
"Sepertinya kita harus kembali lagi" ucap Lay.
"Memangnya kenapa?" tanya Changmin, yang masih fokus mengemudi mobilnya dengan sangat santainya, menikmati jalan lurus yang nampak sepi di depannya. Changmin pergi bersama Lay dengan mobil yang di pakai Lay. Sedangkan Lian yin pergi sendiri. Ia bilang tadi jika dia ada urusan sebentar, dan ingin pergi sendiri tanoa mereka, sehingga harus berpencar lagi dengan mereka. Dan berlawanan arah, Lay dan Changmin langsung menuju ke rumah sedangkan Lian yin entah kemana lebih dulu.
Lay juga tidak bisa mencegah apa yang di katakan Lian yin. Jadi ia hanya bisa membiarkan dia pergi sendiri tanpa ada yang mengawal.
"Ada seseorang tadi di belakang kita" ucap Lay dengan wajah nampak sangat serius, dan otak yang tak pernah berhenti berpikir dan selalu curiga. Keahliannya dalam berpikir dan mengawasi musuh sangat jeli. Dia sadar jika di belakang tadi ada orang yang bersembunyi di balik gedung tua tadi. Namun mau bilang pada Lian yin, juga tidak mungkin. Dia pasti balik lagi nantinya, yang akan membahayakan dirinya sendiri.
"Siapa? Apa orang mata-mata itu? Kenapa kamu gak bilang dari tadi, sekarang kita sufah sampai setengah jalan dan harus balik lagi" gumam Changmin kesal.
"Kalau kamu gak mau, gak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri ke sana. Aku yakin jika dia sembunyi di sana. Orang itu tidak banyak sepertinya hanya ada satu atau dua orang. Dan dugaaan aku jika dia pasti ingin. masuk ke dalam dan berhubung ada kita dia bersembunyi." ucap Lay menjelaskan pada Changmin yang duduk di sampingnya.
"Baiklah, kita balik sekarang. Tapi kalau tidak ada mereka, kita langsung pulang ya!" ucap Changmin.
"Iya, terserah apa yang kamu bilang saja. Sekarang aku ingin siapkan semua senjata untuk menghadapi mereka. Aku yakin dengan kejadian ledakan kecil tadi, semua akan keluar dan mencari tahu siapa yang hampir meruntuhkan tempat persembunyiaan mereka." ucap Lay, wajahnya masih terlihat sangat serius, tanpa ekspresi senyum sama sekali terpaut di wajahnya yang terlihat lebih dingin dan sadis kali ini.
"Memang ide aku itu sangat berlian, bisa memancing musuh keluar" ucap Changmin dengan nada bangganya memamerkan pada Lay.
"Iya, deh terserah kamu saja, tapi kali ini aku mau buktikan jika memang ide kamu berlian atau tidak" ucap Lay menggoda.
Changmin menarik bibirnya kesal, ia segera memutar balik mobilnya menuju ke gedung tua tadi. Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, ia tidak suka mengemudi dengan kecepatan tinggi jika tidak terlalu terpepet karena musuh. Karena dia takut dengan kecepatan. Ya, bisa di bilang jika dia itu pernah trauma, karena dia pernah mengalami kecelakaan mobil dengan orang tuanya. Dan dia di rawat oleh Lian yin sampai sekarang.
"Lihatlah ke belakang, apa kamu mengenal mobil itu?" tanya Changmin, melirik ke belakang dari pantulan bayangan di spion mobilnya.
Lay menoleh ke belakang, ia melihat mobil hitam dengan nomor plat yang berbeda dari negaranya. "Apa kamu sepemikiran dengan aku" tanya Changmin, memotong pembicaraan Lay, yang sudah ingin berbicara pada Changmin setelah melihat mobil di belakangnya.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kita tambah laju mobil, jika kamu gak bisa mempercepat laju mobilnya. biar aku yang gantikan kamu mengemudi mobil ini" ucap Lay, yang sudah mulai panik. Di dalam mobil itu nampak sangat gelap, jadi ia tidak tahu ada berapa orang di dalamnya.
"Baiklah, sekarang ganti kamu yang mengemudi mobilnya" ucap Changmin, yang langsung melepaskan sabuk pengamannya, dan berpindah posisi dengan cepat tanpa menghentikan mobilnya. Lay juga sangat sigap dan langsung mengambil alih kemudi mobilnya. Tak menuju ke sebuah gedung, ia memutar balik mobilnya. Dan dia sanfat beruntung, di jalan itu terlihat sangat sepi, ia bisa bebas ber-atraksi di sana
SHIIIITTTT... SRUAAAkk
Mobil itu memutar, sembilan puluh derajat, Dan tidak langsung menghadang mereka, Lay ingin melihat aksi mereka saat ia mengajak bermain dengan mereka menggunakan keahlian mengemudi mobilnya.
"Lay kamu gila, aku belum menikah. Aku masih ingin melihat wajah Mei san masih ingin merasakan pernikahan dengannya. Dan hidup bahagia bersama" ucap Changmin, yang mulai ketakutan. Ia menutup matanya rapat, ia tidak bernai menatap ke depan.
