Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Grace


__ADS_3

Yiwen yang masih pingsan dan belum sadarkan diri di ranjangnya. Sedangan Grace yabg baru saja sempat bertengkar dengan Changmin dari kamarin, bahkan ayahnya saja ia tidak tahu sekarang di mana. Hubungannya dengan Changmin juga sudah di putuskan dia akan menjadi teman dekat, tapi meski hanya sebatas teman, Changmin sudah berniat tidak akan pernah menjauh dari Grace.


Grace yang baru saja selesai mandi, ia sudah siap untuk seger bertemu dengan Luhan lagi. Entah dia marah dengannya atau tidak, karena kejadian waktu itu, ia kabur meninggalkannya dengan Tao sendiri. Dan pergi menemui Lian yin. 


Sekarang dia sudah sadar akan statusnya dengan Lian yin. Dan tak mau larut dalam kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Grace berusaha melupakan Lian yin, saat bersama dengan Changmin. Dan kasih syang Changmin padanya membuat ia lupa segalanya. Tapi, statusnya kini adalah calon istri dari Luhan. Dan gak mungkin dia mau menerima cinta Changmin. Ia akan berusaha sebisa mungkin mencintai Luhan.


Grace segera memakai gaun yang retlihat lebih cantik di depan Luhan. Ia tidak mau mengecewakan Luhan untuk yang ke dua kalinya. Ia segera duduk merias wajahnya, membalut wajahnya dengan make up tipis. 


"Luhan kenapa belum datang? Ia sudah janji datang kemarin malam. Tapi sampai sekarang dia belum juga datang!!" gumam Grace, yang sudah tidak sabar menemui calon suaminya itu. 


Selesai merias dirinya, Grace melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya, menatap ke bawah, menunggu Luhan datang. 


Grace duduk di kursi balkon, menatap sekelilingnya, pemandangan yang masih terlihat sangat indah, bahkan sinar matahari sudah menampakkan silau terangnya, tepat mengenai samping wajahnya.


"Kenapa semua jadi rumit, aku belum bisa mendapatkan bukti itu. Dan kini Luhan sudah akan datang. Jika dia lama di sjni, pasti aku tidak bisa menemukan bukti itu. Apa yang harus kau lakukan sekarang?" gumam Grace, menyandarkan kepalanya di tas kursi. 


Di depan pintu kamar Grace, seorang laki-laki berdiri, dengan tangan kanan terangkat sebahu. Ia ingin mengetuk pintu kamar Grace, tapi canggung terlintas di pikirannya. Ia takut jika Grace marah dan menghindarinya. Ungkapan peradaannya kemarin, meski sempat di tolak tapi rasa malu masih ada dlaam dirinya. 


"Apa Grace sudah bangun? Atau dia sudah pergi? Aku harus segera membawa dia untuk mencari apa yang fi katakan Lian yin. Entah kenapa perasaan aku semakin khawatir dengannya." pikir Changmin, menundukkan kepalanya. 


Sekarang aku harus memberanikan diriku mengetuk pintu kamarnya. Changmin mencoba memberi semangat untuk dirinya sendiri.


Tok... Tok.. Tok..


"Grace, kamu sudah bangun?" tanya Changmin, yang berdiri di depan pintu kamarnya. Tetapi, tidak ada jawaban dari Grace. 


"Grace!!" panggil Changmin sedikit meninggikan suaranya. 


"Iya, masuklah!!" ucap Grace, yang mendengar ucapan Changmin, ia baru tersadar dari lamunannya, meratapi apa yang sudah terjadi pada dirinya. 


Changmin menarik napasnya dalam-dalam, memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Grace, "Kamu sedang apa?" tanya Changmin, melangkahkan kakinya mendekati Grace, dan duduk di depannya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Grace, tanpa menatap Changmin. 


Changmin terdiam, menatap sekujur tubuh Grace gang du balut dengan gaun mini, tanpa lengan, dan terlihat sedikit terbuka. Ia baru kali ini melihat Grace sangat feminim, berbeda dari biasanya yang agak tomboy. 


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" 


" Kamu cantik!!"

__ADS_1


"Apa?" 


"Eh.. Enggak lupain saja!!"


Grace tersipu, meski ia tahu apa yang di katakan Changmin. Entah kenapa ia merasa sangat tersipu di buatnya. 


"Katanya kamu bilang aku cantik ya," goda Grace, sedikit mengangkat tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah Changmin, membuat laki-laki itu semakin grogi, dia terlihat gugup, sekujur tubuhnya gemetar, menatap wajah Grace terlalu dekat. 


"Udah-udah, jangan terlalu gugup," ucap Grace duduk kembali di kursinya. 


Changmin tersenyum, "Kenapa kamu selalu bikin aku canggung!!" gumam Changmin kesal. 


"Udah, sekarang kamu mau ngapain, kenapa panggil aku tadi," tanya Grace. 


"Aku mau kamu segera melakukan tugas kamu!! Aku merasa ada yang aneh sekarang. Apalagi kalau Lian yin hanya sendiri." jelas Changmin. 


Grace terdiam, ia menatap ke arah Changmin, lalu memalingkan wajahnya berlawanan arah. "Aku belum bisa sekarang. Tapi aku janji akan secepatnya."


"Mau sampai kapan, Grace? Kamu harus segera melakukan tugas, setelah itu kita pergi. Aku juga tidak ingin kamu di sini terlalu lama, aku ingin kita bersama lagi seperti dulu." ungkap isi hati Changmin. 


Grace terdiam, bergumam dalam hatinya. 


