
Selesai membagas sebuah masalah yang membuat wajah mereka semua tegang. Dan Yiwen memutuskan untuk menenangkan dirinya menuju ke kamar.
"Hari ini benar-benar sangat melelahkan" guman Yiwen.
Ia duduk bersandar di sofa, memegang kepalanya yang terasa sangat penat saat ini. Ia menggelengkan tak percaya eknyataan yang ia ketahui tentang Mei semuanya.
Kenapa aku begitu bodoh bisa di kelabuhi oleh Mei juga. Dan aku begitu mudahnya percaya dengannya. Tapi mereka semua benar-benar hebat melajukan sebuah sandiwara. Bahkan tidak ada yabg tahu kebusukan Mei.
Yiwen menyandarkan kepalanya di atas sofa, memejamkan matanya sejenak. mencoba menahan amarah yang semakin membakar hatinya saat ini.
"Percuma juga aku marah, lagian aku mau marah dengan siapa. Aku juga tidak tahu. Jika aku marah dengan Mei, percuma dia tidak ada di sini. Semua hanya buang-buang energi aku jika marah-marah di sini." gumam Yiwen, beranjak duduk tegap, menatap ke depan dengan tatapan tajam dan wajah seriusnya.
Ia menarik bibirnya, menatap ke arah balkon. Melihat pemandangan malam dari luar seakan membuatnya tertarik untuk berjalan menuju ke balkon kamarnya.
Yiwen beranjak berdiri, melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya.
Tak lama suara hentakan kaki ringan berjalan mendekatinya. Ia yang menyadari lebih dulu. Hanya diam.
Pasti itu Lian Yin, aku ingin menenangkan emosi aku dulu dengannya nanti.
"Yiwen!!" panggil Lian yin, berjalan menghampiri Yiwen yang berdiri di atas balkon kamarnya. Menatap pemandangan malam yang terlihat begitu indah. Di temani banyak bintang dan sinar rembulan yang nampak sangat cerah malam ini.
"Lihatlah ke atas syang, indah ya!!" ucap Yiwen tanpa menatap ke arah Lian yin. Hatinya merasa sangat tenang melihat pemandangan indah di atasnya. Seakan ia melupakan masalah yang terjadi sementara dari ingatannya.
"Kalau aku lebih suka menatap kamu syang. Jauh lebih indah dari apapun." ucap Lian yin, memeluk erat tubuh Yiwen dari belakang. Menggoyangkan tubuhnya pelan, dan dagu menyandar di pundak Yiwen mesra.
"Kamu bisa saja." ucap Yiwen, yang terlihat tersipu malu dengan rayuan Lian yin. Ia memegang tangan Lian yin yang melingkar di perutnya. Dengan pandangan menatap ke atas.
Lian yin menatap ke atas, melihat langit kali ini nampak sangat cerah dan di penuhi dengan bintang. "Bintang di langit tidak secarah bintang yang selalu di hatiku saat ini." bisik Lian yin.
"Kamu pasti sekarsng algi mikirn masalah tentang tadi kan?" tanya Lian yin.
"Iya, aku gak menyangka jika semua gara-gara aku. Aku yang mengijinkan dia tinggal di sini" ucap Yiwen, dengan wajah penuh penyesalan.
"Sudah jangan bahas tentang itu lagi. Sekarang kamu tutup mata kamu. Rasakan hembusan angin malam di sini" bisik Lian yin.
Tanpa banyak bertanya Yiwen merentangkan ke dua tangannya, menutup ke dua matanya, dan sedikit mendongak ke atas. Merasakan hembusan angin malam yang terasa mulai masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Membuat pikirannya terasa lega, rasa marah yang menjalar pada tubuhnya seakan hilang terbawa angin malam yang terasa sangat dingin.
Lian Yin memegang ke dua tangan Yiwen yang terlentang, dan melipatnya bersama tangannya, meletakkan di atas perutnya.
"Kamu pasti merasakannya kan." ucap Lian yin.
Yiwen membuka matanya, menoleh menatap ke arah Lian yin tepat di sampingnya. Hanya berjarak dua telunjuk tangan.
"Maksud kamu apa?"
"Aku ingin kamu merasakan kehangatan tubuh aku. Di saat dingin sayang." goda Lian yin.
