Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kebodohan musuh


__ADS_3

"Itu wanita lama-lama gila apa gimana ya?" gumam Yiwen, menarik napas panjang, menahannya sejanak, lalu mengeluarkan perlahan. Ia menatap Indahnya kamar yang ia tempati, membuat suasana hatinya yang semula lagi bad mood kini mulai kembali merasa nyaman.


Yiwen berjalan duduk di ranjangnya.


"Ahh... capek juga, rasanya ingin sekali aku tidur nyenyak hari ini." lanjutnya Membaringkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya sekarang. Chengyi sudah menyiapkan semua kebutahannya di sana. Di kamar banyak sekali berbagai macam buah-buahan. Dan snack yang Lian yin beli tadi juga masih ada.


"Sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak karena terlalu banyak makan," ucap Yiwen, ia terdiam sejenak tiba-tiba terpikir sesuatu yang ia temukan di meja kerja Chengyi, sebuah benda kecil yang sengaja di tempelkan di meja kerja Chengyi, untuk menyadap semua pembicaraan.


"Oo. iya aku lupa tadi bawa benda itu?" tanya Yiwen. Ia teringat jika Lian yin dan Chengyi merencanakan sesuatu di ruang kerja pasti alat ini menyadap pembicaraan mereka. Aku harus ingatkan mereka kali ini. Untuk lebih hati-hati dalam bertindak. Untung saja aku tadi sempat melihat sekilas benda kecil ini. tapi belum ada kesempatana lagi untuk masuk ke dalam ruang kerja Chengyi," gumam Yiwen terus menatap aneh pada benda bulat yang ia pegang.


Kreekkk.... Suara pintu kamarnya membuat Yiwen langsung duduk di ranuangnya.


"Yiwen, apa kamu sudah tidur?" tanya Lian yin yang baru saja selesai dari jamuan makan malam Chengyi. Sudah banyak hal yang ia bicarakan dengan luhan. Bahkan mereka seperti teman akrab saat melakukan kerja sama. Tidak seperti biasanya yang selalu tak pernah akur dan adu senjata saat bertemu.


"Kamu sudah kembali, cepat kemari ada yang ingin aku katakan." ucap Yiwen memanggil Lian yin yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


Lian yin yang baru saja masuk ke kemarnya, ia berjalan mendekati Yiwen. Dari ucapan Yiwen sepertinya dia serius ingin berbicara padanya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lian yin duduk di sebelah Yiwen mengusap lembut kepala Yiwen.


"Lihatlah ini, gimana cara menon aktifkan penyadap suara ini."ucap Yiwen memberikan benda itu pada Lian yin.

__ADS_1


"Kamu dari ruang kerja Chengyi?" tanya Lian yin yang melihat sekilas benda itu. Ia segera meraihnya dari tangan Yiwen.


"Benda ini tidak aktif, mungkin orang yang manaruh ini terlalu terburu-buru. Tapi untunglah masih belum aktif. jadi percakapanku dan Chengyi jadi belum terdeteksi olehnya. Yiwen terlalu lugu dalam urusan penting, bahkan terlihat sangat bodoh dan tergesa-gesa dalam bertindak." ucap Lian yin menjelaskan.


Yiwen terdiam menatap Lian yin, ia teringat sesuatu tentang siapa yang menaruh benda itu di meja Chengyi. "Aku ingat siapa yang menaruh ini, sia Yhing yin." ucap Yiwen.


"Gimana kamu bisa tahu, lagian Yhing yin belum ada kesempatan untuk menaruh benda ini, kan." Lian yin semakin panasaran dengan jalan pikiran Yiwen.


"Apa kamu gak tau pergerakan tangannya saat kita masuk, dan menatap ke arah kita dengan tangan Kiri ke belakang. Tepat di saat Chengyi tidak memperhatikannya. Dan fokus pada kita untuk menyambut kehadiran kita. Mungkin dia terlalu terburu-buru dalam bertindak. Kecerobohon dia sama seperti waktu pertama dia mengancam kita. Terlalu banyak meninggalkan jejak. Dia tidak bisa baca sikon yang tepat tapi dia juga berbahaya. Meskipun terlalu ceroboh *** kelicikannya tidak bisa di duga."ucap Yiwen menejelaskan. 


"Huaaammmm"Yiwen yang sudah merasa lelah ia menguap lebar di depan Lian Yin.


Lian yin tersenyum menutup mulut yiwen saat menguap. "Kebiasaan kalau nguap itu di tutup syang." ucap Lian yin.


Lian yin terdiam mematap yiwen, ia ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Yiwen, ia menatap ke atap langit dengan tangan menggemggam erat tangan Yiwen.


