Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Persiapan pergi


__ADS_3

Selesai bercumbu mesra dengan Yiwen. Hingga membuat mereka berdua nampak sangat lelah. Dan Yiwen sudah terbaring pulang di ranjangnya. Tetapi berbeda dnegan Lian yin. Yang memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Mencoba mencari ketenangan. Dia membiarkan istrinya tidur di kamar dengan anaknya. Tak mau mengganggu tidurnya, Lian yin memutuskan untuk sendiri.


Dan Lian yin, pergi keluar menuju ke taman belakang. Di tengah gelapnya malam, duduk di taman sendiri. Mencoba menenangkan pikirannya.


"Entah apa yang harus aku perbuat sekarang," Lian yin, mengusap wajahnya frustasi. Menarik kepalanya sedikit menyandar ke belakang.


"Yin, aku ingin bicara denganmu," ucap Ley, berjalan menghampiri Lian yin, dan duduk di sampingnya.


Lian yin duduk tegap, menatap ke arah Ley.


"Apakah ada hal penting lagi?" tanyanya.


"Gak ada, tapi aku ingin bilang sesuatu padamu jika aku audha siapkan tiket pergi ke suatu tempat,"


"Kemana?" tanya Lian yin bingung.


"Kita pergi, ke Inggris."


Yin, menyipitkan matanya. "Inggris?"


"Iya, memangnya kenapa? Apa kamu gak suka?" tanya Ley, menggerakkan  kepalanya ke kiri melihat Lian yin yang nampak tidak suka.


"Bukanya kita mau ke Australia,"


Ley tersenyum tipis. "Itu semua batal. Dan kakak kamu yang menyiapkan ini semuanya. Dia yang atur, agar musuh mencari kamu di Australia. Tetapi kita tidak pergi ke sana."


Lian yin menghela napasnya. "Huff.. Gimana aku hilangnya ke Yiwen."


"Sudahlah, kita bilang besok. Lagian kita bisa pergi dan lepas dari dunia mafia kejam ini,"


"Iya, tapi aku merasa sangat amat berat sekali meninggalkan Jie Lie, apalagi istriku Yiwen." desah Lian yin.


Ley menepuk bahu Lian yin. "Jangan pikirkan tentang hal itu. Aku tahu jamu pasti sangat amat merindukan Jie, tapi dia di sini ada yang jaga, kita juga masih bisa menghubungi dia." jelas Ley, mencoba menenangkan kegundahan hati Lian yin.


"Iya, somoga saja istriku bisa mengeryi,"


"Aku yakin, dia pasti sangat memahaminya. Yiwen itu penurut banget denganmu," goda Yiwen.


"Apa kamu tahu kabar tentang Lie Wei."  Lian yin menciba mengalihkan pembicaraannya. Entah kenapa, pikirannya tiba-tiba teringat tentang Lie Wei. Sudah lama sejak menikah dia yidak pernah sama sekali menghubunginya. Bahkan semua temannya tidak tahu, apa dia punya anak atau belum. Kahidupannya bahagia atau tidak.

__ADS_1


"Kata kak Chen, dia sering ke sini. Jenguk anak kamu,"


"Tapi kenapa dia tidak menghubungi kita?" tanya Lian yin curiga.


"Entahlah, dia sekarang jadi ketua mafia menggantikan kakaknya."


"Chengyi? Maksud kamu?"


"Iya, dia pergi dan sekarang kabarnya sudah menjadi pengusaha sukses. Di Amerika."


"Appaaaa...?" wajah Lian yi terkejut mendengar hal itu. Dia tidka percaya. Gimana bisa begiti cepatnya duia punya usaha di sana.


Ley bersadar di kursi panjang. "Kamu apsti tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tetapi itulah kenyataan sebenarnya." jelas Ley, menoleh ke arah Lian yin, yang masih tertunduk.


"Dia bisa memulai usahanya, karena ayah Grace. Itu adalah perusahaan ayahnya. Di saat ayahnya meninggal 3 tahun lalu. Grace yang tak mau mengurus perusahaannya, melimpahkan semuanya pada Chengyi." lanjut Ley menjelaskan.


