Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Lian yin gugup


__ADS_3

Changmin yang sudah mulai membaik hubungannya dengan Mei, ia berjalan menuju ke kamar Grace. Di sana sudah ada Lay yang ternyata sudah menunggu kedatangannya. Bahkan dia juga sudah menyuapi Grace, dan membantunya minum obat. Membuat Changmin merasa iri dan kesal. 


Ia berjalan masuk dengan langkah sangat hati-hati, tanpa sepengetahuan Grace dan Lay. 


"Kamu di sini" ucap Changmin, menepuk pundak Lay membuatnya terjingkat, dan langsung menoleh ke belakang, dwngan tatapan tajamnya. 


Tatapan yang membuat Changmin bergidik takut.


"Lain kali kalau datang itu ketuk pintu dulu." Ucap Lay, yang terlihat kesal, wajah muramnya masih terlihat jelas di ukiran wajahnya.


Changmin duduk di ranjang Grace. Dengan dua cari ke atas, "Maaf!" Ucap Changmin, dengan senyum cabinya. "Jangan sering-sering marah, nanti tambah tua lo."


"Aku lagi gak mood, jadi jangan ganggu aku lagi" ucap Lay, yang beranjak berdiri. 


"Udah-udah, kenapa kamu jadi marah-marah Lay, ada masalah apa?" Tanya Grace, yang mencoba memberanikan diri bertanya pada Lay, yang hari ini hilang moodnya. 


"Soal teman kamu!" Jawab Lay singkat dengan nada cueknya. 


Grace mengerutkan keningnya, dan tertawa tipis dnegan tangan menutup mulutnya. Ia ingin tertawa melihat Lay, tapi takut dia marah jadi ia hanya bisa tertawa dalam hatinya. Ia mencoba bertanya lagi, seolah dia tidak tahu siapa yang di maksud.


"Teman aku siapa? Apa Lyli?" Grace beranjak duduk bersandar di ranjangnya, dengan sigap Changmin segera membantunya. 


Changmin menatap ke arah Lay, dengan bibir seolah menahan senyum juga.


"Apa kamu baru saja bertemu dengan Lyli" sambung Changmin, dengan senyum menggodanya. 


Lay, memalingkan pandangannya.


"Bukan urusan kamu!" Jawabnya jutek.


"Baiklah, kalau begitu. Aku juga gak akan bilang apa masalah aku dengan kamu mulai sekarang. Dan kita hidup sendiri-sendiri, jangan bicara dengan aku dan kamu juga sebaliknya" gumam Changmin kesal.


"Aku gak mau tahu urusan kamu, masalah cinta kamu yang membuat aku muak. Wanita seperti dia kamu masih pertahanin" ucapan Lay, seketika membuat Changmin terdiam. Meski merasa kesal, ia tidak bisa marah dengannya.


"Sudah Lay, gimanapun sifat Mei kalau dia memang sudah cinta, gak akan perduli dengan semua itu. yang penting hati merasa nyaman, saat di dekat dia." Ucap Grace. Membauat Changmin membisu seketika. Seakan kata itu menyindir dirinya. Ia dulu merasa nyaman dengan Mei, tapi semakin ke sini, Mei membuatnya kesal, dengan kemarahannya yang gak jelas, seperti anak kecil yang selalu ngambek. Tapi ia merasa sangat senang jika bersama dengannya. Sifat Mei yang Friendly dengan semua orang, membuat dia betah dengannya. 


"Tapi tanya pada laki-laki di dekat kamu itu. Apa dia nyaman dengan hatinya sekarang" gumam Lay, melirik tajam ke arah Changmin. 


Dulu Lay memang suka dengan bubungan Mereka. Tapi semakin ke sini juga, ia semakin curiga dengan Mei, dia gak baik bagi Changmin. Ia marah dengannya bukan berarti gak perduli. Ia hanya tidak mau jika Changmin nanti kecewa dengan wanita itu. Setelah tahu siapa dia sebenarnya. Wanita bermuka dua yang sembunyi di balik wajah polosnya.


"Sudah kalian jangan terus berantem, lagian kenapa kalian bicarakan soal wanita. Lebih baik sekarang kita kerjakan apa yang jadi tugas dan kebiasaan kita sekarang. Hari sudah malam dan suasana juga sudah semakin sepi, lebih baik untuk bekerja, jadi akan lebih tenang." Gumam Grace, memegang tangan Lay dan Changmin, da menyatukan tangan mereka. 


