
"Yiwen aku sudah datang"Teriak Mei, sudah jadi kebiasaan Mei selalu teriak saat datang menemui Yiwen dari dulu. Meski baru pertama kenal juga ia teriak-teriak di rumah lian yin memanggil Yiwen.
"Iya bentar lagi aku turun"teriak Yiwen berlari turun ke bawah, dengan tangan masih sibuk membenarkan sepatunya.
"Aku udah cantik belum?" tanya Yiwen.
Mei mengerutkan keningnya. "Emangnya ada apa dadan cantik segala, Emm iya, mentang mentang mau bertemu suami kamu jadi harus dandan cantik gitu"Goda Mei mencolek pipi Yiwen, membuat wajah Yiwen merah merona.
Sebelumnya Yiwen sudah kirim lesan pada Mei untuk mengajaknya bertemu dengan Lian yin di kantornya. Lagian juga dia tidak tahu di mana kantor Lian yin. Bukannya tidak tahu tapi memang dia masih lupa dan belum sepenuhnya pulih ingatannya sempurnya. Hanya Mei yang bisa membantunya sekarang ke kantor Lian yin.
Mei memegang rambut Yiwen yang terurai panjang sepunggung. "Kamu cantik meski tanpa make up, sudah sekarang ayo kita cepat pergi. Em sekalian ada yang ketinggalan gak?" ucap Mei.
"Bentar aku ingat-ingat dulu"ucap Yiwen.
Ia teringat sesuatu, kotak pemberian Lay, penyelidikan itu belum selesai, ia butuh bantuan Lian yin nantinya. Sekalian nanti bertanya dengannya saat dia ada waktu senggang di kantor. Lagian Meinterlihat sangat baik, tidak ada hal menvurigakan darinya, seperti yang ada di pikirannya saat ini.
"Oo.. iya aku lupa, bentar kamu tunggu di sini dulu, aku mau ambil kotak yang ketinggalan di kamar"ucap Yiwen berlari menaiki anak tanggan secepat kilat kenuju ke kamarnya, tak lama ia turun kembali dan sudah berdiri di depan Mei lagi.
"Kenapa kamu cepat sekali?" tanya Mei.
Yiwen masih mengatur napasnya, yang masih ngos-ngosan. "Aku takutnya kamu lama nunggu nantinya, Kamu makan dulu atau enggak. Aku catikan makanan di dapur nantinya." Tanya Yiwen
"Gak usah kita langsung pergi saja. takutnya entar kelamaan kita, lagian juga sudah jam 10 nih, bentar lagi Changmin dan Lian Yin selesai meeting. Dan nanti jam 1 siang dia juga sudah Meeting lagi dari Client yang berbeda." ucap Mei.
"Wah padat banget ya dia, banyak banget pekerjaannya. aku merasa selalu minder jika sama Lian yin nanti di kantor. Gimana kalau para pegawai gak suka melihatku"ucap Yiwen yang tiba-tiba merasa ragu.
"Udah kalau sama istri sendiri pasti dia banyak waktu lah, dia gak mungkin ngerasa terganggu sama sekali"goda Mei.
"Apa benar? sudah ayo.sekarang berangkat"gumam Yiwen menarik tangan Mei untuk segera pergi dari rumahnya, dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Pak anterin aku ke kantor Lian Yin ya"ucap Yiwen pada sopir yang sudah di sediakan Lian yin khusus untuk Yiwen .
"Baik non" ucap sopir itu.
__ADS_1
"Oya sebenarnya apa yang kamu ambil tadi di kamar? sepertinya penting banget" tanya Mei.
"Iya, itu suatu yang penting dari Lay, aku harus sampaikan pada Lian yin segera mungkin."Jawab Yiwen.
"Apa dia tahu kalau kita curiga padanya, apa mungkin dia sudah mulai curiga dengan kita. Terus apa yang aku perbuwat jika Mei terus bertanya nantinya, atau Changmin sudah tanya dengannya lebih dulu. Ah, otakku benar-benar terasa ingin pecah terus berpikir seperti ini. Padahal ini bukan urusanku tapi kenapa aku harus rela berpikir keras seperti ini, lagian juga ini masalah mereka, bukan masalahku"gumam Yiwen dalama hatinya.
"Yiwen kamu kenapa dian, biasanya kamu itu banyak bicara tapi sekarang kamu lebih memilih diam"ucap Mei menepuk pundak Yiwen.
"Mungkin rasa capek jalan-jalan kemarin masih terasa di badanku"gumam Yiwen mengelak, dengan senyum tipis di bibirnya.
"Oo.. ya sudah, kaki kamu kenapa Mei?" tanya Yiwen penuh ciriga.
"Oo.. ini kemarin habis jatuh gara-gara bercanda dengan Changmin"ucap Mei mengelak.
