Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Yiwen


__ADS_3

Lama menunggu Lian yin yang merasa sudah sangat lapar. Ia hanya diam, menatap Yiwen yang terbaring tidur di sofa depannya. 


"Pasti dia sangat capek!!" Gumam Lian yin, beranjak berdiri. melangkahkan kakinya menuju ke arah Yiwen. Ia duduk di samping Yiwen, mengangkat kepalanya, dan meletakkan di ke dua pahanya. Lian yi, rela menjadi tumpuan kepalanya untuk tidur. 


"Yiwen! Kamu sangat cantik!!" ucap Lian yin, mengusap lembut pipi Yiwen dengan jemari tangannya. Ia menyilaka rambut yang menutupi wajahnya. 


"Kamu sekarang pasti sangat capek!!" ucap lian yin. 


"Eemmm..." Yiwen menarik ke dua tangannya atas, merenggangkan ototnya yang terasa kaku. 


Ia perlahan membuka matanya. Menatap wajah Lian yin tepat di atasnya. "Ada apa?" tanya Yiwen, dengan senyum tipisnya. 


Yiwen, menatap wajah Lian yin jelas, ia tahu apa yang ada dalam pikiranya. Ia begitu banyak hal yang ia pikirkan. Membuat dia tidak ada waktu luang untuk liburan lagi. Situasi saat ini memang lebih aman dari biasanya. Tapi masih banyak hal yang di sembunyikan Lian yin di dalam pikirannya. 


"Iya, maaf aku gak bisa buat kamu senang-senang" ucap Lian yin, membuat Yiwen mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu?" 


"Aku selalu melibatkan kamu dalam bahaya, aku gak pernah membuat kamu bahagia. Bahkan sampai sekarang kita belum juga punya anak. Sudah banyak yang kita lakukan, tapi belum juga jadi. Tapi, setelah aku pikir-pikir. Lebih baik begitu, aku ingin kita menunda anak dulu. Sampai situasi sudah aman, dan semua permasalahan yang sebenarnya sudah di temukan" ucap Lian Yin, mengusap ujung kepala Yiwen lembut. 


wanita itu tersenyum, memegang pipi Lian yin, lalu menyubitnya perlahan. "Kamu itu ya, aku sudah bilang sebelumnya. Kalau kita tundak punya anak dulu, aku juga gak mau jika anak aku kenapa-napa nantinya. Dam mungkin juga aku terlalu stress jadinya aku belum juga punya anak" 


Lian yin kendorong tubuh yiwen agar duduk di sampingnya. Ia memegang ke dua pipi Yiwen, dengan wajah sangat khawatir. tubuh mukai gemetar hebat. "Apa.. Kamu stres gara-gara aku?" tanya Lian yin memastikan. 


Yiwen hanya bengong, melihat Lian yin yang begitu kebingungan saat dia mengatakan itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa satu suara-pun keluar dari mulutnya. 


"Mulai sekarang aku akan bahagiakan kamu. Aku gak akan marah dengan kamu, cuek dengan, dan Setiap apa yang kamu minta tolong bilang padaku" ucap Lian yin, dengan tangan kanan turun, memegang tangan kanan Yiwen. 


Wanita itu tersenyum, ia memegang ke dua pipi Lian yin. Mendekatkan wajahnya, semakin dekat dengan lian yin. membuat pria itu jauh lebih tenang. "Jangan khawatir seperti itu. aku stres juga karena keadaan" ucap Yiwen, memegang ke dua pipinya semakin erat, menariknya ke depan semakin dekat. Lalu mengecup bibirnya berkali-kali. 


"Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena aku yang memilih jalan hidup seperti ini dengan kamu. Maka kita akan jalani semuanya" Yiwen mengecup lagi bibir Lian yin beberapa detik. 

__ADS_1


"Syang!!" sapa Lian yin dengan senyum menggodanya. 


"Apa?" tanya Yiwen. 


"Kamu nanggung banget kalau kecup ini" ucap lian yin, menunjuk bibirnya.


"Nanggung gimana?" tanya Yiwen bingung. 


"Kamu diam ya, aku akan beri contoh pada kamu" Lian yin memegang pinggang Yiwen menariknya masuk dalam dekapan hangatnya. Pria itu mengecup bibir Yiwen penuh perasaan yang menggebu, semakin dalam, hingga tubuh Yiwen terjauh dalam sofa. 


Yiwen, melingkarkan tangannya di leher Lian yin, ia semakin menikmati dalam kecupan yang membuat tububnya semakin hangat dan bergairah. 


