
Sampai di rumah mewah yang nampak sangat sunyi. Hanya suara para lalu lalang pelayan yang lewat membersihkan rumah itu.
Ya, rumah mewah itu adalah rumah Changmin, yang baru saja beli, dan tepatnya rumah itu tak jauh dengan rumah Lian yin. Mungkin bersebelahan tapi rumah Lian yin yang terlalu luas, bahkan halamannya bisa untuk 5 rumah megah lagi. Membuat jarak dengan rumah Lian yin lumayan jauh kalau jalan kaki.
Lian yin membawa Yiwen pergi ke rumahnya. Dia tidak perduli dengan para tamu yang ada. karena sudah berniat untuk membatalkan rencana pernikahan itu. Saat dia menghadapi kakaknya sendiri. Seakan dia tak bisa berbicara apa-apa, jika bersama Yiwen kita punya alasan untuk bersama.
"Kalian turun!!" ucap Changmin. Tatapan matanya menatap sinis ke arah Mei yang dari tadi memeluk Jack, dia mencoba menompang tubuh Jack.
Mei yang menyadarinya membalas sekilas tatapan Changmin. "Maaf!!" ucapnya hanya satu kata, dan melangkahkan kakinya pergi masuk ke dalam rumah yang sudah di bukakan oleh para pelayan.
"Masuklah!!" ucap Lay kasar.
"Iya!!"
"Kak... kakak aku ikut!!" teriak seorang wanita dengan suara khas kecil miliknya.
Changmin yang masih berhenti tepat di depan pintu seketika menoleh ke belakang. Dia menyipitkan matanya melihat gadis kecil berlari mendekatinya.
Hah..
Hah...
Tangan gadis itu memegang pundaknya, sembari menunduk mencoba mengatur napasnya. "Maaf!! Kamu bawa ke mana kakak aku," ucap gadis itu tanpa sadar laki-kaki di depannya sudah menggeram kesal.
"Siapa kamu?" tanya Changmin jutek.
"Aku Amerta!!" jawabnya, sembari berdiri tegap menatap wajahnya yang tak asing di depannya, dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri mengamati wajah tampan itu.
"Wahh... Kita ketemu lagi," ucap Amerta tersenyum senang. Tetapi laki-laki di depannya nampak sangat datar dan dingin.
"Masuk! Kalau kamu mau cari kakak kamu!!" ucap chamgmin, menepis tangan Amerta di pundaknya dan membalikkan badannya melangkahkan kakinya pergi.
"Eh... dia mau kemana? Padahal aku hanya menyapanya. Em.. apa aku salah? Ahh... Tauk lah, dasar laki-laki aneh.. Umpat kesal Amerta lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Langkahnya terhenti saat melihat wajah Jack di depannya bahkan duduk tepat di samping kakaknya. Dia menggeram kesal, mengepalkan tangannya berjalan mendekati Jack, mendorng tubuhnya. "Eh.. Laki-laki brengs*k. Apa yang sudah kamu lakukan pada wanita terlalu kurang ajar." ucap Amerta penuh kebencian dan kekesalan.
"Amerta apa yang kamu lakukan," Mei kendiring tubuh adiknya menjaub dari Jack. Wanita itu memeluk tubuh Jack, membaut kaki-laki dalam dekapannya semakin kagum.
"Tidak bileh ada orang yang menyakiti Jack. Meskipun kamu dan kalian semuanya," ucap Mei menunjuk ke arah adiknya dan ke arah semua orang yang ada di dalam rumah.
"Makasih!! Tapi aku memang salah, oantas mendapatkan perlakukan seperti utu."
Mei memegang ke dua pipi Jack. Menatap matanya dalam. "Manusia tak luput dari salah. Aku akan selalu memaafkan semua kasalahan kamu. asal kamu mau berbuah jauh lebih baik lagi!!"
"Kalian bicara saja berdua. Kita ada acara, dan ingat jangan keluar dari sini!!" ucap Lay, yang merasa sangat menganggu melihat adegan mesra seperti itu. Dan Lyli berjalan mengikuti langkah kaki Lay pergi.
__ADS_1
"Tunggu!!" ucap Changmin, menatap sekilas ke arah Mei dan Jack, lalu berlari pergi meninggalkan mereka.
"Baiklah!! Sekarang biarkan aku yang jaga kalian. Aku gak mau orang jahat kabur dari sini sebelum mendapatkan pengadilan nantinya." ucap Amerta, melipat ke dua tangannya di atas dadanya, dia duduk bersandar di sofa dengan kaki duduk menyilang.
"Bentar!! Aku baru sadar, bukanya tadi Lian yin? Dia masih hidup?" tanya Jack yang mulai teringat saat Lian yin memeluk tubuh Yiwen tadi.
"Sepertinya dia memamg masih hidup, dan mereka yang nenyelamatnyanya." Mei mengusap punggung Jack dari samping.
"Kenapa aku gak sadar kalau itu Lian yin. Pantas saja dia begitu dekat dengannya. Tatapan matanya ke Yiwen sangat menggoda. " gumamnya beranjak berdiri. "Sekarang di kana aku bisa bertemu dengannya?"
"Kenapa kamu bertemu dengannya. Apa kamu mau cari masalah lagi," ucap Mei mengernyitkan matanya.
"Jangan cari masalah lagi, atau kamu gak ingin mati sia-sia?" saut Amerta.
"Tidak tenang saja, aku hanya ingin berbicara dengannya. Hanya berbicara satu dua kalimat saja. Aku gak ingin jika mereka salah paham dengan anak yang ada dalam kandungan Yiwen."
