Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Sifat Manja Yiwen


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, Yiwen bergegas masuk ke dalam mobilnya. Tapi entah kemana Lian yin akan membawanya. Pulang atau tetap melakukan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. 


"Changmin, Sini!! aku mau bicara denganmu." ucap Lian yin. Berjalan mendahului Changmin yang dari tadi berdiri di depan pintu menunggu dirinya dan Yiwen keluar dari ruangan yang membuat semua shock dengan aksi candaan Yiwen.


Yiwen terus mengikuti langkah Lian yin yang semakin cepat.


"Yin, tunggu aku. Apa kamu tega membiarkan aku jalan sendiri. Gak di gandeng gitu.. Atau di gendong juga bisa. Aku baru sadar lo" ucap Yiwen semakin mem-percepat langkahnya. Ia mencoba mengikuti Lian yin. Namun, langkah Lian yin semakin cepat. Dan cepat. Membuat Yiwen ngos-ngosan. 


"Jangan manja, salah sendiri kamu tega bohongi kita!!" ucap Lian yin, tanpa menatap ke arah Yiwen di belakangnya. 


"Apa kamu masih marah?" tanya Yiwen. 


"Enggak!! jawab Lian yin tegas. 


"Terus kenapa kamu gak gandeng aku sama sekali?" tanya Yiwen.


"Emangnya Truk gandengan!!"


"Ya, gak truk saja gandengan, uami istri itu juga harus lebih mesra dari pada truk. Masak kamu kalah dengan truk." goda Yiwen.


"Terserahlah" jawab Lain yin pasrah. Ia bahkan masih belum juga menoleh sama sekali ke arah Yiwen.


Merasa tidak di hiraukan oleh Lian yin. Yiwen, memutar otaknya untuk berpikir sejenak, Clinggg...


Yiwen tersenyum, ia punya cara agar Lian yin mau mendengarkannya. Yiwen, segera bersiap lari dan meloncat naik ke punggung Lian yin. 


Buukkk...


"Yiwen!! Apa-apaan kamu?" gumam Lian yin.


"Gendong!!" ucap manja Yiwen.


"Kamu berat Yiwen!!" 


"Berat gimana? Badan kurus gini berat!!" gumam Yiwen, semakin mempererat melingkarkan tangannya di leher Lian yin. 


"Turun gak!!"


"Gak mau, Yiwen mau di gendong sama suami tercinta" ucap Manja Yiwen.


Mei dan Changmin yang melihat hubungan Lian yin dan Yiwen. Bagi mereka adalah hiburan di saat dia lagi suntuk. Hubungan yang lucu, dan juga bisa menghibur teman-teman di sekitarnya. 


"Lihat mereka lucu ya" ucap Mei, berjalan di samping Changmin. Dengan hentakan kaki dan langkah yang sama.


"Iya cinta mereka itu unik. Aku suka hubungan seperti itu" gumam Changmin, tersenyum tipis. Terbayang di otaknya ia bersama dengan Grace. Membuat tersenyum sendiri dari tadi.


Mei menggerkkan kepalanya sembilan puluh derajat, menatap wajah Lian yin.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri." tanya Mei. 


"Eh.. Gak apa-apa. Udah cepat jalan" ucap Changmin datar. 


Mei terdiam, kenapa dia masih saja tetap sama. Dia Benar-benar ngeselin. Pikir Mei dalan hatinya.


 


"Yiwen turunlah" teriak Lian yin. 


"Gak mau!!" jawab Yowen menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Yiwen turun gak!!" ucap Lian yin semakin meninggikan suaranya.


Yiwen mengerutkan bibirnya. "Aku gak mau, emangnya kenapa sih antar aku sampai mobil" ucap Yiwen memelas.


"Yiwen aku ada urusan bentar dengan Changmin" 


"Urusan apa?" tanya Yiwen jutek.


"Turun dulu, nanti aku beri tahu kamu" ucap Lian yin. 


"Baiklah aku turun, tapi janji ya. Aku mau kamu cepat beri tahu aku" Yiwen segera turun dari punggung Lian yin.


Lian yin meninggalkan Yiwen lagi, melangkah semakin cepat di depannya.


"Kamu mau kemana lagi?" tanya Yiwen, mengikuti langkah Lian yin yang semakin cepat. 


"Kalian di sini dulu. Aku mau bicara dengan Changmin berdua" Lian yin, menarik tangan Changmin, berjalan dengan langkah semakin cepat. Mereka berhenti di balik mobil hitam yang menghalangi pandangannya dari Yiwen dan Mei. 


