
Yiwen sampai di rumah besar milik Jack, semua penjaga berjaga mengelilingi rumah tersebut.
"Kenapa dia lebih memilih untuk menyewa penjaga dari pada menggunakan peralatan canggih?" tanya Yiwen, pada Amerta yanh berjalan di depannya.
"Entahlah.. Aku juga bingung dengan apa yang ada selama pikiran Jack. Dia orangnya gak bis adi tebak begitu saja. Jika kita bilang A, situ bilang B. dan juga sebaliknya, jika kita bilang B dia bilang A. Kita juga yang repot saat bicara dengannya. lebih baik mengalah, dan lebih hati-hati saja." jelas Amerta, yang tetap melanjutkan langkahnya, menuju ke gerbang rumah Jack, yang sudah di tunggu dengan beberapa pengawal di depannya.
"Amerta!! Aku gugup!!" ucap Yiwen, memegang bahu, Amerta nencegahnya pergi.
"Kenapa juga kamu gugup, lagian tidak akan lama kamu tinggal di sini. Aku juga yang akan menemani kamu. Tenang saja, aku tidak akan ceroboh." ucap Amerta, menepuk bahu Yiwen, tersenyum, mencoba untuk menyakinkan Yiwen.
Yiwen menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk tetap tenang dan gak gugup.
"Aku pasti bisa melakukannya," ucap Alana.
"Tuan ada gak?" tanya Amerta, dengan nada lantangnya.
"Ada di dalam non," ucap penjaga itu, menunduk ketakutan.
Yiwen yang berjalan di belakangnya, hanya bisa diam, menatap aneh melihat apa yang di lakukan Amerta pada para penjaga itu.
Sebenernya siapa dia, semua orang menunduk hormat padanya. Apa dia orang yang di takuti di sini Atau dia juga ketua mafia. Ah.. entahlah, aku belum tahu, saat aku di sini nanti, semua akan tahu. San terbongkar apa yang belum aku ketahui semuanya.
"Kak, ayo cepat masuk. Jangan ragu anggap aja ini rumah...." Amerta menghentikan ucapanya, ia memikirkan nama yang pantas untuk Yiwen.
"Oya mulai sekarang jangan panggil aku, kak lagi. Kamu harus panggil aku seperti kamu memanggil teman kamu," ucap Yiwen, dengan mata memutar menatap sekelilingnya.
"Baiklah, aku akan memanggil kamu dengan nama Bella. Itu nama baru kamu sekarany," jelas Amerta.
"Bella?" tanya Yiwen dengan wajah terkejutnya.
"Iya kamu gak suka?"
"Suka, nama itu bagus juga?"
"Nah, sekarang kamu masuk, Bell!" ucap Amerta, yang mulai acktingnya.
"Kak Mei!!" teriak Amerta.
"Aku di sini!! Ada apa?" tanya Mei, berjalan menghampiri adiknya itu.
"Aku yinggal di sini ya, bukanya ventar algi kak Mei akan kenikah. Jadi aku mau bantu kak Mei, aku juga ingin ajak teman aku juga, dia yang selama ini jadi bodyguard ku kak." ucap Amerta.
__ADS_1
Mei, menatap Yiwen dari atas sampai bawah, tatapan yang membuatnya sangat risih.
"Ksnaoa aku baru melihatnya?" tanya Mei datar, ia masih meandang curiga teman barunya itu.
"Ada apa syang!!" ucap Jack, melangkahkan kakinya mendekat, memeluk, san mencium lembut pipi Mei.
"Amerta bawa temanya ke sini. apa boleh dia menginap di sini?" ganya Mei, menatap wajah Jack.
"Boleh!! Aku gak melarang, jika dia bisa jaga Amerta, kenapa tidak. Tapi apa kamu juga mau membantu aku jaga rumah ini. Tapi ingat, kamu gak boleh keluar dari sini. Selama kamu tinggal di sini," ucap Jack.
Yiwen menatap wajah Jack, yang terlihat begitu tampan, pantas saja Mei memilih dia.
Dia seperti malaikat... " gumam Yiwen lirih.
"Iya, malaikat maut, jika kamu bemum mengenalnya." ucap Amerta.
"Amerta, bawa dia ke kamarnya, jika kamu setuju untuk tetap di sini dan gak boleh keluar sama sekali. Jika kamu butuh apa-apa, bisa bilang pada penjaga untuk membelinya." jelas Jack.
Apa yang harus aku lakukan, jika aku di sini gak boleh keluar, gimana aku bisa keluar nantinya. Aku di sini seperti di penjara.
"Ya, sudah bawa dia masuk." ucap Mai.
"Iya kak!!" jawab Amerta.
"Jack menatap gadis itu, tatapan yang tidak biasa terlihat dari mata Jack.
"Kamu suka dengannya?" tanya Mei, datar. Ia tidka terlalu cemburu dengan apa yang di lakukan Jack. Karena itu sudah menjadi makananya seharai-hari . Jadi ia sudah tidak kaget lagi, gimana kelakuan Jcak selama ini padanya.
