
Hingga 3 jam berlalu Chengyi berjalan mengikuti Yiwen. Dengan langkah serentak mereka terus berbincang tanpa rasa canggung. Bahkan mereka saling bercanda, tertawa bersama. Seakan permusuhan tak ada lagi dalam hati Yiwen. Seakan kini ia mulai luluh terhadap setiap perhatian Chengyi padanya. Ia mulai melupakan soal perjodohan itu. Entah apa kata ayahnya ia setuju saja jika itu terbaik baginya.
"Gimana perasaanmu dengan Feng yin?" tanya Chengyi menatap ke arah Yiwen di sampingnya.
"Entahlah.. aku tidak tau sebenarnya di hatiku ada orang lain namun entah apa perasaanku akan terus begini apa akan menjalin cinta yang baru" jawab Yiwen menatap bintang di atas yang terlihat sangat cerah di temani pemandangan bulan yang indah.
Terdengar bunyi ponsel Chengyi membuat pembicaraan mereka terhenti. Lelaki itu berjalan agak menjauh dari Yiwen. Ia segera mengambil ponsel di saku celananya.
Tanpa melihat telfon dari siapa ia langsung menerimanya.
"Ada apa?" ucap Chengyi. Wajah yang semula ceria bisa bercanda tertawa bersama dengan Yiwen berubah dingin dan nampak sangat serius.
"Kamu di mana sekarang. Cepat datang Lian yin sudah berani menyerang perusahaan milik kita. Ternyata dia mencari taktik kelemahan kita. saat kita mulai lengah mereka beraksi" ucap seseorang yang tak Yiwen kenal dari balik telfon itu.
Meskipun terdengar samar-samar Yiwen bisa mendengarnya namun teropotong-potong tak jelas.
"Sialan!" Chengyi terlihat sangat marah. Mendengar ucapan seorang itu kini tatapannya mulai menajam dengan nafas bedengus kesal.
"Baiklah bentar lagi aku akan menemuimu" lanjut Chengyi segera menutup telfonya dan memasukan lagi ke dalam saku celananya.
Perlahan ia mendekati Yiwen mencoba tersenyum lembut di hadapanya. Ia menyentuh ke dua bahu milik yiwen.
"Sekarang kamu cepat masuk ke dalam rumah. Di luar sangat berbahaya. Dan lagian udara di luar juga tidak baik untuk kesehatan" Ucap luhan dengan nada lembutnya ia mengusap berkali-kali poni Yiwen hingga membuatnya berantakan.
"Ka-kamu mau kamana?" tanya Yiwen agak menunduk dengan penuh rasa ragu dan gugup melayangkan pertanyaan pada luhan di depannya.
Sebenarnya ia sangat penasaran apa yang di bicarakan Chengyi tadi dan dengan siapa ia berbicara. Melihat wajahnya yang sangat serius tadi seakan ia tahu ada masalah penting yang terjadi padanya.
terpikir dalam benaknya ingin membantu Chengyi. Namun apalah daya dia tak bisa sepintar Chengyi mungkin ia hanya menyusahkan Chengyi nantinya.
__ADS_1
"Aku ada urusan sebentar" pungkas Chengyi dengan tangan kanan memegang bahu Yiwen. Seraya ia seperti adik kecil luhan.
"Baiklah" Yiwen beranjak pergi masuk ke dalam rumah. Ia mencoba menoleh ke belakang mencoba melihat Chengyi namun entah di mana luhan tiba-tiba menghilang cepat seperti kilat tanpa sepengetahuannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Yiwen yang masih memegang gagang pintu rumah itu.
Meski sebenarnya Yiwen sangat penasaran. Namun hari sudah malam. Ia tidak mau ambil resiko lagi. Wanita itu bergegas masuk ke dalam rumah berjalan ringan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Tubuhnya yang terasa sangat lelah. Habis olah raga sedikit memukuli para lelaki hidung belang yang mengganggunya tadi membuat ia harus mengeluarkan tenaga ekstra. "Hari ini sangat melelahkan" gumam Yiwen menarik tangannya ke atas merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Ia membuka pintu arah ke balkon berjalan perlahan ingin melihat pemandangan luar sejenak dari atas balkon sebelum tidur. Namun apa yang ia lihat membuat matanya terbelalak seketika. Chengyi berjalan dengan langkah sangat cepat bersama seorang wanita cantik berpakaian seksi dengan rok pendek berwarna hitam berjalan masuk menuju ke rumahnya.
"Siapa wanita itu?" gumam Yiwen terus menatap detail wajah wanita itu dari atas.