Yiwen menguntupkan bibirnya kesal. Menghentakkan kakinya berkali-kali. "Dasar ngeselin, apa dia gak bisa apa bicara bersama-sama dari pada harus diam-diam begini bikin aku tambah curiga dengannya" gumam Yiwen semakin kesal.


"Mei kamu curiga gak sama mereka?" tanya Yiwen. 


"curiga sih iya, tapi aku gak berani berbuat apa-apa. Aku hanya ini bicara baik-baik saja sekarang" Yiwen seketika menyentuh dahi Mei, memeriksanya dia masih sadar atau enggak. 


"Kamu gak sakit kan?" Kenapa kamu jadi berubah. Sebenarnya ada apa kamu dengannya" tanya Yiwen, sambil melanjutkan langkahnya. 

__ADS_1


"Sekarang Changmin lebih sering marah denganku. Padahal aku hanya diam sekarang. Tapi entahlah, aku gak mau hubungan aku dengannya benar-benar hancur. Aku ingin hubungan aku dan dia itu baik-baik saja, tanpa ada masalah lagi. 


"Sekarang kamu mau apa?" tanya Yiwen. 


"Aku maunya diam saja. Ya, kalau kamu enak. Lian yin selalu nurut apa katamu. dia juga gak pernah dekat dengan wanita lain. Karena dia sangat menghargai kamu" jawab Mei. 


"Udah, sekarang kamu ikut aku. Aku ingin menguping apa pembicaraan dua laki-laki itu. Dari pada, aku curiga pada semuanya. Lebih baik aku menguping" ucap Yiwen, menarik alisnya ke atas. 


"Tapi aku gak mau ikut, kamu saja sendiri ya."


"Kamu takut dengan Changmin?" ucap Yiwen meninggikan suaranya. 


Mei hanya menunduk, ia yidak berani berkata apa-apa lagi. Memang dirinya sekarang takut dengan Changmin, melihatnya marah saja seakan hatinya di tusuk-tusuk. Ia mengira tidak bisa jaga bubungan harus saling bertengkar tarus. 


"Emm.. Yiwen, aku di mobil kamu saja, ya." ucap Mei. 


"Baiklah, Oke sepertinya memang kamu sekarang lebih takut dengan Changmin." Yiwen berjalan mendekati Mei, menepuk pundaknya. "Sekarang kamu masuk saja ke mobil. Jangan sampai mereka tahu. Aku mau ke belakang rumah sakit" lanjutnya. 


"Baiklah, kamu hati-hati ya, jangan seperti tadi, benar-benar membuat semuanya khawatir. Apalagi sampaj Lian yin. Bemar-benar pecah seketika tangisannya" ucap Mei. 


Yiwen tersenyum, "Kalau gak gini, gimana bisa jika aku tahu Lian yin juga cint banget sama aku. Tapi sakit tahu, bahu aku di goyang-goyang tadi." ucap Yiwen menggerakkan kepalanya ke atas. "Tapi kamu jangan berbuat sama seperti aku. Karena itu sangat bahaya. Kamu bisa-bisa di marahin sama Changmin" lanjutnya dengan tawa meledak, berjalan menuju ke rumah sakit belakang. 


Ia mulai memasang pendengaran tajamnya. "Kamu selidiki tentang pacar kamu itu" ucap Lian yin. 


"Emangnya dia kenapa" tanya Changmin


"Kamu nurut saja apa kata aku.Aku dan Lay hanya ingin kamu bahagia, dan aku gak mungkin berbicara begini jika gak ada alasannya." ucap Lian yinn memegang ke dua bahu Changmin.


Di balik tembok, "Kenapa mereka pegang-pegangan. Apa mereka menjalin hubungan terlarang.. Ah.. tidak-tidak, jangan sampai." ucap Yiwen.


"Apa ada hal yang mencurigakan yang pernah kamu curigai dari kekasih kamu itu?" tanya Lian yin.



"Gak ada sama sekali, tapi.. Bentar.. Aku akan cari tahu nantinya." ucap Changmin.



"Kamu terlalu khawatir dengannya. Jadi kamu gak bisa berbuat apa\-apa lagi. Hanya percaya terus dengannya." ucap Lian yin, menepuk pundak Changmin, dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Changmin.



Changmin masih terdiam di tempatnya, ia masih berpikir apa yang di katakan Lian yin tadi. Pikirannya masih berkecamuk, tak bisa berpikir normal.



"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lian yin, menepuk pundak Yiwen.


Yiwen menepis tangan Lian yin.


"apaan sih, aku dengerin suami aku berbincang dengan laki-laki"


"Suami kamu namanya siapa?" tanya Lian yin.


"Lian yin!!" jawab Yiwen, yang masij belum sadar jika Lian yin di sampingnya.


"Kok sama namanya!!"