"Grace!! Kenapa kamu diam?" tanya Changmin, memegang Grace, membuat dia seketika tersadar dari lamunannya.


"Eh.. Iya, aku harus segera pergi sekarang. Aku akan coba bertemu dengan ayah aku." ucap Grace beranjak berdiri. 


"Kamu mau kemana?" tanya Changmin, memegang pergelangan tangan Grace. membuat dia menghentikan langkahnya. 


"Aku mau pergi, bukanya aku sudah bilang padamu belum ada satu menit!!"


"Tapi aku ingin kamu ada di sini. Aku ingin bicara dengan kamu!!"


"Gak bisa Changmin, aku takutnya jika Luhan tahu. Nanti jadi salah paham di antara kita. Aku gak mau jika pernikahan aku batal hanya karena salah paham." ucap Grcar, menarik tangannya, lalu memalingkan wajahnya berlawanan arah. 


"Kenapa kamu jadi berubah. Bukanya kamu sendiri yang bilang jika kita bisa menjadi teman. Terus kenapa kamu bilang begitu, kamu bisa bilang padanya jika di antara kita hanya teman, agar dia tidak salah paham."


"Maaf!! Aku belum bisa bilang sekarang. Nanti aku akan jelaskan padanya secara bertahap!!" Grace menundukkan kepalanya, melangkahkan kakinya pergi dari kamarnya. Ia bergegas turun menuju ruang tamu, mencari ayahnya, biasanya ayahnya selalu pergi ke kamarnya untuk membangunkan dia. Meski hanya mengetuk pintu kamarnya. Tapi entah kenapa sekarang dia belum melihat sama sekali dia dari kemarin malam. 


------

__ADS_1


Changmin masih berdiri di dalam kamarnya. Terdiam menatap kepergian Grace yang sudah berjalan jauh dari pandangannya. 


"Baiklah, jika kamu begitu. Aku akan segera pergi jika semua sudah selesai" gumam Changmin, menarik dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis, lalu melangkahkan kakinya pergi dari kamar Grace, dan menutup pintunya kembali. 


"Kamu dari mana?" tanya Boby, menepuk pundak Changmin, membuat dia terjingkat, menoleh ke balakang. 


"Boby!! Aku dari kamar Grace." ucap Changmin, tanpa menatap ke arah Boby. Wajahnya terlihat muram. Tanpa ekpresi sama sekali.


"Aku tahu kamu pasti masih memikirkan dia. Lebih baik kamu melupakan dia. Masih banyak wanita lain di luaran sana. Jangan terpuruk dan lemah hanya karena seorang wanita. Di dunia mafia seperti itu sama saja kamu kehilangan harga diri kamu," ucap Boby sok bijak. Ia tidak mau teman baiknya itu tetus terpuruk karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


"Aku mau bicara dengan kamu sekarang!!" ucap Boby.


"Bicara apa?" tanya Chanfmin menatap ke arah Boby. 


"Jangan di sini. Semua pengawal di sini juga mara-mata. jadi kita jangan sembarangan bicara di depan mereka." Boby menarik tangan Changmin, masuk ke dalam kamarnya. 


"Kenapa kita di sini, jangan bilang kamu gay ya Suka denganku, terus ajak aku ke kamar kamu gitu?"


Boby mengerutkan keningnya, lalu tertawa terbahak. Ia menepuk pundak Changmin. "Apa yang kamu bilang, aku masih normal. Aku hanya suka dengan wanita." ucap Boby, memegang perutnya yang terasa kram terus tertawa. 


"Kamu ada-ada saja!!" ucap Boby menggelangkan kepalanya. 


"Terus kenapa kamu ajak aku ke sini? Memangnya kamu mau bicara apa?" tanya Changmin penasaran, ia duduk di sofa kamar Boby. 


"Lian yin!! Dia sekarang dalam bahaya. Dia di tangkap oleh Jack!!".


Pupil mata Changmin melebar seketika, ia beranjak berdiri, "Apa yang kamu katakan? Jangan bercanda? Jika kamu bohong apdaku, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi kamu!!" Changmin, menarik ke dua kerah baju Boby, membuat laki-laki itu jinjit.


"Dengarkan dulu ucapanku. Baru kamu menyimpulkan!!" ucap Boby, melepaskan tangan Changmin di kearahnya. 


"Dia di tangkap saat Lian yin datang menemui Jack di sebuah persembunyiannya. Tapi entah apa dia sudah tahu jika dia itu Jack. Sekarang lebih baik kamu segera kembali selamatkan ia. Tapi kamu harus pakai strategi, jika kamu langsung menyerang dia pasti kamu sendiri juga akan tertangkap oleh Jack!!"


"Shiitt!!" umpat kesal Changmin, mengeram kesal, mengangkat tangannya, memukulkan ke bawah. Tubuh Changmin seketika lemas, ia duduk di sofa, memegang ke dua kepalanya, mengusap rambutnya frustasi.


"Arggg.. Semua salah aku!!" teriak Changmin. 


"Ini bukan salah kamu. Lagian kamu juga tidak tahu jika semua akan terjadi. Lebih baik kamu sekarang pikirkan gimana cara menyerang dia!!" ucap Boby, duduk di samping Changmin. 


"Sabar, aku akan cari cara. Aku sudha ada mata-mata di sana. Jadi kamu tenang saja. Aku akan bantu kamu. Karena kamu sudah bantu aku lepas dari sana. Sekarang aku akan membalas bantuan kamu!!" ucap Boby menepuk pundak Changmin. 

__ADS_1


Changmin menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk mengatur emosinya yang semakin mengobar. 


__ADS_2