
Lay dan Changmin yang kebetulan lewat ruang keluarga untuk menuju ke kamarnya. Mengambil beberapa barang. Yang ada di kamar Lay.
"Lay, nanti ambilkan juga laptop kamu ya. Aku belum selesai memulihkan virus di laptop aku. Dan semua laptop aku di pakai grace" ucap Changmin, berjalan mengikuti langkah Lay yang sangat cepat.
"Kamu kalau jalan jangan cepat-capat, bisa pelankan dikit gak" ucap Changmin dan.. Bukk..
Lay yang berhenti tiba-tiba tepat di depannya, membuat Changmin terkejut. dan menabrak l unggungnya. "kalau berhenti jangan mendadak gitu Lay, sakit tahu" ucap Changmin kesal mengusap dahinya yang terasa sangat sakit.
"Bisa gak kalau jalan itu hati-hati" ucap Lay kesal.
"kenapa malah nyalahin aku?" tanya Lay, yang semakin kesal dengan ulah tamannya itu yang semakin hari semakin nyebelin. dan tidak bisa senyum sama sekali saat di tinggal lyli. semakin hari juga sifatnya semakin aneh, membuatnya tambah pusing dengannya.
merasa tidak di hiraukan oleh Lay, changmin menatap wajah Lay, yang fokus melihat ke depan.
Changmin melihat arah pandangan Lay, menuju ke depan tv, seketika dia langsung melebarkan matanya melihat pemandangan yang tak biasa ia lihat sebelumnya. Hemm pantas saja Lay tak berhenti memandang pasti dia juga mau itu, tapi gak ada pasangan, batin Changmin tersenyum melihat Lay yang tak beehenti memandang kecupan panas mereka.
Dan tumbennya Lian yin memamerkan kemesraan mereka di depan orang dan sepertinya mereka lagi bahagia sekarang.
"Lay ayo pergi!" Ajak Changmin, menepuk pundak Lay, namun tidak ada balasan darinya. Ia hanya diam dan menatap ke arah Lian yin.
"Mereka enak banget, kapan aku bisa punya istri yang di ajak romantis seperti itu" batin Lay dalam hatinya.
Merasa tak di hiraukan oleh Lay, Changmin segera menarik tangan Lay pergi melewati pemandangan itu. Sebelum dia ketahuan Lian yin dan Yiwen.
"Ayo pwegi jangan memandang mereka terus, kamu cari pasangan dulu baru kamu praktek nanti" ucap Changmin lirih, menarik tangan Lay masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kamu menarikku?" Tanya Lay.
"Kamu gak lihat tadi mereka sedang asyik, malah kamu syik melihat juga" gumam Changmin. "Udah mana barang-barang kamu. Aku mau bawa ke tempat Grace, agar dia bisa nengerjakan semuanya." Lanjutnya.
"Jaga jarak dengan dia, jangan suka bermain wanita di sini. Kalau kamu suka satunya satu saja. Jangan melirik wanita lain" sindir Lay yang langsung menacap ke hati Changmin, ia merasa tersindir dengan apa yang di katakan Lay tadi.
__ADS_1
"Lagian kenapa kalau aku dekat dengan grace apa kamu cemburu ya?" Ucap changmin menggoda. "Atau mungkin kamu suka dengan grace, tapi jika kamu suka aku akan bantu kamu daoatkan dia. tenang saja dengan aku semua akan beres" lanjutnya, tersenyum menepuk dadanya.
"Siapa yang cemburu" gumam Lay kesal. "Aku itu gak cemburu dan tidak suka dengan Gace, aku hanya saja ingin mengingatkan kamu tentang hal itu. Jangan menyakiti hati wanita" gumam Lay, membuat Changmin terdiam memandang aneh pada Lay.
"Kelamaan gak punya pacar sekarang apa yang kamu katakan ada benarnya juga" ucap Changmin, merengkuh pundah Lay.
"Udah lepaskan, selakarang kamu cepat ambil apa yang kamu butuhkan. Dan cepatlah pergi dari sini" ucap Lay, melepaskan tangan Changmin di pundaknya.
"Siap tenang saja, jangan terlalu emosi gitu" ucap Changmin. Yang mulai mengambil beberapa barang yang ia butuhkan.
"Cepat jangan lama-lama, aku gak punya waktu lagi" ucap Lay. yang hanyabduduk menatap Changmin sibuk memilih apa saja yang akan di bawanya ke kamar Grace.
"Iya, ini juga cepat-cepat" ucap Changmin yang masih fokus membereskan semua barnag yang ia bawa.
~
Di balik ruang keluarga, di depan tv yang dari tadi masih menyala melihat apa yang yang di lakukan yiwen dan Lian yin.
