Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Saling sibuk


__ADS_3

"Min, perih nih, panas," ucap Grace, mengibaskan tangannya, di lehernya yang terluka.


"Bentar!!" Changmin memegang tangan Grace, ia meniup luka Grace, dan terus meniup lukanya, membuat Grace, terdiam. menatap ke arahnya.


Kenapa dia terlihat sangat baik, jika terus seperti ini apa aku bisa mencegah hatiku nantinya.


Changmin berhenti sejenak meniup leher Grace, ke dua mata mereka saling menatap dalam.


Kamu cantik Grace, aku memang sudah lama memanggumimu, tapi hari ini. Entah kenaoa, hatiku ingin selalu dekat seperti ini terus bersamamu.


"Changmin, ada apa?" tanya Grace, menatap aneh pada laki-laki di depannya itu.


"Eh.. Gak napa-napa, hanya suka melihatmu." ucap Changmin, yang keceplosan tak sengaja mengucapkan hal itu.


Grace mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu?"


"Emm... Lupain saja!" laki-laki itu tersipu malu, ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Grace. "Oya, gimana luka kamu, masih terasa perih gak? Atau mau aku tiup lagi?" tanya Changmin, yang langsung terus meniupi leher Grace.


"Sudah!! Cukup!" ucap Grace, menutup mulut Changmin.


Deg...


Seketika jantung mereka berdetak lebih cepat, saling berpacu dalam sebuah perasaan yang tidak sama sekali mereka pahami.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Grace, sembari terus menatap mata Changmin, yang terus menatapnya.


"Maksud kamu?" Changmin seketika tersadar dari tatapannya yang terlalu dalam.


"Apa yang kamu inginkan dariku? Kenapa kamu terus menatap aku seprrti utu?" tanya Grace, dengan wajah terkihat sangat datar, tanpa senyum terukir di bibienya.


"Gak ingin aoa-apa, aku hanya ingin, terus menatap wajah kamu. Apalagi saat kamu tersenyum. Aku tak mau berhenti menatap keindahan yang di berikan, Tuhan, padaku." ucap Changmin, menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman menatap dekat wajah Grace.


"Dasar aneh!!" ucap kesal Grace mendorong bahu Changmin menjauh darinya.


"Aku aneh, semenjak bertemu denganmu. Padahal dulu, aku terlihat sangat datar, dan selaku menunjukan wajah serius. Tidak pernah semanis ini pada wanita." goda Changmin.


"Gak usah, merayuku. Terlalu basi!" Decak kesal Grace, melemparkan pandangannya berlawanan arah.


"Kenapa?"


"Apa kamu suka denganku?" ucap Grace terus terang.


"Memangnya kenapa?" tanya Changmin, menatap mata Grace, yang penuh pertanyaan dalam otaknya.


"Entahlah, kenapa. Tanya pada hati kamu sendiri. Aku hanya ungin tahu, gimana oerasaan kamu. Dan jika mau jawab ya, gak apa-apa. Aku hanya bilang, kita gak aakn mungmin bisa bersama"


Deg...

__ADS_1


Sebuah jawaban yang membuat Changmin terdiam seketika, dengan wajah terkejut, mendengar ucapan yang terlontar di bibir Grace, apa dia benar, atau tidak bicara seperti itu. Ia tidak terlalu tahu.


Hatinya terasa di cengkram ribuan tangan. rasa sakitnya menjalar sampai ke jantung, dan seluruh tubuhnya.


"Apa ini jawaban yang kamu berikan?" tanya Changmin memastikan dengan wajah datar, seakan ia sangat memamti kejujuran pada mulur Grace.


"Iya" Grace beranjak berdiri, belum sempat melangkah, tangan Changmib yang tidak sengaja memegang bajunya, dengan tatapan kosong mengarah padanya. Membuat baju itu, semakin sobek,


Krakk...


"Changmin!!" teriak Grace keras, seketika menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Maaf! Aku gak sengaja!" ucap Changmin, yang langsung tersadar dari lamunannya. Seketika terkejut menatap baju Grace yang sudah sobek semakin lebar.


Changmin yang panik, mengambil jaket miliknya, di sofa, memakaikan pada tubuh Grace.


"Maaf!!" ucap Changmin.


"Iya!"


Drrtt.. drtt.. drrtt


Ponsel Grace bergetar, di atas ranjang kamarnya, ia bergegas mengambilnya, menatap layar ponsel yang masih menyala. Seketika mata Grace, melebar saat melihat nama 'Luhan' tertara di layar ponselnya.


"Ada apa lagi, kenapa dia menghubungiku?" gumam Grace, menggenggam erat ponselnya tanpa menjawab panggilan dari Luhan.


"Bukan siapa-siapa, gak penting," ucap Grace membalikkan badannya dan segera jemari tangannya, mengetik huruf-huruf di layar ponselnya. Mengirimkan pesan pada Luhan.


"Grace? Apa ada masalah?" tanya Changmin, yang memang sangat penasaran. Merasa tidak ada jawaban dari Grace, ia beranjak berdiri, melangkahkan kakinya berjalan mendekati Grace. Seketika, ia nengernyitkan matanya menatap tangan Grace yang terlihat gemetar, memegang erat ponselnya, dengan wajah nampak sangat cemas, seakan dia menyembunyikan suatu hal yang tidak mau di ceritakan pada siapapun.


