juga ia menunggu di luar.
__ADS_1
"Udah kamu cepat tidur" ucap Lian yin.
Yiwen beranjak membaringkan tubuh mungilnya di ranjang putih itu. Di balutkan selimut tebal menutupi setengah tubuhnya. Belum sempat matanya mulai terpejam suara gelegar petir menyambar-nyambar terlihat di kaca kamarnya yang memandang langsung ke arah laut. Tubuh Yiwen mengernyit seketika. Ia menutup telingannya dengan selimut tebal. Lian yin yang tahu Yiwen ketakutan ia beranjak berdiri dari ranjangnya dan menutup kaca itu dengan selambu.