
Yiwen yang baru saja menikmati air hangat, merendamkan matanya. "Siapa sih, nih orang? ganggu aja" gumam Yiwen, ia segera meraih ponselnya tepat di belakangnya. Dengan mata yang masih tak ingin terbuka ia menerima panggilan itu
"Siapa?" tanya Yiwen.
"Kamu cepat datang di sebuah cafe Joya, tapi datang sendiri jangan bersama Lian yin. Dan ingat rahasiakan ini semua dari lian yin jika kamu masih ingin ayah kamu hidup. Dan ingat jangan bawa teman atau siapapun. Datanglah sendiri" ucap seseorang di balik telfon itu.
Yiwen langsung membelalakan matanya, sebuah ancaman itu membuatnya terjingkat dari dalam bathup. "Siapa dia, kenapa nomornya tidak di ketahui" gumam Yiwen dalam hatinya.
Ia mencoba mengecek siapa si penelpon itu dengan kecanggihan otak dan dan ilmu ITnya. Namun belum sempat ia melacaknya. Ia sepertinya sudah mengirimkan email padanya.
"Jangan pernah mencariku, kamu akan tahu sendiri aku siapa saat kamu menemuiku nanti"
Yiwen segera beranjak dari kamar Mandi. Di kamarnya tak ada Lian yin, namun ia tak perdulikan itu. Ini kesempatan baginya untuk pergi dengan cara sembunyi-sembunyi.
Yiwen segera mengambil kaos dan jaketnya di dalam lemari, jaket kulit hitam yang terlihat sangat pas dengan lekuk tubuhnya. Di padukan dengan celana kulit hitam yang snagat ketat. Bahkan betuk kakinya pun juga ikut terlihat jelas.
Ia menutup kepalanya dengan sebuah topi. Tiba-tiba ia terdiam. Ia mengingat topi itu adalah pemberian Feng yin. Entah kanapa ia jadi merindukan Feng yin sebagai sahabat yang pernah menghabiskan waktu bersama. Namun dia juga adalah mantannya. Meskipun perasaan itu hanya sementara. Tapi setidaknya dia sudah seperti kakaknya. Yang selalu menjaganya, merawatnya, bahkan bawelnya saat dirinya sakit, masih terngiang di otaknya.
"Apa kabarnya? Apa aku begitu jahat dengannya, sampai-sampai Feng yin tak pernah menghubunginya lagi. Bahkan dia benar-benar sudah lupa sekarang dengannya. Mau menghubungi lebih dulu tapi ia takut, takut jika Lian yin tahu, dan marah. Gara-gara salah paham masalah sepele seperti itu.
Yiwen menghela napasnya, ia segera memakai topi itu dan merapikan rambutnya sejenak di depan kaca rias. "Masker sudah, sepertinya aku harus membawa penyadap suara, dan apa lagi ya yang harus aku bawah" Yiwen nampak diam lagi, mengusap dagunya. Dengan pandangan menatap seisi lemarinya.
Ada hal yang ia lupakan tapi itu apa, ia tak mengingatnya sama sekali, "Ya sudahlah, lupain saja. Lebih baik sekarang aku harus segera pergi, sebelum Lian yin datang ke kamarnya nanti.
Dengan langkah sangat hati-hati, ia membuka pintu kamarnya, lalu menundukkan badanya, menatap ke kanan dan ke kiri, tak ada orang ia segera melangkahkan kakinya keluar, lalu menutupnya kembali.
"Kemana Lian yin dari tadi aku tidak melihatnya" gumam Yiwen.
__ADS_1
Yiwen berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Suasana nampak sangat sepi hanya ada beberapa pelayan yang berkali-kali melewatinya. kali ini ia harus jalan kaki melewati hutan. "Tapi gimana kalau nanti ada seseorang yang menangkapku. Dan rumah ini halamanya terlalu luas, kalau aku jalan kaki, ah, gak ke bayang cepeknya minta ampun deh" gerutu Yiwen tah hentinya.
Blukkk...
Pelukan tiba-tiba dari belakang membaut Yiwen gemetar seketika.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Lian yin, mengecup telinga Yiwen.
Gimana nih, Lian yin pasti marah denganku. Gumamnya dalam hati.
"Emmmm.."
"Kamu mau kemana?" tanya Lian yin ke dua kalinya tepat di telingannya. Kecupan lembut di telinga membuat ia kegelian.