"Grace, kamu kenapa," tanya Changmin lirih, memegang lengan Grace, membalikkan badannya, menatap ke arahnya.


Changmin memegang rahang Grcae, menariknya ke atas, sedikit mendongak. "Jika ada masalah cerita," ucap Changmin, mendekatkan wajahnya.


Grace, mendorong tubuh Changmin, menjauh darinya. "Aku tidak ada masalah, hanya saja, ku takut jika ayah aku tahu." jawab Grace, mencoba untuk berbohong. Ia tidak bisa memberi tahunya tentang Luhan.


"Aku tahu kamu pasti bohong, jujurlah! Grace!" ucap Changmin.


"Aku gak ada masalah, sudah. Aku mau ganti baju. Oya, nanti kamu kerjakan rakitanmu, u akan datang membantumu, tapi tunggu jika Yiwen dan Lian yin keluar. Aku gak enak ganggu mereka." ucap Grace mencoba mengalihkan pembicaraan.


Merasa tetap tak ada jawaban dari Grace, yang membuat hatinya lega. Changmin mencoba teranyum, an tidak terlalu banyak tanya lagi.


Mungkin itu urusan pribadinya, yang tidak mengijinkan semuanya tahu.


Grace bergegas mengambil baju di lemari-nya, dan beranjak menuju kamar mandi. Changmin langsung tertuju pada laptopnya, ia meneruskan pekerjaan Lyli yang belum selesai. Ia melirik Grace, yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, dengan tatapan seakan penuh harapan dengannya. Harapan agar dia membuka hatinya untuk dirinya.


Kenapa aku masih merasa dia menyembunyikan sesuatu, di ponselnya. Sebenarnya siapa yang menghubungi dia? kenapa raut wajahnya berubah seketika saat dia dapat panggilan. Apa benar dia ayahnya? Atau orang lain?

__ADS_1


Puk!!


"Kamu kenapa diam?" tanya Grace, menepuk pundak Changnin, dan duduk di sampingnya.


"Gak ada apa-apa, kita mulai sekarang saja." ucap Changmin.


"Iya, jika sudah selesia. Kita labgsung uji coba sekarang."


"Siap.."


Sementara Changmin dan Grace yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Lay dan Lyli menikmati perjalanan mereka yang akan memakan waktu kurang dari 1 setengah jam perjalanan.


Suasana di dalam mobil nampak sangat hening, hanya hembusan ac mobil. Dan music pop kesukaan Lay.


Lyli melirik sekilas ke arah Lay, yang entah kenapa terlihat berbeda daei biasanya. ia kini merasa sosok Lay yang di kenal dulu, sekarang sudah hilang. Lay semenjak permbicaraan tadi, lebih banyak diam, tanpa sepatah kata pun.


"Lay, apa kamu gak curiga dengan Amerta, bukanya tadi kamu mengantar dia kan?" tanya Lyli, memecahkan keheningan di dalam mobil itu.


Lay tersenyum, melirik ke arah Lyli, mengusap-usap ujung kepalanya lembut.


"Kamu cemburu padaku? Atau memang kamu curiga dengannya?"


"Emm.. Aku.. Aku hanya ciriga" jawab Lyli terpatah-patah, mencoba memalingkkan pandangannya.


"Sudah jangan ngambek!!" gumam Lay. "Awalnya menang aku curiga dengannya. Tapi kecurigaan gak ada sebab. Lagian jika di pikir dia baik, dia yang membantu kita untuk mengungkap siapa sebemarnya Jack. Padahal dia tahu, jika itu sangat berbahaya.


"Dia tidak takut, karena makanya akan menjadi istri dari Jack.


"Udah gak usah bahas itu, sebentar lagi kita akan sampai. Kamu coba lihat di mana hotel terdekat dari sini. "


"Baikk!!" Lyli mencoba mencari hotel di dekat kota kecil yang akan ia tempati.


"Di sini gak ada hotel, hanya ada ati kamar. Dan itu di hampir melewati perbatasan kota kita. Dengan kota Luhan."


Lay, mengerutkan keningnya. "Gimana kamu bisa kenal denga Luhan. Apa kamu pernah cerita pdanya, atau kamu pernah bertemu dwbgannya?" tanya curiga Lay pada Lyli.


"Aku kenal dia juga karena memang dia terkenal juga di kalangan dunia mafia, lagian dia itu sangat ahli juga dalam bidang It kemampuannya sebelas, dua belas dengan Changmin." jelas Lyli.


"Kamu sudah lama kenal dengannya?"


"Lumayan, dalam keahlian yang sama, kita selalu berkomunikasi jarak jauh, tanpa harus punya ponsel.


"Berapa kali kamu bertemu dengannya" ucap Jutek Lay, yang terlihat sangat cemburu dengan apa yang di katakan Grace.


"Bukan urusan kamu. Sudah fokus dengan jalan di depannyaa, jangan sesekali menatap mencari penggemarnya

__ADS_1


__ADS_2