Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kelahiran Yiwen


__ADS_3

7 bulan kemudian, Changmin pergi dari rumah, dan dia meninggalkan kota hanya untuk mencari Grace. Bahkan tidak kepedulian perasaan Amerta sama sekali. Sampai 7 bulan menunggu, Amerta masih tetap saja belum mendapatkan sebuah jawaban kata cinta dari Changmin. Bahkan selama ini pengobatannya tidak ada artinya sama sekali.


Changmin sampai kecewa pada Amerta karena dia di anggap berbohong telah tahu di mana keberadaan Grace. Padahal sebenarnya dia memang tahu, tapi setelah Grace dan Luhan menikah, dan mereka pindah ke luar negeri dia tidak tahu.


Setelah mendengar hal itu, Changmin langsung pergi keluar negeri. Dia bahkan sudah 4 bulan berada di luar negeri sendiri tanpa ada Amerta yang biasanya selalu menemani dia kemanapun dia pergi.


Dan Amerta kini perlahan mulai melupakan Changmin, dia berusaha dekat dengan Boby, laki-laki yang selama ini mengagguminya. Bahkan dia sangat baik dengannya, tapi cintanya masih tetap saja untuk Changmin. Demi ayahnya yang menginginkan dia menikah, menyusul kakaknya yang sekarang sudah menikah dengan Jack, dan sudah mengandung anak Jack, sudah 7 bulan.


Sebenarnya Mei sudah hamil lebih dulu saat Jack menikah dengan Yiwen, dan dia hanya diam menyembunyikan itu semua. Tak mau Jack marah dia merelakan dia menikah dengan wanita lain, saat dia sudah hamil 1 bulan. Jarak kehamilan Yiwen dan Mei 2 bulan.


--------


Sedangkan Lay dan Lyli kini di rundung kebahagiaan. Lyli mengandung anaknya Lay bahkan usia kandungannya sekarang sudah 5 bulan. Mereka menikmati hari-harinya menjadi calon ayah dan ibu. Serta tak kalah juga Yiwen dan Lian yin. Kini sudah akan berjuang untuk melahirkan anaknya. Tiggal menghitung hari saja, dia sudah siap untuk melahirkan secara normal.


"Bi!!" panggil Yiwen, berjalan pelan menuju ke dapur, dia yang merasa sangat lapar, berjalan terus menuju ke dapur mencari makanan di tengah malam. Dan Lian yin yang masih berada di kantor, terpaksa Yiwen harus naik turun tangga sendiri mengambil makanan di dapur.


"Non, biar saya saja yang ambilkan," ucap pembantu Yiwen.


"Iya, makasih bi."


"Non tadi kenapa tidak teriak memanggil saya, jangan turun tangga sendiri non. Bahaya, jika ada apa-apa dengan Non. Pasti tuan Lian yin akan marah pada saya."


"Sudah tidak apa-apa, bi!!"


"Mau makan apa, non. Saya buatkan?"


"Apa saja, bi!!"


"Non, duduk dulu. Aku buatkan makanan dulu, non."


"Iya, bi. Apa tuan belum juga pulang?" tanya Yiwen.


"Belum, non!!


"Ya, sudah bi. Aku tunggu di ruang tv ya. Sambil nunggu taun datang!!" ucap Yiwen melangkahkan kakinya beranjak duduk di sofa, dengan tangan mengambil remot tv, lalu menyalakan tv-nya. Hanya ini sekarang yang menemaninya. Di saat Lian yin selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia takut jika di saat Lian yin sibuk dia tiba-tiba melahirkan.


Setelah bicara hal itu, Yiwen terdiam. Perutnya terasa sangat sakit, mual, dan mulas, rasanya seakan melilit tak bisa bergerak sama sekali.


"Bi!! Bi perut aku sakit," ucap Ywien, memegang perutnya yang memang sudah membesar.


Pembantu Yiwen segera mematikan kompirnya, dan berlari menghampiri Yiwen.


"Apa, non, mau melahirkan,"


"Aku panggilkan dokter ke rumah atau kita ke rumah sakit, non," ucap panik pembantu Yiwen.


