
Yiwen yang berlari sendiri ke belakang, ia menghnetikan larinya, saat melihat mobil Changmin tetparkir di halaman samping hotel. Ia melihat Changmin baru turun dari mobilnya.
"Yiwen!!" panggil Mei berjalan mendekati Yiwen.
"Untung saja kalian cepat ke sini" gumam Yiwen, dengan wjaha yang sudah di penuhi dengan keringatnya.
"Sebenarnta apa yang terjadi?" tanya Changmin.
"udah nanti di jelaskan, ekarang kita harus cari Lian yin di belakang. aku mendengar suara tembakan tadi di belakang" gumam Yiwen.
"Aku juga mendnegarnya tadi" jaeab Changminndengan rasa oanik yang muali menggebu.
"Ya, sudah sekarnag kita harus pergi!" ucap Mei.
"Iya!!" Yiwen meneryskan larinya di susul Changmin dan Mei di belakang mereka.
"Sepertinya semuanya sudah beres" gumam Lian yin.
"Belum, lihatlah semuanya datang lagi!!" Jawab Lay, yang masih mengatur naapsnya yang ngos-ngosan.
"Iya, lihat dulu mereka langsung tuntas sebelum sampai di sini!!" Sambung Lian yin dengan percaya dirinya.
DOR.... DOR.... DOR....
DOR... DOR.... DOR...
tembakan bergutubi-tubi dari belakang para ajudan itu membuat senyuk tipis di bibir Lay dan Lian yin.
"Pasti Changmin!!" Gumam Lay.
"Iya memang dia!!" Saut Lian yin, menatap ke depan, meliaht Changmin berjalan dengan santainya membawa senjata yang masih mengeluarkan asap kecil. Ia berjalan ringan bersama dengan Mei, dan Yiwen mendekati mereka.
"Kalian semua gak apa-apa?" Tanya Changmin menatap ke arah dua temannya itu.
"Tenang saja kita gak apa-apa kok!! Kalian datang tepat waktu. Aku gak perlu mengeluarkan senjata" canda Lian yin, membuat senyum tipis di bibir Yiwen.
"Tapi mereka gak kebunuh semuanya, masih banyak" sambung Yiwen, menoleh ke belakang. Melihat masih banyak gerombolan para musuh yang berlari mendekat ke arahnya.
"Sepertinya kita harus menuntaskannya pakai tangan kita dan harus mengeluarkan tenaga ekstra. Jadi kaluan bersiaplah" ucap Lian yin.
Lay mulai melemaskan otot tangan dan kakinya. Ia sudah bersiap ingin menuntaskan dengan segera. Tanpa menggunakan senjata sama sekali di tangannya.
"Apa kalian sudah gila!!" Ucap Mei, yang tak tahu jalan pikiran mereka. Semua nusuh menggunakan senjata tapi mereka membuang senjata mereka masing-masing.
Yiwen menepuk pundak Mei. Mereka tidak gila. Tapi mereka tidak mau banyak korban yang berjatuhan nantinya. Lagian bukannya kita semua bisa menuntaskan dengan segera semuanya tanpa ada senjata" gumam Yiwen, melirik ke arah Mei di sampingnya.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu, aku akan membuang senjatanya. Aku juga gak mau banyak pertumpahan darah" jawab Mei, yang mulai membuang senjatanya.
Semua berjalan ringan maju ke depan, membuat semua musuh merinding melihat mereka. Gimana bisa mereka tanpa mnggunakan senjata, tapi musuh begitu banyak lengkap dengan senjata semuanya.
"Kalian jangan mendekat!! Kalau tidak kita akan menghujani kalian tembakan beruntun" ancam salah satu musuh mereka.
"Tidak masalah!! Jika kalian bisa" ucap Lian yin dengan oenuh percaya diri. Semua memang sudah di lengkapi dengan jaket anti peluru mereka masing-masing.
DORR... DORR..
Tembakan dari musuh, tak bisa nengenai merka, dengan sigap Lian yin, dan yang lain menyerang mereka dengan kecepatan tangan dan kakinya. Membuat semua senjata di tangan musuh jatuh tergelatak semua.
"Berhenti kalian semuanya" ucap Salah satu ajudan yang berjalan ringan menuju ke arah mereka. Membuat Lian yin dan yang lain menghentikan.
Salah satu musih mereka, menyekap Lyli di tangannya. Berjalan mendekat dengan mendongkan senjata ke arahnya.
"Serahkan file itu atau dia yang akan aku habisi"
Lian yin hanya diam, rahangnya mulai memengang dengan tatapan yang smeula santai kini semakin menajam
"Lyli!!" Ucap Lay, terkejut dan beranjak mendekati.
Lian yin dengan sifap mencegah tubuh Lay agar tidak gegabah.
"Apa yang kamu lakukan!! Jangan gegebah" gumam Lian yin.
Yiwen berjalan mendekati Lay dan berdiri di sampingnya.
"Aku tahu, tapi setidaknya kita memikirkan caranya untuk melepaskan Lyli" sambung Yiwen, menepuk pundak Lay.
"Jangan banyak bicara kalian!! Cepat serahkan file yang kalian curi!!"
"File!! Emangnya siapa yang mencuri file kamu" saut Changmin yang tidak tahu apa-apa dalam hal ini.
Lian yin menoleh ke arah Changmin, yang kini berdiri di sampingnya, dan berbisik.
