
Yiwen membuka matanya, meniup lilin di kue yang Lian yin bawa.
"Apa yang kamu minta?" tanya Lian yin, meletakkan kuenya.
"Aku minta sesuatu" ucap Yiwen, dengan senyum menggoda.
"Sesuatu apa?" tanya Lian yin bingung.
"Rahasia, hanya aku yang tahu" gumam Yiwen. "Udah sekarang kita makan dulu" Yiwen menarik tangan Lian yin untuk segera duduk dan menyantap makanan yang sudah ia siapkan dari tadi.
Lian yin hanya diam, dan mulai memakan pasta yang di buatkan Yiwen untuknya. "Enak gak?" tanya Yiwen.
"Lumayan" ucap Lian yin ragu, ia masih berpikir gimana caranya untuk mrmberikan dia sebuah kejutan yang paling romantis.
"Lumayan? Jadi masakan aku gak enak?" tanya Yiwen, memukul bahu Lian yin.
"Aww.. sakit tahu" ucap Lian yin
"Maaf, aku lupa kalau tangan bahu kamu masih sakit." ucap Yiwen yang lansung memegang tangan Lian yin, ia terlihat panik jika lukannya nanti tambah parah.
"Udah gak apa-apa" ucap Lian yin.
"Beneran gak apa-apa" tanya Yiwen.
Lian yin hanya diam, ia mendekatkan duduknya semakin ke depan, dengan mata saling menatap. Jemari tangan Lian yin memegang pipi Yiwen dengan sangat lembut.
"Yiwen" panggil Lian yin lembut.
"iya" jawab Yiwen, wajahnya terlihat sangat bingung dengan kelakuan Lian yin.
"Kamu gak potong kuenya?" tanya Lian yin, jemari tangannya perlahan turun mrnuju ke tangan Yiwen, di angkatnya perlahan, dan menuntunnya untuk ambil pisau kue, lalu memotongnya peralahan.
Jantung Yiwen terasa mau copot, baru kali ini ia merakana kelembutan Lian yin. Mata mereka saling tertuju, sangat dekat hanya berjarak dua telunjuk tangan.
Yiwen yang tersadar terus menatap Lian yin dari tadi, ia langsung memalingkan pandangannya.
"Maaf syang, sekarang kamu mau makan kue gak?" tanya Lian yin.
"Iya, tapi aku mau sendok pertama aku mau kasih ke kamu, setelah itu kamu suapin aku ya" ucap Yiwen.
"Baiklah" ucap Lian yin, yang menerima satu sendok pertama kue dari Yiwen.
"Sekarang giliran kamu" gumam Lian yin, menyuapi Yiwen, ia memilih di mana tadi meletakkan cincinya.
"Kamu kenapa?" tanya Yiwen yang bingung dengan Lian yin tiba-tiba diam.
"Emm gak apa-apa" gumam Lian yin, satu suap pertama berhasil masuk ke dalam mulut Yiwen. "Emm apa ini" ucap Yiwen, mengambil benda yang masuk dalam mulutnya.
"Gimana sih penjual kuenya, kalau ketelan aku gimana nanti" gumam Yiwen, ia menatap sebuah cincin di tangannya.
__ADS_1
Sontak, Lian yin duduk jongkok di depan Yiwen, ia memegang tangan kanan Yiwen "Yiwen maukah kamu menjaga cinta kita, maukah kamu hidup selamanya bersama denganku, dalam suka maupun duka." ucap Lian yin penuh keseriusan dalam matanya.
Yiwen hanya diam memandang kagum Lian yin, ia menunduk antusias tanpa suara keluar dari mulutnya. Lian yin memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis Yiwen.
"Makasih, kamu selalu ada buat aku" ucap Lian yin, yang mulai bangkit memeluk Yiwen erat.
"Tapi kenapa kamu memberiku sebuah cincin ini" gumam Yiwen bingung. "Bukannya kamu sudah memberiku cincin saat pernikahan kita" gumam Yiwen.
"Dulu aku belum melamar kamu, dan kita langsung menikah begitu saja, saat melamar kamu dulu, kamu belum hilang ingatan dan saat kamu kehilangan ingatan aku langsung saja mengajak kamu menikah, dan sekarang aku ingin memberi kamu kejutan ini" ucap Lian yin duduk di samping Yiwen.
