
"Jia kamu mau kemana?" teriak seseorang laki-laki yang berusaha mengejarnya, keluar dari rumah.
"Jia, jangan lari." teriaknya Delano, yang kalah jauh jika balap lari dengan Jia. Wanita itu larinya secepat kilat, bahkan batu mengerjapkan matanya saja dia sudah hilang dari pandangan matanya.
"Delano, jangan kejar aku. Aku mau keluar sebentar," teriak Jia, menaiki pagar pembatas.
Jia... Tolong turunlah! nanti aku bisa di marahin om Chen jika kamu tidak mau turun." teriak Devano, dengan napas ngos-ngosan dia berjalan mendekati Jia.
"Aku tidak mau turun," tegas Jia, menguntupkan bibirnya kesal.
Delano tersenyum tipis.
"Jia, turun. Aku akan memberikan semua hal yang kamu inginkan. Jika kamu mau turun." rayu Delano. Dan itu tetap saja tidak membuat Dia selera turun. Dia masih menimang-nimang apa yang di katakan Delano. Jia tersenyum di saat dirinya punya ide untuk membuat dia bisa keluar dengan cepat.
"Oke.. Kau turun!" ucap Jia, mengeluarkan wajah daftarnya. "Tapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya?" tanya Delano.
"Kamu harus bantu aku,"
"Banyu apa?"
"Janji dulu. Kamu bantu aku. Nanti aku turun dan kasih tahu harus bantu apa,"
Delano menghela napasnya. "Oke.. cepat beri tahu aku."
Jia meloncat dari pagar trmbik, tepat berdiril di depan Delano. "Harus janji!" ucap Jia, mengulurkan jari kelingkingnya.
"Oke. Cepat katakan, sekarang." ucap Delano tak sabar.
"Kamu bantu aku pergi dari sini. Hanya sebentar saja."
Delano melebarkan matanya, "Apa katamu? Delano mengerjapkan matanya tak percaya. Bisa jadi bumerang nantinya jika Jia pergi dari rumah tanpa seijin om Chen. Mungkin dia bisa di pukuli atau bahkan di marahi hanis-habisan.
Jia menarik bibirnya ke bawah, sembari merengek.
"Kamu gak mau?" tanyanya merembakkan ke dua katanya pura-pura
Delano yang tidak bisa melihat Lia menangis. Dia sontak panik, "Sudah-sudah jangan nangis, nanti aku janji akan bantu kamu."
"Sekarang!" Jia meninggikan suaranya.
Delano berdengus frustasi. "Baiklah.." Dengan terpaksa laki-laki kecil itu menarik tangan Jia berlari pergi menuju halaman belakang. Mereka bersembunyi di balik tembok putih rumah itu.
"Sepertinya di belakang banyak penjaga," gumam Jia, tak butuh waktu lama wajah kecil segitunya itu seketika tersenyum. Dia beranjak pergi. Delano memegang lengan kecil Jia, mencegahnya pergi,
"Kamu mau kemana?" tanya Delano menekankan suaranya. "Apa kamu mau cari mati, jika ketahuan penjaga kita gak akan bisa keluar selamanya dari sini."
Jia tersenyum simpul, menarik turunkan ke dua alisnya bersamaan.
__ADS_1
"Tenang saja, kamu jangan terlalu khawatir." jelas Jia. "Aku mau buat mereka pergi dari sana,"
Delano mengerutkan keningnya bingung
"Gimana caranya?"
"Diam di situ," Jia berlari pergi, berbicara dnegan para penjaga di sana.
"Eh.. kalian." panggil Jia. Seketika mereka berlari mendekat. "Ada apa, non?" tanya para penjaga.
"Apa kalian tadi tahu di mana, Delano?" tanya Jia, dia mengeluarkan keahlian actingnya.
Jia mengerutkan bibirnya. Mengalurakan air mata palsunya. "Hiks.. Hikss. Tolong carikan Delano. Aku tidak mau jika dia kabur nantinya," rengek Jia.
"Non, jangan nangis. Iya, kita akan carikan tuan Delani." ucap para oenahga itu bingung. Jika jia merengek ketas dan terdengar samapi ke telinga Chen mereka bisa-bisa di marahin habis-habisan.
"Coba cari di sebelah sana;" ucap jia menunjuk ke arah samping rumahnya.