"Baiklah, kalau kamu ada waktu telfon Lie Wei, aku mau marah dengannya. Sejak jidadnya kita di lupakan begitu saja, di saat dia sekarang sudah menjadi ketua mafia, habungan dari Barat dan Timur." geram Lian yin, beranjak berdiri. Melangkahkan kakinyanperhi begitu saja meninggalkan Ley yang masih duduk tak mengerti dengan apa yang di katakan Lian yin.


Apa yang di kakannya? Apa dia cemburu dengan Lie wei? Atau mungkin dia kehilangan sosok adik yang selama ini bersama dengannya. Ah.. Entahlah, itu hanya Tuhan dan dia yang tahu. desah Ley, menyandarkan kepalanya di atas kursi, dengan pandangan ke dua matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lian yin mencoba membangunkan Yiwen, sata Yiwen beranjak mandi. Lian yin yang harus jaga tugas, dia menjaga anaknya yang masih tertidur pulang di ranjang.


Hingga 10 menit, Yiwen keluar dari kamar, yanga hanya balutan handuk menutupi dari dada hingga kakinya.


Tok.. Tok.. Tokk...


"Yin, bisa keluar sebentar, aku ingin bicara." panggil Chen.


"Iya," Lian yin segra beranjak.


"Aku keluar dulu, kamu jaga anak, ya. Dan siapkan semuanya. Terus kita pulang ambil paspor."


"Iya,"


Lian yin pergi meninggalkan Yiwen keluar dari kamarnya. Dan di sambut langaung oleh Chen yang sudah berdiri tegap di depannya. Berjalan menuju ke ruang tamu. "Aku titip Jia padamu."


"Jika suatu saat Jia dewasa apa kamu akan tetap di sana.

__ADS_1


"Entahlah. Tapi kakak bisa kendalikan semuanya di sini. Dan ingat jangan beri tahu Jia."


"Pasti.."


"Gimana dengan anak Ley."


"Aku titip dia kak, semoga dia bisa menjaga Jie dengan baik. Sampai dua dewasa kelak."


"Iya, semoga saja." ucap Chen. "Kalian hati-hati nanti. Dan setelah sampai aku akan kirimkan pesan padamu. Ada yang harus kamu kerjakan di sana."


Lian yin mengerutkan keningnya. "Memangnya aku di sana mau kerja lagi?"


"Terus Yiwen dan anak kamu aku kasih makan apa? Kalau kamu tidak mau bekerja lagi."


Lian yin menelan ludahnya. "Maksud aku, pa kakak tega menyuruhkau masuk lagi dalam dunia mafia."


"Status kamu tetaplah ketua mafia. Dan ingat itu, di.manapin kalian berana akan tetap di kenal.sebagai mafia." tegas Chen.


Lian yin dan Ley kenghela naapsnya hersamaa. "Kenapa masih saja tetap sama," sambung Ley.


"Sudah, sekarang kalian cepat bersiap. Aku juga akan tinggal di sebuah pulau dengan Jia, aku dan istriku serta beberapa orang lainya akan mengajari Jia berbagai macam oengalaman dan ilmu."


"Makasih, aku yakin kamu bisa jadi orang tua yang baik untuk Jia."


"Aku sudah siap, ayo pergi." saut Yiwen, berjalan menuruni anak tangga, berkalan menghampiri Lian yin dengan anak yang masih di gendongan Lyli.


"Mama, kalian mau kenapa?" teriak Jie yang baru saja terbangun, dia menangis merengek, berlari menghampiri Lian yin dan Yiwen. Mereka duduk jongkok, ke dua tangannya menyambut Jia untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Sayang, ingat kamu jangan nakal ya,"


"Mama, dan papa. Mau kemana?"


"Mau pulang, lain waktu mama akan datang lagi," jelas Yiwen. Meski hatinya sangat berat berbohong pada anaknya. Tetapi, mungkin ini yang terbaik untuknya. Kali ini dia harus bisa mengikhlaskan sepenuhnya Jie pada Chen yang merawatnya.


Lian yin melepaskan , dengan berat hati dia berjalan menarik tangan Yiwen.


"Aku harap kalian kembali lagi," ucap Jia, merembakkan ke dua katanya.


Lian yin tetsenyum dan hanya memberikan acungan jempol.

__ADS_1


__ADS_2