Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kedekatan Lie Wei & Amerta


__ADS_3

"Kak Lie Wei!" panggil seorang gadis kecil yang tak hentinya menggoda Lie Wei yang duduk santai di depan taman rumahnya menatap indahnya bulan dan bintang malam di tengah kesendirian hati yang melihatnya. Baginya laki-laki itu adalah tipe idamannya. Tak perduli umur, asalkan bisa dekat dengannya saja ia sangat senang. Meski hanya di anggap sebagai adiknya. Tapi itu lebih baik dari pada gak bisa sama sekali dekat dengan pujaan hatinya. Dia sangat yakin jika dia pasti akan takluk dalam cintanya.


"Emm.. boleh duduk?"


"Duduklah!!" ucap Lie Wei tanpa menatap ke arah Amerta. "Tapi ingat jaga jarak denganku,"


Amerta hanya tersenyum, dia segera duduk dia samping Lie Wei, meski harus duduk di ujung kursi.


"Ada apa?" tanya Lie Wei.


Amerta menautkan ke dua alisnya, dia sedikit membungkukkan badannya melihat wajah Lie Wei dari samping. "Sekarang aku lagi lihatin, kak Lie" ucapnya, menyangga dagunya dengan telapak tangan kirinya.


Lie Wei menghela napasnya, sembari menggrleng-gelengkan kepalanya. Dia tak perdulikan apa yang di katakan Amerta, baginya omongan dia hanyalah omong kosong anak kecil. Tapi meski dia bukan anak kecil biasa, di umurnya yang amsih baru lulus SMA tapi pikiran dia sangat dewasa.


"Kak, memangnya kakak tidak ingin bertemu dengan kak Grace?" tanya Amerta, menguntupkan bibirnya, dia duduk tegap menatap ke depan, semabri menyadarkan punggungnya.


Lie Wei menoleh cepat, "Apa yang kamu katakan?" ucapnya kesal.


Amerta menarik sudut bibirnya sedikit, "Kalau gak mau, aku juga gak masalah!! Lagian aku hanya tanya," ucap Amerta, menahan senyumnya.


"Memangnya kamu tahu dia," Lie Wei menoleh cepat, menggeser duduknya miring ke kanan menatap Amerta.


Mendengar nama Grace membuat instingnya langsung cepat seakan aliran listrik yang semula redup tiba-tiba langsung menyala.


"Aku dapat kabar..." ucapan Amerta terpotong.


"Kabar apa?" Lie Wei memegang ke dua bahu Amerta menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Iya!! Tapi jangan gini, aku pusing!!" ucap Amerta lemas di buatnya, Changmin yang terlalu antusias dengan Grace hingga menggoyangkan tubuhnya cepat, kepalanya seakan mau terbang keliling bintang di langit.


"Sekarang kamu katakan, atau aku.."


"Atau apa?" potong Amerta.


"Aku akan membawa kamu pergi mencarinya,"


"Emm.. Ayo!! Aku mau banget!!" jawab Amerta antusias, dia beranjak berdiri mengibaskan gaun selutut miliknya.


Lie Wei melebarkan matanya, dengan bibir sedikit tertarik, dia memutar matanya malas, mengangkat ke tangan kanannya, "Lupakan saja!!" ucap Lie Wei, memalingkan pandanganya.


"Oke.. Aku akan lupakan semuanya. Tapi kita jadi pergi?" tanya Amerta mengangkat alisnya berkali-kali dengan kedipan menggoda.


"Gak!!" jawabnya singkat.

__ADS_1


Amerta menguntupkan bibirnya, san beranjak duduk kembali. Dengan wajah lesu, sedikit di tekuk dia duduk menatap ke bawah..


"Wuaa.... Katak!! Huss... Katak!! Hus... hus..." teriak Amerta bergidik geli, mengibaskan tangannya ke depan, sembari ke dua kakinya melompat menaikkan ke dua kakinya, dengan ke dua tangan mendekap lengan kanan Lie Wei


Tubuhnya gemetar ketakutan, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Lie Wei, "Usir dia!! Usir.. Aku takut.. Aku gak mau lihat itu.." ucapnya bertubi-tubi mencengkeram lengan dan kaos hitam yang di kenakan Lie Wei.


"Apa, sih!!" ucap kesal Lie Wei, mencoba melepaskan tangan Amerta.


"Ada katak!!" ucapnya bergidik geli.


Lie Wei menatap ke bawah, dia melihat katak itu mulai melompat menjauh. "Di mana bisa ada katak di sini?" gumam Lie Wei dalam hatinya.


Sedangkan Amerta masih menarik kaos Lie Wei menyembunyikan wajahnya. Tak hentinya dia terus bergidik geli, membayangkan katak itu di kakinya. Dia memang sangat takut dengan katak, entah setiap melihat katak dia merasa sangat geli.


"Sekarang sudah pergi, cepat lepaskan tangan kamu!!" ucap Lie Wei, menarik tangan Amerta.


"Gak mau!!" jawab Amerta menggelengkan kepalanya, dia masih tetap bersembunyi di belakang punggungnya.


