Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
menunggu


__ADS_3

Yiwen masih berdiam diri di kamarnya. Menatap indahnya pemandangan pantai di balik balkon kamar. Udara yang terasa sangat sejuk. Tak hanya pemandangan pantai seakan ia berada di tengah hutan yang banyak pepohonan rindang. Membuat suasana di sekitar sangat sejuk dan nyaman, membuat dia sangat nyaman berada di sana.


"Kenapa Lian yin sangat lama" gumam Yiwen dengan tangan menyangga di pagar pembatas balkon.


Ia mulai merasa bosan tak ada satu teman pun yang bisa di ajak bicara untuk mengisi waktu luang. Bahkan ia merasa sendiri di dalam vila yang amat besar ini. Harus berapa lama lagi aku menunggu lian yin dalam hati seolah berkata demikian. Berharap lian yin cepat pulang dan menemaninya.


Matahari sudah mulai terbenam, langit yang semula cerah kini nampak mulai gelap. Matahari sudah mengilang dari pandangannya.


"Lebih baik aku masuk ke kamar" gumam Yiwen membalikkan badannya beranjak menuju ke kamar membaringkan badannya yang terasa kaku dan sangat capek sembari menunggu kedatangan Lian yin.


Krukk....krukkk


Perutnya terasa sangat lapar, lian yin belum juga pulang. Dalam hati terus berharap semoga lian yin baik-baik saja di sana dan segera menemuinya lagi. "Apa sebegitu pentingnya pekerjaannya. sampai larut malam juga ia belum pulang" gumam Yiwen dengan tangan menutupi tubuh mungilnya denhan selimut tebal.


Ia membaringkan tubuhnya dengan Pandangannya masuh terus menatap ke pintu, ia berharap pintu itu segera terbuka. dan melihat wajah Lian yin datang dengan senyum yang terpaku di raut wajahnya.


Yiwen menahan rasa lapar dengan membaringkan badannya ke kanan dan ke kiri, sembari menunggu Lian yin pulang. Dan berharap ia sudah membawa makanan untuknya nanti.


Yiwen yang masih belum bisa tidur, ia terus menatap pintu dan sekilas melirik ke arah jarum jam, yang sudah menunjukan pukul 22.00. Tanpa kabar dari Lian yin sama sekali. Ia yang tak bisa menahan rasa ngantuknya untuk terus bisa menunggu Lian yin pulang. Hingga matanya perlahan terpejam dengan tangan memeluk guling di sampingnya.


****


Jarum jam sudah menunjukan pukul 24.00, Yiwen sudah tertidur pulas di ranjangnya. Dan melupakan rasa lapar yang membuat perutnya terlilit sakit.


Lian yin berjalan masuk ke dalam kamar Yiwen dengan 2 kotak makanan yang sudah ia bawa sejak tadi. Ia tahu jika Yiwen sangat lapar.


Lelaki itu meletakkan kotak makanan di meja kecil samping ranjangnya. Ia beranjak berbaring, merengkuh pinggang yiwen dengan berbisik padanya. "Maafkan aku!" bisik Lian yin. Seketika membuat Yiwen tersadar dari bangunnya.


"Lian yin!" Yiwen beranjak bangun dan duduk dengan tangan mengusap ke dua matanya yang terasa masih mengantuk.


Lelaki itu duduk di samping Yiwen, memegang ke dua tangannya.

__ADS_1


"Maafkan aku terlabat pulang, kamu pasti sangat lapar kan. Aku sudah bawakan kamu makanan. Kamu makan saja dulu setelah itu tidur lagi" ucap Lian yin mengambilkan kotak makanan untuk Yiwen.


Yiwen tersenyum tipis, mencium pipi kiri Lian yin. Sebagai hadiah terima kasih untuknya. Karena dia tahu saja apa yang ada dalam pikirannya jika ia sangat lapar.


Lelaki itu mengusap lembut ubun Yiwen dengan senyum merekah dalam raut wajahnya.


"Udah cepat makan" ucap Lian yin.


Dengan segera Yiwen yang sudah tak bisa lagi menahan laparnya. Ia segera memakan Nasi kotak yang di bawakan Lian yin untuknya. Tak lupa ia juga suapin Lian yin dengan sangat mesra.


"Haaa..haaa.." Yiwen mencoba menyuapi Lian yin namun akhirnya mendarat di mulutnya sendiri, membuat Lian yin kesal di buatnya. Lelali itu mencubit pinggang Yiwen, hingga mereka tertawa bercanda bersama sambil makan.