Tangan Lian yin, mengangkat sedikit ujung baju Yiwen, namun dengan sigap tangan Yiwen menepisnya. Dan mendorong tubuh Lian yin menjauh darinya.


"Kenapa syang?" tanya Lian yin. 


Yiwen, mengusap bekas kecupan di bibirnya. "Jangan sentuh aku dulu, aku masih M syang!!" ucap Yiwen. 


Lian yin, terdiam. Ia tiba-tiba yeringat tentang seorang umyang memberi tahu dia tentang peta di kertas itu. Menurut dia, inilah saatnya ia bertanya pada Yiwen, saat dia benar-benar tidak terlalu sibuk.


Lian yin menatap yiwen, yang terus berbincang, dengan badan menya dar di sifa dan tangan memegang lengan Lian yin di pundaknya.


"Syang!!" sapa Lian yin, menghentikan ocehan Yiwen, yang sebenarnya ia tidak tahu dari tadi apa yang di maksud Yiwen.


Yiwen, mengentikan ocehannya, memincingkan matanya menatap Lian yin di sampingnya. "Kenapa?" tanya Yiwen.


"Aku ingin tanya soal sesuatu." ucap Lian yin.


Yiwen, emakin bingung di buatnya. "Sesuatu apa maksud kamu?" tanya Yiwen. 


Lian yin, mengeluarkan kertas peta sebuah harta karun. Seperti yang di bilang ayah Yiwen dan kakeknya. "Ia benar-benar tidak apa maksud ini. Dan bukan ini yang aku maksud. Aku hanya tanya, apa kamu punya potongan kertas ini"

__ADS_1


Yiwen, mencoba berpikir, memutar otaknya untuk bekerja lebih keras lagi. Ingatanya samar-samar tentang petunjuk itu. 


"Emm.. Sepertinya aku pernah tahu, aku dulu gak paham dengan itu. Karena hanya potongan kecil, saat di berikan kakek aku, waktu di pantai. Dan aku taruh di laci kamar aku" ucap Yiwen, dengan otak masih memutar ingatanya itu. 


"Jadi sekarang ada di sana?" tanya Lian yin memastikan. 


"Iya, sepertinya. aku juga gak tahu jika sudah menghilang nantinya. Aku udah gak pernah kesana lagi." ucap Yiwen. "Memangnya kenapa?" tanya Yiwen.


Lian yin tersenyum, ia akhirnya menemukan petanya juga. Setalah semua selesai dan ia tahu tempatnya. Lian yin, memang sudah berniat untuk membakar bukti itu ahar tidak ada lagi yang tahu, dan mencoba mencari tahu tentang harta itu.


"Besok kita segera ke sana, kita berangkat pagi. Dan aku akan segera hubungi Changmin. Agar dia membawa halicopter untuk menuju pulau itu" ucap Lian yin. 


"Apa kamu sudah tabu tempatnya?" tanya Yiwen. 


"Tahu, Tapi jangan marah ya.. "aku pernah pergi sendiri ke sana, dan kamu akan tahu di sana banyak sekali penduduk" ucap Lian yin. 


Yiwen, terdiam. Bagaimana bisa di tempat yang terpencil itu, banyak sekali penduduk. Dia dan kakek dulu bertahan hidup di sana juga tidak mau ikut campur dengan urusan luar. Dan sekarang ternyata berbeda, ada ayang aneh. Sepertinya aku harus ikut Lian yin pergi ke sana. Pikirnya dalam hati.


"Kenapa kamu diam?" tanya Lian yin.


"Aku gak menyangka di sana sudah banyak penduduknya. Dulu gak ada penduduknya sama sekali. Hanya keluarga aku yang tinggal di sana" ucap Yiwen.


Lian yin, menimang ucapan Yiwen. Ia mencoba mengingat saat pertama kali bertemu dengan Yiwen waktu kecil.


"Dulu, waktu kamu kecil aku pernah kesana. Dan hanya kamu dan kelauarga kamu di sana" kata Lian yin.


Yiwen, melirik bingung ke arah Lian yin. "Apa benar yang kamu katakan?" tanya Yiwen. "Apa kamu pernah ke tempat itu, sebenarnya kamu siapa?" lanjutnya.


"Teman masa kecil kamu yang paling jutek. Aku pernah beberapa hari tinggal di sana. Kamu masih ingat gak" tanya Lian yin memastikan.


Yiwen mencoba memutar ingatan masa lalunya. Ia ingat siapa teman masa kecilnya itu. Dan hanya teman selama beberapa hari saja.

__ADS_1


__ADS_2