
Setalah melihat Chen pergi dari ruangan Lian yin, laki-laki itu hanya diam, memandang Brayen dan Reysa bergantian, dengan tatapan aneh penuh pertanyaan dalam otaknya.
Reysa melangkahkan kakinya menjauh dari Lian yin, ia tak mau dekat dengannya yang nanti akan menimbulkan gosib di antara teman lainya. Dan Brayen laki-laki yang diam-diam juga mengaguminya itu pasti akan marah jika dekat dengan laki-laki alin, meski tidak langsung marah dengannya saat bersama laki-laki tapi, di saat mereka berdua amarah Brayen yang bukan siapa-siapa Reysa meledak seperti seorang kekasih yang di landa rasa cemburu.
Reysa memasang wajah cueknya saat Brayen terlihat tak suka dengan caranya memandang Lian yin yang sok akrab denganya.
Gadis itu menyandarkan punggungnya di tembok, dengan tangan bersendekap di dadanya, dan kaki kirinya di tekuk telapak kakinya menyentuh tembok belakangnya. Tersenyum tipis melihat Lian yin. yang sembari tadi tak hentinya menatapnya dan Brayen bergantian, tatapan itu bukan tatapan tertarik dengannya, tapi pandangannya terasa sangat aneh, seakan ingin mencurigai mereka berdua.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu" tanya Reysa. Menautkan ke dua alisnya ke atas, dengan senyum tipis menggoda, tanpa perdulikan Briyan di depannya, yang bahkan tak henti-hentinya terus mengawasinya "Apa kamu tertarik denganku," lanjutnya sembari melirik ke arah Brayen.
Lian yin tersenyum. tipis, tanpa membuka mulutnya sama sekali. "Aku tidak pernah tertarik sama sekali dengan wanita lian. Meski banyak wanita di depanku, dengan keadaan tanpa busana pun, aku sudah tidak tertarik lagi. Karena aku sudah punya istri," ucap Lian yin menegaskan membuat Brayen merasa sangat lega dengan jawaban dari Lian yin. Dengan jawaban itu membuatnya yakin jika dia tak akan mungkin mendekati Reysa.
Dan jika benar Lian yin tertarik dengan Reysa maka dia juga tidak akan bisa berbuat apa-apa, karena Lian yin adalah adik dari Chen yang sudah merawatnya dan ke dua orang tuanya dari ia lahir, belum menjadi apa-apa, bahkan keluarganya juga sangat berjasa dengan keluarga Brayen. Itu yang membuat dia seakan ingin sekali menuruti apa yang di perintah Chen, meski laki-laki itu tidak pernah menganggap Brayen adalah bawahnya, bahkan dia menganggapnya sebagai adik juga, semenjak ke dua orang tuanya meninggal. Dialah kakak yang paling berjasa untuk hidupnya, yang mengajarkan segala hal tentang kehidupan kejam di luaran sana.
"Brayen kenapa kamu diam?" tanya Lian yin, menarik ke dua alisnya, sedikit menungkik, menatap aneh Brayen.
"Gak ada apa-apa, apa ada hal lagi yang ingin kamu bicarakan pada kita?" tanya Brayen.
"Ada!!" jawab Lian yin singkat.
"Apa?" tanya Brayen antusias.
"Apa aku boleh keluar dari sini, kita jalan-jalan di luar. Lagian kalian berdua akan menjaga aku kan, selama sakit aku sembuh," kata Lian yin, menatap ke arah Brayen.
"Gak bisa!!" jawab Reysa menggelengkan kapalanya. Seketika Lian yin langsung menatap ke arah Brayen.
"Kamu pasti mau tanya aku, kan?" ucap Brayen tahu maksud dari tatapannya.
"Iya, aku mau kamu temani aku keluar. Aku ingin bertemu dengan Istri aku. Dan aku gak mau jika dia dalam bahaya," ucap Lian yin menggebu, aliran darahnya mulai menariknya berjalan menangis ke atas kepalanya, tubuhnya terasa menguap bagaikan disiram air panas, saat teringat dengan satu nama 'Yiwen' nama yang membuatnya harus merasakan pil pahitnya cinta.
"Aku akan bantu kamu, tapi luka kamu belum sepenuhnya pulih, jadi lebih baik kamu banyak istirahat. Dan aku gak mau ambil resiko, kakak kamu juga tidak akan memperbolehkan kamu keluar, dari sini sebelum kamu benar-benar pulih," jawab Brayen datar.
Mendengar kara penolakan halus dari Brayen, Lian yin mengerangkan bibirnya, rahangnya mulai menegang menatap tajam, ia beranjak berdiri, dengan tangan kanan memegang punggungnya.
