Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Penyamaran terbongkar


__ADS_3

"Apanyangvterjadi," suara tembakan itu, menbuat para pengawal berkumpul, berlari ke sumber suara.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jack menatap ke pengawal yang menembak Lian yin tadi, sekaligus membantu Lian yin pergi.


"Semoga saja kamu bisa pergi, aku yakin kamu pasti selamat. Tuan aku sudah menunggu kamu di sana." gumam pengawal itu, dalam hatinya. Ia berharap Lian yin sampai di tempat tuanya saat berlari agar tidak tertangkap lagi oleh Jack.


"KENAPA KAMU DIAM!!" teriak Jack, membuat laki-laki itu tersentak, dan tersenyum tipis menatap ke arahnya, tanpa rasa takut terbesit di wajahnya.


"Aku diam karena aku hanya bilang pada kamu. Jika aku sudah menembak musuh kamu. Mungkin dia sekarang sudah tidak bernyawa lagi. Dan lebih baik sekarang aku pergi, dan keluar dari sini."


"Jika memang dia sudah mati, di mana tubuhnya?" tanya Jack, menatap tajam ke arah orang di depannya.


"Kamu bisa cari tubuhnya di depan. Dan ini yang kamu carai. Aku sudah berikan padamu," pengawal pura-pura itu memberikan potongan kertas kain seperti kertas pada Jack.


Jack meriah peta itu, "Biaklah, karena kamu sudah dapatkan 3 potongan sekaligus. Maka kamu boleh pergi darj sini. Tapi kamu haramus jamin jika Lian yin sudah tidak ada. Dan jangan dampai kamu membohongiku. Jika kamu ketahuan berbohong maka aku akan cari kamu, sampai ke ujung dunia sekalipun." ancam Jack, membalikkan bandanya, melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari rumah kosong itu.


------


Jarum jam menunjukan pukul 07 pagi. Amera, yang tadinya sudah bangun lebih dulu. Ia menemui kakaknya di kamarnya, dan tak sengaja ia mendengar saat Jack berbicara dengan pengawalnya. Ia mendengar jika Jack menangkap Lian yin. Seketika membuat dia terkejut Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ingin rasanya langsung memberi tahu Jack tapi tidak mungkin. 


"Yiwen, kamu sudah bangun?" teriak Amera di balik pintu kamarnya. Jack yang melihat Amera terlihat khawatir, dengan tubuh gemetar, panik menatap ke kanan dan kiri, membuar Jack curiga padanya. 


"Bawa Amera kehadapanku sekarang!!" ucap Jack pada pengawal di sampingnya. 


"Baik, tuan!" ucap pengawal beranjak pergi segera melakukan perintah yang di bilang oleh, tuannya.


"Aku gaka akn biarkan dia mengacaukan rencana aku. Aku yakin jika dia pasti ada kaitannya dengan Lian yin. Lebih baik aku akan buka kedok dia nanti. Saat semua sudah pergi dari rumah ini." ucap Jack, tersenyum licik, ia membalikkan badannya, melangkahkan kakinya pergi. 


------


"Yiwen!!" panggil Amera, tidak berhenti mengetuk pintu kamarnya. Tapi masih tetap saja belum ada jawaban dari Yiwen. 


"Apa mungkin dia di kamar mandi? Tapi aku harus bertemu dengannya sekarang. Lebih baika ku langsung masuk saja. Lagian ini juga kamar aku!!" gerutu Amera, memegang knop pintu, perlahan mulai memutarnya, namun gerakannya terhenti ada tangan tiba-tiba mendarat di pundaknya. 


"Ada apa?" tanya Amera, memutar badannya ke belakang cepat. 


"Apa yang kamu lakukan?" tanya pengawal. 


"Kamu kenapa di sini, cepat pergi sana. Jangan datang lagi ke sini."


"Maaf tapi aku hanya menuruti apa yang di katakan tuan saya!!" ucap pengawal itu datar. 


"Kamu berani melawan aku. Bukanya kamu tahu aku siapa?" ucap Amera tak mau kalah, ia berkacak pinggang dengan pandangan mata semakin tajam. 


"Maaf!! Tuan saya hanya satu. Dan anda juga sudah tahu!!" ucap kesal pengawal. 


