Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Senjata kelicikan Grace


__ADS_3

"Cepat pergi!! Seseorang sudah menunggu kalian?" ucap Tao tergesa-gesa.


Semua mata tertuju pada Tao yang berdiri di depan mereka dengan napas masih ngos-ngosan.


"Siapa yang nenunggu?" tanya Luhan, menatap wajah Tao yang sepertinya tahu sesuatu.


"Aku gak bisa jelaskan. Lebih baik kalian sekarang cepat pergi."


"Apa Lian yin yang datang dia pasti menggunakan topeng yang berbeda lagi. Membuat semua orang bingung dengannya!!"


"Lian yin? Jadi dia masih hidup? Di mana dia sekarang? Apa sia baik-baik saja? Atau ada yang terluka?" tanya Grace yang masih sangat perduli dengan Lian yin.


"Setahu aku dia baik-baik saja. Entah kenapa sepertinya tidak ada luka sama sekali di tubuhnya. Bahkan dia bisa bergerak bebas sesuka dia. Seperti tidak ada luka!!" jawab Changmin, yang memang dari awal dia mengamati Lian yin. Dia melihat setiap detail tubuh Lian yin.


Grace menarik napasnya lega.


"Memangnya dia siapa kamu? Kenapa kamu sangatkhawatir dengannya? Dan terlihat banget kalau kamu masih perduli dnegan Lian yin?" sambung Luhan.


"Dia adalah orang yang pernah mengisi hatiku dulu. Tapi itu dulu." jelas Grace. "Udah sekarang lebih baik kita pergi." lanjutnya.


"Iya, benar kata Grace. Kita harus bertindak cepat. Sekarang situasi terlihat sangat darurat. banyak musuh baru yang tiba-tiba muncul di saat seperti ibu." sambung Tao.


"Kita jalan kaki?" tanya Changmin memastikan.


"Pastinya!!"


Changmin melebarkan matanya, dia paling tidak suka jika harus berjalan kaki jauh, dia yang paling malas olahraga harus jalan kaki masuk ke hutan di depannya itu.


"Jauh gak?" tanya Changmin, dengan ke dua tangan berkacak pinggang, menatap hutan depan matanya.


"Sudah ayo masuk!!" Grace menarik tangan Changmin segera berlari menerobos masuk ke dalam hutan dan langsung di susul Tao dan Luhan yang harus ikut berlari di belakang mereka. Sampai di tengah hutan. Mereka berjalan ringan, dan Tao sembari mengingat-ngingat kembali jalan yang barusan dia lewati.


Sampai lima belas menit perjalanan, Tao berhenti, ia menatap ke arah Goa di samping tempat dia berdiri.


"Di mana Lyli? Bukanya tadi dia di sini?" gumam Tao menatap ke arah dalam goa yang terlihat sangat gelap.


"Kenapa.kamu berhenti? Apa kita sudah samoai?" tanya Changmin, mencoba mengatur napasnya sejenak.


"Belom? Aku tidak melihat Lyli, tadi dia di sini? Tapi kemana dia sekarang pergi?" tanya Tao.


"Yang mana aku tahu. Lagian kenapa kamu biarkan dia sendiri di sini? Kenapa tidak ajak sekalian menemui kita?" ucap Grace.

__ADS_1


"Sepertinya dia sudah pergi. Nanti saja, aku yakin jika dia pasti baik-baik saja. Dia orang yang cerdas gak mungkin bisa di kalahkan meski nuduh menggunakan senjata apapun." ucap Changnmin, menarik tangan Grace untuk melanjutkan lagi jalannya.


"Aku tahu tempatnya, kita harus segera sampai sekarang!!" ucap Changmin.


Krasak... krasak....


Srrkkk.. Srrkk...


"Siapa itu?" teriak Grace memutar tubuhnya menatap sekelilingnya.


"Sepertinya ada orang yang mengikuti kita?" ucap Tao.


"Woy... Siapa itu? Keluarlah!! Jangan jadi pecundang bersembunyi di balik pohon!!" teriak Grace, yang masih mengamati suasana sekitarnya.


Dor... Dorr...


Suara tembakan spontan Grace mendorong tubuh Changmin, Tao dan Luhan hingga terjatuh dia menunduk ke bawah, beberapa peluru itu tembus masuk ke dalam batang pohon berwarna cokelat tua, di belakangnya.


"Siapa sebenarnya dia?" tanya Changmin, beranjak berdiri, dan di susul Luhan dengan Tao.


"Kamu keluar atau aku akan menembak kamu balik, bodoh!!" umpat kesal Grace, dia tersenyum sinis saat dia melihat seseorang bersembunyi di balik pohon dan sebagian berada di semak-semak yang tak jauh dari tempat dia berduri.


Merasa tidak ada jawaban sama sekali, Grace mulai geram. Mereka hampir saja membunuh teman-temannya.


"Kalian semua tutup hidung!!" pinta Grace.


"Memangnya ada apa?" tanya Changmin.


