Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Manja


__ADS_3

Lian yin yang sudah menyudahi permainannya, ia masih berada di atas tubuh Yiwen. Ia tersenyum mengusap wajah Yiwen, yang di penuhi puluh keringat, dengan tubuh masih saling menempel. Ia masih bermanja ria dengannya, seakan tidak mau beranjak dari tubuh Yiwen. Seperti perangko yang tidak mau jauh dari amplopnya.


“Syang makasih.” Ucap Lian yin, merapikan rambut Yiwen yang menutupi dahinya. Membelai lembut wajah Yiwen.


Yiwen mengernyitkan dahinya. Menyipitkan ke dua matanya, dengan tangan memegang pipi Lian yin, sedikit menekannya ke dalam. “Makasih untuk apa?” tanya Yiwen. Yang mulai melebarkan matanya. dengan bibir sedikit menyun beberapa senti.


Lian yin mendekatkan bibir miliknya di telinga Yiwen, dan berbisik pelan.


“Kamu telah puaskan aku! Ya, meski hanya sebentar, tapi gak masalah. Sebelum melakukan tugas kembali, kamu sudah memanjakan aku." Gumam Lian yin, dengan tangan tak berhenti mengusap lembut wajah Yiwen. "Tapi nanti malam jika aku minta, kamu jangan nolak, ya." lanjutnya dengan senyum menggoda.


Yiwen tersenyum, menggerakkan badannya sedikit, menggeser ke kiri. Ia melingkarkan tanganya di leher Lian yin. Menarik lehernya agar lebih mendekat. Menunjukan senyum termanisnya, untuk menggoda Lian yin. ”Apa yang kamu inginkan syang, aku akan selalu memenuhi sekarang. Lagian kewajiban aku sebagai istri kamu, harus bisa memanjakan kamu setiap waktu.” Ucap Yiwen.


"Jadi termasuk memuaskan aku tiap hari," goda Yiwen, menarik salah satu alisnya. Yiwen menguntupkan bibirnya, mencoba nenimang-nimang apa yang di katakan Lian yin.


Yiwen hanya diam, tanpa kata. Ia menarik leher Lian yin, mendekat ke wajahnya, seketika wanita itu, mencium bibir Lian yin. Di balas dengan lumatan hangat dari bibir Lian Yin.


Mereka menikmati lumatan mereka. Tangan Lian yin bergerak sangat nakal, mulai menelusuri tubuh Yiwen, lagi dan lagi. Membuat wanita itu tak bisa berkutik. Ia hanya nenikmati, dengan Suara desahan lembut manja, membuat Lian yin semakin senang melakukannya. Ia memainkan bagian sensitif, milik Yiwen dengan tangannya. Terdengar desahan tepat di telinga Lian yin. Hembusan napas ternga-enga, terdengar jelas di telinganya.


“Kamu memang orang yang membuat aku benar-benar merasa spesial.”  ucap Yiwen. Sembari terus mendesah, dengan permainan jemari Lian yin.


"Yin, pelan!" ucap Yiwen. Terus mendesah semakin keras.


"Diamlah syang! Nanti jika kamu sudah keluar. Maka akan terasa lebih nikmat." bisik Lian yin.


----


Lay yang berada di depan pintun seketika kikuk, mendengar desahan itu.


Glepp..


Ia hanya bisa menelan ludahnya kasar, tangan yang sudah terangkat siapnuntuk mengetuk. Masih mematung, dengan tubuh seakan kaku.


Kenapa aku harus mendengar desahan itu. Apalah dayaku yang masih belum menjadi suami istri. Bahkan cinta saja masih bertepuk sebelah tangan, belum ada kepastian. Rengek Lay dalam hatinya.


Ia mengurungkan niatnya untuk mengganggu malam mereka. Tapi dalam hati ini juga penting. Ada hal hang harus ia bicarakan dengan Yiwen dan Lian yin. Tapi suara kenikmatan Yiwen itu membuat Lay ragu untuk mengganggu.


"Sepertinya aku harus kasih tahu dia dulu, setelah itu mereka bisa lanjutkan lagi." gumam Lay, dengan wajah masih sangat ragu.


"Aku sudha putuskan, aku akan ketuk pintu sekarang." gumam Lay.

__ADS_1


Oh.. Tuhan.. Ampuni aku, telah mengganggu hubungan suami istri ini. Ucap Lay sekana komat kamit dulu untuk mengentuk pintunya, berharap Lian Yin tidak marah dengannya.


Lay menarik napasnya dalam-dalam, mengangkat tanganya penuh keraguan dalam dirinya, dan. Dengan mata terpejam. Dalam satu tarikan napas bersamaan, ia mulai mengetuk pintunya keras.


Tok.. Tok.. Tok..


Mendengar suara ketukan pintu itu. Lian yin terlihat sangat kesal, belum puas membuat istrinya basah. Dnegan berat hati, Ia harus beranjak dari atas tubuh Yiwen.


"Shiitt.. Siapa yang mengganggu!!" decak kesal, Lian yin, segera menutupi tubuh istrinya dengan balutan selimut.


"Siapa syang?" tanya Yiwen, menutup rapat tubuhnya dengan selimut tebal.


"Aku juga gak tahu, syang." jawab Lian yin datar. Ia terliaht benar-benar kecewa, malam ini.


"Siapa?" tanya Lian yin, melangkahkan kakinya mengambil handuk menutupi miliknya.


"Aku Lay, ada hal yang ingin aku bicarakan?" gumam Lay, yang masih berdiri di depan pintu.


