
Lie Wei berlari masuk ke dalam kamar Grace, yang terlihat sudah terbuka. ia melihat Lyli bersama dengan Grace duduk di ranjangnya.
Membuat Lie Wei merasa sangat lega, melihat Grace terlihat baik-baik saja.
“Grace!!” panggil Lie , seketika membuat Lyli dan Grace, menoleh kompak ke sumber suara.
“Lie Wei, kamu sudah pulang?” tanya Grace, terkejut yang dari tadi tak mendengara suara mereka pulang. Tiba-tiba dia sudah ada di depan matanya sekarang.
Lie Wei hanya diam, dengan wajah sangat panik dan cemas menjadi satu. Ia berlari, mendekati Grace. Meraih ke dua tangan Grace. “Kamu gak apa-apa kan?” tanya Lie Wei, wajah terlihat sangat cemas, memegang pipi Grace.
“Aku baik-baik saja, hanya cepek tadi.” Gumam Grace, menarik ke dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Agar Lie Wei tak terlihat khawatir dengannya.
“Tenanglah, aku baik-baik saja kok.” Grace, memegang erat tangan Lie Wei, membuat dia agar lebih tenang.
“Tapi, bagaimana aku bisa tenang. Sedangkan kamu sakit, dan kamu rela melindungi semuanya untuk mencegah mereka semua masuk ke dalam rumah. Bahkan kamu rela mempertaruhkan nyawa kamu sendiri.” Ucap Lie Wei, meninggikan suaranya. Membuat Grace menciut seketika.
“Min, apa Ley juga pulang?” saut Lyli, yang dari tadi hanya diam. Ia mulai membuka suaranya. Ia juga merasa tidak enak harus melihat mereka seperti itu, sepertinya mereka harus berbicara berdua.
“Iya, dia sudah pulang,” ucap Lie Wei datar. Mendengar hal itu, wajah yang semula datar menunggu kabar dari Ley, yang tidak kunjung
datang. Ia bisa tersenyum senang lagi, mendengar kabar darinya.
“Grace, aku tinggal dulu ya. Kamu jangan lupa istirahat. Jaga kesehatan kamu, jangan banyak bergerak dulu. Ingat kata dokter tadi.” ucap Lyli yang seakan sudah ngalah-ngalahin ibunya saja. Dia memang sahabat yang selalu
ada bersamanya dulu, dan sekarang saat sudah lama terpisah, sifatnya masih sama
seperti dulu.
“Iya, siap. Kamu temui Ley dulu, lihat keadaan dia. Lagian dari tadi kamu khawatir banget dengannya. ” Jawab Grace.
Lyli hanya tersenyum, dan segera berlari pergi meninggalkan Grace dan Lie Wei, agar mereka bisa berdua, di kamarnya.
“Kenapa kamu berbuat bodoh, apa kamu tidak mikirin bagaimana kesehatan kamu.” Ucap Lie Wei, yang tak berhenti kwahatir dengan Grace.
“Aku tidak berbuat bodoh, aku hanya ingin melindungi semuanya. Dan rumah ini.” Ucap Grace tegas. “Lian yin dan yang lainya sudah
baik dengan aku, dan kamu juga tahu, bagaimana perasaanku denganya kan. Dan aku gak bisa melihat rumah orang yang paling aku sukai di masuki mata-mata. Meski rasa suka di hatiku tidak akan pernah terbalas, aku akan tetap membantunya sebagi teman baiknya sekarang.”
“Baiklah, terserah kamu, yang penting kamu jangan berbuat itu lagi. Masih ada banyak penjaga yang bisa membantu kamu. Jangan hadapi mereka sendirian.” Lie Wei, mengusap lembut rambut Grace, membuat gadis itu
tersipu malu seketika.
“Apa kamu gak tahu bagaimana khawatirnya aku.”
“Iya, tapi aku gak bisa biarkan semuanya Lie Wei, kasihan mereka menghadpai semuanya sneidir. Aku lebih memilih mereka agar diam dan segera bersembunyi.” ucap Grace, meletakkan telapak tanganya di telinga
Lie Wei, dengan sentuhan lembutnya seketika membuat Lie Wei merasa tak bisa membantah apa yang di katakan Grace.