__ADS_1
Yiwen mengerutkan keningnya, menatap bingung Lian yin. "Aneh, maksud kamu apa?" tanya Yiwen, ia tidak tahu apa yang di maksud Lian yin.
"Ya, sudah kalau gak tahu. Aku hanya ingin menemani kamu di sini. Menunjukan padamu, jika kamu jauh lebih indah dari pada rembulan di atas." ucap Lian yin.
Yiwen tersenyum, dan langsung mengecup pipi Lian yin di sampingnya, beberapa detik. "Makasih rayuannya, kamu membuat aku merasa sangat spesial." ucap Yiwen.
"karena kamu memang selalu spesial di hati aku." ucap Lian yin mencubit pipi Yiwen yang terlihat cabi menggemaskan.
Yiwen seketika menundukkan kepalanya, ia teringat tentang dirinya yang belum juga hamil meski belum ada setengah tahun menikah. Tapi dirinya belum juga punya anak, dan seakan belum ada keluarga lengkap dalam dirinya dan Lian Yin.
Lian yin menatap istrinya yang terlihat muram, ia melepaskan pelukannya, memegang lengan Yiwen, membalikkan tubuhnya. Ia memegang dagu Yiwen mendongakkan kepalanya. "Yiwen, kenapa kamu diam? Apa ada masalah?" tanya Lian yin.
Yiwen memeluk tubuh erat Lian yin, "Yiwen kamu gak apa-apa kan?" tanya Lian yin memastikan.
"Aku merasa ada yang kurang di antara kita," ucap Yiwen.
Lian yin mengerutkan keningnya, ia bingung dengan apa yang di katakan istrinya itu.
"Maksud kamu ada yang kurang gimana?" tanya Lian yin semakin bingung.
"Aku merasa keluarga kecil kita belum lengkap." ucap Yiwen, meneteskan air matanya.
Lian yin memejamkan metanya beberapa detik, menarik napasnya dalam-dalam, ia mulai paham dengan yang di maksud Yiwen. Ia melepaskan pelukan Yiwen. memegang ke dua lengannya.
"Kamu pasti mikir soal anak kan, sekarang jangan pikirkan itu lagi. Kondisi saat ini tidak memungkinkan jika kita punya anak dulu. Aku takut anak kita dalam bahaya nantinya. Apalagi yang kita hadapi bukan hanya satu dua," ucap Lian yin.
"Sudah jangan banyak bicara lagi, aku tahu kamu pasti merasa terpukul kenapa kita belum punya anak. Aku mau kita nanti punya anak setelah masalah kita selesai. Tapi jika kita di beri anak cepat, aku juga tidak bisa menolaknya." potong Lian yin cepat, ia tidak perbolehkan Yiwen berbicara lebih banyak lagi.
"Iya, baiklah. Tapi aku ingin segeta memberi ayah aku sebuah cucu atau beberapa cucu sekaligus untuknya." ucap Yiwen, mendongakkan kepalanya menatap ke arah Lian yin.
Lian yin tersenyum, mengusap pipi Yiwen. "Jangan menangis lagi ya. Nanti kita buat baby lebih dari satu deh." ucap Lian yin tersenyum tipis, dengan jemari menyeka air mata di pipi mulus istrinya. "Sekarang tersenyum, jangan cemberut lagi." lanjutnya
Yiwen yang merasa tenang hatinya, ia mencoba untuk tersenyum tipis di hadapan suaminya. "Makasih," ucap Yiwen.
Lian yin menyipitkan matanya, "Untuk apa?"
"Karena kamu sudah membuat aku tenang sekarang," ucap Yiwen, kakinya sedikit jinjit, melingkarkan tangannya di leher Lian yin. Dan mencium lembut bibir Lian yin beberapa detik. Tersenyum mencubit pipi Lian yin. Yang langsung di balas dengan senyuman, memegang bibirnya. Dengan bola mata memutar seakan ia berpikir sejenak. "Kenapa kamu gak suka ya aku cium?" tanya Yiwen, yang semula tersenyum, ia mengerutkan bibirnya kesal.
Lian yin menatap ke arah Yiwen bingung dengan perubahan Yiwen yang mendadak.
