Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Menjelaskan salah paham


__ADS_3

"Kenapa kamu mau aku temui Mei sekarang. Aku lagi tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa kecuali kamu sekarang!! Aku hanya ingin nelihat kamu" ucap Changmin memegang tangan Grace.


"Kenapa kamu mau bertemu dengan aku, kamu sepanjang hari kemarin bertemj denganku. Labih baik kamu luangkan waktu kamu untuk kekasih kamu juga. Dia akan terus salah paham denganku nantinya." ucap Grace, melepaskan tangan Changmin.


"Aku gak mau!! Aku akan tetap menemani kamu! Aku ingin membalas budi kamu dulu, kamu selaly merawatku, bahkan menamani aku saat terbaring lemas. Kamu yang selalu duduk di samping memegang tanganku. Apa kamu lupa semuanya? Aku amsih ingat itu, ku gak bisa lupa" ucap Changmin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu seperti itu? Lupakan semuanya soal itu, Apa kamu tidak mikirin perasaan seorang wanita yang tulus suka dengan kamu. Selama ini bukannya kalian berjuang bersama, selalu melewatkan rintangan berdua. Apa kamu juga lupa dengan itu semua?. Dan kenapa sekarang kalian saling menjauh? Lebih baik sekarang kamu pergi temui dia, Jika kamu gak mau bertemu dengannya maka aku tidak akan pernah mau bicara sama kamu lagi!! Aku juga gak mau bertemu dengan kamu lagi" ucap Grace dengan wajah nampak sangat serius kali ini. Ia tidak main-main dengan ucapanya. Bahkan Changmin hanya diam menatap dengan penuh rasa kecewa terhadap Grace. ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia mau menjawab apa yang ada dalam hatinya juga tidak mungkin. Ia memang masih cinta dengan Mei tapi sekarang ia tidak mau berdebat lagi dengannya, hanya karena kecemburuannya yang berlebihan.


"Apa yang kamu katakan!!"


"Aku mau kamu jauhi aku sekarang!! Jangan pernah dekat dengan aku lagi. Jika memang kita ada perkerjaan sama seperti apa yang di katakan Lian yin, kita jangan saling bicara atau menyapa lagi" ucap Grace.


Cahngmin meemgang ke dua bahu Grace. "Kita bisa bicatakan baik-baik Grace!!" ucap Changmin.


"Pergi dari sini!!" ucap Grace tegas.


Merasa tak di hargai sekarang. Changmin menarik napasnya. Mencoba mengeluarkan perlahan.


"Jangan pernah menatapku lagi!" ucap Grace lirih. Seketika membuat Changmin menoleh ke arahnya, memegang lengannya.


"Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa Mei yang menyuruhmu, apa dia yang mengancammu" ucap Changmin dengan nada penuh emosi.


"Tidak!! Bukan dia yang mengancamku. Aku memang gak mau ganggu hubungan kalian. Aku mau kamu jauhi aku! Mulai hari ini!! Aku gak mau jadi pengrusak hubungan orang lain" ucap tegas Grace, menepis ke dua tangan Changmin dari bahunga. Ia langsung menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya. dan mulai memejamkan matanya. Ia tidak mau Changmin melihat wajahnya yang terlihat sedih. Namun ia tidak mau merubah semuanya, merubah cinta Changmin yang harusnya tetap bersama dengan Mei.


"Baiklah!! Kalau memang itu mau kamu, aku akan menjauhimu!! Aku tidak akan berbicara denganmu lagi. Maaf!!" ucap Changmin, melangkahkan kakinya pergi, dan menutup pintu Grace perlahan.


Ia ingin melihat Mei hari ini, ia mungkin sudah banyak salah dengannya. seperti yabg di ucapkan Grace ia harus segera menemui Mei dan setelah itu merenungi sejenak di kamarnya. Ia ingin memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya nanti.


Changmin mengetuk pintu Mei, berkali-kali namun tidak ada jawaban darinya. "Mei!! Apa kamu sudah tidur?" tanya Changmin yang masih tak berhenti mengetuk pintunya.