Tiba-tiba luhan merasa ada yang melihat ia mendongakkan kepalanya ke atas menatap ke arah balkon kamar Yiwen. Namun ia kalah cepat dengan Yiwen. dengan sigap Yiwen masuk ke dalam kamar dan menutup pintu ke arah balkon kamarnya. Ia menarik selambu untuk menutupi keca yang menjulang tinggi di kamarnya.
Di pikirannya masih terbayang siapa wanita itu. Ia pernah melihatnya namun lupa di mana dan kapan ia pernah melihatnya.
Kali ini Yiwen memutar otaknya untuk bekerja keras mengingat ingat siapa wanita itu. "Ayo Yiwen pikirkan siapa dia" gumamnya terus memukul bekali-kali kepalanya agar cepat mengingatnya.
"Haa... aku tahu sekarang bukannya dia wanita yang kegenitan bersama Feng yin di danau. Ya, dia Yin yi kan?" Ia molonjak seketika dari tidurnya.
"Katanya dia ada masalah dengan Yhing yhi tapi kenapa dia sekarang di sini. Siapa sebanarnya dia?" gumam Yiwen terdiam sejenak berpikir serius apa sebenarnya yang terjadi. Dan kenapa kejadian itu berulang dna membuatnya bingung.
Kemunculan wanita itu tiba-tiba di danau dan kini ia berada di sini membuat Yiwen kali ini harus berpikir lebih keras, memutar otaknya untuk bekerja mencari tahu siapa dia sebenarnya dan apa motifnya pura-pura mencoba bunuh diri di danau.
Pikirannya terhenti seketika. Ia mendengar ada hentakan kaki mendekat ke arah kamarnya. Dengan sigap Yiwen bergegas bersembunyi di balik selimut tebal menutupi sekujur tubuhnya untuk pura-pura tertidur.
"Yiwen kamu sudah tidur" ucap Chengyi yang perlahan membuka pintu kamarnya. Ia terlalu bodoh lupa mengunci pintu kamarnya tadi.
__ADS_1
Chengyi ingin memastikan jika Yiwen sudah tidur. Karena tadi ia melihat sekilas Yiwen berada di balkon. Jika memang benar Yiwen sudah tidur berarti tadi hanyalah hayalannya saja. Melihat Yiwen terbalut selimut tak menjawab ia berpikir jika Yiwen sudah tertidur lelap.
Yiwen hanya diam tak menjawab meskipun ia belum tidur ia hanya diam dan pura-pura tak mendengar.
Mendengar suara pintu tertutup membuat Yiwen akhirnya bisa bernapas lega. "Syukurlah dia pergi juga" gumam Yiwen mengusap dadanya berkali-kali.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 24.00 Yiwen masih berdiam diri di ranjangnya dengan mata terpejam namun ia masih belum juga bisa tidur. Dia masih terbayang tentang Yin yi tadi.
Jarum jam terus berputar cepat hingga satu jam setengah berlalu. Kini jarum jam sudah menunjukan pukul 01.30. Ia belum juga bisa tidur tapi kini tubuhnya ada yang aneh. Seolah ada orang yang bergerak dalam selimutnya.
Suasana gelap dalam kamar nya membuat ia bergidik ketakutan. Ia mencengkram erat selimut tebalnya menutup rapat wajahnya. Namun kini semakin aneh sebuah tangan berada di pinggangnya merengkuh erat dirinya.
"Tangan siapa?" gumam Yiwen memegang tangan kekar itu di balik selimut miliknya.
Tangan kekar itu seolah bergerak nakal ke tubuh miliknya. Sontak Yiwen menendangnya keras. Lalu segera menyalakan lampu di meja kecil sampingnya.
" Lian yin?" Mata nya seakan mau copot melihat Lian yin sudah tersungkur ke lantai dengan tangan memegang perutnya sembari meringis kesakitan.
"Apa kamu tidak bisa bersifat lembut" ucap Lian yin beranjak berdiri berbaring di ranjang Yiwen.
Entah dari mana lelaki itu bisa masuk dengan mudah di kamarnya. Padahal banyak penjaga di luar dan semua jendela sudah ia kunci rapat hanya pintu kamar yang belum Yiwen kunci.
"Gimana caranya kamu bisa masuk" tanya Yiwen beranjak duduk bersandar di ranjangnya.
"Gak usah pikirin gimana cara aku masuk. Yang penting aku sekarang mau temani kamu tidur" ucap Lian yin santainya membaringkan tubuhnya dengan kedua tangan di tekuk ke bawah kepalanya.
"Siapa yang mau di temani denganmu. Cepat pergi dari sini" Yiwen memukul Lian yin berkali-kali dengan bantal miliknya.
Lelaki itu beranjak duduk menutupi wajahnya dengan ke dua tangan ke depan melindungi dari pukulan bantal Yiwen yang bertubi-tubi tertuju padanya.
__ADS_1