
"Tapi, kamu beneran gak apa-apa kan?" tanya Yiwen memastikan.
"Enggak tenang saja, udah sekarang ayo kita makan" ucap Lay, yang mulai bangkit dari duduknya. Menuju ruang makan.
"iya benar apa Lay, aku udah lapar nih" lanjut Changmin.
"Baiklah, ayo kita makan. Lagian ini hari spesial Yiwen. Dia masak banyak sekarang khusus untuk kalian" ucap Lian yin, yang mulai mengikuti langkah Lay dan Changmin yang sudah lebuh dulu menuju meja makan.
Changmin terdiam, dengan mulut menganga melihat begitu banyaknya makanan di meja makan depannya. "Banyak banget, apa kita akan makan besar sekarang" tanya Changmin.
Lay menarik tangan Changmin untuk sgera duduk. "Dari pada kamu mau melihat makanan itu gak bakalan habis, duduklah dan ceoat makan" ucap Lay.
Yiwen hanya tertawa melihat kelakuan mereka. "udah ceapt makan" sambung Yiwen.
Mereka semua saling berbincang membicarakan apa yang terjadi tadi, dan sambil menikmati makanan yang ada, dan Changmin dengan sangat lahapnya menyatan makanan demi makanan yang di sediakan di meja. Mei yang duduk di samping Yiwen hanya menatap bingung dengan kelakuan Changmin.
Hari sudah menjelang malam, semua masih di meja makan, sambil berbincang.
"Udah malam aku mau tidur dulu ya" ucap Mei, matanya yang sudah mulai sayup.
"Iya aku juga" sambung Yiwen.
"Ya sudah, kalian tidur dulu saja, kamu para laki-aki masik asyik berbincang" ucap Lian yin.
"Iya, jangan tidur malam-malam ya" ucap Yiwen. Ia mulai melangkahkan kakinya pergi menuju kamarnya, di susul dengan Mei yang berjalan di belakangnya.
"Besok kita berkumpul di ruang kerja, tanpa para wanita" ucap Lian yin.
"Kenapa?" tanya Changmin bingung.
"Aku tidak mau mereka terlibat lagi, kita harus jaga mereka. Jangan sampai ikut campur dengan masalah kita" gumam Lian yin.
"Benar apa yang di katakan Lian yin, aku sependapat dengannya" ucap Lay.
"Baiklah, memang apa yang akan kita bahas" tanya Changmin.
"Besok saja kita bahas, aku mau pergi dulu ke kamar" ucap Lian yin bangkit dari duduknya. "Oya, oembantu sudah tidur, jadi kalian yang bersihkan semua piring itu" lanjutnya.
"Apa? Kita?" tanya Changmin terkejut.
"Iya, lagian siapa lagi kalau bukan kalian" gumam Lian yin.
__ADS_1
"Oke baiklah" ucap Changmin terpaksa, ia berdengus kesal, dengan terpaksa harus terima cuci piring.
~
Kesokan harinya..
Changmin, Lian yin dan Lay, mereka bertiga masuk ke dalam ruang kerja tanpa mengajak Yiwen dan Mei. Bukannya curiga dengan mereka, jika mereka tahu rencana mereka nantinya. Tapi untuk mengantisipasi agar terjadi sesuatu dengan para wanita itu. dan Lian yin tidak ingin mereka ikut serta dalam misi ini selanjutnya. Yang mungkin akan lebih berbahaya dari yang sebelumnya. Dan besok akan jadi penentu, misi apa yang akan mereka tempuh.
Mereka bicara diam-diam saat Yiwen dan Mei pergi ke taman belakang, sepertinya dua wanita itu lagi saling curhat, jadi para lelaki hanya diam dan membiarkan mereka berdua sendiri di taman. Asalkan tidak pergi jauh dari rumah, tanpa pasangan mereka.
~
Tiga laki-laki berada di ruang kerja, duduk di sofa dengan memasang wajah serius mereka masing-masing. Seolah, suatu hal yang sangat penting yang akan mereka bicarakan.
"Gimana rencana kita selanjutnya" tanya Lian yin, yang duduk bersandar di sofa, ruang pertemuan. Ia sengaja membawa semuanya ke atas di ruang kerja atau bisa di bilang ruang pertemuan jika di rumahnya. Lian yin mengantisipasi agar tidak ada mata-mata yang mendengar apa yang di katakan mereka nantinya. Apalagi sekarang situasi di luar banyak mata-mata yang ingin menyelundup masuk ke dalam rumahnya.
"tenang saja, aku sudah punya cara, aku yang akan memancing mereka" ucap Lay.
"Maksud kamu? Memancing mereka dengan cara apa?" Sambung Changmin yang duduk di depan Lay.
"Aku akan keluar sendiri, seperti apa yang di lakukan Yiwen dulu, tapi ini berbeda. Kalian juga menyamar menggunakan topeng karet yang sudah aku buatkan untuk kalian. Dan ingat semuanya harus berjalan dengan hati-hati. Jangan sampai misi kita di ketahui orang luar" gumam Lay, dengan wajah yang mulai serius.
"Tapi apa gak berbahaya?" Tanya Lian yin, menatap dengan wajah seriusnya.