Yiwen terdiam, memutar matanya. ia mendongakkan kepalanya menatap laki-laki di depannya. Seketika matanya terbuka lebar, dengan mulut menganga, tangan menunjuk ke depan.


"Eh... Yin!" yiwen meringis, memegang tangan Lian yin. "Kenapa kamu ada di sini, dari tadi aku cari kamu. Tapi kamu gak ada" ucap Yiwen.


Lian yin tersenyum, mengusap puncak kepala Yiwen, mengacak-acak rambutnya. "Udah ayo pergi sekarang" ucap Lian yin.


"Gandeng tanganku!!" ucap Yiwen manja, mengulurkan tangannya ke depan.


Lian yin tersenyum, menggandeng tangan Yiwen, melangkahkan kakinya pergi. "Oya, tadi kamu dengar apa saja?" tanya Lian yin.


"Dengar apa?" ucap Yiwen pura-pura tidak tahu.


"Dengar pembicaraanku dengan Changmin"


"Aku gak dengar!!" ucap Yiwen.


"Beneran gak dengar" ucap Lian yin memastikan


"Iya, yin syang" Yiwen, mencubit hidung mancung Lian yin.


"Kita mau kemana?" tanya Yiwen.


Ia tidak tahu tujuan Lian yin selanjutnya. Ia juga tidak paham dengan apa yang di rencanakan Lian yin selanjutnya. Sebagai istri setianya, ia hanya menurut kemana saja Lian yin pergi. Asalkan, bersama dengan dia, Yiwen sudah sangat senang.



__ADS_1


"Ayo kita pergi!!" ucap Changmin menghampiri Mei, yang masih berdiri di tempat yang sama.



"Kita kemana?" tanya Mei.



"Ikuti aku, dan masuk ke dalam mobil" lanjutnya, tanpa menatap Mei, ia beranjak masuk ke dalam mobilnya.



"Ikuti kemana?" tanya Mei.



"Gak usah banyak tanya lagi. Kalau kamj banyak tanya, pulang saja sendiri ke rumah Lian yin. jangan ikut denganku" ancam Changmin.



Mei menelan ludahnya, ia tidak berani berbicara lagi. Perkataan Changmin membuat hatinya benar\-benar terluka.


Ia berjalan mengikuti Changmin masuk dalam mobilnya.



"Kamu kemana sekarang" tanya Changmin.



"Aku akan antar kamu pulang ke rumah" ucap Changmin.



Mei menarik alisnya ke atas, melebarkan matanya terkejut.


"Apa? Apa aku gak salah denger." tanya Mei memastikan.



"Kenapa apa kamu gak suka, jika aku ikut dengan kamu?" tanya Changmin.



"Bukanya begitu Tapi aku gak boleh datang, dengan laki\-laki. Jadi aku harus datang sendiri nantinya" ucap Mei, beralasan.



"Kenapa, aku bisa bicara baik\-baik dengan keluarga kamu!!"



"Gak usah, lebih baik kamu sekarang sama Lian yin. Aku bisa pulang sendiri. Orang tua aku sangat galak,"



Changmin terdiam, melirik sejenak ke arah Mei.



Apa benar yang di katakan Lian yin, jika dia seperti ini aptut di curigai juga. Dia seakan menyembunyikan identitas aslinya. bahkan aku todak boleh bertemu dengan orang tuanya. Aku harus selidiki sekarang. Pikir Changmin.



"Ya, sudah kamu ininkan kamu pergi sendiri. Tapi kamu hati\-hati ya. Sekarang aku akan antar kamu sampai depan halte bus." ucap Changmin.



"Iya!!" Mei terlihat sangat gugup, tatapan Changmin semakin menajam padanya.



Changmin menghentikan mobilnya tepat depan halte bus. Ia bergegas turun, dan menghentikkan taksi yang kebetulan lewat, di depannya.



Mei, menghentak\-hentakkan kakinya, ia menahan rasa gugup dalam dirinya. Sebelum ia turin menghampiri Changmin, yang berbicara dengan sopir taksi. Entah, apa yang mereka bicarakan. Ia juga tidak tahu, dan Mei juga tidak mau tahu. lagian pasti membicarakan soal harga. Pikirnya.



"Mei!! Cepat turun, aku udah pesankan kamu taksi" ucap Changmin, membukakan pintu mobil untuk Mei.



Mei menarik napasnya dalam\-dalam. menghilangkan rasa gugupnya. Ia melangkahkan kakinya turun, dan bergegas menuju ke teksi. Sebelum ia naik, Mei menoleh ke belakang. Menatap Changmin yang tidak berhenti memandangnya.

__ADS_1


__ADS_2