Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Marah


__ADS_3

Keesokan harinya..


Setelah semua yang terjadi semalam. Lian yin tetus diam, meski Yiwen menyediakan makanan dan menyuapi dia serta memberikan obat padanya. Ia tetap diam tanpa berbicara banyak dengan Yiwen. Dalam hati ingin sekali ia bertanya dengan apa yang di lakukan Yiwen. Namun ia ragu jika tahu kenyataan yang menyakitkan nantinya.


Dan Yiwe. juga tidur di smaoing Lian yin, namun tak sedikit-pun Lian yin menyentuh tubuh Yiwen di sampingnya. Ia tidur membelakangi Yiwen, mesi sebenanrnya matanya sangat sulit terpejam.


~


Sekarang amtahari pagi sudah menjemput mereka, untuk beraktifitas lagi seperti biasanya. Dan Lian yin yang sudah terbangun dari tidurnya. Karena pantulan sinar mentari pagi yang menembus langsung di balik sela-sela kecil selambu yang kenutup jendela kaca rumahnya.


Lian yin duduk di pinggiran ranjang, dengan tangan. mencoba melepaskan perban yang dari kemarin belum di buka. Ia ingin membersihkan lukannya sendiri, dan memasang perban baru.


Lian yin menoleh menatap Yiwen yang masih berbaring di sampingnya. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan Luhan kemarin, kenapa kamu tidak jujur padaku. Pasti kamu juga tahu apa yang di rencanakan Luhan dan Tao saat pergi ke kota Timur" gumam Lian yin, yang langsung membalikkan kepalanya menatap ke perbannya kembali untuk ia lepaskan.


"Emmm" Yiwen yang baru terbangun, ia mengusap matanya yang amsih lengket, menatap ke arah Lian yin yang pagi-pagi sudah sibuk sendiri.


"Yin apa yang kamu lakukan?" tanya Yiwen menatap ke arah lian yin yang sibuk membuka perbannya.


Yiwen mengira Lian yin akan membuka perbannya dan membiarkan lukannya yang masih mengeluarkan darah itu menganga , ia tidak mau jika luka Lian yin tambah parah nantinya. Semenjak Lain yin sakit, Yiwen jadi over protektif karena Lian yin yang selalu bantah jika di bilangi dari kemarin. Lagian apa yang dia bilang itu juga demi keselamatanya. Namun Wanita itu tidak menyerah, Yiwen masih tetap sama mencintai Lian yin, meskipun apa yang dia lakukan padanya, dan selalu membantah dirinya.


Dari kemarin malam, ia sadar jika Liannyin tidak begitu merespon perhatiannya. Tidak seperti Lian yin seperti baisa yang srlalu manja dan lembut padanya. Semalaman Lelaki itu terus cuek pada Yiwen seolah Yiwen bukan siapa-siapa lagi.


Meski hatinya merasa sangat sakit dengan apa yang di lakukan, yiwen mencoba tetap positif tidak memikirkan hal macam-macam.


Lian yin masih tetap tak menatap Yiwen di belakangnya, yang sudah duduk menatap je arahnya.


"Dimana Luhan dan Tao?" tanya Lian yin sinis pada Yiwen, ia mencoba mengalihkan pembicaraan Yiwen.


"Aku gak tahu" ucap Yiwen lirih.


"Kenapa gak tahu, bukannya kamu tahu jika mereka ada di Timur kemarin, atau kamu udah merencanakan sesuatu dengan mereka." bentak Lian yin dengan nada tingginya.


Degg.. Seketika Yiwen tersentak hatinya saat mendengar ucapan lian yin, ia tidak menyangka jika Lian yin tega menuduh dirinya. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit mendengar tuduhan yang sebenarnya tidak ia lakukan.

__ADS_1


Yiwen, mecengkram bajunya, menahan sakut hati yang ia rasakan. Sejenak wanita itu menundukkan kepalanya, mencoba menenangkan dirinya.