Yiwen turun dari pangkuan Lian Yin dan duduk di sofa sampingnya. "Syang kamu mau minum gak?" Tanya Yiwen, yang sudah meraih botol minuman di depannya, lalu membukanya perlahan, kemudian mengulurkan ke Lian yin.
"Boleh juga aku haus, kamu mengajak aku kecupan sangat lama" ucap Lian yin.
"Tadi kamu sadar gak, jika Lay dan changmin melihat kita kecupan." Ucap yiwen.
"Emangnya mereka lewat tadi?" Tanya Lian yin.
Yiwen meneguk minuman di tangannya, lalu meletakkan kembali di atas meja.
"Iya, baru saja. Aku kasihan dengan Lay, yang harus di tinggal oleh Lyli. Dan sekarang di mana keberadaannya juga kita gak tahu" ucap Yiwen, menyandarkan kepalanya di bahu Lin yin.
"Gimana kalau kita banyu mereka, aku ingin dia bisa bertemu dengan lyli. Akuntahu dia gak mungkin berkhianat, hanya saja ia melakukan hal yang tak seharusnya di lakukan. Membocorkan semua informasi tentang aku pada musuh" gumam Lian yin, menyandarkan punggungnya di sofa.
__ADS_1
"Iya, aku tahu itu syang. Aku juga yakin jika dia itu gak salah. Dia hanya di paksa saja. Dan gak.mungkin jika dia melakukan hal itu yang membuat ia harus jauh dari kamu. Dan apa lagi dia sangat mencintai kamu. Dia pasti tidak mau jauh dari kamu, bahkan dia mau melakukan hal apapun untuk menjaga kamu. Sebarnya dia sama dengan Grace selalu bekorban demi kamu" ucap Yiwen, dengan tangan memegang dada Lian Yin.
"Iya sekarang apa yang harus kita lakukan lagi, ku gak mau jika kita salah jalan. Apa kota mencai Lyli dan membawanya kembali untuk Lay?" Tanya Lian yin pada Yiwen.
"Iya sepertinya begitu, kita harus bawa pulang Lyli. Hanya dia yang membuat Lay jadi semangat lagi. Kamu tahu gak saat Lyli hak ada Lay terlihat berbeda. Dia sangat dingin pada semua orang, dan tidak pernah tersenyum lagi. Sangat beda saat aku bertemu dengannya, yang selalu ceria dan gampang bergaul dengan semua orang." Ucap Yiwen.
Klinnggg...
Sebuah pesan masuk menghentikan pembicaraan Yiwen dengan lian yin. Yiwen segera mengambil ponselnya di meja, melirik sekilas sebuah pesan dari ayah.
"Siapa syang yang kirim pesan?" Tanya Lian yin.
"Ayah syang" ucap Yiwen, yang mulai membaca isi pesan dari ayahnya.
Sekarang kalian balik lagi ke rumah, ayah sudah di rumah. Ayah mau bicara dnegan kalian berdua sebelum ayah pergi lagi nantinya.
" Ayah ingin bicara dengan kita sekarang syang, sepertinya kita harus segera pulang. Ayah sudha menunggu kita di rumah. Dan waktu kita tidak lama. Sebelum ayah aku pergi lagi" ucap Yiwen, yang langsung bangkit dari duduknya. Dan beranjak.
"Ya sudah sekarang ayo kita pergi" ucap Lian Yin, memegang tangan yiwen , menggandenganya keluar dari rumahnya.
"Yin kamu mau kemana?" Tanya Changmin yang kebetulan baru kaluar daru kamar Lay dengan membawa beberapa tumpukan barang di tangannya yang menghalangi pandangannya.
"Aku maunpergi dulu ke rumah yiwen, kamu dan Lay di sini saja. Jaga Grace, tapi jika Lay keluar untuk mencati tahu informasi lagi biarkan. Aku serahkan tugas jaga Grace sambil melakukan apa rencana kamu dengannya" ucap Lian yin menoleh ke arah Changmin.
"Baiklah, aku akan jaga dia." Ucap Changmin.
Lian yin dan Yiwen berjalan dengan langkah terburu-buru mrnuju ke mobilnya. Tanpa bicara dengan yang lainnya. Mereka segera pergi dari rumah Lian yin. Mobil Lian yin melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah yiwen yang lumayan jauh dari rumahnya. Sekitar dua puluh menit perjalanan.
"Kenapa ayah mendadak memberi tahu kita, kenapa tidak dari tadi saja syang. kalau gini kita yang repot?" tanya Lian yin yang masih fokus mengemudi mobilnya.
"Entahlah, dia selalu begitu. Bahkan tidak pernah memberi tahu lebih dulu jika dia pulang atau pergi" gumam Yiwen.
__ADS_1
20 menit perjalanan, Lian yin sampai di depan rumah Yiwen. Ia berjalan dengan langkah cepat. Dan lian yin juga tida berhenti tanya pada Yiwen.