"Jangan banyak tanya!!" Grace segera menembakan serbuk itu tepat di depan emak-semak dan di samping pohon.


"Itu serbuk beracun jika kalian tidak keluar untuk mengambil penawarnya. Maka jangan harap kalian bisa selamat!!" ucap Grace, membuat semua yang bersembunyi keluar terbirit-burit. Dan menatap ke arahnya.


"Dasar licik!!" umpat musuh di depannya.


"Aku bukanya licik, tapi aku menggunakan otak untuk bertindak. Aku juga tidak mau menyakiti kalian." jelas Grace.


"Lebih baik kalian cepat pergi dari sini. Atau kalian aku tembak dan terkapar di tengah hutan tanpa ada yang tahu." ancam Changmin.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Luhan yang dari tadi hanya diam, dia mengeluarkan wajah cool miliknya yang nampak sangat keren dengan suara khas serak berat miliknya. Di tambah dengan tampilan dan raut wajahnya yang sangat simple dan mengagumkan.


"Aku tidak ada yang menyuruh, kita bertindak sendiri, untuk mengambil harta karun itu."

__ADS_1


"Jangan mimpi, kalian tidak akan bisa mendapatkan harta karuan itu." jawab tegas Changmin.


"Pergi dari sini. Maka aku akan berikan kamu penawar. Jika kalian tidak mau pergi jangan harap aku akan menolong kalian," sambung Grace.


"Baiklah! Kita akan pergi. Tapi berikan penawarnya dulu!!"


Grace langsung melemparnya tepat di orang yang di anggap ketua dari mereka.


"Kalau hanya satu tetes. Dan jangan coba macam-macam. Setelah minum penawar itu. Tidak boleh banyak bergerak jika tubuhmu tidak ingin hancur. Kalian harus ceoatistirahat," Grace memang suka sekali membuat musuhnya ketakutan dengan kebohongannya. Padahal racun itu hanya serbuk racun biasa tidak berbahaya sama sekali. Dna sekali minum penawar akan kembali sempurna tubuh mereka.


"Baik!! Kitaa akan pergi. Makasih penawarnya!!"


Semua musuh membalikkan badannya, berbalik arah dan bergegas untuk keluar mencari tempat istirahat.


-----


"Kamu memang hebat, benar ternyata tak hanya pintar kamu juga licik," ucap Tao.


"Di dunia ini tidak selamanya harus di hadapi dengan kekerasan. Jadi buatlah sebisa mungkin menakuti lawan tanpa harus melawannya." jelas Grace, memegang tangan Luhan dan Changmin untuk segera berjalan lagi.


"Kenapa.kamu memegang tangannya?" tanya Changmin.


"Karena dia calon suamiku?" jawab Grace.


"Kamu jadi menikah dengannya?"


"Jika dia masih mau menikah denganku. Maka aku juga mau menikah dengannya,"


"Aku akan tetap menikah dnegan kamu. Dan pernikahan kita akan di percepat. Setelah semuanya selesai. Dan kita kembali normal, maka aku akan segera menikahimu!!" jelas Luhan, menarik tangan Grace dari pegangan tangan Changmin, dia memegang ke dua tangan Grace.


"Aku memang belum pernah pacaran dengan kamu! Tapi kita bisa pacaran setelah menikah!!" ucap Luhan, membuat Grace terdiam tanpa suara dia merasakan hatinya bergetar mendengar ucapan tulus Luhan padanya.


Meraka saling menatap, dan Grace baru kali ini melihat wajah dekat Luhan. Membuat hatinya merasakan sangat berbeda kali ini. Berbeda saat dia bersama dengan Changmin dan Lian yin. Seakan hati yang berkata jika dia sangat nyaman dengannya, dan ingin selaku berada bersamanya


"Sudah jangan saling tatapan di sini. Nanti saja romantisnya. Lebih baik kita susul Lian yin!!" ucap Tao berjalan lebih dulu ke depan.


Luhan dan Grace saling menatap kenbali, mereka tersenyum kompak dan bergegas melangkahkan kakinya kembali, menuju ke sebuah harta karun itu berada. Dan Changmin tahu sejak awal pernah, tapi dia tidak pernah masuk, dan dia hanya tahu kemarin, sebelum bertemu dengan Grace.


Changmin yang semula banyak bicara, dia hanya diam menatap mereka hatinya terasa sangat sakit. Benar-benar sangat sakit. Seakan ratusan ribu jarum menusuk hatinya. Dia hanya bis melihat kemesraan mereka yang sekarang sudah berani terus terang di depan matanya.


Padahal baru saja tadi aku gombalin dia? Tapi dia lebih nyaman dengan laki-laki lain. Memang cinta tak bisa di paksakan, seberapa katapun kuta memaksakan cinta, tak akan pernah ada kebahagiaan yang datang dalam hubungan cinta tersebut. Rasa nyaman kalah dengan rasa canda tawa yang pernah di lalui bersama.

__ADS_1


__ADS_2