
Lay menghentikan mobilnya tepat di depan gedung tua. Dan Yiwen langsung turun dari mobil berlari menuju ke belakang gedung tua itu. Ia melihat mobil Lian yin berada di belakang gedung itu. Tapi sepertinya Lian yin tidak ada di sana.
"Yiwen kamu mau kemana?" teriak Mei, mencoba mengikuti kemana Yiwen pergi. Lay dan Changmin yang baru turun dari mobil juga mengikuti Yiwen berlari menuju ke belakang gedung.
"Mau kemana dia?" tanya Lay pada Mei di depannya.
"Entahlah, sepertinya dia melihat Lian yin" jawab Mei.
"Kalian semua ke sini, ini ada mobil Lian yin. Tapi di mana dia? Kenapa dia gak ada di dalam? Apa dia di culik? Atau tadi dia di serang oleh musuh?" tanya Yiwen dengan suara lantangnya terdengar jelas ke arah Mei yang masih jauh dari Yiwen.
Lay dan Changmin segera berlari dan menghampiri mobil Lian yin. Ia mencoba cek dalam mobil itu. Tidak ada tanda jika Lian yin di serang. Bahkan mobilnya juga tidak ada lecet sama sekali. Dan tidak ada bekas penyerangan juga di sana, "hanya satu bekas kaki, di sana tapi ini pasti bekas sepatu Lian yin" ucap Lay melihat tapak kaki di balik dedaunan keringa yang terjatuh di tanah..
"Terus di mana dia sekarang?" tanya Yiwen yang sudaj terlihat sangat panik dan khawatir. Dan Mei berjalan ke arah Yang berbeda, dia menuju ke pohon besar yang membuatnya tertarik ingin melihatnya, entah kenapa ia ingin mendekati pohon besar itu, pohon yang nampak sangat aneh tidak seperti pohon biasanya pada umunya. Pohon itu di lengkapi dengan ranting yang menjalar ke atas, membuat Mei semakin curiga.
"Aku gak tahu di mana dia sekarang, aku yakin jika dia pasti ada di sini" ucap Lay.
"Apa mungkin dia masuk lagi ke sebuah ruangan yang tersembunyi di sini" sambung Changmin, yang menatap ke arah Mei yang berjalan sendiri menuju ke pohon besar.
"Kalian semua sini" panggil Mei, melambaikan tangan ke arah Yiwen, Changmin dan Lay. "apa kalian gak merasa aneh" ucap Mei yang masih menatap setiap sudut pohon itu.
"Apa yang kamu lihat, itu hanya pohon biasa" ucap Changmin.
"Kenapa kamu jadi **** gitu" ucap Mei.
Lay hanya diam menatap setai pohon itu. Ada yang beda memang dari pohon itu. Dan Yiwen juga berpikiran sama dengan Mei. Pohon itu nampak sangat berbeda, pikirnya.
Sedangkan Changmin hanya diam menunduk, banyak pertanyaan mengganggu pikirannya. Kenapa semua bilang aku **** ya, padahal kan aku gak begitu, aku bisa menciptakan semuanya. Tapi kenapa gak ada yang mengaggumi aku, batin Changmin.
Plakk..
"Ayo ikuti Mei, kenapa kamu masih berdiri di sini? Apa kamu mah biarkan para perempuan itu sendirian" tanya Lay, memukul pundak Changmin yang hanya diam melamun.
"Bisa gak kalau tidak menbuat aku terkejut terus" gumam Changmin kesal.
Lay hanya diam, meninggalkan Changmin sedniri dan berjalan mendekati Mei dan Yiwen yang sudah melihat setiap detai pohon itu, tanpa bernai menyentuhnya sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa aku di tinggal sendiri" ucap Changmin berlari menuju ke pohon itu, hingga, kratakk... Bruaakkk.
Changmin tersandung ranting di bawahnya hingga terjatuh, dengan tubuh menempel di pohon besar itu. Mei dan Yiwen sontak menghidar sebelum tubuh Changmin mengenai dirinya.
"Apa kamu gak bisa hati-hati?" tanya Lay, kesal Changmin selalu ceroboh kali ini. Namun ucapan Lay terhenti saat melihat pohon di depannya.
Kraaakkk..
Pintu di balik pohon itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya membuat Yiwen, Mei dan Lay mengerutkan keningnya menatap aneh pada pohon itu. Yiwen tanpa ragu, menarik tangan Mei masuk ke dalam.
"Hei jangan masuk dulu" ucap Changmin mencoba mencegah mereka masuk, namun Mei dan yiwen sudah terlanjur masuk lebih dulu, yang khawatir dengan kekasihnya itu.
Yiwen dan Mei tidak perdulikan mereka, Dan pintu itu perlahan tertutup. Lay langsung masuk menarik tangan Changmin, sebelum pintu itu tertutup lagi. "Kenapa kamu selalu menarikku" ucap Changmin.