2 jam berlalu, Yiwen dan Lian yin memakan sebagian rotinya. Sambil bercanda bersama saling mencolek menggunakan kue. Hingga wajah dan baju terlihat belepotan.
"Syang udah" ucap Lian yin. "Kita harus cepat turun masak untuk Lay dan yang lainnya. Mereka akan pulang nanti, dan sekarang adalah hari ualng tahun kamu, jadi kamu harus masak banyak buat mereka semua, sebagai perayaan. Tenang saja aku bantu masak nantinya" gumam Lian yin.
"Ya, udah aku mau cuci muka dulu" gumam Yiwen. "Kamu juga cuci muka dulu, dan siapin semua bahan makanan yang akan kita buat nantinya." lanjutnya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, mereka melewati dengan penuh candaan berdua, meski tanpa teman mereka. Tapi setidaknya masih ada rasa bahagia di dalam dirinya.
Yiwen sudah menyiapkan berbagai macam makanan, untuk para rombongan, yang sudah di siapkan di meja makan. Sekarang tinggal nunggu para cecunguk itu balik lagi dengan selamat. "Kenapa mereka lama sekali?" tanya Yiwen
"Bentar lagi juga datang" gumam Lian yin.
Tak lama, Gerombolan Lay bertiga itu sudah sampai di depan rumah. Dengan wajah yang erlihat habis terlihat kena masala.
"Akhirnya kalian bisa sampai dengan selamat" ucap yang tak sengaja kebetulan melihat kehadiran mereka di depannya. Ia yang tadinya ingin keluar rumah, langkahnya terhenti dan putar bali sekarang.
"Gimana apa yang kamu dapatkan?" Tanya Lian yin pada Lay, yang sudah berdiri di depannya dengan membawa beberapa tas yang entah apa isi di dalamnya.
Mereka mengira akan tertangkap dan di jadikan sandera oleh mereka, namun itu hanya perkiraan mereka. Ternyata para bodyguard ayah Grace tidak sepintar yang di bayangkan. Mereka mudah sekali di kelabuhi hanya dengan waktu satu menit saja. Begitu mudahnya Changmin dan yang lainnya lolos. Dan pulang dengan selamat.
Bagi Mei itu pengalaman yang sangat menegangkan, naik mobil dengan kecepean sangat tinggi dan membuat jantungnya merasa sangat copot. Tapi semua sudah di lewatinya, dan sekarang merak bisa beristirahat dengan tenang.
Waktu di hotel kota Timur, mereka tidak bisa beristirahat dengan tenang. Takut ada seseorang yang mematahinya diam-diam. Maka dari itu Lay dan Changmin hanya membiarkan Mei yang tidur sedangkan mereka hanya berjaga.
~
"bentar Yin, aku mau duduk dulu, jangan di tanya soal itu." Ucap Lay, mencoba menarik napasnya lega, bisa pulang dengan selamat ia sudah sangat bersyukur.
"Baiklah, apa perlu aku ambilkan minum sekarang. Agar kalian bisa lebih tenang" saut Yiwen, yang berdiri di samping Lian yin, dari tadi memang sengaja menantikan kehadiran mereka di ruang tamu.
"Baiklah, ambilkan minuman dingin" ucap Changmin tanpa rasa ragu pada Lian yin, menyuruh Yiwen untuk mengambilkan air minum.
"Iya, aku mau jus" sambung Mei dengan sangat antusias.
"Baik, ku sendiri yang akan ambil dan buatkan kalian jus. Biar kalian bisa lebih tenang, dan bercerita apa yang terjadi di sana. Kami sudah menunggu lebih lama tadi, perasaan tegang, takut, khawatir, cemas jadi satu. Berharap kalian cepat pulang dengan selamat. Dan kalian sudah berada di depan sini Kita, aku sudah menyiapkan beberapa makanan biat kalian. Jadi kalian langsung ke ruang makan saja. Di sana lagi ada berbagai masakan dari berbagai khas negara lainnya." Ucap Yiwen dengan senyum tipis keluar dari bibirnya.
"Wah.. Kebetulan sekalu akus angat lapar, dari tadi belum makan sama sekali" gumam Lay, yang sudah duduk bersandar di sofa.
"Iya, ku juga sangat lapar" sambung Changmin dan Mei kompak.