"Oo, Oya boleh tanya gak?" tanya Yiwen, menatap detail gerak gerik Mei di sampingnya itu, entah kenapa tubuhnya terlihat gugup, bahkan dia tidak berani menatap Yiwen di sampingnya.
"Apa yang kamu tanyakan?" tanya Mei.
"Sore, aku di rumah teman aku, Dia butuh teman curhat karena sedang sakit"gumam Mei.
"Teman siapa yang sakit?" tanya Yiwen yang semakin curiga dengannya.
"Teman yang dekat aku dulu di anggota Intelijen, dia sakit gara-gara ketahuan saat tugas, jadi dia tertebak di bahunya. Taoi untung saja teman yang lain langsung membawa dia kerumah sakit. Dan sekarang di masih di rumah sakit katanya sih belum sadar, baru selesai operasi"ucap Mei.
"Boleh aku jenguk teman kamu itu, aku mau lihat kondisinya juga, lagian kata kamu aku juga anggota Intelijen berarti dia juga teman aku kan, boleh gak aku jenguk dia sekarang sebelum ke kantor Lian yin" ucap Yiwen.
Ia penasaran apa Mei benar jujur atau hanya alasan saja untuk menghilangkan jejak kebusukannya. Tapi kenapa dia sekarang tidak merasa Khawatir ya, apa dia sudah punya seseorang mata-mata lagi, entahlah masih banyak yang harus di cari tahu dan di gali tentang Mei.
"Baiklah pasti boleh kok, Pak berhenti tepat di ujung ya, di sana ada rumah sakit, kita mau kerumah sakit dulu"ucap Mei pada sopir. Tanpa rasa curiga pada Yiwen sama sekali.
"Sekarang turun aku mau kenalkan dengan teman aku,"Mei segera menarik tangan Yiwen menuju ke rumah sakit.
"Apa benar ini Mei gak bohong, tapi aku curiga jika itu Lee, tau semua hanya perasaanku saja. Tapi aku yakin jika Mei yang melakukan semua. Ah, entahlah lihat saja nanti Semua akan terbukti saat aku sudah melihat temannya."
__ADS_1
Mereka segera berjalan menuju kamar tujuan mereka, Mei segera membukanya, terbaring seorang lelaki yang masih belum sadar. "Siapa dia kenapa aku pernah melihatnya" ucap Yiwen memegang kepalanya, yang tiba-tiba terasa sangat sakit.
"Dia itu tekan aku, dia jug teman kamu pantas kamu juga kenal dengannya, aku dari kemarin jenguk dia, mau ajak Changmin tapi gak mungkin apalagi dulu mereka semoat berseteru."cerita Mei.
"Emangnya berseteru tentang apa?"tanya Yiwen penasaran, ia menahan sakit keoalanya yang semakin menjadi.
"Sebenarnya perseteruan itu dengan Lian yin, namun Lay dan Changmin juga harus terlibat karena mereka satu team." ucap Mei
"Kenapa kamu belum sadar juga Yiwen, dia mantan kamu, aku kira saat kamu bertemu dia nantinya kamu akan sadar dengan semuanya. Tapi ternyata sama saja, kamu masih tetap tak ingat. tapi kalau aku cerita semuanya apa dia akan sadar. Atau malaj semakin memperburuk suasana" gumam Mei dalam hatinya.
Yiwen duduk bersamdar di sofa menyandarkan kepalanya yang terasa sangat penat kali ini.
"Kamu gak napa-napa apa perlu aku panggilkan dokter"ucap Mei, mulai panik melihat Yiwe merasa sangat kasitan dari tadi.
"Udah aku gak napa-napa, aku hanya butuh duduk sebentar kok"ucap Yiwen.
"Oya, jadi dia bukan Lee" tanya Yiwen.
"Bukannya kamu sudah tahu wajah Kee gimana, yang di depan kamu itu bukan Lee. Dia Tao, lelaki yang pernah dekat denganmu dulu..."ucap mei keceplosan, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Yiwen mengerutkan keningnya bingung dengan ucaoan Mei. "Maksud kamu?" tanya Yiwen.
"Sudahlah lupakan saja"gumam Mei.
"Kamu pergi sekarang gak, atau nunggu sampai teman aku sadar"tanya Mei.
"Ayo oergi sekarang deh, kasihan teman kamu butuh istirahat, lain kali kita jenguk dia bersama-sama ya"ucap Yiwen.
"Baiklah, kapanpun kamu ajak aku, aku selalu siap pokoknya"gumam Mei.
"Baiklah"ucap Yiwen.
perlahan mereka segera keluar dari ruangan itu dengan langkah perlahan agar Tao tidak mendengar langkah kaki mereka. dan membuag dia terbangun nantinya.
__ADS_1