"Lian yin!" Ucapnya dengan nada terkejut. Ia tak menyangka, rencanya berjalan tak sesuai rencana. Untung saja dia tak memberiku waktu, tapi dia bilang secepatnya. Aku harus gimana sekarang, pa yang akan aku lakukan? Apa aku harus bertanya pada lian yin! Bulang jujur padanya!" gumam Yiwen, yang masih terdiam megang tangan Lian yin di pinggangnya.
"Eh.. aku tadi.. mencarimu!" ucap Yiwen mencoba tersenyum lebar ke arah Lian yin.
"Sudah kengen ya" Ungkap lelaki itu menyandarkan dagunya di punggungnya.
"He..he." Yiwen hanya tertawa kecil, seraya ia menyembunyikan masalah itu pada Lian yin. Tapi bukan Lian yin namanya jika ia tak tahu semua masalah yang ada di rumahnya itu.
Lian yin menarik bahu Yiwen menatapnya, "Jujurlah sebenarnya ada apa?" tanya lian yin. Menundukkan badannya sedikit, agar nampak sejajar dengan Yiwen yang tingginya sepunggung Lian yin.
Yiwen menunduk, ia bingung mau cerita atau tidak dengan Lian yin, dia sudah mengancamnya tidak boleh bawa orang. Meskipun teman , saudara atau Lainya.
"Yiwen jawablah" Lian yin menggoyang-goyang bahu Yiwen, yang masih diam membisu di depannya dari tadi.
__ADS_1
"Baiklah, aku mau pergi ke suatu tempat, di sebuah Cafe Jora. Di sana mereka bilang aku suruh datang ke sana sendiri, dan tidak boleh membawamu" jelas Yiwen.
Lian yin terdiam, ternyata benar ada seseorang yang menganggunya. Dari kamarin ada yang selaku mengincarmu, namun saat mereka tahu kamu masuk dalam rumah ini. Seorang mata-mata itu tidak akan bisa masuk di sini." ucap Lian yin.
"Aku akan ikut denganmu sekarang, tetapi sepetinya ini akan jadi hal sulit. Kamu datanglah sendiri. Aku akan menngintai dari belakang. Dan tenanglah jangan terlalu khawati. Kita akan selalu bersama" Gumam Lin yin menyandarkan kepala Yiwen di dalam dadanya.
"Baik kalau gitu, kita berangkat sendiri-sendiri. Tapi sepertinya aku harus antar kamu dulu sampai ke gerbang rumah ini. Dan setelah keluar kamu sendiri saja, dia mengintai kita dari jauh" ucap Lian yin.
"Baiklah, ku akan memangcing mereka untuk menhikutiku, dan kamu berangkat di bilakang saja. Tapi jangan bawa Ley dan Lie Wei, ini masalah ku" gumam Yiwen.
"Baik, aku Kan suruh pelayan untuk bdrsamamu sampai depan gerbang? Tenang di sini ada cctv tersebunyi , jadi aku bisa mengintaimu" gumam Lian yin.
"Baiklah" Lian yin beranjak pergi, ia memanggil seorang pelayan untuk mengikuti yiwen sampai di depan gerbang. Perjalanan membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di gerbang.
Yiwen berjalan keluar sendiri, memcoba mencari taxi di bahu jalan. Belum sempat menyuruh taxi itu berhenti, sepertinya dia sudah berhenti sendiri. Tanpa banyak tanya, ia segera masuk ke dalam taxi tanpa curiga sedikitpun.
Merasa sudah lega, ia duduk di kursi belakang dengan santainya. "Ahh, capek juga ternyata aku harus jalan kaki sangat jauh" gumamnya.
Yiwen mulai diam, sopir taxi itu hanya diam tanpa bertanya dia pergi kemana. Tapi ia tak perdulikan itu, mungkin sopir taxi itu sakit gigi, gak mau bicara.
"Pak ke Cafe Joya " ucap Yiwen, ia memejamkan matanya sejenak. Sopir itu tiba-tiba membuka Ac mobil di belakangnya. "Ia tahu saja kalau aku kepanasan" gumamnya.
Huaammm..
Ngantuk banget sih, kenapa mataku ingin sekali tidur, gumam Yiwen.
Tak butuh waktu lama ia tertidur pulas di kursi belakang. Sopir taxi itu bukannya mengantar ke Cafe Joya tapi ia berbalik arah ke suatu tempat.
__ADS_1
Sopir taxi itu sengaja menaruh obat bius di dalam ac nya, ia tidak akan pernah sadar sampai 2 hari. "Ini kesempatan untuk bos aku memilikinya" gumam sopir itu.