"Baik, non."
"Ayo, semuanya kita cari tuan Delano." ucap para pengawal dan berlari mencari Delano di samping. Jia tersenyum, menatap ke arah Delano yang mengintip di balik tembok. Dia mengangkat ibu jarinya, kemudian memberikan kode agar Delano menghampirinya.
"Ada apa, lagi. Cepat pergi?" pinta Delano menatap ke kanan dan ke kiri was-was.
"Kamu harus ikut," ajak Jia.
"Jika nanti kita di marahi, bisa di marahi sama-sama." ucap kesal Jia.
Delano menarik napasnya, menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah!" jawabnya singkat.
"Udah gak punya banyak waktu. Sebelum para pengawal bodoh itu datang lagi. Cepat naik," pinta Jia, yang dengan cepat mengambil tangga. Dan mencoba untuk naik dengan ceoat, an di susul Delano.
Mereka menghela napasnya lega, di saat sampai di luar rumah. "Akhirnya kita bebas juga," gumam Jia, menepuk bahu Delano. Membuat laki-laki itu terdiam, menatap wajah cantik putri kecil itu.
Jia meraih tangan Delano berlari, segera pergi dari rumah itu. Mereka menghentikan taksi, dan mulai menuju ke pusat kota.
"Kamu mau pergi kemana, Jia?"
"Aku ingin ke pusat kota,"
"Apa kamu gila. Nanti Om Chen pasti akan marah," ucap Delano mencoba mengenyyitkan hal gila yang akan di lakukan Jia.
"Kita sudah sampai sini. Dan udah, kamu nurut saja. Dan tenang, ayah Chen tidak akan pernah sama sekali mengganggu kamu."
"Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanya Delano.
Jia menarik turunkan alisnya, embari tersneyum simpul. "Kenapa alis kamu?"
"Sini, aku bisikin!"
__ADS_1
"Gak mau, bilang saja terus terang."
"Ya, sudah kalau gak mau," Jia menguntupkan bibirnya kesal.
"Dasar labil," umpat Delano.
Jia mendorong tubuh Delano, hingga terpojok di pintu taksi. "Jangan bernai denganku," bentak Jia.
Drlano hanya tersneyum tipis. "Galak sekali jafi wanuta, nanti kaalu udah dewasa. Pasti semua laki-laki menjauhi kamu."
"Aku tidak perduli,"
"Kenapa.tidak perduli?"
"Karena aku tidak mau menikah,"
"Yakin?"
"Sangat yakin," tegas Jia.
"Kita lihat saja nanti." ucap Delano, dengan ke dua tangan bersendekap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di sisi lain, Yiwen sudah bersantai di rumah barunya. Perjalanan yang melelahkan membuat tubuhnya kerasa sangat capek. Dua harus berlalu, Yiwen belum sama sekali menghubungi anaknya itu.
"Sayang, kamu jaga anak kita dulu, ya?" pinta Yiwen.
"Aku capek, sayang. Bentar, ya." jawab Lian yin membuat Yiwen geram.
"Dasar, ya, laki-laki gak pernah pengertian sama sekali dengan pasangannya."
"Sangat khawatir, bahkan lebih khawatir jika kamu dan anak kita kenapa-napa."
"Ya, udah jagain dia dulu."
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Lian yin curiga.
"Mau telfon, Jia."
"Kenapa tidak telfon di sini saja,"
Yiwen menghela napasnya kesal, "Baiklah!" jawabnya terpaksa, Dia segera mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi Jia. Namun hingga 3 kali panggilan tidak ada jawaban sama sekali darinya. Bahkan pesan saja tidak di balas.
"Sayang!" panggil kesal Yiwen.
"Ada apa lagi?" tanya Lian yin, yang baru saja membaringkan tubuhnya, dia harus beranjak bangun kembali dengan malasnya.
"Jia gak bisa di hubungi, sekarang kamu cepat hubungi Chen. Aku ingin bicara dengan Jia." ucap Yiwen panik, "Aku gak tahu.. Aku gak tahu kenapa sangat khawatir dengan Jia." kata Yiwen pelan, dengan wajah terlihat sangat gusrah, dia mencoba untuk duduk di pinggiran ranjang menenangkan dirinya.
__ADS_1