
Di sisi Lain, Mei, Changmin dan Lay, mereka berdiam diri di rumah. Mereka menunggu kabar dari Lian yin apa yang harus di lakukan lagi. Mereka duduk santai di sofa ruang keluarga, dengan nonton tv di lengkapi berbagai cemilan di depannya. Ini moment yang langka bagi mereka bisa lebih santai sejenak, lagian mereka juga bingung apa yang harus di lakukan lagi. Dan Lian yin meninggalkan mereka tanpa mengajak mereka untuk tinggal bersamanya. Tapi setidaknya mereka bisa bebas sejenak. Dan dia juga tidak memberinya pekerjaan apa-apa.
"Apa kita harus berdiam diri di sini?" tanya Changmin, yang berbaring di atas sofa.
"Entahlah syang, aku bosan di rumah. Gak ada kerjaan yang menegangkan lagi seperti kemarin. Aku ingin olah raga tangan syang" gumam Mei, yang sudah mulai bosan, ia hanya duduk di lantai. Dengan tangan medekap snack di tangannya.
"Bagi snacknya" ucap Changmin mencoba merebut snack di tangan Mei, yang tepat duduk di bawahnya.
Plaakkk..
"Tangan kamu jauhkan dari snack punyaku" ucap Mei, memukul tangan Changmin yang selalu ingin merebut makannya.
"Kalian apa-apaan sih" ucap Lay.
"Jangan hanya berkeluh kesah terus, lihat ini kita ada suatu tugas baru" saut Lay, yang duduk santai di sofa.
"Lihat apa ponsel mati kamu itu" sindir Changmin, yang terlihat kesal dengan Lay.
"Lihatlah, ini bunyi alarm tanda bahaya di kantor kita, kita harus pergi sekarang" ucap Lay bangkit dari duduknya. Ia segera melihat cctv di kantor Lian yin dari ponselnya. "Mereka lagi, sekarang mereka mainnya terus terang. Mungkin sudha bosan untuk hidup" ucap Lay kesal, seketika matanya langsung melotot tajam. Dengan tangan mengepal, ia langsung memasukan ponselnya.
Changmin terdiam, ia menatap serius ke arah Lay. Ia bingung apa yang di katakan Lay. "Benar, kita harus pergi sekarang, cctv di sana semua di matikan. Sepertinya mereka bertindak lebih cepat dari perkiraan kita" ucap Lay, yang langsung meraih jaketnya, dan berlari menuju ke mobil.
"Siapa yang kamu maksud?" teriak Changmin, namun tak ada jaeaban dari Lay.
Changmin yang semula bingung, ia juga meraih jaketnya yang tersampir di atas sofa, dengan mulut terus menggerutu gak jelas. Dan berlari mengikuti Lay. Di susul dengan Mei yang melemparkan cemilannya dan bangkit dari duduknya. Ia segera berlari mengikuti Lay dan Changmin.
"Kamu mau pergi sendiri?" tanya Changmin yang langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia duduk di depan samping Lay.
"Sudah kalian jangan banyak bicara dulu, ini situasi sangat bahaya, apalagi Lian yin gak ada, hanya kita yang menjaga semuanya. Jangan sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan di kantor kita" ucap Lay yang mulai melaju dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman luas rumah Lian yin.
"Biaklah" ucap Changmin.
"Mei kamu siapkan semua senjata kita" ucap Lay, pada Mei yang duduk di belakang.
"Baik" jawab Mei tegas.
"Semua bersiap kali ini kita akan olahraga tangan bersama. Seperti yang kamu mau Mei, tapi kali ini pasti akan ada korban jadi kalian juga harus hati-hati. Meski senjata yang mereka gunakan kita tidak tahu, setidaknya kita bisa antisipasi" ucap Lay, menasehati ke dua temannya itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan hubungi Lian yin sekarang?" ucap Changmin.
"Jangan!" ucap Lay yang masih fokus dengan jalan di depannya.
"Kenapa?" tanta Changmin bingung.
"Aku gak bisa cerita sekarang, tapi jangan hubungi Lian Yin dulu soal masalah, urusan dia sekarang lebih penting dari pada ini. " Ucap Lay.
Sruaaakkk...
Lay memutar mobilnya dengan kecepatan tingi, tanpa mengurangi laju mobilnya, ia langsung memutar dan masuk ke dalam parkiran perusahaannya. Dan segera melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobilnya.
"Tunggu jangan turun dulu" ucap Changmin, membuat Mei dan Lay menghentikan langkahnya. Mereka menoleh kompak ke arah Changmin.
"Ada apa lagi?" tanya Lay kesal.
"Kamu pakai jaket ini, lepas jaket kalian semuanya" ucap Changmin, memaksa Lay dan Mei untuk segera melepas jaketnya.