"Shittt... Apa gunanya kalian kalau begitu!!" umpat kesal Lian yin. Menarik kerah baju Brayen di depannya.
__ADS_1
"Awalnya kamu yang bantu aku, aku terima kamu tembak aku. Tapi aku mau kamu bantu aku lagi untuk bertemu dengan istri aku!!" bentak Lian yin meninggikan satu oktaf suaranya.
Reysa yang semula hanya diam, ia mulai memejamkan matanya beberapa detik, menghela napasnya kesal, melihat mereka bertengkar di depannya, ingin sekali semakin menghajar mereka berdua.
"Lepaskan dia!!" ucap Reysa, beranjak berdiri tegap, memegang tangan Lian yin lembut, membuat Lian yin menatap tajam seketika ke arah Reysa, di balas dengan tatapan lembut oleh Reysa. Ia mencoba meluluhkan hati Lian yin dengan kelembutan, watak laki-laki itu sangat keras jika dia keras dengannya, maka Lian yin akan semakin kerasa bicara dengannya, wajah kerasa harus di bilangin dengan senyuman sapaan lembut, agar wajah penuh amarahnya itu perlahan mulai luntur.
"Lepaskan kerah dia!!" ucap Reysa lembut. Memegang tangan Lian yin menarik tangannya dari kerah Brayen yang hanya diam tanpa membalas pukulan daru Lian yin.
"Kalau bukan adik dari Chen, sudah akan membunuh kamu! Tapi aku masih tahu batasan wajar." umpat Brayen.
Wajah Lian yin mulai mengerang penuh emosi meludak-udah dalam hatinya.
"Sudahlah, apa yang kalian lakukan, sekarang lebih baik kamu duduk diam, rencana apa yang ingin kamu lakukan. Kita harus berpikir dengan kepala dingin, jangan terbawa emosi, kita ikuti saja nanti permainan Jack." ucap Reysa memberikan solusi pada Lian yin. Membuat laki-laki itu hanya diam, menimang-nimang apa yang di katakan Reysa, yang menurutnya memang ada benarnya juga.
"Yiwen akan menikah besok, dan kamu biarkan saja dia melakukannya, dan jika kamu yakin istri kamu akan setia, pasti dua akan kembali lagi padamu!!"
"Aku tahu itu, tapi istri kamu akan menikah dengan Jack, dan sekarang akan dilangsungkan pernikahan itu," tubuh Lian yin lemas seketika mendengar kabar jika Yiwen akan menikah dengan Jack, hatinya bagi di tumbuk-tumbuk dengan kayu keras, yang perlahan hatinya mulai remuk di buatnya. Lian yin menghela napasnya kesal, menutup wajahnya, lalu mengusapnya ke atas sampai kepalanya penuh frustasi.
"Apa yang kamu katakan tadi? apa kamu tidak bohong?" tanya Lian yin memastikan , menajamkan pandangan matanya ke arah Brayen.
"Aku gak bercanda, dan kamu dengan Yiwen sudah mengurus surat cerai, dan semua berita dan orang di kota kamu telah meninggal. Dan jika kamu tiba-tiba muncul maka semuanya kan kacau nantinya. Dan ingat jika Yiwen pasti akan kembali lagi padamu," ucap Reyhan menepuk ke dua bahu Lian yin.
"Aku harus gagalkan pernikahan mereka!!" gumam Lian yin yang tak bisa jika melihat mereka menikah dan tidur bersama.
"Gak bisa!! Kamu gak boleh pergi, aku sudah bilang akmu akan tetap tinggal di sini, dan kamu jangan sampai jika kamu itu berbuat nekat lagi. Sekarang semua orang pasti sedang kacau balau di luar saat kamu di kabarkan meninggal, banyak orang yang saling melukai satu sama lain untik mendapatkan peta harta karun," jelas Reysa, memegang ke dua pundak Lian yin, menariknya untuk duduk dan menenangkan dirinya sejenak.
"Hanya Yiwen, yanga akan menbuat suasana berubah. Jika Jack benar-benar pergi dari dunia mafia, maka semua bisa tumbuh kembali di dunia normal. Tapi kamu harus ingat, di balik kebesaran Jack ada sosok misterius yang selalu menopang dia, bajkan tak ada yang bisa mengalahkan sisok itu, karena dia tidak pernah muncul di secara langsung, bahkan aku dan yang lainya tidak tahu siapa mereka!"