__ADS_1
"Ingat, setelah itu kamu harus bawa kabar baik" ucap Lian yin, dengan tatapan menajam.
"Iya, tenang saja. Aku sudah bawa kabar baik untuk kalian." Jawab Lay.
"udah jangan terlalu serius gitu Yin, kita siapkan dulu makanan dan minuman untuk mereka" ucap Yiwen, menepuk pundak Lian yin.
"Baik" jawab Lian yin, yang mulai melangkahkan kakinya pergi menuju ke dapur, dan di susul dengan Yiwen yang berjalan di belakangnya.
~
Sedangkan yang lainnya hanya diam, duduk di sofa dengan santainya menunggu minuman datang. Mereka tidak mau langsung makan lebih dulu, lagian mereka masih capek. Dan masih buruh istirahat dengan cukup.
"Mei kamu bawa yang aku suruh kemarin?" Tanya lay pada Mei yang duduk di samping Changmin.
"Bawa, sebuah bukti itu kan?" Ucap Mei.
"Iya," gumam Lay. Yang tiba-tiba menundukkan kepalanya, entah kenapa wajahnya di tekuk, seperti banyak pikiran yang mengganggunya. Wajahnya nampak sangat sedih, dengan mata yang terlihat mulai berkaca-kaca.
"Kamu kenapa? Apa masih kepikiran tentang Lyli kemarin" ucap Changmin, yang sadar jika temannya itu terlihat sangat sedih.
"Entahlah, aku merasa sangat khawatir dengan keadaannya. Lagian kenapa kemarin di kabur saat melihat kita. Aku pernah mencari dia tapi dia sudah pergi dari kota Timur. Dan kenapa kamarin dia ada di sana. Sebenarnya apa lagi yang ia cari di sana" gumam Lay.
Lay yang dulunya sempat patah hati dengan yhing yhi, semenjak kenal dengan Lyli beberapa hari, ia sadar jika dia menyukai dia. Dan tidak terlalu suka dengan yhing yhi. Dan Lyli-lah yang membuat ia bisa melupakan sakit hati yang ia dapatkan dulu. Lyli yang merubah hidupnya. Tapi semenjak Lyli pergi, dia merasa seperti kehilangan. Ada seauatu yang hilang darinya, tubuhnya terasa tidak lengkap tanpa wanita itu di sampingnya.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Semua sudah berlalu, dan kini kamu jangan terlalu memikirkan Lyli. Aku nanti akan ajak kamu ke club melihat cewek cantik dan seksi di sana. Menghilangkan kejenuhan kamu sebentar" gumam Changmin, Mei yang mendengar ucapan Changmin langsung menepuk pundak Changmin cemburu.
Ia menguncupkan bibirnya kesal dengan Changmin yang selaku bicara cewek lain di depannya, selalu bikin ia emoai dan kesal, kadang Mei juga sangat marah dan berantem gara-gara Changmin menatap cewek lain.
"Kalian kenapa pada diam?" Tanya Yiwen berjalan menuju ke ruang tamu dengan membawa 5 gelas jus jeruk, di atas nampan. Dan di letakkan jusa itu di depan meja.
"Kalian gak makan dulu?" Tanya Lian yin.
Lay tak langsung jawab, ia segera meraih jus jeruk di depannya. Dan langsung meminumnya habis tak tersisa. Dan di susuk dengan Changmin yang langsung menghabiskan satu gelas jus di depannya.
" Kita minum dulu" ucap Mei.
"Tadi gimana perjalanan kalian?" tanya Yiwen, dyduk di samping Mei.
"Sangat menegangkan" gumam Mei, yang mulai meneguk jus di depannya.
"Emangnya kalian ketahuan tadi" ucap Lian yin, yang mulai serius.
"Hampir saja ketangkap tadi kita" sambung Changmin.
"Ketangkap, tadi pengawal ayah Grace apa mengikuti kalian?" tanya Yiwen.
"Iya, mereka mengikuti sampai ke perbatasan" gumam Lay.
"Terus gimana, mereka sekarang" tanya Yiwen.
__ADS_1
"Untung saja aku dan Changmin bertindak cepat tadi, dan berhasil melumpuhkan mobil mereka, gar tidak mengikuti kita lagi" ucap Mei.