"Aku harus bawa kamu pergi." lanjutnya. 

__ADS_1


Amera menautkan ke dua alisnya. "Aku gak akan pergi!!" ucap tegas Amera. 


"Tuan, yang menyuruh kamu pergi. Dan kakak kamu sekarang sudah menunggu kamu!!" 


"Aku bilang, aku gak mau. Kenapa kamu masih maksa aku!!"


Pengawal itu hanya diam, memegang tangan kakan Amera, menyeretnya pergi dari depan kamar Yiwen. 


"Lepaskan aku!!" bentak Amera. "Aku harus segera cari dia Yiwen dulu. Aku mau bicara dengannya. Baru aku mau jika keluar dari sini." lanjutnya. 


"Kamu bisa bilang pada, Tuan!!" pengawal itu melepaskan tangan Amera tepat di berada di dalam kamar Mei, ia melemparnya kasar, hingga menabrak Mei yang berdiri berbincang dengan Jack."


"Kamu bisa gak pelan-pelan saja, jangan kasar padaku!!" umpat kesal Amera pada pengaeal di depannya. "Awas kamu!!" ancam Amera. 


"Amera, kita pulanh sekarang. Orang tua kita memanggil kita untuk segera pulang!!"


Amera menatap ke arah kakaknya, mengetnyitkan matanya memandang aneh kakaknya. Seakan dia sudah curiga jika kakaknya menyimpan rahasia darinya. 


"Tapi teman aku gimana?" 


"Kamu bisa menghubungi dia nantinya?" 


Amera menatap ke arah kakaknya, lalu menatap ke arah Jack bergantian. Mereka nampak sangat canggung saat ia menatapnya. Ia memutar matanya ke atas, teringat jika dari kemarin ia tidak membawa ponsel sama sekali. Seketika Amera langsung memeriksa sekujur tubuhnya. 


"Gimana bisa, aku gak punya ponsel sekarang" ucap Amera. 


"Maksud kak Mei apa? Kenapa mereka dalam bahaya? Apa Jack yang membuat semua ini?" tanya Amera kini semakin berani menatap tajam ke arah Jack. 


"Jaga bicaramu Amera, dia calon kakak ipar mu. Kamu harus menghormati dia!!"


"Kenapa aku harus menghormati laki-laki kurang ajar seperti dia. Dia itu bajing*n, gak patut untuk di hormati!!" lanjutnya


Plaaakkk... 


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Amera, membuat bekas merah di pipi kanannya. "Aku bilang jaga mulut kamu, Amera!!" ucap Mei, dengan marah semakin memuncak. Ia menatap ke arah Jack, yang langsung memberi kode agar cepat membawa pergi Amera dari sini. 


Amera menarik satu sudut bibirnya tipis, "Demi diam, kakak berani menampar adik kamu sendiri. Apa kak Mei begitu cinta dengan laki-laki seperti dia!!" umpat kesal Amera. Menunjuk ke arah jack, tanpa rasa takut dalam dirinya.


Amera berdengus kesal, menatap semakin tajam, dengan bibir menguntup kesal, menatap Jack, dan Mei bergantian. 


"Sekarang kamu ikut aku!!" ucap Mei, menarik tangan Amera segera keluar dari kamarnya. 


Amera menepis tangan Mei. "Aku tanya padamu sekali lagi. Kamu pilih aku atau laki-laki ini. Jika kamu ingin melihat aku lagi adik kamu ini, pergi tinggalkan dia. Dia gak baik buat kamu, kak!!"


Mei hanya diam, mencengkeram erat pergelangan tangan Amera.


"Ikut aku!! Kita bicara di luar, orang tua kita dalam bahaya," bisik Mei pada adiknya. 

__ADS_1


Amera hanya diam, dengan tetpaksa ia menuruti apa kata kakaknya. Mereka mulai melangkahkan kakinya pergi


"Aku pulang dulu!!" ucap Mei pada Jack di belakangnya, tanpa menoleh ke belakang menatapnya. 


"Lepaskan aku!! Aku bisa jalan sendiri!!" Amera, menarik tangannya dari genggaman erat kakaknya. 