"Kalau kamu ngantuk tidur saja dulu, besok kita bicarakan lagi tentang rencana. Dan soal alat ini. Kita bicarakan dengan Chengyi saat Yhing yin tak ada di rumah. Chengyi akan menyuruh dia untuk pergi beberapa hari. Karena masalah pekerjaannya." ucap Lian yin, ia menoleh ke arah Yiwen, melihat sekilas ke arah Yiwen yang masih menatap ke atap langit kamarnya.


"Tapi aku ingin memberi tahu kamu sesuatu dulu. Jika Yhing yin semakin berani. Dia tadi menemuiku di depan kamar ini. Dan mengancamku untuk hati-hati. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam jika kita tinggal di sini, meskipun dia tidak ada di sini beberapa hari. Tapi dia punya suruhan orang untuk menyelakai kita. Aku harap kamu juga harus lebih waspada lagi." ucap Yiwen.

__ADS_1


"Oo.  kamu khawatir soal itu, tenang saja aku akan merapikan semuanya. Aku sudah punya rencana sendiri untuk menjebak dia. Kamu ikuti setiap permainan dia. Dan ingat kamu juga harus hati-hati dengannya jangan sampai kamu teluka olehnya. Karena dia itu wanita tapi juga sangat berbahaya. Dan satu lagi aku mau bilang jika Lee sudah sembuh dari lukannya dan sudah pulang dari rumah sakit." ucap Lian yin kenjelaskan. "Oya, Dan keadaannya masih belum sepenuhnya pulih total. Dia tidak boleh bergerak berlebihan, tapi jika kita sama-sama pancing mereka. aku yakin jika Lee akan keluar dari sembunyinya juga." Lian yin menjelaskan lagi pada Yiwen.


"Jadi Lee dan Yhing yhi sekarang sudah kembali ke kotanya?" tanya Yiwen membaringkan badannya ke kiri, menatap wajah Lian yin di samping kirinya.


"Iya dia sudah pulang, dan Feng yin yang memberi tahuku. Aku menyuruh dia dari Sydney menuju ke Itali lagi untuk mencari tahu keberadaan Lee dan Yhing Yhi."ucap Lian yin.


Lian yin menatap ke arah Yiwen yang sudah tertidur pulas di depannya. "Kamu terlalu capek ya, banyak beban pikiran dan amsalah yang tak seharusnya kamu ikut campur. Karena ini masalah dunia mafia. tak ada kaitannya dengan agen Intelijen. Tapi aku yang membuat kamu jadi masuk dalam duniaku." gumam Lian yin mengecup lembut kening Yiwen. Membaringkan tubuhnya agak ke atas. Dan menarik selimut tebal menutupi sekujur tubuh Yiwen.


"Mimpi indah, ya." ucap Lian yin mengusap rambut Yiwen.


Lian yin membaringkan tubuhnya di sebelah Yiwen. Ia melihat wajah yang begitu cantik berbaring di sampingnya. Namun tak bisa langsung tidur. Lian yin teringat tentang kata Tao. Jika Lee sudah merencanakan sesuatu untuk mengambil Yiwen lagi sebegai tamen dan robot baginya.


Lian yin tak akan semudah itu membiarkan itu terjadi. Dan di kota Chengyi sepertinya akan aman untuk meteka berdua. Dan dari kota itu Lian yin juga bisa bekerja keras untuk perusahaannya dna melindungi semuanya dengan keahlian teknologi yang ia punya.


"Srekk... srek.."


"Siapa di sana?" teriak Lian yin. Beranjak bangun dari tidurnya. Menuju ke balkon kamar. Ia tak melihat siapapun di sana. Matanya tertuju pada lantai di bawanya. "Kancing baju?" gumam lian yin. Melihat ada satu kancing baju yang tertinggal.


"Sepertinya dia ceroboh lagi, kali ini kancing baju tertinggal. Kenapa dia begitu bodoh dalam bertindak. ucapannya begitu tegas seolah dia paling berpengalaman tapi tidakannya begitu bodoh."Gumam lian yin segera mengambil kancing itu. Dan berjalan mendekati Yiwen yang masih tertidur pulas di ranjangnya.

__ADS_1


Ia meletakkan kancing itu di meja samping ranjangnya. Untuk di tunjukan pada Yiwen besok. Karena dia yang paling bisa memikirkan siapa pemilik kancing itu. pemikirannya yang cerdas bisa mengamati situasi yang terjadi. Dan seakan bisa memprediksi jika dia bisa mengetahuai semua akan bulus para musuhnya.


"Dia masih tidur"gumam lian yin tersenyum kenatap Yiwen. Ia memabaringkan tubuhnya lagi di samping Yiwen. Dan tertidur lelap bersama dengan balutan selimut tebal menutupi tubuh mereka.


__ADS_2