"Baiklah, aku akan mendapingimu, aku berada di samping kamu. Aku gak mau jika kamu keluar sendiri. Tapi kamu mau keluar kemana?" ucap Changmin, ia yidak mau jika Lay dalam bahaya sendirian. Sebagai temannya sejak 12 tahun yang lalu, bahkan Changmin sudah biasa menganggap dia kakak.
"Baik, aku akan berada di belakang kalian, tapi aku mau kalian harus hati-hati. Dan jangan bilang soal rencana ini pada Yiwen dan Mei, mereka tidak boleh tahu tentang ini" sambung Lian yin.
"Kalau sampai mereka tahu, apa akan bahaya juga. Bukannya yang di incar mereka adalah kamu, jadi kamu yang harus lebih hati-hati. Aku dan Changmin akan berada di depan untuk melindungi kamu" ucap Lay, yang penuh dengan perasaan yang mendalam.
Changmin juga hanya diam, ia merasa Lian Yin adalah penyelatnya dulu. Dan kini saatnya untuk balas budi, meski harus nyawanya sebagai taruhannya.
"Aku juga sama, meski harus nyawa taruhannya" ucap Changmin dengan sangat lantang.
"Aku tidak mau kalian mengorbankan hidup kalian untukku, aku ingin kita berjuang bersama jangan sampai ada yang terluka di antara kita" ucap Lian yin.
"Aku besok akan keluar ke sebuah gedung tua, di sudut kota kita. Aku dan Changmin akan mencoba menemui seseorang di sana, aku yakin orang itu sudah sering mengikuti kita kemanapun kita pergi, maka dari itu jangan biacarkan semua pada pengawal kita. Di sini ada yang diam-diam adalah seorang mata-mata" ucap Lay.
KRIINGGGG...
panggilan telepon dari ponsel Lian yin, menghentikan pembicaraan serius mereka. Lian yin melirik sekilas ponselnya, ada panggilan dari Luhan.
__ADS_1
"Luhan?" Ucap Changmin yang melihat ponsel Lian yin, karena duduk mereka berdekatan.
"Kita lanjut saja nanti, sepertinya ada hal serius yang ingin di bicarakan Luhan padaku" ucap Lian yin, yang mulai bangkit dari duduknya, ia melangkahkan kakinya menuju balkon, yang menatap langsung ke halaman rumahnya.
"Ada apa?" Tanya Lian yin, memulai pembicaraan lebih dulu.
"Gimana keadaanmu, Yiwen bilang kamu sakit. Karena luka tembakan kemarin" ucap Luhan.
"Iya, tapi sekarang udah baikan" ucap Lian yin dengan nada datarnya.
"Tapi sepertinya kamu lagi gak mood ya, baiklah. Aku akan terus terang sekarang, kamu cepat kekuarlah di depan gerbang rumah kamu ada sebuah kertas, itu akan memberimu petunjuk untuk apa yang kamu cari" ucap Luhan, yang langsung menutup teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari Lian yin.
"Apa maksudnya" gumam Lian yin, yang langsung bergegas keluar dari ruangan kerjanya.
"Yin ada apa?" Tanya Lay yang langsung berdiri, menatap bingung dengan Lian yin yang tiba-tiba berlari keluar.
"Kenapa dia?" Tanya Changmin. "Apa mungkin ada hal bahaya?" Lanjutnya.
"Lebih baik kita ikuti dia, sebelum terjadi hal buruk lagi pada Yin" ucap Lay, yang mulai melangkahkan kakinya semakin cepat mengikuti Lian yin.
Dan Changmin tidak mau diam saja di dalam, ia juga berniat ingin mengikuti kemana Lian yin pergi.
"Tuan, ini ada surat dari orang" ucap pembantu Lian yin, yang mengambil surat itu di depan rumahnya.
"Baik makasih" ucap Lian yin, berdiri di depan rumahnya. Ia melihat ke taman sejenak, melihat Mei dan Yiwen masih duduk berbincang di taman. Sepertinya mereka lagi serius sampai tidak sadar Lian yin berada di depan.
"Yin ada apa?" Tanya Lay yang berdiri di belakangnya, dengan tangan memegang pundak Lian yin untuk mengatur napasnya sejenak.
"Gak ada apa-apa, ada kiriman dari Luhan" ucap Lian yin.
"Oo.. kiriman apa?" Tanya Changmin, yang berjalan mendekati Lian yin.
"Entahlah, kamu lebih baik panggil Mei dan Yiwen untuk segera masuk ke dalam rumah, kita makan bersama dulu." Ucap Lian yin, membalikkan badanya masuk ke dalam, menuju meja makan. Dan Lay berjalan mengikuti Lian yin, sepertinya ada hal yang di sembunyikan Lian yin, membuat Lay jadi penasaran.
"Yin! Apa ada masalah?" Tanya Lay, duduk di samping Lian yin.
"Gak ada, aku belum buka, seperrinya ini ada hubungannya dengan sebuah petunjuk dari rumah kosong di tempat terpencil itu" ucap Lian yin.
"Tapi gimana Luhan bisa tahu tentang tempat itu, dan dia kenapa juga tahu jika mengumpulkan petinjuk itu?" Tanya Lay.
"Entahlah, tapi aku akan cocokkan nanti, siapa tahu memang benar ini salah satu petunjukanya" gumam Lian yin, dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
"Hai syang" panggil Yiwen berjalan menghampiri Lian yin, ia duduk langsung duduk di samping kanan Lian yin.