Lie Wei menghela napasnya kesal,


Dasar merepotkan saja. Kalau penakut krnapa juga ada di sini!!


dia beranjak berdiri, mengangkat tubuh Amerta ala bridal style berjalan. Kembali masuk ke dalam rumahnya. Amerta terdiam, dia menatap wajah datar Lie Wei dari bawah.


Dia sangat baik!! Kenapa aku merasa dia sangat baik sekarang, perhatian. Jika dia seperti ini terus pasti aku akan jatuh cinta dengannya. Tanpa sadar ke dua tangannya terangkat ke atas melingkarkan di leher Changmin, ke dua matanya tak mau jauh dari anugrah terindah yang ada di depannya.


"Ke hatimu!!" jawabnya tanpa sadar.


Lie Wei mengernyitkan keningnya? dia menatap ke wajah Amerta. "Maksud kamu?" tanyanya bingung.


"Em.. Maksud aku, lupakan saja," ucap Amerta gugup.


Dasar Amerta, kamu benar malu-maluin. Kenapa bilang duluan. Lagian aku gak boleh bilang duluan jika aku belum mendengar kata cinta dulu darinya. Lebih baik diamlah!! Gumamnya dalam hati, wajahnya merah malu.


Lie Weo menurunkan tubuh Amerta, "Kalau kamu mau tinggal di sini silahkan. Aku mau pergi dulu!!" Lie Wei beranjak pergi, wajahnya kembali datar, bahkan kini terlihat sangat dingin padanya.


Apa aku salah lagi? Kenapa aku jatuh cinta pada es batu seperti diam. Gerutunya dalam hati.


"Emangnya boleh aku di sini?" tanya Amerta memastikan penuh ragu.


"Boleh!!" jawabnya datar, tanpa menghentikan langkahnya yang semakin menjauh menaiki anak tangga.


"Kamu mau pergi kemana, kak?" tanya Amerta berlari mengikuti Lie Wei.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu!!"


"Apa mau cari kak Grace?" Amerta memiringkan kepalanya tepat di depan Lie Wei sembari mengikuti langkapnya pergi.


"Kalau mamu mau tinggal di sini, jangan banyak tanya lagi. Diamlah!!" jawabnya tegas, membuka pintu kamar berwarna putih bersih dengan nuansa ukiran klasik yang indah di setiap ujung pintu dan tengahnya.


"Tunggu!!" Amerta menutup pintunya kembali, tak mengijinkan Lie Wei masuk ke dalam.


"Apa yang kamu lakukan!!" ucap Lie Wie sembari menggeram kesal, dia menoleh menatap tajam ke arah Amerta.


"Aku hanya tanya padamu, jadi jawab dulu. Oke!"


"Kamu lihat dulu tanganku, bodoh!!" umpat kesal Lie Wei.


"Memangnya tanganmu kenapa?" tanya Amerta polos.


"Lihatlah!!" ucap Lie Wei, meringis menahan sakitnya, tangan kanannya kejepit pintu yang masih di tarik oleh Amerta tak mengijinkannya masuk.


"Eh.. Maaf!! Maaf aku gak tahu," Amerta membuka pintunya, seketika Lie Wei menarik tangannya sembari meringis kesakitan dia berjalan masuk.


"Kamu gak napa-napa?" tanya Amerta bingung, dia berjalan masuk mencoba melihat tangan Lie Wei Mencoba memegangnya, mematikan tangannya. "Jangan sentuh aku!!"


"Aku hanya ingin tahu jika kamu gak napa-napa,"


"Kamu pikir kejepit pintu itu gak kemapa-napa, lihatlah tanganku, merah!!" ucapnya keras sembari menunjuk jari-jari tangannya yang memang terlihat merah.


"Maaf aku gak sengaja!!" Amerta menundukkan kepala ya, beranjak duduk di ranjang, menarik tangan Changmin untuk dudum di sampingnya.


"Aww--- sakit!!" umpatnya. " Apa kamu gila?"


"Aw.. Aku gak sengaja," Amerta menarik ke dua tangannya, lalu mengangkatnya ke atas.


Lie Wei menghela napas beratnya, ia memejamkan matanya mencoba untuk sabar menghadapi wanita aneh di sampingnya itu. "Pergi!!" ucapnya merendah.


"Gak mau!!" Amerta menggelengkan kepalanya.


"Pergi gak?" pinta Lie Wei yang masih merrndah, dan di balas dengan gelengan kepala dari Amerta.


"kamu pergi dari kamarku sekarang atau aku usir kamu!!" Lie Wei mulai kesal, dia beranjak berdiri dengan tangan kanan menunjuk ke arah pintu.


"Enggak mau!!" jawab tegas Amerta.


"Terserah kamu! Aku mau mandi!!"

__ADS_1


Amerta hanya diam memalingkan wajahnya, dia masih tetap bersikukuh untuk stay di kamar Lie Wei. Dia merasa bersalah dengan apa yang sudah di lakukan tadi.


Lie Wei tak menghiraukan Amerta lagi, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2