"Jangan masuk!!!" teriak Mei dari dalam kamarnya.


"Mei aku mau bicara denganmu? Buka pintunya dulu"


"Tenatang apa? Jika hanya ingin bilang tentang Grace lebih baik kamu pergi!! Aku gak mau bicara dengan kamu!!"


"Bukan!! Ini tentang hubungan kita"


Mei yang semula tidur tengkurap memeluk guling dengan wajah teggelam dalam kesedihan di balik guling dalam dekapannya. Ia mendengar jika Changmin akan membahas tentang bubungannya. Dengan segera ia beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu, memegang knop pintu. Dan berdiri sejenak di balik pintu.


"Apa kamu yakin?" tanya Mei memastikan.


"Aku yakin, aku mau bicara dengan kamu sekarang" ucap Changmin. "Sekarang buka ya?"


Mei terdiam, dan perlahan membuka pintu kamarnya. Ia menundukkan kepalanya. Merasa sangat malu jika wajahnya muram dan matanya terlihat sembah ada Changmin di depannya. Ia tidak mau jika dia meliahtnya sedih.


Changmin mengerutkan keningnya, menatap Mei yang terus menunduk tanpa melihatnya.


"kenapa kamu menunduk" tanya Changmin.


"Gak apa-apa, mata aku sakit!!" jawab Mei penuh keraguan.


Changmin memegang ke dua bahu Mei, dengan badan sedikit membungkuk, condong ke depan. ia memegang dagu Mei, dan menariknya ke atas. Namun Mei menutup matanya rapat-rapat ia tidak mau melihat ke dua mata Changmin yang mengerikan saat ia marah "Sekarang tatapalah aku!! Aku mau lihat mata kamu, jangan terus menunduk. Kamu tadi mau berbicara kasar dengan aku! Dan marah-marah gam jelas, tapi kenapa sekarang kamu malah menunduk. Gak sesuai pendirian kamu!!" gumam Changmin.


"Kamu jangan marah!!" ucap Mei, penuh keraguan.


Changmin mengerutkan keningnya. "Siapa juga yang marah?" Changmin melepaskan tangannya di dagu Mei. "Bukalah matamu!! kamu lihat sendiri, apa aku marah dengan kamu. Aku hanya ingin tanya padamu!!" lanjutnya.


Mei perlahan membuka matanya, ia mengernyipkan matanya melihat Changmin yang bergitu santai tidak seperti Changmin yang tadi dengan mata dan wajah penuh kobaran api kemarahan. Merasa sudah aman Mei membuka matanya sempurna, menatap ke arah Changmin.


Changmin melebarkan matanya, kemudian dahi mengerut melihat mata Mei yang memerah dan bengkak. "Kamu menangis?" tanya Changmin.


"Enggak!!" jawab Mei, memalingkan pandangannya dari Changmin.


"Jujurlah padaku!!"


"Aku bilang enggak!! Ini hanya merah saja!! Tadi aku kelilipan!" ucapnya beralasan.


Changmin, tersenyum tipis memegang behu Mei semakin erat. Ia tahu jika Mei itu bohong padanya.

__ADS_1


 "Kamu kenapa menangis, lagian apa gunanya kamu menangis!! Gak ada juga yang perlu di tangisi Smeuanya sudah terjadi. Dan aku gak tahu lagi mau bicara apa denganmu, kamu selalu salah paham denganku. Kamu bisa ngertiin pekerjaanku sama sekali!! yang ada di otak kamu hanya cemburu, cemburu dan cemburu. Harusnya kamu belajar dari Yiwen, yang sekarang sudah menikah saja bisa penegrtian dengan suaminya. Dia tidak terlalu membesar-besarkan jika dia cemburu, dan selalu berbicara baik-baik, tidak saling emosi. Aku harap sekarang kamu merenung apa kesalahan kamu." ucap Changmin melepaskan tangannya di bahu Mei, membalikkan badanya dengan rasa kecewa yang masih menghantui hatinya.


"Tunggu!! Kamu mau kemana?" tanya Mei, membuat langkah Changmin terhenti.


"Pergi ke kamar!!" ucap Changmin datar.


