
“Kamu semangat banget sih,” gumam Lian yin. “Iya aku katakana sekarang, tapi kamu
jangan bilang ke Chengyi," lanjutnya.
“Baiklah, aku gak akan bilang ke dia,” jawab Yiwen.
“Baik, aku gak mau saja merepotkan Luhan, yang dulunya aku anggap musuh. Kini ternyata dia sangat baik. Aku keliru menganggap dia musuh dulu. Karena hal kekuasaan tapi sekarang, aku baru sadar, Jika apa yang kamu bilang itu benar. Musuh bisa jadi teman, dan sebaliknya. Dan sekarang aku juga beruntung bisa memilikimu.
Pendamping hidupku." jelas Lian yin mencoba basa-basi pada Yiwen.
“Udah gak usah banyak basa-basi, langsung ke topik utamanya saja kenapa”gumam Yiwen
kesal.
“Iya, baik syang, jangan ngambek gitu dong, syang.” ucap Lian yin merayu, mengusap lembut rambut Yiwen.
Yiwen menepis tangan Lian yin “jauhkan tanganmu..” decak Yiwen kesal.
“Kenapa aku gak boleh menyentuhmu, ini kan Cuma mahkota kamu paling indah.”ucap Lian yin,
"Udah tahu mahkotaku, jadi jangan berani kenyentuhnya," Yiwen terlihat sangat kesal.
Lian yin hanya diam, meraih helain rambut panjang Yiwen, lalu mencium harumnya rambut Yiwen, yang menyeruak masuk ke dalam penciumannya.
“Yin, udah deh.”ucap Yiwen semakin kesal di buatnya. “Cepat katakan sekarang, atau aku
semakin marah denganmu” ucap Yiwen membalikkan badannya bersandar di pagar balkon.
“Iya syang kenapa kamu jadi sensitif gini.” Lian yin menguntupkan bibirnya kesal.
“Salah sendiri,” ucap Yiwen kesal.
“Sebenarnya, aku ingin ajak kamu untuk menyelidiki tentang Lee dan Lian yin, kita berdua selidik kasus ini bersama jangan melibatkan orang lain lagi. Dan juga akan datang menemui kita besok malam. Ada yang mau di bicarakan. Aku ajak dia untuk bertemu
di luar. Jadi sekalian kita pergi dari rumah Chengyi.” ucap Lian yin.
“Ley? Apa dia sudah pulang sekarang?”Tanya Yiwen, memegang lengan Lian yin.
“Iya, Apa kamu senang?" tanya Lian yin melirik cemburu ke arah Yiwen.
“Kamu cemburu?” tanya Yiwen menggoda Lian yin.
“Menurut kamu gimana?” Lian yin terlihat sangat jutek.
Yiwen terkekeh kecil, menepuk bahu Lian yin.
“Jangan cemburu, aku gak ada perasaan dengannya. Aku suka ada lelaki aneh seperti dia. Tapi kalau di piker-pikir semua lelaki yang ikut denganmu semuanya aneh,
termasuk kamu," ucap Yiwen menatap ke arah Lian yin.
“Apa kamu bilang aku aneh?” tanya Lian yin memastikan.
“Iya, aneh.” Lanjut Yiwen, tersenyum tipis menggoda Lian yin.
“Awas ya, kamu,”ucap Lian yin yang mulai mengelitiki pinggang Yiwen.
“Yin, Udah jauhkan tanganmu, geli..” gumam yiwen.
__ADS_1
“Gak mau.: ucap Lian yin yang terus menggelitikki Yiwen hingga tertawa keras menahan gelinya.
“Yin udah aku nyerah deh”ucap yiwen.
“Kenapa kamu nyerah? Apa malam ini kamu mau menemaniku?’ Tanya Lian yin mendekatkan wajahnya ke arah Yiwen.
“Maksud kamu?” tatap Yiwen bingung.
“Jangan pura-pura gak tahu”gumam Lian yin.
“Apa sih, aku benar-benar gak tahu”ucap Yiwen.
“Temani malam berbaringbersama”ucap Lian yin dengan tatapan nakalnya.
Yiwen sontak menodong tubuh Lian yin menjauh darinya. “Aku, gak mau!" ucap Yiwen jutek.
“Kenapa gak mau?” tanya Lian yin.
“Karena belum saatnya," ucap Yiwen mendekatkan wajahnya.
“Terus kapan saatnya? Lagian aku sudah tahu semua tentang kamu, kita sudah pernah
melewati malam bersama. Apa yang kamu ragukan lagi. Apa soal kamu hilang
ingatan dan lpa semua tentang kita, membuat kau jadi jaga jarak denganku.” Lian
yin menarik tangan Yiwen menatap matanya.