"Ya sudah! Nanti aku akan ke sana, sekarang lebih baik pergi dulu." pekik Lian yin.


Lay tanpa banyak tanya lagi, ia bergegas pergi. Mungkin memabg tidak sekarang saatnya untuk bicara.


Lian yin membaringkan tubuhnya di samping Yiwen, merengkuh erat pinggang istrinya itu. Hembusan napas beratnya terasa di belakang tengkuk Yiwen, di balik helaian rambut tipis Yiwrn yang menutupi leher belakangnya.


Laki-laki itu menciumi lembut tengkuk Yiwen, di balik helaian tipis rambut Yiwen di belakang lehernya. Dengan jemari tangan merayap menjelajahi tubuh istrinya. Mamaikan ke dua miliknua, “Yin, geli!” ucap Yiwen, tersenyum tipis, membalikkan badanya, menatap ke arah Lian yin di depannya.


“Syang, dikit saja." Ucap Lian yin manja.


“Sudah tadi, sekarang aku mau ke kamar mandi dulu.” Gumam Yiwen, melepaskan tangan Lian yin yang melingkar di pinggangnya.


“Ikut!!” rengek Lian yin manja, seperti bayi laki-laki yang menggemaskan.


Yiwen menghela napasnya, “Apa juga kamu ikut, syang.”


“Mau temani kamu di dalam,” gumam Lian yin, memegang tangan Yiwen, menarik-nariknya manja.


Yiwen menggelengkan kepalanya. Entah sejak kapan suaminya itu berubah manja dengannya, bahkan lebih manja dari wanita. Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia jadi seperti anak bayi?


Pikiran itu menganggu otak Yiwen, ia memegang dahi Lian yin, lalu bergantian memegang ke dua pipinya, dan lehernya. Seketika ia menarik sudut bibirnya, memutar otaknya untuk berpikir.

__ADS_1


“Gak demam!” gumam Yiwen lirih.


“Kamu kenapa?” tanya Lian yin, menatap bingung istrinya.


“Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa?” jawab Yiwen, duduk di ranjang, dengan tubuh berbalut selimut putih yang masih menutupi tubuhnya.


“Aku gak kenapa-napa.” Gumam Lian yin, menunjukkan jika dirinya memang tidak apa-apa.


Yiwen yang sudah ingin buang air kecil dari tadi. Kini sudah semakin tak tertahan lagi, ia memegang selimut tebal, mencengkramnya erat, dengan mengigit bibir bawahnya.


“kamu kenapa? Apa kamu sudah gak taha minta lagi, ya?” ucap Lian yin yang lansung beranjak duduk di samping Yiwen.


“Emm.. Emm.. “ mulut Yiwen seakan tidak bisa bicara, ia hanya mengibaskan tanganya. Memberi tanda jika dia tidak ingin itu, ia ingin pergi. Rasa itu sudah mulai memuncak, membuat gadis itu langsung beranjak. Dengan sigap tangan Lian yin menghalangi perutnya, melingkarkan tanganya, mencegah dia pergi.


Yiwen menarik napasnya, mencoba untuk menahannya kali ini. Jika dia kencing di celana jauh lebih malu nantinya. “Aku mau baung air kecil!” ucap Yiwen, lirih sembari menahan, air yang sudah di ujung miliknya.


Yiwen menepis tangan Lian yin yang hanya diam ,melihatnya, dan ia hanya tersenyum tipis. Melihat istrinya itu berlari terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi.


Merasa tertarik Lian yin beranjak dar ranjangnya, melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam kamar mandi yang tidak di kunci oleh Yiwen.


Laki-laki itu bersandar, kaki kiri di lipat ke belakang, dengan tangan bersendekap, bersandar di tembok, mentap ke arah Yiwen.


“Sudah?” tanya Lian yin santai.


Yiwen menautkan ke dua alisnya, mendengar suara suaminya itu seakan dekat dengannya. Seketika Yiwen menoleh cepat ke belakang, melihat dia sudah berada di belakangnya, tersenyum simpul menatap ke arahnya.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Yiwen.


“Mau ajak kamu mandi di shower berdua atau berendam, sambil menikmati pemandangan luar rumah, pasti sangat romantis.” Ucap Lian yin, beranjak, melangkahkan kakinya berjalan mendekati Yiwen.


“Gak mau!!” ucap Yiwen tegas.


“Kenapa gak mau, lagian hari ini kita bebas. Jadi bisa bersenang-senang dulu. Sebelum kita saling sibuk masing-masing nantinya, jadi gak bisa mesra lagi seperti ini nanti.” ucap Lian yin, meraih ke dua tangan Yiwen, mencium lembut punggung tanganya.


“Yiwen yang semula malu-malu, ia menarik bibirnya tersenyum tipis, di sambut dnegan anggukan kecil darinya.


Lian yin tersenyum lebar, ia langsung bersemangat, mengangkat tubuh Yiwen masuk kedalam bathup yang tepat berada di pinggir jendela kaca, jadi ia bisa menatap pemandangan in sudah di luar rumahnya.


Lian yin, merengkuh erat tubuh Yiwen dari belakang dengan salah satu tanganya, menyentuh dada Yiwen, membuatnya mulai geli. “Yin, geli, ah." ucap Yiwen manja.

__ADS_1


Yiwen menyandarkan tubuhnya, di dada bidang Lian yin, dengan pandangan mata tertuju pada pemandangan di luar yang terlihat sangat jelas di sana. Wanita itu meletakkan kepalanya, di dadanya manja. Lian yi. hanya meletakkan lengannya di pundak Yiwen, menujular ke bawah.


__ADS_2