"Siapa yang gak suka syang. Aku sangat suka. Tapi masih kurang lama." Lian yin memegang kepala belakang Yiwen. Dan salah satu tangannya memegang pinggang ramping istrinya, menariknya masuk dalam dekapan hangat tubuhnya.
"Pasti mulai deh," ucap Yiwen, menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis dari bibir manisnya. Dengan tangan mengusap lembut pipi Lian yin.
"Kamu menggodaku ya," tanya Lian yin, menatap nakal Yiwen.
"Siapa juga yang menggodamu, aku hanya ingin sesuatu darimu," ucap yiwen terus terang.
__ADS_1
"Ingin apa?" tanya Lian yin penasaran.
"Aku ingin hal yang sangat mengutungkan untuk kita berdua."
"Maksud kamu?" tanya Lian yin semakin bingung.
Yiwen mengerutkan bibirnya, dengan kepala sedikit menunduk ke bawah. "Ya, sudah. Kalau kamu gak tahu, aku mau keluar dulu. Cari udara di luar sepertinya enak." ucap Yiwen mengalihkan pembicaraan.
Lian yin semakin mempererat dekapannya, salah satu tangannya mengusap lembut wajah Yiwen, menggodanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yiwen.
"Kamu ingin sesuatu kan?" ucap Lian yin, Menyelipkan tangannya ke dalam helaian baju milik Yiwen. Merayap tangannya menjelajahi tubuh Yiwen.
"Apa ini yang kamu mau?" tanya Lian Yin memastikan, dengan tatapan menggodanya.
Yiwen tersenyum tipis. Sedikit mendongak, Menatap ke arah Lian yin. Melingkarkan ke dua tanganya di leher suaminya itu. "Kenapa gak lebih syang," ucap Yiwen menggoda.
Lian yin yang mulai tergoda dengan Yiwen. Ia mengecup bibir Yiwen sangat mesra, berjalan ringan masuk ke dalam kamarnya, tanpa melepaskan ciuman Mereka, yang saling membalas, semakin dalam kecupannya semakin membuat Lian yin tak bisa menahannya. Ia menjatuhkan tubuh Yiwen di atas ranjang miliknya. Dan menyudahi kecupannya.
Yiwen dengan sigap tanpa di perintah, segera membantu melepas baju Lian yin.
"Sekarang kamu sudah lebih berani," ucap Lian yin, dengan salah satu tangan memegang dada Yiwen.
Membuat Yiwen terdiam menikmati.
"Sekarang aku istrimu, jadi kalau aku yang minta duluan kan lebih enak. Jadi kamu hak perlu maksa aku." goda Yiwen, menarik leher Lian yin, dan mengecupnya penuh gairah.
"Bentar syang!!" ucap Lian yin melepaskan kecupannya.
"Kenapa?" ucap Yiwen kesal.
"Buka dulu, gak enak kalau kamu masih lengkap gitu," goda Lian yin. Ia segera membuka helaian benang yang menempel di tubuh Yiwen sangat cepat tanpa tersisa, ia melemparkan ke lantai. Dan segera meneruskan aksinya.
Lian yin mendengus di leher Yiwen, turun ke bawah menuju dadanya. Menciumnya, hingga meninggalkan bekas merah. Lian yin segera memasukan miliknya perlagan, di iringi desahan pelan keluar dari mulut Yiwen.
"Bentar!!" ucap Lian yin.
"Kenapa?"
"Bukannya kamu lagi M kemarin." tanya Lian yin.
"Sudah gak, baru selesai tadi pagi syang. Dan sekarang aku ingin melayani kamu." ucap Yiwen.
"Ya, baiklah. Makasih syang" Lian yin segera melanjutkan kecupannya penuh dengan gairah semakin dalam.
Lian yin menarik selimut menutupi tubuh mereka. Melakukan sebuah olahraga malam yang biasa rutin ia lakukan. Tapi karena kemarin Yiwen lagi M. Dan sekarang baru saja selesai, Lian yin segera melenacarkan ke inginannya berheubungan dengan Yiwen dari kemarin. Dia sudah tidak betah menahannya lagi.
__ADS_1
Desahan demi desahan keluar dari mulut mereka berdua. Hingga 10 menit berlalu, Lian yi. sampai di titik puncak, ia segera menyemburkan lavanya ke dalam milik Yiwen. Agar binih baby bisa segera tumbuh dalamnya.