“Apa lagi yang kalian hadapi bukan hanya satu orang, dan kini mereka akan melibatkan banyak orang. Aku tahu dia, dia orang yang sangat licik”
__ADS_1
Lie Wei mengerutkan keningnya, menatap ke arah Grace, “Maksud kamu apa?” tanya Lie Wei bingung.”Apa kmau tahu siapa yang membuat rusuh di
rumah ini?” lanjutnya.
“Iya, aku tahu. Dan aku juga kenal dengannya. Tapi, bukanya aku yang membuat dia bisa masuk ke sini. Dia ke sini karena bantuan dari pacar kamu.” ucap Grace, menunduk seakan berat untuk mengungkapkan hal tadi pada
Lie Wei.
Lie Wei seketika melepaskan tangan Grace, ia menatap ke depan dengan senyum tipis terpaut di wajahnya. “Gak apa, kamu cerita saja soal itu. Lagian aku juga sudah tidak menganggapnya pacar lagi. Aku sudah tahu
semuanya tentang dia, dan calon suaminya. Yiwen sudah cerita semua padaku,”
ucap Lie Wei.
“Jadi, Yiwen dan Lian yin sudah tahu dalam di balik semua ini.”
“Iya, mereka mencari informasi sendiri tadi. Dan sekarang kamu istirahat dulu saja. Aku akan bicara dengan Lian yin dan Yiwen.” Ucap Lie Wei, beranjak berdiri. Dengan wajah nampak sangat sedih kehilangan orang yang ia sayang, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan Grace.
“Tunggu!! Aku tahu jika kamu orangnya bagaimana, kamu pasti merasa kehilangan sekarang, kamu juga pasti kecwa dengan apa yang di lakukan dia.” Grace, meraih tangan Lie Wei, memgangnya erat, mencegah dia pergi.
“Sudah gak usah bahas lagi tentang dia,” ucap Lie Wei datar, tanpan menatap le arah Grace.
“Aku tahu perasaan kamu, aku tahu rasanya di hianati bagaimana. aku juga mengalami perasaan yang sama, kamu tahu sendiri.. aku dengan Lian yin bertahun-tahun dia tidak penah mencariku lagi, menggangtungkan aku begitu saja, meski hubunganku sama dia tanpa setatu. Tapi setelah selarang melihat dia sudah bersama wanita lain, dan aku rela tinggal di sini, melihat semuanya.”
Grace menarik napasnya. “Kamu masih beruntung, sempat menjadi kenangan cerita
cinta kalian, sedangkan aku. Hanya sebatas teman yang sudah jadi kenangan. Tapi aku
Mendengar hal itu Lie Wei menoleh, mengerutkan ke dua
alisnya. “Maksdu kamu apa?’ tanya Lie Wei, “Apa kamu mau pergi dari sini?”
Lie Wei duduk kembali di samping ranjang Grace.
“Mungkin bisa di bilang begitu, aku kana menikah dengan orang pilihan ayuah aku. Karena aku ga mungkin bisa menolaknya lagi sekarang.”
“Kenapa kamu gak bisa menolaknya, jika kamu tidak suka dengannya. Kenapa kamu tidak menolak semuanya. Aku tahu kamu tidak suka kan
dengan laki-laki itu, apa yang aku katakan benarkan, Grace. “ucap Lie Wei
menggebu. Memegang ke dua bahu Grace, mencengkramnya erat, seakan tidak rela
Grace menikah dengan laki-laki lain.
“Lie Wei, tapi ini sudah keputusan aku. Dan aku juga janjian
dengan ayah aku, menikah dengan laki-laki pilihanya.” Grace, memegang tangan
Lie Wei, menggenggamnya erat.
__ADS_1
“Tapi, apa kamu rela pergi meninggalkan kita semuanya.” Tanya Lie Wei, mencoba mengatur napasnya yang terasa masih ngos-ngosan mendengar kabar yang membuat hatinya merasa sangat gusrah.
