
Yiwen berjalan mendekati Lian yin. Yang duduk sendiri di tepi pasir. Dengan pandangan mengarah pada luasnya lautan di depannya. Lian yin terdiam melamun di pinggir pantai.
Yiwen duduk di samping Lian yin menatap pantai bersama dengannya. Merasakan desiran ombak dan hembusan angin yang membuat helaian rambut tipis sisa poni rambutnya berterbangan kemana-manda menutupi bagian wajahnya.
"Kamu gak pergi hari ini" tanya Yiwen dengan pandangan menatap Lian yin di sampingnya.
Lian yin melemparkan batu kecil ke laut.
"Aku hari ini mau luangin waktu untuk mu, bersama di sini seharian" ucap Lian yin dengan santainya. Ia mengambil batu kecil lagi dan melemparnya ke laut. Lelaki itu membalikan badan manatap Yiwen di sampingnya.
"Aku hanya ingin sesekali bersama kamu, tanpa ada hal yang mengganggu. Dan aku sudah matikan semua ponsel kita. Jadi di sini hanya ada kita berdua tak ada lagi yang akan mengganggu kita termasuk luhan" ucap Lian yin dengan jemari memegang pipi mulus Yiwen yang masih fresh tanpa balutan make up.
Yiwen baru saja bangun tidur belum smepat mandi, lalu mencari keberadaan Lian yin yang tidaknada di sampingnya tadi.
"Apa kamu meninggalkan pekerjaanmu juga hari ini demi aku" Yiwen menatap dalam mata Lian yin.
"Sudah lah jangan pikirkan pekerjaan, yang penting hari ini aku mau melihat kamu bahagia" ucap Lian yin memegang ke dua tanga Yiwen. Lalu mengecup punggung tangannya lembut.
Yiwen hanya dia tersenyum, kali ini ia hanya bisa menurut dengan Lian yin. Dari kamarin sepertinya Chengyi terus menghubunginya. Mungkin Lian yin merasa sangat takut akan kehilangannya lagi. Dan lebih memilih bersamanya, menjaganya di vila selama beberapa hari ke depan. Sampai suasana sudah smeakin kondusif.
Dan sepertinya ia juga akan menunda keberangkatanya ke Itali. Mungkin minggu depan setelah suasana sudah kondusif. Ia tak mau ambil resiko kali ini.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu," tanya Yiwen mendekatkan wajahnya.
Lian yin tersenyum tipis.
"Karena kamu terlaku cantik" jawab Lian yin, dengan tangan mencubit pipi menggemaskan Yiwen.
"Apaan sih, gak jelas" Yiwen mengerutkan bibirnya. Meleparkan pandangannya berlawanan arah. Ia terus ngambek jika Lian yin selalu mencubit pipinya. Ia mengira jika pipinya selalu di cubit akan menjadi pipi cabi seperti bakpau.
"Apa yang gak jelas, emang benar kamu tuh cantik dan kini samakin spesial di hatiku" ucap Lian yin merangkul pundak Yiwen.
Ia menarik dagu Yiwen agar mau manatapnya kembali. sebuah kecupan mendarat di bibir Yiwen dengan desiran ombak yang menyapu kaki mereka. Namun Yiwen dan lian yin tak perdulikan itu. Ia menikmati sebuah kecupan hangat tanpa penolakan.
__ADS_1
"Maaf" Yiwen tiba-tiba mendorong tubuh Lian yin.
"Ada apa, kamu gak suka" tanya Lian yin .
"Bukannya gak suka, tapi gimana kalau ada orang yang lewat melihat kita" Yiwen menundukkan kepalanya malu.
"Emangnya malu kenapa, di sini hanya ada kita berdua" Lian yin membaringkan tubuh yiwen di atas pasir. Mereka saling memandang satu sama lain.
"Lian yin aku mencintaimu" gumam Yiwen lirih. Tak ada jawaban dari Lian yin. Ia kembali mengecup bibir Yiwen kini semakin dalam hingga tubuh mereka berguling dia atas pasir menimati.
Thing...
tiba-tiba yiwen tersadar dari semuanya.
"Udah cukup," ucap Yiwen mendorong tubuh lian yin menjauh darinya.
Lian yin mengerutkan keningnya, mengusap lembut bekas kecupanya di pinggiran bibir Yiwen. "Kenapa?" tanya Lian yin bingung.
