
Di ruangan makan, Wajah Yin menatap tajam ke arah Yiwen, dia ingin selalu membuat wanita itu benar-benar tunduk padanya. Tapi apa yang dia lakukan sudah melampaui batas, padahal selama ini dia belum pernah berhubungan dengan wanita lain. Tapi saat mendengar Jack bermain dengan Yiwrn, membuat Yin marah dan terpaksa meluapkan hasratnya pada wanita lain.
"Oya, gimana kalau kita pergi ke taman belakang, soal kerja sama tuan Jack, yang terhormat!!" ucap Yhing yhi, menatap penuh kelicikan pada Jack.
"Iya, kita bisa bicara di luar!!" ucap Changmin.
"Gak usah!! Kenapa kita tidak bicara di sini saja?" tanya Jack.
"Banyak yang harus kita bicarakan berdua," gumam Yhing yhi.
"Oke.."
"Changmin biarkan aku bersama dengan Jack sendiri. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya"
"Tapi.."
"Biarkan saja!! Kamu duduklah!!" saut Yin.
"Baik!!" mendengar perintah Yin, dia langsung duduk kembali. Dan Jack beranjak berdiri berjalan keluar dengan Yhing yhi, tanpa menunggu Yiwen yang masih di dalam kamar membasuh tubuhnya.
Yin beranjak berduri, dia melangkahkan kakinya menemui Yiqen, perlahan Yin membuka pintu kamar Yiwen.
Tok!! Tok!!
"Masuk saja, syang!! Gak di kunci kok!!" ucap Yiwen.
Yin membuka pintunya, dan segera masuk menutup kembali pintunya. Dia menatap tubuh Yiwen yang terguyur air shower.
"Syang!! Jangan lagi, ya. Aku capek. Lagian aku hamil. Jadi gak bisa banyak-banyak,"
"Sekali saja!!" ucap Yin.
Mendengar suara yang berbeda, Yiwen menoleh ke belakang. Melihat Yin yang sudah mulai membuka helaian benang yang menempel pada dirinya, memeluk erat tubuh Yiwen.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan!!" teriak Yiwen.
"Tenang saja aku tidak akan melakukan lagi apalagi bekas Jack, ku tidak suka. Aku hanya ingin menemani kamu mandi, Sekarang kita berendam bersama," ucap Yin, mengecup bibi Yiwen lembut.
Seperti baosanya, Yiwen langsung terbius, teringat dalam benaknya nama Yin yang terus kenaggil-panggil di otaknya.
"Lian Yin!! Lian yin!!"
ARGGG... Yiwen mendorong tubuh Yin, membuat tubuh kekar laki-laki itu terbentur ke tembok. Sedangkan Yiwen mencengkeram erat kepalanya.
"Siapa Lian yin!! Lian yin siapa? Kenapa menganggu pikieanku?" gumam Yiwen lirih.
"Apa dia mulai ingat? Jika memang dia sudah ingat lebih baik aku teruskan saja.
Yin memeluk tubuh Yiwrn, menyandarkan kepala Yiwen di dadanya. "Jangan seperti itu. Mungkin dia adalah orang yang paling kamu syang dulu." ucap Yin, mengusap punggung Yiwen, mencoba menenangkan hatinya.
"Makasih!!" ucap Yiwrn, perlahan mulai tenang dalam dekapan hangat tubuh Yin, dengan guyuran air shower yang masih membasahibtubuh mereka. Pikiran yang mengganggunya perlahan mulai pudar, tergantikan dengan kelembutan sentuhan tangan Yin.
__ADS_1
"Biarkan pikiran kamu tenang, agar kamu perlahan ingat masa laku kamu!!" ucap Yin, mengusap rambut Yiwen, lalu melepaskan pelukannya.
"Apa kamu tahu? Kenapa aku merasa sangat dekat denganmu. Bahkan kita seperti ini saja, aku tidak menolaknya. Berhubungan denganmu juga aku tidak bisa menolaknya,"
Seandainya kamu tahu, jika akulah Lian yin, apa kamu akan mengingatku.
Yin melepaskan topeng yang membalut wajahnya.
"Yin!! Apa yang kamu lakukan?" tanya Yiwen ketakutan melihat Yin membuka wajahnya. "Pasti itu sangat sakit, Yin hentikan!!" ucap cemas Yiwen.
"Tenang saja ini hanya topeng!!" ucap Yin, tersenyum lebar.
"Kenapa kamu pakai topeng?" tanya Yiwen penasaran.
"Karena aku hanya ingin dekat denganmu," ucap Yin, memegang ke dua bahu Yiwen.
"Ingin dekat denganku? Memangnya kamu siapa?" tanya Yiwen bingung.
Yin hanya diam, dia mengangkat tubuh Yiwen meletakkan di bathup yang sudah penuh dnegan air, Yin memeluk tubuh Yiwen dari belakang. "Apa kamu gak ingat? Jika kita pernah seperti ini?" tanya Yin, semakin mempererat pelukannya.
"Aku gak tahu!! Aku gak ingat," jawab Yiwen, memeluk sangat erat tubuh Yiwen, dengan tangan menyentuh nakal.
"Aw--"
"Jangan gila!!" umpat kesal Yiwen.