Merasa tenang, ia mendongakkan kepalanya menatap Lian yin yang sibuk dengan lukannya.


" Biar aku obati lagi" ucap Yiwen, yang spontan berdiri, menghampiri Lian yin dan duduk di sampingnya.


Namun, apa yang di dapatkan, Lian yin menepis tangan Yiwen. "jangan sentuh aku, aku bisa mengobatinya sendiri" ucap Lian yin dengan nada kasarnya.


Yiwen seketika hanya diam, ia merasa aneh dengan apa yang di lakukan Lian yin padanya dari kemarin malam.


Baru kali ini, lian yin kasar denganku, saat ia hilang ingatan. Dia begitu baik dengannya, bahkan tidak pernah marah sedikitpun, setiap detik, setiap menit bahkan setiap hari. Tapi hari ini, semua beda, Lian yin menyampakanku, dia membuatku jadi merasa gak ada harga dirinya. Entah pikiran apa yang mengganggunya, membuat dia semarah ini denganku.


"Kenapa kamu diam? Jawab sekarang" bentak Lian yin, seketika tes. Butiran kristal putih keluar dari air mata Yiwen, ia memegang dadanya yang terasa sangat sakit saat kendnegar ucapan kasar Lian yin yabg terus-terusan padanya.


"Kamu kenapa? Apa salahku? Sampai kamu marah-marah denganku?" tanya Yiwen, di iringi dengan tetesan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.


"Jangan buang-buang air matamu untukku" ucap Lian yin sinis.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau cerita kenapa, alasan kamu marah denganku. Aku akan pergi dari sini" ucap Yiwen, yang masih sesegukan.


Merasa sudah selesai mengobati lukanya senimdiri. Lian yin, membalut lukannya lagi dengan perban baru, tanpa perdulikan Yiwen yang masih menangsi sesegukan menatap ke arahnya.


"Hiks.. Hiks.. Baiklah aku akan pergi, makasih atas semuanya" ucap Yiwen, menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Dan membalikkan badannya, beranjak pergi keluar dari kamarnya. Ia segera pergi meninggalkan Lian yin tanpa membawa baju yang ada di lemarinya. Karena itu adalah baju yang di berikan Lian yin, ia sudah tidak mau lagi memakainya.


Lian yin hanya diam, menatap punggung Yiwen yang semakin melangkah menjauh dari pandangannya.


"Maaf" ucap Lian yin.


Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang putih miliknya, merentangkan ke dua tangannya. Dan mencoba memejamkan matanya sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi, membiarkan di pergi dari sisinya, atau mengikuti kemana Yiwen akan pergi. Namun, keputusan Lian yin sudah bulat. Ia membuka matanya kembali menatap atap langsit kamarnya, dan membiarkan Yiwen pergi jauh darinya. Sebenarnya Lian yin tidak tega melihat Yiwen menangis dan marah dengan dirinya seperti itu. Tapi ia tidak bisa terus bersamanya selama beberapa waktu.


Terpikir dalam benak Lian yin, ingin melupakan Yiwen sejenak. Agar dia juga tidak terlibat lagi dalam masalahnya yang terus berdatangan bertubi-tubi. Lelaki itu memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, dengan ke dua tangannya.


Ia yakin jika Tao akan membawanya pergi, dia tahu jika Tao berada di kota ini bersama dengan Luhan. Entah apa yang sebenarnya mereka cari, yang terlihat sangat mencurigakan.

__ADS_1


~


Yiwen berjalan pergi menjauh, entah kemana ia akan pergi namun. Namun ia merasa sangat sulit jika harus pergi meninggalkan Lian yin di saat seperti ini, ia ingin selalu menemaninya, bagaimanapun perlakuan dia padanya. Ia tidak bisa membiarkan lian yin yang masih terluka melakukan kegiatannya sendiri. Apalagi sekarang Lay dan Changmin sedang pergi untuk mata-mata ke Timur, dan masih dua hari lagi mereka akan kembali. Dan Mei dia ikut dengan Changmin menemaninya masuk ke dalam bahaya bersama.