Jaket yang di berikan Changmin adalah desainnya sendiri, jaket anti peluru yang ia buat untuk melindungi dirinya dan juga teman-temannya. Kini ia juga membuat lebih banyak lagi untuk para pengawal Lian yin juga. "Baiklah, untung saja kamu ingetin" ucap Lay melepaskan jaketnya dan mulai memakai jaket yang di berikan Changmin, dan sudah di lengkapi dengan senjata di setiap saku di dalam jaket itu.
Mei dan Lay yang sudah memakai jaket, segera turun, ia melangkahkan kakinya sangat hati-hati, masuk ke perusahaan melalui pintu belakang. "Gimana kalau kita berpencar" ucap Mei.
"Terus kamu gimana?" tanya Changmin. "Gka, aku gak mau berpencar dengan kmau" lanjutnya
"Aku gak apa-apa, aku bisa jaga diri syang. Lagian bukannya kamu sudah kasih aku jeket anti peluru, aku sangat ahli dalam dunia seperti ini. Jadi jangan remehkan aku lagi" ucap Mei penuh percaya diri.
"Baiklah, kalau begitu. Kita berpencar sekrang. Mei kamu ke timur, Changmin kamu ke barat, Dan aku lurus ke depan. Kita akan terus berkomunikasi jika ada bahaya." ucap Lay.
"Baiklah, aku setuju. Tapi kalian juga harus jaga diri baik-baik." ucap Changmin, yang mulai mengeluarkan senjatanya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan periksa cctv kita, aku yakin ada orang yang menyabotase. Kalian pergi duluan, dan kalian bilang padaku titik mana ada musuh, aku akan lihat dari kejauahan nanti" ucap Mei.
"Maksud kamu?" tanya Changmin bingung, "Gimana kamu bisa menembak musuh jika dari jauh, emangnya kamu punya senjata jarak jauh" lanjutnya.
"Aku bawa, di dalam jaket. Apa kamu gak tahu aku dan Yiwen ahli dalam tembak jarak jauh, jadi jangan khawatir. kalian tinggal info titik mana musuh berada" ucap Mei. "Aku pergi dulu" lanjut Mei yang langsung berlari ke arah yang sudah di tunjukan oleh Lay.
"Aku juga akan pergi" ucap Changmin, yang juga berlari ke arah yang berlawanan dengan Mei.
__ADS_1
"Kalian hebat juga ternyata" ucap Mei, dengan senyum sinisnya, dan tatapan tajam. Ia menodongkan senjatanya ke depan. Namun hanya untuk menakut-nakuti, ia tidak berani melukai orang dari depan, apalagi jika melihat darah secara langsung , Mei sangat ngeri.
BUKKK...
Sebuah tendangan melompat ke atas dan ke belakang, tepat mengenai dagu orang di depannya, membuat lelaki berbadan kekar itu terpental, tersungkur ke lantai.
"Satu beres" ucap Mei, beranjak pergi.
"Kamu mau kemana?" ucap lelaki itu, menarik kaki Mei, dan sebuah senjata menodong ke arahnya.
Sreett.. Mei sangat lihai menggunakan kakinya, ia menendang senjata di tangan lelaki itu hingga.
PRAKK.. Senjata itu jatuh tepat di sampingnya. Mei dengan segera mengambilnya dan melemparnya jauh ke luar kantor Lian yin.
"Jangan pernah macak-macam dengan wanita" ucap Mei, mengacam dengan tatapan tajamnya.
~
DOR... DOR... DOR...
Tembakan bertubi-tubi dari Lay tepat mengenai sasaran di depannya. "Kalian mau apa di sini?" tanya Lay, dengan suara menantangnya. Berjalan perlahan masuk ke ruangan oenyimpanan berkas.
"Kenapa kamu bisa tahu jika ada musuh di sini" ucap salah satu lelaki di sana.
"Emangnya kita bodoh, gampang di kelabuhi musuh murahan seperti kalian" ucap Lay tegas. " Kalian pergi atau aku akan lakukan seperti teman kalian" lanjutnya.
DORRR...
Salah seorang lelaki di sana menembak dada Lay, namun bukannya terluka hanya menyumisakan asap kecil di jaketnya. " Kalian benar-benar mengotori jaketku" ucap Lay, mengibaskan jaketnya.
"Sialan, dia menggunakan jaket anti peluru. Lebih baik kira pergi dari sini" ucap salah satu pemimpinnya.
Tap.. Tap.. Tap..
Bukk.. Bukkk.. Bukk.
Lay melompat menampakkan kakinya, ke tembok sampingnya, dan langsung menendang beberapa orang di depannya dengan sekali tendangan. "Kalian cepat pergi dari sini" ancam Lay, menodongkan senjatanya ke arah para anudan yang sudah ersungkur di lantai.
__ADS_1