
"Kenapa.Yiwen membawa foto keluargaku, apa dia mauntanya sesuatu? tapi tentang apa? atau mungkin dia sudah menemukan seseornag yang membunuh orang tua aku," batin Lian yin dalam hatinya.
Wajah yang semula sangat gembira di kantor di temani sang iatri, kini melihat foto keluarga itu ia jadi merenung, seakan senyum manisnya menghilang dari wajah Lian yin.
Lian yin meraba detail foto itu, dengan pikiran mulai mengenang masa lalu saat ia kecil bersama. Kenangan yang tak terlulakan.
"Lebih baik aku simpan lagi foto ini, nanti kalau Yiwen sudah bangun baru aku tanya lagi kenapa bawa foto itu"Gumam Lian yin.
Dan tanpa sepengetahuan Lian yin, Yiwen sudah melakukan oenyelidikan sendiri di rumahnya, dan sudah menyiapka sesuatu untuk masuk dalam paviliun itu tanpa lewat pintu belakang. Itu di lakukan Yiwen sebelum Mei datang menghampirinya tadi.
Merasa snagat lelah juga seharian bekerja, Lian yin ikut tertidur dengan posisi bersandar di sofa. dan tangan masih memegang tangan Yiwen yang berada dinatas perutnya.
"Hemmm.."Yiwen mulai membuka matanya perlahan, ia melihat ada sosok lelaki tertidur di sofa.
"Lian yin, kenapa juga tidur di sini" tanya Yiwen, "Eh.. kenapa aku tidur di pangkuan Lian yin sih"gumam yiwen. Ia segera duduk bersamdar di sofa.
"Aku gak tahubkalau tadi aku tidur di sofa dengannya"ucap Yiwen.
"Yiwen kamunsudah bangun"ucap Lian yi yang mendnegar samar ucapan Yiwen.
"Iya.. "Jawab Yiwen singkat.
"Emmm.. banyak pertanyaan yang belum kamu jawab"ucap Lian Yin.
"Pertanyaan apa" tanya yiwen.
"Itu foto "Perlahan Lian yin membuka matanya yang terasa berat untuk terbuka.
"Oh foto itu, entar kamu juga tahu. kau tadi melihat pelayan kamu masuk ke dalam paviliun dengan membawa beberapa makanan"gumam Yiwen.
"Apa? buwat apa bawa makan di paviliun?" tanya Lian yin.
"Aku juga gak tahu, entar waktu kita pulang kamu dan aku selidiki di atas balkon kamarku"gumam Yiwen. "Sekarang jam berpaa?" tanya Yiwen.
"Sudah jam 6"Gumam lian yin.
"Kenapa sudah jam 6 berarti aku tidur tadi lama banget ya sudah 3 jam ldbih aku tidurnya"ucap yiwen.
"Udah gak apa-apa, apa sekarang kamu mau pilang. Kita cari tahu jika sudah sampai di rumah"Gumam Aron.
"Baiklah, Ayo pulang"ucap Yiwen beranjak dari duduknya. Ia segera meraih tasnya di sofa dan beranjak melangkahkan kakinya keluar. di susul dengan Lian yin berjalan di belakang Yiwen.
"Langsung oulang atau kita makan dulu?" tanya Lian yin.
"Langsung pulang saja, kuta makan di rumah nantinya"ucap Yiwen.
"Baiklah terserah kamu deh?" ucap Lian yin.
__ADS_1
Tak lama mereka sampai di sebuah rumah besar milik Lian yin. Tak mau menunggu laam dan mekan malam dulu, Lian yin dan Yiwen berjalan menuju kamarnya tanpa rasa curiga pada siapapun. Ia menatap gerak gerik seseorang di atas balkon kamar yiwen.
Lian yin dan yiwen berdiri di atas balkon kamarnya mengintai seseorang di sana. Ia curiga dengan pelayan Lian yin yang sudha tua itu. Dia bahkan bolak balik masuk ke dalam paviliun itu terkadang juga membawa makanan.
"Apa ini akan berhasil"tanya Lian yin pada Yiwen.
"Aku yakin"ucap yiwen tegas.
"Baiklah kalau gitu aku akan turun dulu" Lian yin membalikkan badanya beranjak turun.
"Eh.. tunggu kamu mau kemana?" tanya Yiwen. "Napa gak loncat dari sini saja"ucap Yiwen.
"Apa kamu mau membunuhku"Ucap Lian yin.
"Siapa yang mau kembunuhmu, lihat dulu jangan vanyak komentar"ucap Yiwen. Ia sudah menyipakan tali yang renjulang, bahkan Yiwen sudah mencoba berapa beban yang bisa memuat tali itu meluncur langusmug ke paviliun.
"Apa kamu yakin ini aman"ucap Liam yin penuh keraguan dalam dirinya.
"Kamu gak percaya denganku?" ucap yiwen cemberut
"Percaya tapi aku ragu ini bisa muat beban kita berdua gak?" tanya Lian yin. wajahnya masih penuh keraguan pada Yiwen. Ia tak menyangka banyak sekali ide muncul dari kepala Yiwen saat ini. Bahkan dia tak terpikirkan itu sebelumnya.
"Terserah kalau kamu gak percaya, jika kamu berlari turun sudah keburu pergi tu kekayan kamu, tapi akalu lewag sini, aku sudah menembuskan langsung ke pintu samping paviliun Itu dan udah aku buka sedikit di balik pintu itu"gumam Yiwen menjelaskan.
"Baiklah tapi sama kamu, kalau kita jatuh nanti juga jatuh berdua"ucap Lian yin. menarik tangan yiwen.
"Apa gendong, dengan naik ini apalagi peralatn juga seadanya. Entah meluncur selamat atautidak. Ini tinggi banget sayang"gumam Lian yin mengeluh.