"Anak?" mata Mei melebarkan matanya, mendorong tubuh Jack hingga bersandar di sofa.
"Maksud kamu apa?" tanyanya.
"Itu bukan anak aku!!"
"Terus anak siapa?"
"Lian yin!!" ucapnya, sembari mendundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Jack.
"Aku lega, di dalam kandungannya bukan anak kamu. Jika anak kamu aku gak bisa bayangkan lagi. nangis sedih, atau patah hati, entah apa yang akan terjadi selanjutnya padaku,"
Jack menarik kepala Mei, menempelkan kepalanya. Sembari tangan melingkar di belakang punggungnya. "Jangan bahas itu lagi.. Aku ingin kita bahagia bersama. Maafkan aku telah membuat kamu sakit hati.."
"Iya aku kagum dengan cinta kakak ku. Kamu tahu. Kakak aku mampu melewati rintangan berduri, nahan sakitnya duri yang kamu tusukkan padanya berkali-kali. Bahkan dia mampu berjalan tanpa alas kaki yang melindunginya. Apa kamu tahu sakitnya?" ucap Amerta sinis.
"Iya aku tahu. Maafkan aku? Tapi sekarang apa kamu mau kembali lagi denganku. Aku akan berusaha jadi laki-laki yang baik lagi. Dan melupakan semua dendam yang ada?" gumam Jack, memegang ke dua tangan Mei.
Mei menarik tangannya, memalingkan pandangannya berlawanan arah. "Makasih!! Tapi.. Aku!!" Mei menghela napas, dengan kepala tertunduk lesu.
"Kamu gak mau?" tanya Jack yang sudah merasa putus asa.
Melihat wajah Jack yang terlihat sangat cemas, dia menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. "Gak mau nolak!!" ucap Mei, memeluk tubuh Jack.
"Eh.. Bentar.. Kamu bis atahu kebrradaanku dari mana?" tanya Jack melepaskan pelukan Mei.
"Emm.. aku mengikuti kamu dari awal." ucap Mei.
__ADS_1
"Iya, sampai beberapa minggu tinggal di mobil. Dan cari kamar mandi susah. Harus pe4gi ke pemandian umum tahu gak. Dan itu pengalaman pertama aku." saut Amerta gak suka.
Jack menautkan ke dua alisnya. "Jadi kamu juga mengikutiku sampai ke vila?"
"Iya... Udah tau nanya!!" sambung Amerta sinis.
"Maafkan aku!! Aku gak tahu. Kalau aku tahu, aku gak mungkin biarkan kamu tidur di mobil." Jack mengusap lembut rambut Mei.
"Sekarang kamu tahu gak di aman Lian yin tinggal. Apa dekat dari ruamh ini. Aku ingin bertemu denganya," gumam Jack.
"Iya aku antarkan... Tadi aku melihat pesta meriah di samping rumah ini. Banyak tamu berdatangan di sana. Termasuk mafia paling mematikan di dunia!!"
Jack menatap Amerta bingung, "Maksud kamu?"
"Apa Mr X itu ada di sana?"
"Iya!!" jawabnya jutek.
--------
"Yiwen!! Sekarang kamu mandi," Lian yin menurunkan tubuh Yiwen di kamarnya. "Aku siapkan gaun untuk kamu," kata Lian yin, mendorong pelan tubuh Yiwen masuk ke dalam kamar mandi.
"Tapi.."
"Udah masuk , mandilah!!" Lian yin segera menutup pintunya, membiarkan Yiwen membasuh tubuhnya yang masih lusuh dan kotor.
Lian yin segera mengambil kotak obat dan menyuruh beberapa pelayan untuk mengambil gaun paling bagus untuk Yiwen. Hari ini dia ingin istrinya itu terlihat sangat cantik, melebihi orang yang akan menikah dengannya.
Aku berharap bisa membatalkan pernikahanku dengan Reysa. Aku gak akan pernah bisa bahagia jika menikah dengan orang yang tak pernah aku cintai sama sekali.
----------
Yiwen segera mandi kilat, dan berdiri sebentar di depan wastafel. menatap dirinya sendiri di depan kaca, melihat tangannya yang masih memar dan beberapa luka gores di wajah dan sekujur tubuhnya.
Kenapa rumah ini sangat ramai? Apa sedang ada pesta? Sepertinya pesta pernikahan, tapi siapa yang menikah?
Banyak pertanyaan dalam pikiran Yiwen, namun dia tak perdulikan itu. Dia hanya mengira jika yang menikah orang lain.
"Syang, kamu keluar ya. Aku udah siapkan semuanya," Tak lama Yiwen membuka pintu kamarnya, dia tersenyum tipis dengan balutan handuk yang menutupi tubuhnya.
"Kamu duduk, ku akan obati luka kamu," ucap Lian yin, memegang tangan Yiwen, menuntunnya duduk di ranjang. Lian yin, memegang tangan Yiwen yang terlukan, Tanganya segera mengambil obat dan mengoleskan pada tangan Yiwen yang terluka. Selesai mengobati, dia mengecup lembut luka yang sudah di balut dengan plaster.
"Maafkan aku!!" ucap Lian yin, mendongak menatap ke dua mata Yiwen.
"Aku gak marah denganmu, harusnya aku yang minta maaf!!" ucap Yiwen, Di balas dengan sentuhan lembut dari tangan Lian yin mengusap rambut panjangnya.
__ADS_1
"Aku syang kamu," ucap Lian yin, mengecup lembut kening Yiwen.