Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Amerta


__ADS_3

"Memangnya kamu mau tanya apa?" Yiwen, menarik alisnya ke atas, ia menatap wajah Amerta yang sepertinya menyembunyi sesuatu, yang tidak mereka semua ketahui.


Amerta yang semula tidak ingin jika Yiwen tahu, ia tidak punya pilihan lagi. Karena besok dia akan pulang. Gimanapun ia juga harus pergi besok.


Sepertinya aku harus tanya padanya, kalau aku tidak bisa bertemu Changmin besok, setidaknya aku bisa tanya pada Yiwen. Dan dia juga pasti tahu semua tentang kakak aku, saat dia, diam-diam pergi.


"kenapa kamu diam? Apa kamu susah cerita padaku? Atau kamu malu ya? Atau mungkin, kamu malu meminta bantuan aku, untuk mengingkapkan perasaan?" tanya Yiwen, menarik tangannya Amerta, segera pergi menuju ke taman bunga di belakang rumahnya.


Amerta, tertegun, mengerutkan keningnya, dengan bola mata bergerak ke kanan dan ke kiri, sembari menarik sudut bibirnya sedikit.


"Eh.. Maksud, kak Yiwen Apa? Mengungkapkan perasaan pada siapa?" tanya Amerta.


"Pada seseorang, yang tinggal di sini. Yang penting tidak perempuan ya," ucap Yiwen, menghentikan langkahnya.


"Eh.. siapa juga yang suka demgan perempuan, aku masih normal kak." ucap Amerta, bergidik geli.


"Ekarnag imut aku, aku mau bicara denganmu!!" Yiwen, menarik tangan Amerta. Pergi lagi dari depan halaman rumah megah milik Lian yin.


"kamu mau bawa aku kemana?" tanya Amerta, menatap curiga pada Yiwen.


"Kamu jangan macam-macam denganku, aku bisa adukan kamu ke kakak aku." lanjut Amerta.


"Bisa pelan gak? Jangan terburu-buru jalannya, Emangnya ada ajing yang kejar kamu, ya?" celoteh Amerta tidak ada hentinya.


"Kamu kenapa, sih. Dari tadi diam, apa kamu lagi sakit gigi ya," umpat kesal Amerta yang dari tadi capek, menggerutu sendiri, tanpa di gubris sama sekali oleh Yiwen. Bahkan dia semakin menarik tangannya, mencengkramnya, dengan langkah semakin cepat. Membuat ia yang tak bisa mengimbangi langkah Yiwen, harus sedikit berlari.


Yiwen menghembuskan napas kesalnya. Menggertakkan rahangnya, melirik tajam ke arah Amerta.


Yiwen semakin kesal di buatnya, Amerta memang benar-benar berisik, membuat telingannya sangat panas, gerah. Seakan gendang telinganya, ingin pecah, mendengar celoteh dia semakin berisik di buatnya.


"Gak usah berisik, bawel." umpat kesal Yiwen, menggerakkan kepalanya, kebelakang, menatap tajam ke arah Amerta, membuat gadis di belakangnya, begidik ketakutan. Melihat tatapan, mengerikan, dari mata elang Yiwen.


Yiwen melepaskan cengkramananya, ia berjalan ringan, menikmati pemandangan di samping. Tak begitu permasalahkan lagi, apa yang di celotehin, gadis kecil di sampingnya.


"Sudah, sekarang kamu jalan saja. Sambil cerita, apa yang menbuat kamu, memcari Changmin." ucap Yiwen.


Amerta menelan ludahnya kasar, ia terhenti, ia ragu ingin cerita pada Yiwen. Ia mencoba menarik napasnya dalam-dalam.


"Kapan kakak aku pacaran dengan, kak Changmin?" tanya Amerta ragu. Dengan wajah terlihat sangat gugup.


"Oo.. kamu hanya tanya soal itu, apa kamu tertarik dengannya." gumam Yiwen, mendekatkan tubuhnya, mencolek dagu Amerta, ia suka menggoda gadis kecil itu, yang sepertinya tertarik dengan mantan kakaknya. "Jasi benar apa yang aku katakan tadi, kamu suka dengan Changmin ya, kalau kakak kamu tahu, apa dia gak marah. Apalagi, kakak kamu dulu sangat mencintai Changmin, kelihatannya. Aku juga tidak tahu pastinya." lanjut Yiwen, berbicara tidak ada hentinya, seakan tidak ada titik, komanya.


Amerya, menggelengkan kepalanya pelan, ia mengernyitkan matanya, heran dengan apa yang di katakan Yiwen.


Bentar, tapi Changmin itu, kalau di lihat-lihat, dia sangat imut, gemesin. Dia juga baik, meski kadang nyebelin, tapi dia manis, tampan juga. Pantas saja dulu kakak aku katanya suka banget dengannya.