"Kamu mau biarkan Mei pacar kamu masuk sendiri ke dalam?" tanya Lay, menatap kesal Changmin.
"Kalian kenapa berantem di situ, cepat masuk. Aku yakin jika Lian yin ada di dalam" ucap Yiwen, yang masih menapakkan kakinya berjalan masuk semakin dalam, ia menaiki anak tangga yang terlihat sangat sempit untuk menuju ke lantai atas.
"Di sini sangat gelap, kita tidak bisa melihat sekeliling kita. Jadi harus lebih hati-hati lagi. Dan kamu Mei ingat jangan gegabah juga" ucap Yiwen yang berjalan lebih dulu memimpin langkah kaki mereka.
"Aku yakin dia pasti ada di sini" gumam Yiwen, yang masih fokus dengan jalan di depannya yang terlihat sangat gelap, ia berjalan harus merasa di sekitarnya agar tidak terpeleset.
Sedangkan Changmin dan Lay masih di belakang, mereka tidak berhenti berantem satu sama lain, padahal hanya karena masalah sepele saja.
"Di sini sangat gelap" ucap Changmin.
"Udah tahu gelap, kamu nyalakan penerang kamu, dan jalan di depan. Masak kamu biarkan para perempuan itu jalan di depan sendirian" sindir Lay.
"Apaan sih, lagian mereka saja yang jalan duluan, padahal aku gak ijinkan mereka jalan duluan" guman Changmin.
"Kalau gitu kita cepat susul mereka" gumam Lay.
"Iya ini sudah jalan, bukannya kita sudah nyusul mereka. Kenapa kamu yang ribet sendiri" gumam Changmin yang sudha mulai kesal dengan Lay.
"Kalian berisik banget sih, bisa diam gak" bentak Mei, membuat Changmin terdiam seketika.
__ADS_1
"Iya syang" gumam Changmin lirih.
"Udah jangan berantem terus, sekarang kita harus menuju ke atas. Di sana ada sebuah pintu. Kalian yang buka lebih dulu" ucap Yiwen.
"Gimana aku bisa ke depan, tempat ini sangat sempit, kita gak bisa berdiri berdampingan" gumam Lay.
"Ya, sudah. biar aku sendiri yang buka" ucap Yiwen, yang mulai membuka secera perlahan. Ia menatap ke depan ada sebiah ruangan yang masih sangat minim penerangan hanya sebuah lampu kecil yang begitu redup. Yiwen berjalan masuk ke dalam. Untuk cek lebih jauh, ada apa saja di dalam. Langkah kaki Yiwen di susul dengan Changmin, Lay dan Mei yang berjalan beriringan saling berpegangan agar tidak terpencar satu sama lain. Ia tidak tahu apa di sana adalah sebuah ilusi atau tidak.
"Kalian bisa lihat di depan gak?" tanya Yiwen, menoleh ke belakang.
Mei menatap ke depan, ia melihat sebuah pintu yang terlihat seperti cermin.
"Bukannya itu bayangan kita"sambung Changmin.
Plaakkk...
Mei memukul lengan Changmin, ia bergitu kesal dengan Changmin yang terlihat **** di saat seperti ini.
"Lihatlah dengan teliti" ucap Mei kesal.
Memang dari kejauhan terlihat seperti kaca biasa, jadi setiap orang hang amsuk di kira ia tersesat dan hanya meligat ada kaca besar di dalamnya. Padahal itu adalah sebuah pintu masuk.
Changmin berjalan mendekati cermin di depannya. Ia melihat ada sebuah retakan di tengah, yang menjulang dari atas sampai bawah. Sedangkan Yiwen tidak sengaja memencet tombol di samping Changmin membuat pintu cermin itu terbuka. Dan changmin seakan di tarik masuk ke dalam, seperti magnet yang menarik benda di sekitarnya. Dan Mei langsung melompat masuk menyusul Changmin.
Lay dan Yiwen juga tidak mau ketinggalan lagi. Tanpa banyak bicara, mereka juga ikut masuk sebelum pintunya tertutup lagi Dan.
Bruukkk...
"Aww sakit" ucap Mei, memegang tangannya yang terasa sangat sakit.
"Kamu kenapa?" tanya Changmin khawatir namun tidak di balas oleh Mei.
Tubuh mereka seakan terlempar di suatu ruangan yang sangat indah. Dengan desain yang sangat unik seperti rumah pada umunya. Lengkap dengan meja kursi dan ada juga televisi di sana.
"Kamu tadi mencet apa?" ucap Changmin.
__ADS_1
"Gak tahu, padahal aku hanya bersandar di samping. Tapi pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri" gumam Yiwen, mata Yiwen tak berhenti memandang pemandangan rumah di depannya. Namun, yang membuat matanya tertuju pada suatu yang aneh di depan. Sebuah ruangan, yang terdengar suara lelaki di dalamnya.