"Kenapa kamu ngeluh gitu sih syang, Udah coba deh cepetan"ucap Yiwen.
Dengan terpaksa Lian yin meluncur dengan pegangan kain seadanya. Ini venar-benar ide gila istrinya membuat celeka suaminya. "Aa... Yiwen awas kamu"gumam Lian yin menutup matanya tak berani melihat bawah
Yiwen meluncur di belakang Lian yin. Bruukkk.. Tubuh yiwen jatuh tepat di atas tubuh Lian yin.
"Haduh syang sakit, lain kali jangan bikin hal konyol ini lagi. meskipun kreatif tapi badan aku remuk lama-lama kamu tiba-tiba mendarat di atasku"gumam Lian yin memegang pinggangnya.
"Kenapa lagi sih syang, udah ayo masuk jangan banyak ngeluh deh"ucap Yiwrn menarik tangan lian yin agar cepat berdiri.
"Iya bentar napa, sakit nih"ucap Lian yin.
"Ah manja gitu saja manja banget sih"gumam Yiwen. menarik tangan Lian yin masuk ke dalam Paviliun lewat pintu belakang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lian yin.
"Maaf tuan.." gumam pelayan itu menunduk ke bawah.
"Apa yang kamu lakukan di sini, dan dia siapa?" tanya Lian yin tegas.
__ADS_1
"Saya bisa bicarakan di luar tuan" ucap pelayan itu.
"Tuan pasti ingat wajah dia kan, dia baby sister tuan dulu waktu kecil, dia anak bibi. Dan dia jadi gila setelah melakukan hal yang tak pernah ia ingin lakukan"gumam pelayan itu.
"Maksud bibi apa?" tanya Yiwen memotong pembicaraan.
"Dia sebanarnya yang membunuh orang tua tuan, meski bukan secara langsung tapi sebelumnya orang tua tuan minum teh dari buwatannya. bahkan dia gak sadar tuan jika geh itu ada sebuah serbuk penglupuh saraf."gumam Pelayan itu, membuT semua mata melotot ke arahnya.
Lian yin mengepalkan tangannya, namun Yiwen meredam amarahnya, ia memegang tangan Lian yin. "Yim sabar jangan emosi dengarkan dulu ceruta dia?" ucap Yiwen lirih.
"Maaf tuan kalau tuan mau menghukum. Dia hukum saja saya tuan sebagai gantinya"
"sudah makasih ya bii informasinya, bibi rawat saja anak bibi kasihan dia, lebih baik besok dia jangan di tarus sini, kasihan dia di ikat seprti itu. Bawa saja dia ke rumah sakit"ucap Yiwen.
Lian yin menatap Yiwen tajam ia tidak tahu kenapa Yiwen berbicara bisa seperti itu. Padahal ia ingin sekali marah dengan pelayan itu. Tapi yiwen juga yang meredamkan amarahnya.
"Makasih non, makasih non"pelayan itu tak berhenti berterima kasih pada Yiwen. ia merasa ada sosok wanita yang menyelamatkan. Bahkan dia tak sungkan menciun tangan yiwen.
"Sudah bi jangan seperti ini, sekarang bawa dia ke kmar bibi, kasih kehidupan dia yang lebih layan, besok kamu bawa dia kerumah sakit"lanjut yiwen.
"Iya, non makasih."
Yiwen melirik sekilas ke arah Lian yin yang terus menatapnya tajam, ia tahu apa yang ada dalam pikiran Lian yin saat ini, tak mau ambil resiko Yiwen segera menariknya keluar dari paviun.
"Apa yang kamu lakukan"Bentak Lian yin. "Dia sudah membunuh orang tua aku, kenapa kamu melepaskan begitu saja, ini kesemoatan aku untuk menjebloskan dia ke dlaam penjara"Ucap Lian yin penuh emosi.
"Plaaakkk... "
Tamparan keras tepat di pipi kanan lian yin.
"Apa kamu buta, apa kamu tuli, Lihatlah kondisi dia. Dan kamu juga dengar apa penjelasan pelayan kamu tadi. Dia tidak bersalah dia tidak tahu jika dalam teh itu ada obatnya. Jika tahu gak mungkin dia merasa bersalah seperti sekarang ini. Sampai dia gila dan hidupnya juga mendetita. Kamu harusnya cari siapa dalang sebenarnya yang keliaran hidup enak di luar sana. "ucap yiwen kesal.
"Aku kecewa sama kamu, kamu memang lelaki gak punya hati, benar apa yang di katakan Lee jika kamu pernah membantai semua keluarga Lee dan teman-temannya. Dasar iblis gak punya hati"ucap Yiaen penuh amarah mengobar di matanya.
Ia mengegrtakan giginya dan beranjak pergi dari hadapan Lian yin. "Yiwen tunggu"Teriak Lian yin.
Yiwen terus berjalan masuk ke dalam kamarnya, tanpa rasa ragu lagi ia segera membanting pintu kamarnya sangat keras.
Brakk...
Lian yin bahkan hanya diam, duduk di sofa memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. ia terua memukul kepalanya keras, tak perdulikan rasa sakit di kepalanya. Rasa sakit yang tak sebanding dengan sakit hatinya saat ini.
"Apa benar aku iblis? aku memang tidak ₩unya persaan, aku sangat kejam, aku sungguh sangat kejam, Arrggg.."Teriak Lian yin sangat kesal.
Melihat yiwen turun kembali Lian yin bernajak berdiri, "Yiwen kamu mau kemana?" tanya Lian yin panik, melihat yiwen membawa koper.
"Mau pergi, aku tidak mau tinggal sama iblis, ku tidak mau membantu orang yang gak punya hati seperti kamu." gumam Yiwen.
__ADS_1