"Baik cepat pergi!!" Amera menatap semakin jesal, ia melangkahkan kakinya lebih dylu, berjalan melewati kakaknya, langkahnya terhenti melihat kamar Yiwen yang masih tertutup. "Yiwen maafkan aku!!" gumam Amera dalam hatinya, ia menundukkan kepalanya, melangkahkan kakinta keluar dari rumah itu. 


"Mungkin aku akan membantu dia dari jauh. Dan aku bisa menghubungi Changmin. Mungkin ini yang terbaik. Jika sampai dia kenapa-napa, Lian yin pasti akan marah padaku. Dan sekarang suaminya juga dalam bahaya. Aku gak bisa tinggal diam sekarang. lebih baik sekarang aku pergi." gerutu dalam hati Amera. 


"Amera, kenapa kamu masih berdiri di situ, sekarang cepat masuklah!!" ucap Mei. 


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Maera, yang ingin sekali perkataan jujur keluar dari mulut Mei. 


"Kita akan pulang. Dan biarkan dulu teman kamu di sana. Kita akan jemput dia besok." ucap Mei, yang mulai memasang sabuk pengamannya. Dan Amera dengan terpaksa harus masuk ke dalam mobil Mei. Memasang sabuk pengaman. Dan dengan segera mobil itu melaju jauh dari rumah Jack. 


------


Jack berjalan menuju ke kamarnya, bersama dengan para oengawalnya untuk membahas Lian yin. 


"Gimana? Apa kamu sudah suntik obat penghilang ingatan?" tanya Jack. 


"Sudah tapi kata Yhing Yi dulu, obar penghilang ingatan itu tidak bisa bertahan lama. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya pengawal itu. 


"Lepaskan dia! Setelah itu ajak dia gabung dengan kita. Lalu kamu bawa dia ke pantai, buang dia!" ucap Jack penuh dengan kebencian.


"Baik, Tuan!!" ucap pengawal itu 


"Gimana dengan 3 orang itu. Apa mereka masih di pengasingan. Aku gak mau melihat mereka lagi ada di kota ini. Mereka hanya pengganggu, yang gak bisa berbuat apa-apa." ucap Jack. 


"Iya, Tuan. Mereka masih tetap di sana. Pengawal kita selalu menjaga dua puluh empat jam. Dan makanan juga sudah di sediakan oleh pengawal lainya."


"Bagus!! Sekarang cepat pergi, siapkan mobil untuk menuju ke tempat di mana kita menyekap Lian yin. Dan ingat kamu hubungi orang di sana jangan lepaskan mereka dulu. Biarkan dia, dan selalu beri dia makan nanti!!"


"Baik, tuan. Saya akan laksanakan semuanya." 


"Aku ada urusan sekarang. Jika semua sudah beres. Kamu bisa hubungi aku!!" Jack melangkahkan kakinya pergi menuju ke kamar mandi. Untuk membasuh tubuhnya yang terasa sangat lengket.


Dan pengawal itu segera pergi dari kamarnya, meninggalkan Jack. Dia segera melakukan tugasnya sesuai yang di perintahkan Jack. 


Jack merendamkan tubuhnya dengan air hangat di dalam bathup, membuat ototnya terasa sangat kaku. 


Jack tersenyum, meletakkan ke dua tanganya sedikit di tekuk, ke pinggiran bathup.


"Istri Lian yin. Sekarang ada bersama dengan aku, maka aku akan segera menghancurkannya. menghancurkan semuanya, tidak ada orang yang boleh bahagia, kamu harus membalas semuanya Lian yin. Aku akan menghancurkan rumah tangga kamu. Apalagi kalau Yiwen menikah denganku, Menjadi istri ke dua aku, sebelum dia kembali mengingat lagi, ingatannya yang sempat hilang." gerutu Jack, menarik bibirnya tipis, penuh dengan pikiran licik, penuh dengan amarah, dendam ingin menjatuhkan.


Jack menyandarkan kepalanya, yang terasa sangat santai, setelah itu ia ingin melakukan apa yang sudah ia ingin lakukan dari kemarin. Aku akan memiliki kamu, Yiwen syang. 

__ADS_1


u lakukan?" tanya


__ADS_2