"Kenapa? Aku ini suami kamu, apa.kamu lupa. Ini aku Lian yin, orang yang paling kamu syangi. Aku mohon ingatlah,"
Yiwen melepaskan pelukan Yin, dia menoleh ke belakang melihat wajah Yin yang nampak sangat serius, dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak mengeryi!!" ucap Yiwen menggelengkan kepalanya. "Suami aku, Jack. Aku tidak kenal denganmu!!" ucap Yiwen mencoba berdiri, tetapi dengan sigap Yin menarik tangan Yiwen duduk kembali di depannya, dia menyandarkan kepalanya di dada Yiwen. "Jangan pergi lagi dariku, aku kembalilah. Jika kamu masih mengingatku. Aku janji akan terima anak ini!!"
"Jangan seperti ini. Aku tidak tahu maksud kamu. Bukanya kamu akan menikah dengan wanita tadi." ucap Ywien, mengangkat kepala Yin dari dadanya.
"Kamu sudah berhubungan dengannya tadi? Aku mendengar jelas kejadian itu." ucap Yiwen.
"Taoi aku yakin, jika kamu mengingatku." ucap Yin.
"Yiwen apa kamu di dalam?" tanya Jack mengetuk pintu kamar mandi.
Ssttt... Jangan bilang ada aku!!" ucap Yin lirih.
"Iya, bentar lagi aku keluar. Kamu pergi saja dulu!!" teriak Yiwen.
"Baiklah, aku tunggu kamu di luar!!" ucap Jack melangkahkan kakinya pergi.
"Mendengar langkah kaki Jack sudah menjauh, Yin memegang ke dua bau Yiwen.
Sekarang kita keluar, tapi ingat jangan bilang tentang identitasku pada suamimu. Sebelum aku bisa merebut kamu kembali. Kasih waktu aku 2 hari, untuk membuat suami kamu jatuh, dan aku akan kembali menikahimu" jelas Yin, meraih handuk di samoingnya, dia beranjak berdiri di mengikutinya. Yin membalut tubuh Yiwen dengan handuk.
"Kamu keluarlah dulu!!" ucap Yin, memegang kepala Yiwen menariknya semakin dekat, ia mencium lembut kening Ywien, seketika membuat wanita itu perlahan mulai terbayang kisah masa lalunya. Dia memejamkan matanya membiarkan pikirannya liar mengingat masa lalu itu.
__ADS_1
"Aku yakin kamu akan mengingatku, sebentar lagi. Cinta kuta tidak akan terpisah lagi, Yiwen!!" ucap Yin dalam hatinya.
Yiwen membuka matanya, mencoba menatap wajah tampan di depannya itu, "Aku pergi dulu!!" ucap Yiwen, mengusap wajah Yin lalu melangkahkan kakinya pergi.
"Lihat di luar, jangan sampai Jack melihat kita." jelas Yin.
"Baik!!" ucap Yiwen tersenyum tipis, "Jangan lupa pakai topeng kamu lagi!!" ucap Yiwen, membuka pintunya lalu keluar dari kamar mandi.
"Apa kamu sudah inagt Yiwen?" gumam Yin, tersenyum lebar.
----------
Sedangkan Jack kembali menemui Yhing yhi, di taman belakang. Sampai 10 menit berlalu mereka masih berbincang soal rencana kerja sama menyingkirkan Yiwen.
"Ingat!! Jangan sampai kamu biarkan Yiwen jatuh dalam pelukan yin, aku tidak mau jika istri kamu nanti menghodanya!!"
"Tenang saja!!"
"Dan aku akan menjaga semua rahasia kamu. Sekaligus melupakan dendam yang aku miliki. Jika kamu bawa Yiwen pergi dari sini!!"
"Maksud kamu apa?" saut Yiwen berjalan mendekati Jack.
"Oo. Di mana kamu tahu aku di sini?" tanya Yhing yhi takut.
"Changmin, dan Yin!!" jawab Yiwen menarik ke dua alisnya ke atas, yak lama Changmin dan Yin berjalan dan berhenti tepat di sampingnya.
"Aku mendengar apa yang kalian katakan." ucap Yin.
"Yin, aku bisa jelaskan!!" ucap Yhing yhi memeluk tubuh Yin.
"Yiwen bukanya tadi kamu di kamar mandi, kenapa cepat selalu ganti baju!!" ucap Jack panik.
"Ganti baju 5 menit saja cukup," ucapnya sinis.
Tatapannya seakan menyudutkanku. Apa dia sudah tahu siapa aku sebenarnya. Ini gak bisa di biarkan.
Jack berjalan mendekati Yiwen menarik tangannya menjauh dari Changmin dan Yin.
"Kita pergi sekarang!!"
"Jangan bawa dia pergi!!" ucap Yin, menarik tangan Yiwen. Membuat Jack menghentikan langkahnya dia menoleh mengeluarkan amarahnya yang dari tadi ia simpan baik-baik.
"Dia istriku!! Jadi kanu jangan ikut campur"
"Aku tidak suka melihat laki-laki kasar pada wanuta, apalagi dia lagi hamil!!" ucap Yin, menatap tajam Jack.
"Yin, biarkan aku kembali pada suamiku." ucap Yiwen, menepis tangan Yin.
"Kenapa kamu mau di perlakukan seperti itu? " tanya Yin kesal.
"Karena aku cinta!!" jelas Yiwen.
__ADS_1
"Dengar itu!!" Jack menarik tangan istrinya bergegas pergi, tanpa perdulikan semua yang menatapnya tak suka.
Maafkan aku Yin, aku harus pergi. Aku harap kamu akan menepati janji kamu dalam waktu 2 hari. Dan aku juga akan mengurus surat cerai dengannya. Maafkan aku, belum saatnya kamu tahu jika aku perlahan mulai ingat, meski ingatan itu masih samar. Gumam Yiwen dalam hatinya, berjalan ringan mengikuti langkah suaminya.