"Sepertinya iya Bi, tolong telponkan Lian yin!!" ucap Yiwen terbata-bata.


"Baik, non. Tahan bentar non!!c ucap pembantunya, tubuhnya gemetar memegang telepon dan mulai memencet tombol nomor Lian yin dengan jari-jari tangan yang sudah gemetar dibuatnya.


"Syang!! aku puakng!!" ucap Lian yin yang baru saja pulang, di saat pembantunya tadi ingin menelponnya.


"Tuan sudah pulang, non Yiwen akan melahirkan, tuan!!" ucap pembantunya gemetar.


"Panggilan dokter sekarang. Aku ingin dia melahirkan di rumah saja, cepat bi!!"


"Baik tuan!!"

__ADS_1


Lian yin berlari menghampiri Yiwen, "Syang!! sakit!!" ucap Yiwen mencengkeram pundak Lian yin yang baru saja duduk di depannya.


"Iya, tahan dulu syang.. aku akan bawa kamu ke kamar." ucap Lian yin, mengangkat tubuh Yiwen berjalan menaiki anak tangga dengan langkah semakin veoat.


"Sudah tuan!! Sekarang aku siapkan peralatan untuk memandikan bayinya nanti!!"


"Iya, siapkan semuanya bi!!" ucap Lian yin bingung. Dia menggenggam tangan Yiwen sangat kuat, dengan tangan kanannya mengusap lembut rambut Yiwen.


"Syang!! Sakit!! Aku gak kuat. Sakit banget."


"Sabar syang!! Tahan dulu syang, sebentar lagi juga dokter akan datang!!"


"Suruh cepat syang!!" ucap Yiwen mencengkeram erat rambut Lian yin, menahan rasa sakit yang semakin menjalar ke tubuhnya.


"SAKIT" teriak Yiwen.


Sampai lima belas menit berlalu, semua peralatan sudah siap. Dokter sudah datang dengan peralatan lengkapnya.


"Dok cepat tangani istri saya," ucap Lian yin sudah mulai cemas, melihat istrinya menangis kesakitan, ia menetaskan air matanya.


"Syang!! Maafkan aku!!" ucap Kian yin.


"Maaf untuk apa?" tanya Yiwen.


"Aku yang buat kamu seperti ini, maafkan aku!!" Lian yin, mengecup kening Yiwen, lalu mengecup punggung tangan Yiwen.


"Kamu berjuang sebisa mungkin syang. Harus kuat demi anak kita!" ucap Lian yin, menggenggam semakin erat dengan Yiwen.


"Pasti syang!!" ucap Yiwen, tersenyum tipis.


"Aku gak bisa melihat kamu menahan sakit, jika bisa di gantikan. Biarkan aku saja yang sakit." ucap Lian yin.


"Sekaeang ibu sudah siap?" tanya dokter yangs udha memakai perlatan lengkap.


"Iya, bu!!" ucap Yiwen.


"Sekarang tarik napas dalam-dalam, laku keluarkan perlahan."


"Sakit!!" ucap Yiwen.


"Sekarang anda coba mengejan ya bu,"


Arggg..... Sakit.. Syang!!


Yiwen mencoba mengejen sekuat tenaga, sembari ke dengan tanganmencengkeram erat tangan Kian yin, hingga jari-jari kukunya menancap di lengan Lian yin, menahan sakit yang amat meremukkan tubuhnya.


"Dikit lagi bu,"


"Tarik napas lagi, keluarkan.. Lalu coba lagi," ucap dokter itu, Yiwen mencoba mengikuti instruksi dokter dalam satu tarikan napas, ia mengejan sekuat tenaga, hingga sebuah tangisan malaikat kecil pecah menghilangkan ketegangan pada semua yang ada di dalam kamar.


"Anak kalian wanita," ucap dokter itu membuat Yiwen tersenyum senang, meski dia masih merasakan sakitnya tubuhnya habis melahirkan.


