Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Amerta


__ADS_3

Amerta Pov


Ternyata dia tidak perduli sama sekali denganku. Lihatlah kamu Amerta. Kamu sendiri yang berjuang. Ternyata orang yang kamu kagumi tega meninggalkan kamu sendiri. Gerutu Amerta, dengan tangan kanan memegang kakinya yang sakit akibat jatuh tadi, lututnya tergores hingga mengeluarkan arah segar.


Hah.... aku capek!! Apa dia tidak punya pikiran untuk kembali mencariku. Gumamnya.


"Amerta!!" teriak Changmin dari dalam mobilnya, melihat Amerta berjalan dengan salah satu kakinya di seret.


Gadis itu menoleh cepat, melihat mobil Changmin di sampingnya, wajah yang semula cemberut kini berubah sumringah. Wajah cantiknya terpancar kebahagiaan tersendiri. Ia menghentikan langkahnya dan berharap jika Changmin akan menggendongnya lagi masuk ke dalam mobilnya.


Berarti dia perduli denganku!! Gumam Amerta tak hentinya terus tersenyum senang.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu akan menjadi wanita yang murahan berjalan cari laki-laki." wajah yang semula senang, berubah seketika, raut wajahnya mulai memerah, dengan gigi menggertak penuh amarah.


Kenapa sia sangat keras kepala. Dasar bodoh!! Kamu uang membiarkan aku jalan kaki.. Apa dia gak mikir.


Amerta yang kesal berjalan dengan langkah sangat pelan, tak menghiraukan ucapan Changmin, ia bertingkah secuek mungkin agar dia sadar pengorbanannya.


"Hei.. bodoh!! Cepat masuk!!"


"Gak mau!!" jawab Amerta tegas.


"Oo.. Jadi kamu mau cari laki-laki lagi?"


Amerta menghentikan langkahnya, menatap wajah tampan Changmin yang masih duduk di kursi mobilnya.


"Eh... Asal kamu tahu, kak Changmin. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu boleh hina aku sesukamu. Tapi hargai aku," decak kesal Amerta.


"Baiklah!! Tapi apa kamu yakin gak naik?" tanya Changmin memastikan.


Aku anik mobilnya gak? Perjalanan masih jauh, dan sudah malam lagi. Kalu aku jalan kaki mau sampai kapan aku di sini.


Amerta menarik napasnya dalam-dalam.


"Terpaksa!!" umpatnya, yang langsung beranjak membuka pintu mobil Changmin, bergegas masuk ke dalam mobilnya.


"Ternyata kamu mau juga," goda Changmin, mulai melaju dengan kecepatan sedang.


"Jangan banyak bicara. Aku lagi tidak mau di ajak bicara sekarang!!"


"Kamu yakin?" tanya Changmin, melirik ke arah Amerta, yang masih cemberut dengan ke dua tangan bersendekap memalingkan wajahnya ke kiri.


"Apa kamu yakin jika kamu tidak mau melihatku?" tanya Changmin, memegang dagu Amerta menariknya tepat ke arahnya.


"Kenapa lagi? Kamu fokus saja mengemudi," lanjutnya.


"Kamu gak mau nelihat aku beneran?" Changmin tak hentinya terus bertanya.


"Gak tau!!" Amerta menepis tangan tangan Changmin, dan memalingkan pandangannya lagi.


Dasar gak peka sama sekali. Aku itu mau kamu temani aku tahu, kenapa kamu malah seperti ini. Dasar batu!! Umpatnya dalam hati.


"Oke, kalau kamu gak mau bicara lagi, aku akan tambah kecepatan lagi. Dan membuat kamu pingsan sekalian. Dari pada di mobil sunyi gak ada yang bicara,"


Apa dia lagi kerasukan? Kenapa tiba-iba bicara seperti ini. Tadi saja dia tidak ajak aku bicara sama sekali. Menoleh menatapku saja tidak mau. Dasar aneh!! Gumam Amerta menatap aneh pada Changmin.


"Aku tambah kecepatan sekarang, ya?" goda Changmin, engan nada datarnya. Dia tidak mau di bilang akrab dengannya, ya bisa di bilang jika Changmin terlalu gengsi jika dekat dengannya. Tapi rasa peduli terbesit di benaknya, dia melirik ke lutut Amerta yang tetbuka, terlihat jelas goresan luka di lututnya.


"Jangan pelan saja!!" ucap Amerta lirih.

__ADS_1


"Apa aku gak dengar?" Changmin mendekatkan telinganya ke arah Amerta.


"Jangan dekat-dekat, bukanya kamu alergi dekat denganku!!" Amerta mendorong kepala Changmin menjauh darinya.


"Oya, tadi dapat berapa dari lima laki-laki di kamar mandi tadi," ucap Changmin, yang ingin melihat wajah Amerta tersenyum kembali.


"Kenapa kamu diam?"


"Gak napa-napa!!"


"Kamu marah?"


"Sangat!!"


"Baiklah!! Kalau begitu, aku diam!!" ucap Changmin, fokus mengemudi mobilnya, sembari melirik ke samping.


Benae-benar gak peka dia, apa gak ada niat sama sekali minta maaf.


"Maaf!!" ucap Changmin, membuat Amerta menoleh cepat ke arahnya, melebarkan ke dua matanya.