"Kenapa kamu gak mau menatapku lagi!!" ucap Mei, memegang lengan changmin, membalikkan tubuhnya agar menatap ke arahnya di belakang.


"Apa janji akan berubah, dan aku juga lebih bisa ngertiin kamu. tapi setidaknya kamu juga harus mengerti gimana perasaan aku. jangan hanya kamu yang selalu ingin di mengerti. Kamu harus mikir gimana hatiku, apa aku terluka atau tidak" Ucap Mei, meluapkan apa yang ada dalam hatinya sekarang.


"Lihat saja nanti, ku mau lihat kamu bisa mengerti aku atau tidak!! Maka aku akan pertimbangkan setiap ucapan kamu!!" jawab Changmin, memegang tangan Mei, dan melepaskan dari lengannya.


"Kamu harus tahu jika aku akan selaku mencintai kamu. Meskipun kamu cuek, kamu gak perduli dengan aku. Aku akan tetap cinta dan syang denganmu. Dan itu gak akan pernah berubah" ucap Mei dengan nada tinggi.


"Aku tahu!!" ucap Changmin tanpa menoleh ke arahnya.


Mei hanya diam, ia menunduk, dengan kaki melangkah ke belakang. "Aku akan pergi jika kamu tidak menginginkan aku" gumam Mei lirih.


Changmin tak mendengar apa yang di katakan Mei, ia berjalan semakin cepat menuju ke kamarnya. Hari ini pikirannya sangat penat, berbagai masalah karena perempuan membuat ia merasa sangat pusing. Ia tidak tahu lagi harus gimana.


"Sepertinya aku harus tanya pada Lian yin, dia yang lebih bepengalaman dari ku. Banyak wanita yang menyukainya tapi, tapi entahlah, kenapa dia begitu dingin pada setiap wanita" gumam Changmin, dengan langkah semakin cepat.


"Ehh... Changmin!!" panggil seorang wanita yang membuat langkahnya langsung terhenti. Ia menoleh ke belakang, seketika menyipitkan matanya saat melihat Yiwen berjalan ke arahnya.


"Iya ada apa?" tanya Changmin.


"Kamu tadi lihat Lian yin tidak?" tanya Yiwen yang dari tadi terus mencari Lian yin. Sehabis berbincang bertiga dengan Lay, Lian yin tiba-tiba pergi begitu saja dan entah kemana sekarang. Yiwen terun mencarinya namun tak kunjung bertemu.


"Di kamar Grace ada gak?"


"Aku udah kesana, dan Grace bilang gak ada Lian yin. dan aku juga tidak melihatnya di sana."


"Oo, telepon saja dia!!"


"Oo, Iya. Kenapa aku jadi lupa gini ya.. "guman yiwen memukul pelipisnya berkali-kali. "Maaf mengganggu kamu, ya sudah sekarang aku pergi dulu" lanjut Yiwen.




Lyli yang dari tadi tidak perdulikan keributan di luar para temannya. Ia tetap fokus menjaga Lay, ia tidak mau melewatkan sedikitpun saat Lay mulai tersadar nantinya. Wanita itu duduk di samping Lay, dengan tangan memegang tangan lay yang terlihat pucat. Ia meletakkan tangannya di dada Lay.



"Lay!! Maaf, aku belum pernah bisa mencintai kamu. tapi kenapa kamu masih mau mempertaruhkan nyawa kamu demi aku! Kenapa!! Aku yang membuat masalah tapi kenapa juga kamu yang terkena imbasnya. Aku gak bisa terus begini Lay, kamu sadarlah. Aku akan mulai mencoba mencintai kamu dari sekarang. Aku akan selaku bersama kamu sekarang, menemanimu, merawatmu saat kamu sakit seperti ini." ucap Mei dan. Tes...



Butiran air mata menetes jatuh di punggung tangan Lay. Membuat Lay perlahan menggerakan tangannya. Dengan mata yang masih tertutup.