" Sudah diamlah, jangan seperti anak kecil. Tenang saja kamu gak akan mati. Kamu akan menikah nanti jika kamu ingin menikah. Tapi kalau kamu masih hidup bersamaku" ucap Lay semakin menggoda Changmin, dengan menakut-nakuti dia. Sifat jahil Lay pada Changmin tidak pernah lepas darinya.
"Lay, sudah kenapa hentikan jangan memutar gini. Kalau kita terguling gimana. Ini bukan mobil kita" ucap Changmin, berpegangan sangat erat.
CHIIIITTT.. Injakan rem sangat keras membuat Changmin terpental emnatap dasboard mobil, ya meski tidak apa-apa. Naik mobil berasama Lay membuatnya sama seperti setor nyawa. Gimana tidak sekana dia naik mobil seperti roll coster terus berputar di jalan yang sama, membuat jantungnya seakan mau copot. Dan mobil di depannya hanya diam, dan tiba-tiba berhenti.
"Kalau memang dia tidak mengikuti kita, pasti mobil itu akan putar balik dan pergi. Dan akan marah dengan kita atau mengatai kita sudah gila bermain mobil di jalananan seperti ini. Tapi mobil itu tetap tenang, tidak terbuka sama sekali kaca mobilnya." ucap Lay, yang di balas dengan wajah serius oleh Changmin, yang baru saja merasa sudah lega.
"Iya juga, apa kita langsung turun sekarang?" tanya Changmin. "Lebih baik kita memastikan, siapa mereka. Dan setelah itu kita pergi dari sini. Kita balik pulang, jangan ke gedung tua itu lagi. Pasti orang ini juga bagian dari mereka. Keberadaan kita sudah di ketahui jadi gak perlu lagi kita repot-repot mencari mereka. Jika mereka sudah di depan mata kita sekarang" lanjutnya.
"Iya, tapi gimana dengan Lian yin. Aku jadi kepikiran jika dia kembali ke sana." ucap Lay.
"Bukannya dia pulang, lagian tadi dia yang ajak kita segera pulang. Dan dia juga sudah mengemudi mobilnya pergi dari rumah tua itu. Dan ada urusan apa lagi dia kesana" ucap Changmin.
Plaakkk...
__ADS_1
Lay memukul kepala Changmin untuk yang kesekian kalinya. "Sejak punya pacar otak kamu jadi kental ya, gak encer sama sekali. Apa kamu lupa Lian yin itu siapa." ucap Lay mengatakan Changmin, yang terlihat **** dari biasanya yang terkenal dengan kepintarannya dan keramahannya dengan semua orang.
Changmin terdiam, ia juga merasa kesal di pukul Lay terus-terusan. Namun ja tidak membalasnya, dan mencoba berpikir sejenak apa kata Lay. Jika ada benarnya juga, kalau Lian yin kembali. Dia juga sangat ahli mendeteksi musuh, di setiap sudut-pun ia bahkan bisa merasakan. Dan yang paling ia tidak bisa pungkiri jika Lian yin adalah orang yang sangat teliti, ia tidak mungkin langsung pulang begitu saja. Sebelum mendapatkan informasi yang ia dapatkan.
"Benar juga apa kata kamu" ucap Changmin, menoleh ke arah Lay, matanya terbelalak seketika. ia tidak melihat Lay di sampingnya. Sonta metanya memutar menatap ke depan, Lay sudah bejalan menghampiri mobil di depannya sendirian, tanpa membawa senjata sama sekali di tangannya.
"Apa dia gila, menghampiri mibil itu sendiri. Jika dia di tangkap apa yang akan aku bilang pada Lian yin. Pasti dia akan amrah denganku" gerutu Changmin kesal tidak ada habisnya. "Sepertinya aku juga harus turun untuk membantu Lay, sebelum dia kenapa-napa" lanjutnya.
Changmin memasukan senjata di balik jaketnya. Ia segera beranjak turun dari mobil, berlari memnghampiri Lay yang sudah mengetuk kaca mobil orang yang di anggap mencurigakan olehnya.
TOK.. TOK..
"Keluarlah kalian" bentak Lay, dengan suara lantangnya.
meski suara Lay sangat keras dan lantang, namun si pemilik mobil itu. tetap saja tak kunjung keluar dari dalam mobilnya.
"Kenapa kamu pergi sendiri?" tanya Changmin, menepuk pundak Lay.
"Kelamaan nunggu kamu yang masih berpikir, keburu rambut kamu rontok juga gak keluar-keluar" sindir Lay.
"Baiklah, tapi apa kamu sudah melihat siapa yang ada di dalam?" tanya Changmin. "Aku sarankan, lebih baik kamu menghindar. Jaga jarak dengan pintu mobil. Agar saat dia membuka pintu dan dengan kecepatan tangan menodongkan senjata kita bisa menghindar dengan mudah. Dan balik membalasnya" saran Changmin, berbisik di telinga kiri Lay.
"Baiklah, sepertinya kamu sekarang lebih waras" ucap Lay.
Changmin mengerutkan keningnya. "Lebih waras? Emangnya aku gila? Bukannya yang dari tadi gila itu dia, kenapa kok aku" ucap Changmin dalam hatinya, ia bingung dengan wajah bingungnya, dan bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1