“Aku gak akan meninggalkn kalian. Aku akan membantu kalian, meski hanya dari jauh,” ucap Grace.
Lie Wei menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menerima semuanya. “Baiklah, terserah kamu. Tapi kamu menikah dengan siapa?” tanya Lie Wei yang mulai penasaran. “Aku harus tahu siapa yang akan jadi pendamping kamu, aku gak mau jika kamu salah memilih nantinya.” ucap Lie Wei yang masih sangat khawatir dengan grace.
“Kamu nanti juga akan tahu, siapa laki-laki yang akan aku nikahi.” Grace, menarik dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis di wajahnya.
“Sekarang aku mau ikut kamu menemui Lian yin dan Yiwen aku mau bicara juga dengannya.” ucap Grace, beranjak berdiri, memegang pundak Lie Wei sebagia tumpuan tubuhnya, yang masih terasa sangat lemas.
“Aku bantu kamu, jangan jalan sendiri.” Ucap Lie Wei, menarik tangan kiri, mengalungkan di belakang pundaknya. Melangkahkan kakinya
keluar dari kamar Grace, berjalan menuruni anak tangga menghampiri yang lainya,
duduk di ruang tamu. Sedang berbincang membahas masalah tadi.
````
“Bagaimana ke adaan Grace?” tanya Lian yin pada Lyli, sekarang sudah duduk di samping Ley.
“Dia baik-baik saja aku masih belum percaya Grace menuntaskan smeuanya tanpa bantuan siapapun, banyak sekali penyusup di sini. Dan mereka ada yang mendalnagi semuanya.” ucap Lyli menatap ke arah Yiwen dan Lian yin bergantian.
“Apa kamu kenal dengannya?” tanya Yiwen, kemastikan.
“Aku tahu siapa dia,” saut Grace, berjalan di tuntun Lie Wei, mendekati mereka.
“Kak Grace,” panggi Amerta, seakan membuat semua menoleh ke arahnya.
Yiwen dan Lian yin mengerutkan keninganya bersamaan. Dengan berbagai pertanyaa dalam pikirannya. Bagaimana bisa Amerta kenal dengan Grace? Dan rumah
merek ajga tidak di egara yang sama? Apa sebelumya mereka bertemu? Atau Grace
sebenarnya komplotan dari mereka.
“Kamu kenal denganya?” tanya Lian yin.
“Iya kenal, aku pernah ke ruamh kak Grace, dia wanita cantik yang baik banget.” ucap Amerta, yang memang sudah kenal lama dengannya. Semenjak Mei pergi dari rumah, ia sudah kenal dengan Grace, dan hanya dia yang selalu di ajak ayahnya pergi kemana saja menjelajahi dunia mafia bersama. Jadi ia paham sedikit tentang dunia mafia seperti apa, meskipun dia masih berusia sangat
kecil.
Grace menoleh mentap ke arah Amerta terkejut, gimana bisa gadis kecil itu bisa ada di dalam rumah Lian yin.
“Bagaimana kamu bisa ada di sini” tanya Grace, melangkah kakinya duduk di samping Amerta, di bantu dengan Lie Wei, yang kini duduk di sebalahnya.
“Aku yang bawa dia tadi, aku kira dia bergunan juga di bawa. Kalau di pikir-pikir sekarang. Kita bisa maksa dia untuk cerita semuaya, dan Boby juga akn membantu kita nanti.” Saut Lie Wei melirik tajam ke arah
Amerta.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu. Nanti kamu suka denganku,” goda Amerta, mengeluarkan senyum manis yang ia miliki.
__ADS_1
Lie Wei menautkan ke dua alisnya, heran melihat gadis kecil itu begitu percaya dirinya. Berbicara seperti itu padanya.“Ih.. gak akan aku suka dengan gadis kecil seperti kamu.” Jawab Lie Wei kesal.
Semua orang di sana hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka berdua yang sekarang seperti kucing dan tikus saja.