"Apa aku gak salah dengar?" tanyanya.


"Dengar apa?"


"Tadi kamu bicara apa?"


"Emm... Aku gak bicara apa-apa, lupakan saja!!" ucap Changmin, memalingkan pandangannya malu, dia menyandarkan sikunya di samping kaca mobil, mengigit jari telunjuknya menahan rasa malu, entah kenapa tadi tiba-iba ingin meminta maaf padanya. Padahal dia merasa tidak salah sama sekali dengannya.


Ih... nyebelin, kenapa malah dia cuek lagi. Dia serius gak sih minta maaf.. Nyebelin! Nyebelin! nyebelin! Amerta menghentakkan kakinya dengan ke dua tangan mengepal kesal.


"Kamu kenapa?" tanya Changmin, melirik sekilas ke arah Amerta.


"Kesal?"


"Karena kamu gak peka?"


"Maksud kamu?"


Opss.. Apa yang aku katakan tadi, ****! ****! kenapa tadi aku bicara seperti itu. Percuma saja aku bicara memang dia gak bakalan bisa 9eka dengan perasaanku.


"Lupakan saja!!" ucap Amerta, mengibaskan tangannya dan memalingkan wajahnya.


Di perjalan mereka saling diam, suasana mobil yang semula ramai kecuekan mereka. Kini berubah sunyi sepi, hanya suara mesin mobil yang terdengar sampai ke dalam. Dan Changmin masih fokus mengemudi mobilnya tanpa menatap ke arahnya sama sekali.


Changmin segera berhenti tepat di sebuah hotel mewah, dia beranjak turun. "Cepat turun?"


Mata Amerta terbelalak seketika melihat hotel di depannya.


Apa dia sudah gila? Dia mau ajak aku tidur berdua di sini. Ah... Aku gak bisa bayangin itu semuanya. Jangan sampai dia menyentuhku.


"Kamu kenapa masih di dalam?" Changmin membukakan pintu mobil untuk Amerta.


"Emm.. Aku.." mata Amerta masih terfokus pada hotel mewah di depannya


"Jangan pikir aku ajak kamu di sini ingin tidur denganmu. Aku hanya ingin istirahat. Dan besok kita pergi car Grace lagi." ucap Changmin menarik kasar tangan Amerta dari dalam mobilnya.


"Aw-- "


"Pelan-pelan bisa gak, sih!!" umpatnya.

__ADS_1


"Cepat turun, aku gak punya banyak waktu lagi!!" umpatnya.


"Okee!!"


"Oke. Kalau begitu sekarang kamu cepat pergi dari sini!!"


Amerta menautkan ke dua alisnya. "Kenapa kamu mengusirku?" tanya Amerta.


"Karena kamu bikin aku kesal? Dan kamu membaur aku merasa tidak nyaman lagic jelasnya. "Aku sudah baik-baik ajak kamu iatirahat, kamu malah pikiran sampai kemana-mana?"


Changmin bergegas masuk ke dalam hotel, dia melangkahkan kakinya semakin cepat tanpa menunggu Amerta yang masih bengong dengan apa yang di katakan Changmin.


"Dia aneh!!" pekik Amerta, lalu berlari mengikuti langkah Changmin masuk ke dalam hotel.


"Kamu ikut?" tanya Changmin tanpa menoleh ke belakang, ia sudah menyadari jika Amerta berjalan di belakangnya.


"Memangnya gak boleh?" tanya Amerta jutek.


"Terserah kamu!! Tapi ingat jangan berisik dan banyak tanya, aku gak suka!!"


"Siap boss!!" jawabnya lantang.


Changmin melangkah ke resepsionis hotel, ia memesan dua kamar, namun hal mengejutkan terdengar membuat Changmin melebarkan matanya dan terkesan gak suka.


"Ada apa?" tanya Amerta, berdiri di samping Changmin.


"Hanya ada satu kamar!!"


"Apa?" ucap Amerta lantang membuat semua orang di sana menatap ke arahh bingung.


"Apa aku gak salah dengar? Apa gak ada lagi kamar gitu, aku gak mau satu kamar dengan kamu!!"


"Apalagi aku, sangat gak mau dan gak sudi!!" decak kesal Changmin.


"Kita cari hotel yang lainya?"


"Apa kamu mau cari hotel lainya?"


"Iya!!" jawab Amerta tegas.


Changmin menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum jam menunjukan pukul 2 malam.


"Ini sudah hampir pagi? Apa kamu yakin gak mau istirahat?"


Hah.. Lebih baik aku terima saja, lagian mata aku sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.


"Baiklah!!"


"Baik apa?"


"Gimama tuan? Apa kalian bersedia?" tanya resepsionis itu.


"Iya, saya ambil!!" ucap kompak Changmin dan Amerta.


"Baiklah! Saya ambilkan kuncinya." resepsionis itu segera mengambil kuncinya.


"Kamu yakin?" tanya Changmin.


"Gak ada pilihan lain!!" gumam Amerta.

__ADS_1


"Ini tuan!!" Changmin segera mengambil kunci kamarnya, dan beranjak pergi di nomor hotel yang sudah di berikan padanya.


"Tunggu!!" teriak Amerta berlari mengikuti Changmin yang berjalan sudah jauh darinya.


__ADS_2