"Uhukk...uhukk..." Yiwen kesendak makanan gara-gara terus bercanda dengan Lian yin.


"Air..air" ucap Yiwen terpatah-patah.


Lian yin dengan segera mengambilkan air Yiwen berlari secepat kilat menuju ke dapur. Balik lagi membawa satu gelas air putih dan sekalian bawa minuman yang ada di kulkas dapur.


Yiwen meraih segera minumannya, lalu meminumnya habis tak ada tersisa.


Hingga tak terasa beberapa jam kemudian ia tertidur dalam dekapan hangat Lian yin. Saling merengkuh satu sama lain.


Tapi sepertinya lian yin tak bisa tidur. Ia terbayang lagi gimana nantinya jika Yiwen meninggalkannya. Mungkin tak akan bisa memegang wajah cantiknya.


Lelaki itu menciumi kening Yiwen saat tertidur pulas. Dengan harapan ia tidak akan pernah meninggalkannya.


Pikirannya kini terasa kacau. Ia harus memikirkan 2 hal sekaligus Yiwen dan pekerjaan yang semakin mendesak. Sepertinya ini akan menjadi hal yang sulit baginya. Mungkin minggu depan aku akan bawa dia ke kota untuk segera menikah. Sebelum Chengyi datang dan mengambil paksa Yiwen dari tangannya. Ia tak mau itu terjadi. Karena kali ini luhan sudah tahu jika yiwen bersamanya. Ia tak mungkin melepaskan Lian yin begitu saja


"Yiwen tetaplah di sisiku selamanya" gumam Lian yin ia merengkuh erat tubuh Yiwen di balut selimut tebal sekujur tubuh mereka.


Sebuah kecupan di bibir Yiwen sebagai pengantar tidur agar wanita itu mimpi indah tentangnya.

__ADS_1


****


Keesokan harinya matahari sudah terlihat jelas di balik jendela kaca samping kanan Yiwen. Yiwen merengkuh ke kiri meraba ranjang yang terlihat kosong tak ada Lian yin di sampingnya.  seketika ia terbangun dari ranjangnya.


"Lian yin?" teriak Yiwen membuka selimutnya dan beranjak berdiri.


"Dimana dia pergi kenapa tidak membangunkanku" Yiwen terlihat sangat bingung. Ia membuka kamarnya dan beranjak pergi mencari Lian yin.


Perasaan takut dan cemasnya bercampur aduk jadi satu. Yiwen terus berlari hingga ke pinggir pantai. Ia memutar mata menatap ke kanan dan ke kiri. Tak melihat Lian yin di sana.


"Lian yin," teriak Yiwen sangat lentang ke penjuru pantai.


"Kemana dia pergi. Lian yin kenapa kamu jahat tidak memeberi tahuku sama sekali saat kamu pergi. Aku takut, takut Chengyi akan mencelakaimu nantinya. Aku tahu luhan seperti apa" gumam Yiwen tak hentu-hentinya.


Ia terus menggentakan kakinya berkali-kali menghilangkan rasa khawatirnya dan cemas yang melilih hatinya.


"Semoga dia tidak di bawa pergi oleh Chengyi" Gumam Yiwen memegang tangannya yang sudah semakin bergetar penuh rasa cemas.


Ia mencoba mencari dia di sekitar pantai. Tiba-tiba jemari tangan kekar menutupi mata Yiwen dari belakang.


"Siapa kamu?" ucap Yiwen sembari memegang ke dua tangan lelaki itu di matanya.


"Coba tebak aku siapa" ucap lelaki itu agak membungkukkan sedikit badanya. Agar Yiwen bisa meraba wajahnya.


Yiwen mencoba mencari di mana wajah Lelaki itu. Ia meraba setiap detail bibir, hidungnya hingga mata.


"Lian yin," ucap Yiwen menarik tangan Lian yin ke depannya.


"Dari mana saja kamu, apa kamu gak tau aku terlalu khawatir dengan keadaanmu. Pergi gak membari tahuku" ucap Yiwen memukuli dada bidang Lian yin berkali-kali. Untuk meluapkan rasa khawatirnya tadi dengan Lian yin.


Dengan sigap lelaki itu memeluk erat tubuh Yiwen dalam dekapannya. Ia mengusap lembur rambut Yiwen . "Jangan terlalu khawatir. Aku tidak akan pergi jauh pagi darimu. Tidak akan juga yang bisa memisahkan kita lagi. Selamanya aku akan selalu menjagamu" ucap Lian yin dengan santainya mencoba menenangkan rasa cemas Yiwen yang berlebihan padanya.

__ADS_1


__ADS_2