Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Baikan


__ADS_3

"Kenapa kamu begitu pengertian denganku?" tanya Lian yin, dengan senyum tipis terpaut di wajahnya.


"Karena aku cinta" ucap Yiwen singkat dengan senyum manisnya.


"Cinta, jangan terlalu berlebihan kerena cinta" ucap Lian yin, yang semula terpaut senyum tipis, senyum itu tiba-tiba perlahan pupus dari wajahnya.


Yiwen menatap Lian yin bingung, entah kenapa seakan dia tidak ingin mengatakan cinta, dia begitu tertutup sekarang, namun Yiwen mencoba berpikir positif dengan apa yang Lian yin katakan. "Bukannya aku sudah jadi istri kamu, kalau kamu gak cinta kenapa harus menikah denganku" ucap Yiwen, yang mulai menampakkan wajah seriusnya.


"Pernikahan ada yang tidak di dasari dengan cinta, seperti perjodohan dan lain-lain. Tapi aku tidak seperti itu, aku berbeda dari awal hingga akhir." ucap Lian yin, menarik alisnya ke atas, ia menatap wajah Yiwen yang terus menunduk sedih, sepertinya terluka dengan apa yang dia katakan tadi.


"Jadi kamu cinta denganku" tanya Yiwen, menatap ke arah Lian yin dengan wajah penuh harapan, ia ingin mendengar sebuah jawaban iya, dari mulut suaminya itu.


"Menurut kamu gimana?" tanya Lian yin, yang masih tak menunjukan senyumnya. Ia ingin melihat gimana reaksi Yiwen jika dia marah nantinya.


"Kalau menurutku memang kamu cinta, kalau enggak kenapa kamu membawaku ke sini, kenapa kamu terus mencariku saat hilang dulu, dan masih banyak lagi bukti kalau kamu memang cinta denganku" ucap Yiwen, di balas dengan cubitan tangan lian yin di hidung mungil Yiwen.


"Udah tahu, kenapa nannya lagi syang" ucap Lian yin, yang sudah sangat gemas melihat wajah istrinya itu.


"Habisnya kamu nyebelin gitu, kenapa tadi kamu bilang seperti itu, aku kira kamu gak cinta" ucap Yiwen, menguntupkan bibirnya kesal.


Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen, "Aku cinta dengan kamu, sangat cinta." ucap Lian yin, menarik tangan Yiwen masuk ke dalam dekapan hangatnya. Lian yin memeluk erat tubuh Yiwen yang brlum pernah ia rasakan lagi, ia meluapkan perasaannya yang terpendam dalam sebuah pelukan hangat darinya. Yiwen menerima pelukan Lian yin, ia merengkuh erat tubuh bugar Lian yin, dengan senyum tipis menyungging di bibirnya.


"Kenapa.kamu jatuh cinta denganku?" tanya Lian yin, melepaskan pelukannya.


"Entahlah, cinta tiba-tiba muncul dalam hatiku, aku gak tahu dari mana datangnya cinta itu. Cinta yang semula tumbuh dari benih kebencian. Dan sekarang cinta itu sudah tumbuh semakin subur di hatiku." ucap Yiwen, dengan ke dua tangan memegang pipi menggemaskan Lian yin.


Tatapan Lian yin yang semula di kenal dengan tatapan tajamnya, ia kini terlihat sangat lugu di depan istrinya.

__ADS_1


Lian yin tersenyum tipis, ia terkagum dengan cinta Yiwen. cinta yang dulu ia kejar-kejar, dan kini cinta itu sudah di milikinya, dan bahkan dia juga sangat mencintai dirinya. Rela bekorban dengannya.


~


Sedangkan Changmin dan yang lainnya sedang beristirahat di suatu penginapan di perbatasan. Mereka saling jaga, karena suasana di sana terlihat mencengkam. Mereka tidak bisa tenang untuk beristirahat. 


"Mei kalau kamu mau istirahat, istirahat saja" gumam Lay. 


"Iya, entar saja" ucap Mei. 


"Sudah tidur saja syang, jangan menemani kita. Aku gak mau kamu sakit nantinya" ucap Changmin mengusap lembut kepala Mei. 


"Udah syang, gak apa-apa. Aku ingin menemani kalian di sini." Ucap Mei, dengan senyum manis terpancar dari raut wajahnya. 


"Udah, aku suruh kamu untuk tidur" ucap Changmin tegas. "Kalau kamu sakit nanti malah nyusahin" lanjutnya. 