"Sekarang kalian damai, jangan saling adu argumen. Kalian itu teman lama. Jangan terus bertengkar, aku gak mau melihat kalain terus berdebat." Ucap Grace, ia mencoba menengahi antara Lay dan changmin agar tidak berbuntut panjang, yang akan membuat mereka kelak menyesal.

__ADS_1


Wajah Changmin mengerut kesal, ia menarik bibirnya tipis. 


"Baiklah" gumam Changmin.


Grace terasemyum, dan balik menatap ke arah Lay dengan ekspresi dinginnya. "Kamu gimana Lay." Gumam Grace.


"Baiklah!" Gumam Lay, dengan suara malasnya. 


"Sekarang apa yang kita lakukan lebih dulu" ucap Lay. Menatap ke arah Grace. 


"Lay sedah membuat desain robot, dan kamu juga membantu dia. Mengurus sistemnya. Dan alat kerjanya nanti. Dan kita tingal rakit saja besok." Gumam Grace. 


"Apa kamu sudah bisa menemukan, siapa Mr X itu?" Tanya Lay. 


"Aku hampir saja menemukannya. Kadi tinggal dikit lagi aku pasgi tahu siapa dia. Cuma memang keahlian aku tidak secanggij oatknya tapi setidaknhaa aku bisa tahu perlahan . Semenya juga butuh proses" ucap Grace. 


"Baiklah lebih baik kamu sekarang istirahat saja, kamu baru minum obat jangan memaksakan diri. Biar aku dan Lay yang mengerjakan semuanya sendiri." Ucap Changmin.


"Iya benar apa kata dia, kamu perempuan jangan tidur malam. Biarkan semuanya laki-laki yang mengerjakan" sambung Lay. 


"Baiklah, kalau gitu. Tapi kalaian gak marah denganku kan?" Tanya Grace. 


"Gak lah, udah sekarnag kamu tidur, ku mau pergi dengan Lay." Ucap Changmin, yang beranjak mendekati Lay, menepuk pundaknya dengan berbisik. 


"Aku pergi dulu" gumam Lay, yang beranjak pergi menarik tangan Changmin segera pergi dari kamar Grace.


~


Di sisi Lain, Lian yin juga masih belum bisa tidur. Ia terus menghubungi Changmin dan Lay untuk perkembangan selanjutnya dan soal mata-mata Lay, juga sudah mendapatkan sebuah bukti. Jika memang benar yang menyuruh mereka adalah ayah Grace. 


Dan para pengawal lagi gencarnya mencari Grace, dan mencari penghianat Lyli. Mereka di bagi menjadi dua kelompok untuk berpencar mencari dua wanita itu. Ayah Grace mencari Lyli karena memang Lyli sudah membocorkan semua rencananya pada Lian yin. 


~


Keesokan harinya, Yiwen yang terbangun lebih dulu, mencari Lian yin di ranjangnya. Ia mengulurkan tangannya kesamping, dan mengusap ranjangnya. Seketika ia terbangun dari tidurnya, membuka matanya, saat merasa tidak ada Lian yin di sampingnya. 


"Yin!" Panggil Yiwen beranjak dari tidurnya. Membuka selimut yang membalut tubuhnay dan beranjak berdiri. Matanya tertuju ke sofa. Seketika ia melebarkan matanya. Melihat Lian yin yang tetridur di sofa dengan laptop di meja. 


"Apa dia semalan bekerja" ucap Yiwen, duduk jongkok, menatap wajah Lian yin yang masih tertidur. 


Yiwen menatap detail setiap ukiran wajah Lian yin? Dengan jemari tangan menggodanya. Wajah yang snagay lucu, pikirnya dengan tangan telunjuk menunjuk jari hidung Lian yin. 


Mata Yiwen memutar, mwelihat ponsel Lian yin yangvrergeletak di meja. Ia seger meraihnya, dan mencoba melihat siapa yang nenghubunginya. Tapi..

__ADS_1


Ponsel itu tiba-tiba mati. 


"Wah.. batrenya habis" ucap Yiwen kesal, ia beranjak berdiri dan merakkan ponsel Lian yin di tempat khusus cas hp, ayah Yiwen membuatnya sendiri. Ces otomatis, tinggal meletakkan ponselnya di atasnya.


Yiwen membalikkan badanya beranjak menuju sofa, kali ini ingin menjahili Suaminya itu. 