Yiwen menepis tangan Lian yin dari tanganya. “Apa yang kamu piker aku hanya untuk
melayani kamu, apa kamu gak bisa hilangkan semuanya tentang hal itu. Aku hanya
ingatan dan tau tetang masa laluku bersamamu. Tapi setidaknya kamu harus
menunjukkan padaku soal cinta sebenarnya. Gimana cara kamu menjagaku,
melindungiku, dan lainnya.”ucap Yiwen menundukkan kepalanya, ia menahan air
mata yang seakan ingin sekali keluar dari mata bulatnya.
“Yiwen, maaf. Bukan maksud aku seperti itu. Aku hanya ingin kamu melayaniku sebagai
suami, tidak seperti dulu. Aku selama ini apa tidak pernah menjagamu?” tanya Lian
yin, memegang ke dua bahu Yiwen.
Yiwen terdiam sejenak, apa yang ia katakana tadi entah kenapa tiba-tiba keluar dari
mulutnya. Ia berpikir jika Lian yin selama ini selalu melindunginya, dan tidak
pernah seklipun berniat untuk menyakitinya. Dan dia juga selalu membuatnya
tersenyum. Dan merasakan kebahagiaan saat ia hilang ingatan.
“Kenapa kamu diam?” tanya Lian yin.
“Gak napa-napa, maaf soal tadi. Sepertinya hari sudah mulai larut. Aku mau pergi
__ADS_1
"Udah, mandi dulu”ucap yiwen.
“Yiwen aku ingin kamu selalu tahu, jika aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku akan selalu syang denganmu., menjagamu,”ucap Lian yin.
Yiwen menghentikan langkahnya sejenak, ia tak menjawab ucapan Lian yin. Dan
melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
---000----
“Tok..tok..”
“Siapa?” Tanya Lian yin dari dalam kamarnya.
“Chengyi, apa kalian sudah tidur”ucap Luhan.
“Ada apa?” tanya Yiwen berjalan menghampiri Changyi.
“Kamu di luar?” tanya Chengyi.
“Iya, kenapa. Aku mencarimu tadi ada hal yang ingin aku bicarakan padamu”ucap Yiwen.
“Baiklah, kita bicara di luar,” Chengyi beranjak pergi berjalan mnuju taman. Tempat yang
paling enak untuk sekedar berbincang bersama menikmati pemandangan malam yang indah.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Chengyi.
“Apa kamu tahu ayah aku di mana sekarang?”Tanya Yiwen menatap ke arah Chengyi.
“Ayah kamu sudah tidak ada di sini, kenapa kamu baru tanyakn dia sekarang. Kemarin memang dia bersamaku. Tapi tidak tinggal bersamaku. Dia pergi setelah menemui ku
sejenak. Dan dia juga sempat Tanya tentang kamu, Tanya keberadaan kamu di mana.
Ya, waktu itu aku gak tahu kamu di mana jadi aku bisa berbicara dengan dia.
Lagian kamu juga di culik saat berada di rumah Lian yin.”ucap Chengyi.
“Terakhir dia tinggal di mana?”Tanya Yiwen.
“Aku gak tahu, dia gak bisa di tebak. Kapanpun dia bisa pergi, Dia punya mesin waktu sendiri yang ia ciptakan sendiri, jadi kapanpun dia bisa perg dalam hitungan
detik,” gumam Chengyi.
“Mesin waktu? Apa ayah aku sehebat itu?” tanya Yiwen.
“Dia tidak mau menunjukan kehebatannya, tapi kalau kamu masih mencari tahu ayah kamu, jika aku bertemu dengan dia aku akan menghubungimu”ucap Luhan.
“Apa kamu tidak tahu nomor dia?” tanya Yiwen.
“dia gak mau di hubungi dengan siapapun," ucap Chengyi.
“Yiwen ayo cepat masuk sudah malam”saut Lian yin, berjalan mendekat Yiwen, meraih
tangannya, lalu menariknya pergi.
“oya besok,.kita akan pergi. Sepertinya masalah kita sudah beres jadi tidak ada yang perlu di tanyakan lagi. Dan aku juga tidak mau terlibat banyakmusuh lagi jika
__ADS_1
denganmu”ucap Lian yin, tersenyum tipis berjalan masuk ke rumah.
“Mereka benar-benar sangat lucu, hubngan di dasai saling marah, berantem kecil'gumam Chengyi.