"Enggak!! Aku hanya suka denganmu syang!!" Jack memeluk mesra tubuh Mei.
"Aku gak masalah kamu suka dengan siapa saja. Aku juga tidak suka dnegan kamu. Jadi kamu mau hubungan dengan siapa saja aku gak perduli," ucap Mei, dengan wajah kesal, ia melepaskan tangan Jack, dan beranjak pergi menuju kemarnya.
"Shiitt.. Saat kita sudah mau menikah, tapi kenapa kamu masih suka menghindar dariku Mei, apa kamu tak mau menikah denganku, tapi kenapa setiap malam kamu selalu mau berhubungan denganku, memuaskan aku." gerutu Jack, dengan senyum sinis, dan tatapan sinisnya.
"Mei!! Tunggu," teriak Jack.
"Apa la..."
Jack mengecup bibir Mei, membuat mulutnya membungkam seketika. Seperti biasa setiap hari Jack selaku memakukaknya, menarik semua bajunya, seakan sudah sangat lihainya, di menjelajahi tubuhnya.
Mei merasa sangat malu, melakukannya di depan kamarnya, ia tidak mau di lihat para pengawal dan adiknya nanti. Ia terus memberontak tapi tubuh Jack seakan tak biaa berkutik menjauh darinya.
__ADS_1
"Jack, aku mohon hentikan. Jangan seperti ini." ucap Mei memohon.
"Aku gak mau, kamu harus menemaniku, syang!!"
"Jack, kita bisa melakukannya di dalam. Jangan di sini!!"
"Kenapa, biarakn semua tahu sekalian. Agara tidak ada yang berani kendekatimu. Termasuk laki-laki yang nerebut kamu dariku."
"Dia gak ada di sini!! Kenapa kamu terus menyiksaku seperti ini. Aku bukan hudak pelampiasan haus nafsumu saja." decak kesal Mei.
"Memangnya kamu menikah dengan aku kerena cinta? Itu karena kamu ingin aku puaskan." bisik Jack, dengan senyum tipis dan penuh kelicikan dalam pikirannya.
--------
Yiwen berjalan keluar dari kamarnya, koper yang ia bawa berada di bawah, dan belum sempat ia ambil. Dan amsih ketinggalan di lantai satu, sebelum ia naik ke atas dengan Amerta.
Jacak yang sedang ingin menggoda Mei, ia melihat ada Yiwen yang tiba-tiba datang. Tapi itu tak mengubah niatnya, ia ingin selaly menunjukan kelakuannya di depan wanita. Yang baru ia kenal, apalagi wanita asing yang baginya sangat menarik.
Melihat kedatangan Yiwen, Jack menggantikan aksinya. Ia Bermanja mesra dengan Mei.
"Maaf, jika mengganggu kalian,"
"Tunggu!! Kenapa kamu tidak lanjut melihatnya?" tanya Jack, dengan senyum penuh kelicikan dalam otaknya
"Maksudnya?" Yiwen semakin bingung di buatnya.
Apa laki-laki itu tidak waras, ia menyuruh aku untuk melihat mereka berhubungan. Dasar gila! Kalau aku lama-lama di rumah ini, aku yang lama-lama gila juga, ketularan dirinya.
"Jack, aku lebih baik pergi sekarang." ucap Mei, yang kali ini terlihat bukan seperti Mei yang biasanya selalu memberontak pada orang lain. Tapi kali ini dia sekana lemah di hadapan Jack. Membuat Yiwen mengerutkan keningnya, mwnatap aneh pada Mei.
Mei kenapa? Aku tahu itu bukan dirinya yang asli, dia pasti sangat tertekan di sini. Tapi kenapa dia mau menikah dengan Jack. Apa karena paksaan, atau karena dia memang suka dengan Jack.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Jack.
"Ehh... Maaf, aku pergi sekarang!!"
"Udah, aku mau pergi!!" saut Mei saja, kamu lanjutkan bicara dengan dia.
"Tunggu!! Kamu mau kemana, kamu gak boleh pergi!! Kita belom selesai."
"Aku ke sini hanya ambil koper aku." ucap Yiwen yang beranjak mengambil kopernya.
__ADS_1
"Lihatlah!! Kamu harus melihat aku dulu, jangan pergi jika kamu belum melihat apa yang aku lakukan." ucap Jack, yang mulai melanjutkannya lagi, tanpa rasa malu di hadapan Yiwen. Entah apa yang di lakukan Jack. kenapa dia tanpa rasa malu sama sekali menunjukan kemesraannya di depan orang lain. Bahkan dia terlihat haus akan gairah.
Dasar laki-laki gak tahu diri, gak tahu malu, mengumbar kemesraan pada orang lain. Ternyata banyak hal yang aku ketahui setelah baru beberapa detik tinggal di sini. Ternyata laki-laki tampan itu, hatinya benar-benar busuk. Gak bisa menghargai perasaan seorang wanita sama sekali.