Changmin tersenyum tipis, "apa yang kamu katakan syang" gumam Changmin. 


"Bukannya kamu tadi yang bilang jika aku nyusahin kamu" ucap Mei yang semakin kesal, ia mengerutkan bibirnya. 


Cangmin menarik kepala Mei, uantuk menyandarkan ke bahunya. Dengan jemari tangan mengusap lembut rambut sebahu milik Mei. Lay yang melihat keromantisan mereka hanya diam. Ya, mau gimana lagi, ia tidak pernah meraskan hal itu. Dia terlihat seperti lelaki yang sangat menyedihkan. Nasibnya tidak seberuntung Changmin. 


Lay tidak pernah meraskana di cintai. Bahkan meski dia selalu bekorban dengan wanita. Tapi hanya sakit hati yang ia dapatkan. Benar-benar nasib yang begitu menyedihkan. 


Mei yang semula marah, kesal yang mengganggu hatinya. Kini perlahan hatinya mulai luluh lagi, ia tidak bisa marah terlalu lama dengan Changmin. Entah kenapa, Mei merasa tidak bisa jika marah, meski di sakiti, di buat marah, dan kesal berkali-kali ia tetap saja tak bisa marah sampai berhari-hari. 


"kenapa diam syang?" Tanya Changmin, dengan jemari yang masih mengusap lembut rambut Mei. 

__ADS_1


"Kamu nyebelin" ucap Mei, mendongakkan kepalanya menatap Changmin yang wajahnya sangat dekat dengan pandangannya. 


"Nyebelin gimana syang. Kamu jangan salah sangka dulu. Aku tadi bilang begitu, tidak mau jika kamu sakit. Bukan hanya aku yang repot tapi Lay juga. Di sini kita tugas tim, bukannya berdua. Jadi kamu juga harus jaga kesehatan sendiri syang, jangan pernah tumbang, atau sampai sakit bukannya aku gak syang dengan kamu, tau aku tidak perduli, ini juga demi keselamatan kita" ucap Changmin menasehati Mei. 


"Iya, syang. Aku tahu, ku hanya tanya, mencoba memastikan." Ucap Mei, tersenyum tipis. 


Lay yang merasa sudah tidak bisa melihat kemesraan mereka lagi, ia bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya pergi. 


"Kamu mau kemana?" Tanya Changmin, membuat langkah Lay terhenti, ia menoleh ke arah Changmin yang berada di belakangnya


"Keluar sebentar, kalian lanjutkan saja ngobrolnya" ucap Lay, dengan nada nampak tidak semangat. 


"Pergi kemana? Jangan pergi jauh dari kita" ucap Changmin yang terlihat khawatir. Mei duduk tegap, lagi bersandar di sofa, dengan kaki menyilang menatap ke arah Lay. 


"Benar apa yang di katakan Changmin." Sambung Mei. "Kamu di sini saja, lagian aku juga akan tidur kok" lanjut Mei, yang mulai bangkit dari duduknya. 


Changmin juga bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Lay. Ia menarik tangan temannya itu, yang kini bahkan sudah seperti saudaranya sendiri. 


"Ayo kita duduk lagi, aku gak mau kamu pergi sendiri, di luar sangat berbahaya. Kalau kamu ketangkap, aku tidak bisa tinggal diam nantinya. Lian yin juga pasti akan marah dengan aku, sudah meninggalkan kamu berkeliaran sendiri" ucap Changmin. 


"Iya, udah" ucap Lay. 


Mei sudah berbaring di ranjang sendiri, ia tidak mau membuat Lay merasa sungkan dan pergi nantinya. Meski belum bisa tidur, Mei berusaha untuk tetap memejamkan matanya. Agar terlihat sudah tertidur. Ia mendengar semua apa yang di kataka Lay dan Changmin.


"Kita harus tetap stay di sini" ucap Changmin.


"Kamu jaga Mei, aku mau keluar sebnyar cari makan, tenang saja jangan terlalu khawatir" ucap Lay, menepuk pundak Changmin, dan mulai melangkahkan kakinya pergi dari kamar hotel yang mereka pesan hanya satu ruangan, mereka tidak mau saling pisah kamar, tapi mereka tidak tidur bersama. Mereka tidur terpisah, dan hanya Mei yang tidur di ranjang.

__ADS_1


__ADS_2