"Kamu jatuh cinta pandangan pertama, ya?" goda Yiwen. Membuat Amerta, melebarkan matanya, seakan bola matanya seakan mau lompat dari tempatnya.


"Maksud, kamu? Aku tertarik dengan, kak Changmin, gitu."


"Iya, siapa lagi, dia. Kamu dari tadi hanya tanya tentang dia, padahal laki-laki single di sini, ada Lay dan dia. Tapi kamu lebih memilih Changmin. Kalau tidak, kenapa kamu tanya tentang hubungan masa lalu mereka. Lagian itu juga tidak penting bagimu," celoteh Yiwen, kembali melangkahkan kakinya, semakin menuju taman belakang.


"Siapa juga, yang tertarik dengannya. Aku hanya penasaran!!" ucap Amerta menyembunyikan perasan ketertarikan pada hatinya, yang sebenarnya.


"Penasaran itu, lama-lama, jadi ketagihan, dan jadi cinta, deh." goda Yiwen.


"Ihh.. Enggak kak," ucap Amerta, menyangkal.

__ADS_1


"Jangan bohong! Kelihatan wajah kamu memerah,"


"Enggak kak!!"


"Aku bisa bantu kamu nantinya, bantu kamu dekati dia. Gimana?" ucap Yiwen, mencoba menawarkan hal baik untuk Amerta


"Gak mau!!" Amerta, yang malu, mencoba untuk menyangkal, memegang teguh pendiriannya. Agar tidak terlalu tertarik lagi dengannya.


"Kamu suka kan?" tanya Yiwen, sekali lagi.


Amerta hanya tersenyum, melihat Yiwen yang sangat friendly pada semua orang. Dia tidak membedakan musuh atau teman"Kenapa diam? Pasti benar ya, apa yang aku bilang?" lanjut Yiwen, yang kemudian duduk di kursi taman.


"Tidak, ku hanya ingin melihat mereka semua bahagia, makanya aku ingin membuat mereka kembali." ucap Amerta, mencoba menengahi, ia memang awalnya tertarik, tapi saat tahu dia mantan kakaknya, ia tidak mau lagi tertarik lebih jauh, dari pada kakak-nya marah, lebih baik menjauh dari mantan-nya. Tidak berurusan lagi dengan mantan kakaknya, tapi jika dia ngebolehin, bagi dia gak masalah. Asalkan ada ijin darinya.


"Oo.. Tapi sepertinya Changmin sudah menemukan tambatan hati baru," ucap Yiwen, tanpa menatap ke arah Amerta.


Mendengar hal itu, rasa penasarannya semakin menjadi, ia menoleh cepat, menatap ke arah Yiwen. "Siapa dia? Apa dia cantik? Atau dia lebih cantik dari kakak aku?" tanya Amerta, tidak ada hentinya, memegang bahu, Yiwen. Menggoyangkan tangannya pelan.


"Jangan tarik tangan aku, kalau kamu seperti ini !ku gak akan cerita padamu." gumam Yiwen, menguntupkan bibirnya kesal. rasanya tangannya mau copot, terus di tarik-tarik oleh gadis kecil di sampingnya itu.


"Kak, siapa. Verota dong?" tanya Amerta, yang amsih sangat enasaran.


"Nanti, kamu juga akan tahu sendiri," gumam Yiwen.


"Kak cerita dong!!" Amerta semakin memohon, dengan wajah memelas, menatap wajah Yiwen.


"Gak mau, bentar lagi juga kamu akan tahu. Kalau kamu bisa mengamatinya," gumam Yiwen.


-----


Lian yin menatap mereka dari jauh, di balik balkon kamarnya. Ia melihat kedekatan mereka. "Meski musuh, tapi kenapa kamu masih mau berteman dengannya. Kamu memang wanita yang berbeda, Yiwen. Membuat aku semakin suka denganmu, banyak hal yang harus aku ketahui tentang kamu," gumam Lian yin, dalam hatinya.


------


"Oya, gimana tentang di sana, apa di keluarga kamu aman, sekarang?" tanya Yiwen.


"Aman-aman saja, memangnya kenapa? Apa ada hal yang tejadi nantinya?" tanya Amerta, semakin bingung dengan Yiwen.


"Gak ada, aku hanya tanya. Aku boleh tanya sesuatu gak?" gumam Yiwen, terlintas dalam benaknya, ingin ke sana. Menerobos masuk sebagai mata-mata.


"Tapi, jangan bicara keras-keras. Aku hanya ingin kamu yang tahu," gumam Yiwen.


"Baiklah!! Memangnya kenapa, apa kamu ada, rencana"


"Kamu bisa merahasiakannya gak?" tanya Yiwen, yang masih terlibat curiga dengan Amerta.