"Diamlah!! Nanti aku akan jelaskan semuanya. Sekarang kamu pikirkan cara untuk mrnyalin file itu sekarang. Kamu ambil di mobil aku, di kotak warna merah"
Changmin masih tak percaya dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa banyak tanya lagi, "baiklah!!" Ucap Cahngmin. SGimanapun juga ia tidak bisa menolak apa yang di katakan Lian yin.
Lian yin, memberikan kunci mobilmya pada Changmin. "Jika semua sudah terkendali, tidak usah di salin kamu cepag pergi dan temui Grace, aku mau dia buka file itu" bisik Lian yin.
"Tapi gimana dengan Lyli?" Tanya Changmin.
"Aku bisa atur semuanya!!" Jawab Lian yin, di sisi lain Mei dan Yiwrn mencoba untuk mendekat secara perlahan.
__ADS_1
"Baiklah, aku salin file itu tapi tidak semudah menyalinnya. Aku akan kelabuhi dia. Dan bilang pada mereka jika file ada di depan hotel" ucap Changmin, menarik kelopak matanya dengan tatapan penuh dengan sebuah ide.
Dan Changmin segera pergi, secara diam-diam melewati halaman belakang, menuju ke mobil Lian yin yang terparkir di samping hotel. Meski jaraknya sangat jauh. Hotel itu sangat luas, hotel yang yang baru berpindah kepemilikan di fangan Lian yin itu. Membpunyai halaman yang sangat luas. Ia berlari secepat kilat menuju ke mobil itu. "Sepertinya itu file penting, aku harus secepatnya salin" gumam Changmin.
Tak butuh waktu lama, Changmin sampai di mobil Lian yin, ia segera salin ke laptop gang berada di mobil Lian yin, dan menghapus file asli nya. Jari tangan Changmin sangat lihai dalam hal itu. Hanya butuh beberapa detik dia brgitu cepaf menyalin semuanya. Yang biadanya menyalin sangat lama tapi bagi dia hanya hitungan detik untuk membuka pengaman sandi di file itu dan menyalinya.
Di sisi lain, Lay masih tidak bisa hanya tinggal diam dan mnunggu Changmin, ia ingin segera bertindak. Ia berjalan mendekat ke arah musuhnya.
"Jangan mendekat!! Atau dia aku bunuh sekarang" ucap musuhnya lantang.
Lyli menggigit tangan laki-ki yang menyekapnya, menginjak kakinya. Dan segera pergi.
"Lyli awas..."
Lay yang memang dari tadi tidak memakai jaket anti peluru, ia menarik tangan Lyli dan melindungi tubuhnya dengan punggungnya. Dan...
DORRRRR...
Sebuah tembakan tepat mennegani punggung Lay, membuat gumpalan kental berwarna merah itu keluar dari punggung Lay. Dan.
DORRR....
Yiwen menembak dengan tepat menenai punggung musuhnya.
"Kamu bernai menembak punggung Lay, maka aku juga akan menembak punggungmu." Ucap Yiwen dengan wajah yang tak biasa. Wajahnya mulai menegang, terlihat bukan seprtti Yiwen yang biasanya. Wajah yang terlihat menakutkan saat marah.
"Lay...." teriak Lyli menggemas, dengan tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. memopang tubuh Lay yang jatuh dalam dekapanya.
Tangan Lay yang kini di penuhi darah, memegang pipi Lyli. Dengan mulut yang sekaan sudah susah terbuka. "Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Lay terpatah-patah.
Air mata Lyli tak terbendung lagi. "Lay maafin aku!! Semua gara-gara aku!! Kamu harus bertahan sekarang... Kamu harus bertahan.." ucap Lyli, mengusap pipi Lay.
Sekarang kita cepat pergi, bawa Lay ke rumah sakit" ucap Lian yin, yang mulai memapah tubuh Lay masuk ke dalam mobilnya.
Mei kamu dan Yiwen bawa mobil Chanhmin, dan aku dengan Lyli akan baea mobil Lay." Ucap Lian yin, membuat Yiwen bertanya-tanya dalam hatinya.
" kenapa kamu sama Lyli?" Tanya Yiwrn memastikan.
"Lyli itu yang menemani Lay, sudah ini bykan waktunya salah paham Lay lebih penting" ucap Lian yin, yang sudah mulai panik dengan keadaan Lay. Ia segera meletakkan Lay di kursi belakang dengan kepala berbaring di ke dua paha Lyli.
Yiwen menarik napasnya kesal. Ia terpaksa harus menuruti kaga Lian yin. Kalau soal teman Lian yin lebih perduli. Yiwen sudah tahu itu. Ia menepuk bahu Mei untuk segeta pergi dari hotel itu.
"Kamu percaya dengannya?" Tanya Mei, yang sudah duduk di dalam mobil. Yiwen mulai menyalakan mesin mobilnya, melaju keluar dari halaman hotel itu.
"Kenapa gak percaya!! Aku percaya dengannya. Aku yakin jika dia tidak akan macam-macam. Baginya itu paling penting sahabat." Ucap Yiwen membuat Mei terdiam.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam?" Tanya Yiwen.
"Aku terlalu bodoh ya!! Pantas saja Changmin selalu menghindar dariku. Aku tidak pernah percaya dengannya. Bahkan aku selalu curiga dengannya, setaip dekat dengan wanita aku selalu curiga dengannya.