"Bentar ya bu syang bersihkan dulu," ucap dokter itu. Tiga puluh menit berlalu, semua sudah selesai. Dokter itu bersiap pulang . Dan baby cantik Yiwen dengan mata sangat indah itu kini mulai terpejam tertidur pulas.


"Syang aku ingin gendong baby kita," ucap Ywien, mencoba untuk berbaring di bantu dnegan pembantunya duduk bersandar di ranjang, meski terasa masih sakit tubuhnya dia merasa semangat saat melihat anak cantiknya.


"Dia sangat cantik, lebih cantik dari pada kamu syang!!" goda Lian yin.

__ADS_1


Yiwen menguntupkan bibirnya, "Ih.. Nyebelin!!" Yiwen mencubit lengan Lian yin.


"Sakit!!"


"Gitu saja sakit,"


"Lihatlah, dari tadi tangan aku penuh dengan cengkeraman tangan kamu. Sampai membekas. Kalau bukan karena taruhan nyawa melahirkan ajak kita. Aku pasti marah denganmu,"


"Hehe.. Maaf syang!!" ucap Yiwen meringis, sembari menggendong baby cantiknya.


"Oya, kita beri nama siapa dia syang?" tanya Yiwen.


"Siapa , ya. Aku belum memikirkan nama wanita," ucap Lian yin mencoba mengingat ingat kembali nama yang bagus untuk anaknya.


"Himana kalau kasih nama Queen!" saran Lian yin. "Agar nabti dia bisa jadi ratu mafia pertama."


"Gak mau, aku gak bolehkan dia masuk dalam dunia mafia!!" ucap Yiwen.


"Tapi nama itu juga sangat bagus, gimana kalau di tambah Queen Debora Alexandra,"


"Wah.. Itu bagus, non!!" saut pembantunya.


"Baiklah aku setuju. Jadi kita panggil dia Queen, gimana?" ucap Lian yin.


"Terserah asal namanya bagus sesuai dengan anak kita" ucap Yiwen.


Mereka nampak sangat bahagia, Lian yin mengecup kening Yiwen, lalu mengecup kening baby-nya.


"Queen, aku ingin kamu tumbuh jadi gadis yang kuat," ucap Lian yin.


"Jangan seperti papanya. Aku gak mau dia masuk dalam dunia mafia. Biarkan dia tumbuh dewasa seperti gadis lainya,"


"Iya, dewasa nanti apa salahnya jika aku mengajarkan dia bela diri, san latihan kenembak, memanah dan lainya. Bukanya kamu ahli semuanya."


"Iya, saat dia menginjak dewasa. Aku akan ajarkan semuanya agar dia bisa melindungindirinya sendiri." Lian yin langsung memeluk tubuh Yiwen.


"Kamu gak menyusui anak kamu?" tanya Kian yin.


"Iya ini mau menyusui dia syang, kamu pergi dulu." ucap Yiwen malu-malu.


"Non, tuan saya pergi dulu. Bereskan semuanya. Oya nanti saya akan siapkan kamar untuk baby, non, dan Tuan"


"Gak usah bi, aku ingin dia tidur bersama aku dan Lian yin di ranjang ini. Aku gak mau jauh darinya." ucap Yiwen.


"Baik, non."


"Oya, syang. Aku akan adakan acara besar untuk menyambut kedatangan baby kita. Dan aku akan undang kakak aku. Lagian kasihan dia belum punya banyak lagi sekarang!!!" ucap Lian yin.


"Iya, jangan lama-lama," ucap Yiwen.


"Iya, tenang saja, syang!!" Lian yin mengusap rambut Yiwen sangat manja dan beranjak pergi dari kamar Yiwen, dia segera memanggil kakaknya dan semua temannya. Dan menyiapkan pesta sederhana tapi meriah hanya keluarganya yang sengaja Yin undang.


--------


"Queen!! Kamu jadi anak yang hebat, ya. Kelak nanti!!" ucap Yiwen tersenyum melihat anaknya, dia tak hentinya terus berbicara dengannya. Mengajak dia berbicara meski belum paham apa yang di katakan.


Yiwen mengecup lembut kening anaknya, mengusap lembut pipi merahnya yang terlihat sangat menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2