"Yin, aku gak sanggup pergi" ucap Yiwen. Ia membalikkan badannya. Masuk ke dalam rumah Lian yin. Namun kali ini ia langsung menuju ke dapur, membuat makanan untuk Lian yin.


"Huufff.. Aku sudah memutuskan untuk tetap tinggal, aku gak bisa membiarkanmu di rumah sendiri, dengan luka di tangan kamu yang belum membaik. Aku berharap kamu tidak marah lagi denganku" gumam Yiwen.


Ia segera memasak untuk Lian yin. Hingga satu jam kemudian. Semua sudah selesai, dan Yiwen langsung mempersiapkan semua masakan di meja makan. "Hari ini aku ingin kamu makan dari masakan jemari tanganku ini, aku belajar masak juga karena kamu" gumam Yiwen, mengusapkan ke dua tangannya. Menandakan semua pekerjaannya sudah selesai, ia segera melepaskan celemek yang menutupi tubuh depannya.


Dan tinggal menunggu Lian yin untuk turun makan. Yiwen menarik kursi, dan segera duduk, ia terus memohon agar Tuhan berpihak padanya. Dan lian yin segera turun mencicipi makananya. Terlintas dalam pikiran Yiwen yang terus mengganggunya.


Aku tidak tahu kenapa dia marah denganku, tapi setidaknya jika makan berdua seperti ini. Aku bisa bertanya padanya, apa yang menyebabkan dia bisa semarah itu. Entah, apa dia cemburu dengan Luhan atau Tao, atau ada hal lain yang di sembunyikan.


Satu jam berlalu, jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Yiwen hanya diam menyangga dagunya, dengan telunjuk tangan menusuk-nusuk piring yang keras di bawah pandangannya itu. "Lian yin belum juga turun dari tadi, di mana dia? Apa dia masih tidur jam segini" gumam Yiwen. bangkit dari duduknya, menatap ke atas yang terlihat sangat sepi. Tidak ada suara siapapun di atas.


"Mungkin dia tidur, aku akan terus menunggunya sampai dia bangun. Dan turun untuk makan." Batin Yiwen, hingga ia tertidur di atas meja di meja makan, dengan posisi duduk.


~


Sudah 4 jam berlalu, dan Lian yin baru saja turun. Jarum jam sudah menujukan jam 3 sore.


"Dia masih keras kepala juga, kenapa dia tidak pergi dari sini" ucap Lian yin, berjalan ringan menuju ke meja makan. Langkahnya terhenti saat melihat beberapa makanan yang sudah siap di meja, yang kini sudah nampak dingin.


"Dia masak ini untukku?" gumam Lian yin, melangkahkan kakinya mendekati Yiwen. Dan berdiri tepat di sampingnya. Lian yin menyilakan helaian rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.


"Maafin aku syang, aku melakukan ini emang pertama aku sangat cemburu saat kamu bersama dengan mereka. Tapi ada hal lain juga yang aku tidak bisa cerita dengamu." ucap Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen yang masih tertidur pulas.


"Lian yin! Jangan pergi! Tetaplah di sini bersamaku" ucap Yiwen, dengan mata yang masih terpejam dan ke dua tangan memegang lengan Lian yin.


Lian yin mengangkat tubuh Yiwen, dan meletakkan di atas sofa. Ia segera, mengambil selimut di kamar lantai bawah.


"Sebaiknya aku makan semua masakannya, aku tidak bisa jika harus mengabaikannya. Tapi setidaknya perhatiaku tidak terlalu terlihat." ucap Lian yin. Segera menuju ke meja makan lagi dan mulai menyantap makanan yang sudah siap di meja makan.

__ADS_1


Sebelum ia makan, Lian yin memanaskan semua makananagar terasa hangat kembali saat di makan.


__ADS_2