Yiwen menyiapkan tali, menciba mengikat tangan Lian yin, tapi tiba-tiba Lian yin sadar dan langsung duduk, membuat Yiwen sontak kaget, dan jatuh dalam dekapan tubuhnya. Sebuah kecupan mendarat di bibir Lian yin dengan sempurnya. Membuat Laki-laki itu menatap Yiwen dengan senyum menggoda.


"Kamu sekarang udah berani goda aku ya" ucap Lian yin. 


Yiwen beranjak dari atas tubuh lian yin, dan duduk di sampingnya. "Siapa yang goda kamu, aku yadi gak sengaja. Niatnya mau jahil dengan kamu eh, malah ngecup kamu" ucap Yiwen, menguncupkan bibirnya kesal. 


Lian yin, mendekatkan tubuhnya ke arah yiwen, dengan telunjuk tangan menyentuh hidung mungil milik Yiwen.


"Lagian kamu suka usil, kena batunya kan. Itu baru kecup kalau yang lain gimana."


"Yang lain gimana maksudnya?" Tanya yiwen mengerutkan keningnya bingung. 


"Ya sudah kalau gak tahu" Lian yin beranjak berdiri, dengan segera ia mengambil ponselnya di meja. Ia terdiam, melihat meja itu kosong gak ada ponsel dan laptopnya. 


"Di mana semuanya syang?" Tanya Lian yin, yang mulai terlihat bingung. 


"Cari apa syang" ucap Yiwen, dengan duduk santai bersandar di sofa, kaki menyilang, dengan tangan bersendekap. Ia mengangkat alisnya memberikan tatapan menggoda pada Lian yin. 


"Kamu jangan jahil ya syang" Lian yin beranjak duduk, mendorong tubuh Yiwen di atas sofa. "Kamu katakan atau aku.."


"Atau apa syang, mau ngecup lagi atau apa. Kalau mau lakukan silahkan tapi setelah itu laptop dan ponsel kamu hak akan kembali dan jadi milik istri kamu yang cantik ini" ucap Yiwen, menarik kerah Lian yin, hingga wajah mereka sangat dekat. 


"Coba sekarang katakan?" Ucap Yiwen, membuat Lian yin jadi gugup. Ia terdiam seketika, dengan jantung tak berhenti berdebar. Baru kali ini Yiwen lebih agresif membuatnya merasa gugup. 


Yiwen tertawa, saat melihat wajah Lian yin yang semakin memegang. "Kamu kenapa syang? Wajha kamu gemeteran gitu?" Tanya Yiwen, dengan tangan mencolek pipi suaminya itu. 


Lian yin yang merasa malu, beranjak dari atas tubuh Yiwen, dan beranjak pergi, menghilangkan rasa gugup tubuhnya, ia menarik napasnya pelan. 


Yiwen tak berhenti tertawa, ia beranjak berdiri. "Ponsel kamu aku cas, dan kalau laptop kamu itu di rak, kalau makanya di lihat dulu syanh" ucap Yiwen, beranjak mendekati Lian yin, memegang pundak Lian yin, mendorongnya, semakin dekat dengan tubuhnya. Dan jemari lentik tangannya menyentuh wajah Lian yin yang sudah semakin menegang di buatnya, Yiwen sadar jika suaminya itu memang gugup jika dia lebih agresif. 


Merasa Lian yin hanya diam tanpa suara yang keluar dari mulutnya. Yiwen memegang ke dua bahu Lian yin, menariknya ke depan, dan berbisik. "Jangan gugup syang, bukannya kamu yang biasa agresif tenang-tenang saja" ucap Yiwen melepaskan tangannya di pundak Lian yin, dan beranjak menuju ranjang, ia membaringkan tubuhnga lagi di atas ranjang miliknya. 


Merasa Yiwen sudah pergi, Lian yin mengusap dadanya. Yang hampir saja jantungnya mau copot. 


Ia berjalan pelan, menghampiri Yiwen dan duduk di ranjang. Ia kepikiran soal ponselnya, apa Yiwen membukanya atau tidak.


"Syang, tadi kamu buka ponsel aku gak?" tanya lian Yin.

__ADS_1


"Mau buka syang, tapibbatrainya udah keburu habis" ucap Yiwen. "Memangnya kenapa?" ucap Yiwen duduk di samping Yiwen dengan tangan menujuk ke wajah Lian yin.


__ADS_2