"Tapi kenapa harus Yiwen!! Jka dia menikah denganya aku gak rela, Yiwen hanya milikku," ucap Lian yin, menepis tangan Reysa di pundaknya, lalu memegang kepalanya yabg terasa sangat penat.
"Aku tahu, Yin. Tapi kamu bisa rebut kembali Yiwen kelak nanti. Dan Yiwen pasti akan mau kembali dengan kamu!!"
"Jika dia suka denganya?" tanya Lian yin dengan wajah takut.
"Kamu bisa kenikah dengan orang lain kelak nanti. Aku juga mau menikah dengan kamu!!"
__ADS_1
"Apa maksud kamu, aku tidak akan menikah dengan siapapun, istriku hanya satu yaitu Yiwen. Sampai kapanpun itu," ucap Lian yin, mengerutkan keningnya kesal, hembusan napasnya semakin liar, menguntupkan bibirnya, menatap tajam ke arah Reys. Dan hanya di balas dengan senyum tipis, dengan ke dua tangan terangkat di depan dadanya. Ia mengisaskan ke dua tangan ya.
"Tidak... Tidak.. Aku hanya becanda, jangan kamu bawa dalam hati. Aku hanya ingin menguji seberapa perjuangan kamu dengan Yiwen nanti!!" ucap Reysa, tersenyum, memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan bergantian, menatap raut wajah Lian yin yang terlihat muram, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Sekarang minumlah dulu!!" ucap reyhan, memberikan satu gelas minuman yang baru saja ia ambil di meja samping ranjangnya.
"Gak mau!!"
"Kamu harus mau, jika tidak nanti kamu akan terus meningkat masa lalu yang menyakitkan. Lebih baim tenangkan diri kamu dulu, biar kamu bisa berpikir positif kagi,"
"Minumlah!!" sambung Resya, dan langsung di balas dengan tatapan tertuju pada gadis di sebelahnya itu.
Lian yin merasakan air putih yang terasa begitu pahit, seperti ia baru saja menelan pil pahit yang membaut hancur hatinya, tak ada yang bisa ia perbuat, membiarkab istrinta meniah dengan orang lain. Tapi bukan Yiwen namanya jika dia mau mrnikah dengan Jack. Aku yakin ada hal yang nencurigakan, Apa Jack melakukan sesuatu padanya? Apa dia mrngancamnta? Atau memang dia srngaja untuk menghilangkan aku?" pertanyaan bertubi-tubi krluar dari nulit Lian yin, membuat Brayen dan Reysa hanya mengehla napasnya, sendiri menubdukkan kepalanya, meskin mereka tahu semuanya. Tapi dia tidak bisa berjata jujur pada Lian yin, yang nantinya akan semakin membuat Lian yin semakin terluka!
"Kalian kemapa diam!!" bentak Lian yin, sembari memegang kepalanya yang terasa sangat berat.
"Kenapa kepalaku terasa pusing, dan pandangan mataku, kenapa jadi buram?" gumam lian yin dalam hatinya, ia menundukkan kepalanya, dengan ke dua tangan memegang kepalanya, yang semakin pusing.
Dan Brayen hanya diam, memberikan kode dengan kedipan mata pada Reysa. Langsung di balas dengan tatapan mrngernyit.
"Lian yin kamu tidak apa-apa," tanya Reysa memopang tubuh Lian yin.
"Kepalaku sanagt pusing!!" ucap Lian yin
"Lebih baik kamu istirahat saja," ucap Reysa, membantu Lian yin untuk berbaring.
Tanpa menunggu lama Lian yin yang sudah berbaring langsung menutup matanya, seakan dia sudah tertidur lelap.
"Brayen aku mau bicara sama kamu!!" ucap Reysa, membiarkan Lian yin berbaring sendiri di kamarnya.
"baiklah!!"
Reysa dan Brayen mulai beranjak keluar dari kamar Lian yin, berdiri di depan kamarnya
"Ternyata benar, kita sekarang dapat tugas baru untuk jaga dia." ucap Brayen.
__ADS_1
"Iya, apa kamu keberatan?"
"Tidak sama sekali!! Aku hanya tidak mau jika dia akan berbuat nekat. Sekarang biarkan dia tidur dulu sampai besok, agar tidak berbuat nekat lebih dulu." jelas Brayen tanpa menatap ke arah Reysa. "Sekarang kita pergi temui teman-teman mereka. Dan biarkan mereka ada di sini Itu yang Chan pinta, dan dia ingin mengembangkan kepintaran Changmin, dengan Grace yang ahli dalam segala hal." jelas Brayen, membuat Reysa menoleh ke samping menatap Brayen sejenak yang berdiri tepat di sampingnya, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Reysa di belakang.