"Lay kamu sadar! Lay bengunlah, aku ada di sini bersama kamu, aku di sini menemani kamu!!" gumam Lyli dengan wajah yang semula sedih, raut wajahnya berubah ia menarik bibirnya tersenyum lebar melihat Lay sudah menunjukan tanda\-tanda akan sadar.



"Lyli! Lyli! Kamu di mana?"ucap Lay tetpatah\-patah, yang belum bisa membuka matanya.



Lyli memegang tangan Lay meletakkan di pipinya. "Lay ini aku ada di sini, aku ada di samping kamu. Aku akan selalu di samping kamu!! Kamu perlahan bukalah matamu. Biar kamu lihat jika aku ada selalu di samping kamu!!" ucap Lyli beranjak berdiri menatap wajah Lay.



Tak mau membuka matanya, Dan tangan Lay yang semula bergerak kini mulai lemas dan jatuh dari pegangannya. Membuat Lyli semakin panik. Ia berlai keluar memanggil dokter yang ada di rumah Lian yin.



"DOKTER... DOKTER... !!" Teriak Lyli di balik pintu.

__ADS_1



Beberapa dokter sekaligus datang menghampiri Lyli. "Ada apa? Apa dia sadar?" tanya salah satu dokter itu.



Lyli memegang kerah baju kerja dokter itu. Menarik\-nari naju putih dokter.



"Dia sadar tadi Dok, dia sudah bicara dengan aku. Tapi kenapa dia lemas lagi. Di tidak membuka matanya dok!! Kenapa dia tidak kunjung membuka matanya Dok" ucap Lyli yang mulai panik dan khawatir."Toling selamatkan dia dok, aku gak mau terjadi apa\-apa dengannya. Kalian harus selamatkan Lay, dia harus sembuh sekarang. "



"Baiklah kamu tenang dulu! kita akan tangani semuanya. Kamu tenang dulu ya!" ucap Dokter Jackki. Dokter luar negeri yang memang di jemput langsung dengan halicopter Lian yin untuk segera menangani Lay.



"Ada apa?" tanya Yiwen, berlari masuk ke dalam kamar Lay, ia melihat Lyli menangis di samping dokter yang sedang memeriksa.



"Yiwen!! Lay tadi bicara, dia bicara denganku" gumam Lyli, menatap dengan mata dan raut wajah penuh kesedihan.



Dokter Jacky segera menuju ke kamar Lay, ia memeriksanya dengan detail. "Dia baik\-baik saja, hanya saja tubuhnya masih lemas. Selesai operasi yang memakan waktu lama membuat tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Dan sekarang dia hanya tertidur. Sebentar lagi dia akan bangun! Kamu tunggu saja."



"Tapi dia kapan akan sadar Dok?" tanya Lyli.



"Bentar lagi dia juga akan sadar. Kamu tunggu saja! Dan jangan panik" ucap dokter Jacky penuh dengan keramahan.



"Lyli kamu tenang ya!! Lay pasti akan sadar" ucap Yiwen, merengkuh pundak Lyli mencoba menenangkan hatinya.



"Sekarang aku tinggal dulu, kalau ada apa\-apa dengan Lay bisa panggil aku" ucap Dokter Jacky.



" Iya dok!!" sambung Yiwen.



Dokter Jacky beranjak pergi menjauh dari ruangan rawat Lay.


"Sekarang kamu tenang ya!!" ucap Yiwen.



"Gimana aku bisa tenang Yiwen, Lay belum sadar dan dia belum sembuh. Aku gak bisa tenang jika dia masih berbaring" ucap Lyli, melangkahkan kakinya duduk di samping ranjang Lay.



"Ya, sudah aku mau pergi dulu. Kalau ada apa\-apa kamu panggil aku atau Lian yin. Sekarang aku mau mencari Lian yin. Apa kamu tadi melihatnya?" gumam Yiwen.



"Aku gak melihat dia dari tadi" ucap Lyli tanpa menatap ke arah Yiwen.



Yiwen menepuk pundak Lyli berkali\-kali. "Kamu sabar ya!! Jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri. Sekarang aku mau pergi dulu" ucap Yiwen yang mulai melangkahkan kakinya pergi meninggakan Lyli yang masih belum bisa terima dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2