"Bisa, aku akan merahasiakannya. Dari siapapun. Asal kamu cerita, kak Yiwen."


"Baiklah," Yiwen segera berbisik, menceritakan apa yang akan di rencanakan pada Amerta. Sebuah recana gila, yang tiba-tiba terlintas dalam otaknya. Kali ini, ia memang sengaja untuk membuat sesuatu yang berbeda, agar Lian yin bisa bangga dengannya. Dan tidak di cap sebagai gadis ceroboh lagi.


"Apa yang di bicarakan mereka berdua? Kenapa Yiwen berbisik? Pasti mereka merencanakan sesuatu?" pikir Lian yin, menatap tajam ke arah Yiwen dan Amerta.


"Jangan banyak bicara lagi, sudah pasti, mereka sedang merencanakan sesuatu." ucap Lay, yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Lian yin.


"Aku hanya ingin bicara dengan kamu," ucap Lay. Membuat Lian yin, mengalihkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Bicara apa, kamu bicara saja." ucap Lian yin.


"Apa yang kita lakukan selanjutnya dengan, Boby. Apa kita akan memanfaatkan dia, agar bisa pergi mata-mata ke dalam rumah Jack?" tanya Lay, menatap ke belakang kamar Lian yin, menyandarkan punggung di pinggiran balkon.


"Jangan, lebih baik, dia, di sini. Kita masih banyak hal, yang harus kita gali tentang Jack padanya. Kalau dia kembali, pasti akan di bunuh, dan kita juga tidak mendapatkan apa-apa." ucap Lian yin, menjelaskan pada Lay.


"Tapi..."


"Sudah, jangan pikir soal itu. Sekarang aku hanya ingin diam, tanpa banyak membahas tentang mereka. Kita tenangkan diri kita, sudah banyak tenaga yang kita keluarkan hari-hari ini."


Lian yin beranjak masuk ke dalam kamarnya. Dan pergi menemui Yiwen, meninggalkan Lay yang masih di balkon kamarnya. Lay ingin sekali menemui Lyli. Tapi dia gak bisa di ganggu. " Baru beberapa detik tidak bertemu, tapi aku merasa sangat kangen denganmu, lyli." gumam Lay, beranjak pergi.


--------


Yiwen masih duduk di taman. Belum berkutik dari tempatnya.


"Kak, Yiwen. Apa kamu yakin?" tanya Amerta, ragu, Yiwen akan melakukan rencana itu sendiri.


"Aku yakin!!"


"Baiklah, tapi aku hanya ingatkan kamu, jangan cerita padanya." ucap Yiwen.


"Tenang saja, aku tidak akan cerita padanya." gumam Amerta.


"Cerita apa?" tanya lian yin, berdiri tepat di belakangnya.


Suara serak, berat, khas, milik suaminya itu, terdengar jelas di telinga Yiwen "Kalau aku ingin membantu kalian. Gimana?" tanya Lian Yin, membuat Yiwen dan Amerta menoleh kompak.


"Gak usah!!" ucap Yiwen, cepat.


"Memangnya kalian bicara apa?" tanya Lian yin, menarik ke dua alisnya ke atas.


"Aku hanya bicara tentang seseorang. jadi kamu jangan ikut campur" saut amerta.


"Dia istriku, harusnya kamu yang jangan ikut campur."


"sini, lebih mendekatlah!!" ucap Yiwen.


Lian yin menuriti apa kata Yiwen, dan lebih mendekatkan kepalanya ke arah Yiwen.


Yiwen berbisik lirih, "Aku bicara tentang dalaman, si mana belinya."


Lian yin, sontak melebarkan matanya. "Jangan main-main denganku, Yiwen!!"


"Aku gak main-main syang, aku itu serius." ucap Yiwen, menahan senyum tipisnya.


"Kalau kamu tetap gak mau cerita padaku, aku akan pergi sekarang. Dan gak akan mau lagi melihaymu." ancam Lian yin, semakin membaut Yiwen, tak kuasa menahan tawanya.


"Kalau memang bisa jauh dariku, silahkan coba." ucap Yiwen menantang.


Lian yin tertegun seketika, ia memikirkan dirinya. Memang benar, pa yang di katakan Yiwen, ia tidak bisa jauh darinya. Bahkan selalu ingin dekat, dan dekat terus.


"Kenapa diam? Sudah sekarang pergi, aku ada urusan lagi," ucap Yiwen.


"Pergi kemana? Aku mau tetap di sini, bersama kamu."


"Kamu mau bersama aku? Atau kamu mau dekat dengan Amerta?"

__ADS_1


"Apa yang kamu bilang? Memangnya boleh aku dekat dengan Amerta," goda Lian yin.


Seketika mata Yiwen, melotot menatap wajah Lian yin, seakan ingin menerkamnya habis.


__ADS_2