Yiwen berbaring dengan kepala beralaskan tangan kekar Lian yin, dengan menongakkan kepala ke atas menatap matahari pagi yang masih terasa menghangatkan tubuhnya. Dengan desiran ombak yang kini sudah membasahi kakinya.
"Baiklah, tapi jika kita sudah menikah. Kamu jangan menolakku lagi. Kamu harus menuruti apapun yang aku mau termasuk olahraga di pagi siang atau malam" ucap Lian yin.
Ia tertawa kecil membayangkan saat mereka menikah nanti, dan saat dimana Yiwen melayaninya di ranjang. Pikiran kotor itu terbayang terus di otaknya.
"Plakkk.." pukulan tangan Yiwen mendarat di kepala lian yin. Seraya ia tahu apa yang ada di otak kecil Lian yin.
"Kamu pasti berpikir mesum kan, dasar otak mesum" ucap Yiwen mengerutkan bibirnya. Ia sangat kesal Lian yin selalu bepikir mesum dengannya.
"Udah gitu aja ngambek, sesekali gak papa" ucap Lian yin.
Yiwen beranjak duduk, menatap lautan luas di depannya. Ia membayangkan kejadian dulu waktu ia kecil. Saat pertama bertemu dengan lelaki kecil yang mampu mengalihkan pandangannya dari Feng yin.
Bisa di bilang dialah yang merubah sejerah hidup Yiwen saat itu. Saat pertama bertemu dengannya di pantai. Dan dulu dia sangat cuek bahkan tak pernah menganggapnya. Namun Yiwen tak pernah kenyerah untuk ingin berteman dengannya.
__ADS_1
Namun itu hanyalah masa kecil Yiwen saat ia masih tinggal bersama kakeknya. Namun sejak kakeknya meninggal. Ia tak pernah juga bertemu dengan orang tua lelaki itu.
"Kenapa kamu diam?" tanya Lian yin yang duduk di samping Yiwen.
"Hmzz gak papa" Yiwen beranjak berdiri berlari menembus ombak. Hingga membasahi kakinya.
"Haaaaa..." Teriak Yiwen menggelegar menembus luasnya lautan. Ia meluapkan isi hatinya yang terasa gundah.
Lian yin beranjak berdiri berlari menuju ke arah Yiwen, ia memeluknya dari belakang. Hingga mereka tertawa, bercanda bersama bermain air. Dan membuat sekejur tubuhnya basah.
#Chengyi POV
Di balik perusahaan besar di utara, Chengyi duduk bersandar di kursi kerjanya dengan tatapan kosong. Ia mengingat wanitanya Yiwen. Berharap dengan segera ia menangkap Lian yin dan membawa Yiwen pulang. Lelaki itu tak mau kehilangan Yiwen lagi.
Tok..tok...
Sebuah ketukan dari luar ruangannya.
" lMasuklah!!"
Seorang lelaki masuk ke dalam dengan langkah ringan menundukkan kepalanya.ia berjalan menunduk sedikit dan berdiri di depan Chengyi.
"Ada apa?" Chengyi duduk tegap menatap lelaki itu yang menunduk menghormatinya.
"Tuan kita belum berhasil menemukan lian yin, dan lian yin juga tidak ada di perusahaannya. Namun saat pengecekan ke dua tiba-tiba semua yang masuk ke kota barat di lihat mulai dari paspor dan visa. Serta di daratan juga di lihat kartu kependudukan kita. Siapa yang berasal dari luar darah di selidiki dan di periksa" ucap lelaki itu.
"Apa rencana mereka kali ini" tanya Chengyi
"Kita juga tidak tahu tuan, sepertinya mereka kehilangan sesuatu yang berharga. Ini tidak seperti biasanya pengawal mafia barat bertindak seperti itu"
"Baiklah cepat selidiki sebenarnya ada apa, dan ingat kalian juga selidiki di mana keberadaan Lian yin dan Yiwen. Jika sudah menemukan hubungi aku, atau paksa Yiwen untuk pulang. Kamu boleh bius dia dan culik dia dari Lian yin, bawa kehadapanku" wajah luhan mulai menegang. Ia tak terima Lian yin selalu merebut Yiwen darinya.
"Baik tuan" lelaki itu menatap Chengyi sekilas, lalu menundukkan badannya dan beranjak pergi.
__ADS_1