
Grace, Lie Wei dan yang lainya berjalan menuju ruang makan. Lalu menikmati makanan yang ada di atas meja.
"Oya, gimana hubungan kamu dengan Amerta?" tanya Chengyi, seketika membuat Lie Wei tersendat.
"Uhukk... uhukk..."
Grace langsung memberinya satu gelas minuman.
"Syang!! Kamu jangan ajak adik kamu bicara saat makan," ucap Grace mencoba susah payah kenalan makanannya.sambil bicara.
"Hehe.. Maaf!!" ucap Chengyi sembari tertawa kecil.
"Aku dan Amerta tidak ada hubungan apa-apa," ucap Lie wei, menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Chengyi.
"Karena dia bukanlah siapa-siapa aku. Dan aku tidak suka dengannya. Aku tidak suka dengan wanita yang belum dewasa," ucap tegas Lie Wei, meletakkan sendok dan garbu di atas meja.
Grace menepuk pundak Lie Wei. "Kau tahu, tapi aku sudah bilang padamu. Cari sisi baik dia, aku yakin jika kamu akan mencintai dia. Amerta gadis yang cantik. Dia baik, polis dan juga dia jago dalam bela diri juga, jadi tidak terlalu menyusahkan kamu!!"
Lie Wei, menatap ke arahnya, "Tapi kamu tahu sendiri, perbedaan umurnya terlalu jauh. Kamu tahu akan hal itu, kan?"
"Iya, aku tahu!! Tapi aku yakin jika kamu akan jatuh cinta dengannya," saut Chengyi.
"Tapi aku tidak yakin," jawab Lie Wei.
"Gimana kalau aku kana menikahkan kamu dengannya. Apa kanu akan menolak apa yang di katakan kakak kamu ini?"
"Tapi.. kak!!"
"Aku mohon menurutlah. Dia sangat baik, aku kenal dia sudah lama. Awalnya aku hanya kenal Jack, setelah itu aku kenal Mei lalu diknya. Dia sangat gampang bergaul dengan orang.
Apa aku menerima tawaran kakak aku. Atau aku pergi saja. Tapi aku gak mungkin menolaknya. Sama saja aku tidak menghargai kakak aku. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Kamu menikahlah dengannya, aku yakin jika kamu bisa jatuh cinta dengannya?"
"Baiklah!! Tapi jika aku tidak bisa suka dengannya dalam waktu tiga bulan menikah maka aku akan ceraikan dia. Aku gak mau melukai hatinya dan hatiku sendiri jila terlalu lama"
"Tapi apa itu tidak melukai hati Amerta? Dia masih kecil Lie Wei?"
"Kakak ipar Grace tahu itu, makanya aku gak bisa terlalu memaksanya jatuh cinta padaku nantinya," ucap Lie Wei.
"Baiklah!! Tapi apa jamu yakin dengan ucapan kamu jika kamu mau menikah dengannya?" tanya Chengyi.
Grace memegang tangan Chengyi, "Syang nanti dia sakit hati gimana? Lupakan saja, aku takut dia malah menyakiti hati Amerta" ucapnya.
"Aku yakin dia akan jatuh cinta dengannya,"
"Tapi!!"
"Udah percaya padaku," ucap Chengyi lirih, mengusap punggung tangan istrinya. Laku tersenyum tipis menatap wajah istrinya mengusap lembut pipinya.
"Aku yakin dia akan sepeti kita," ucap Chengyi.
"Gimana Lie? Apa kamu setuju dengan yang aku katakan?" tanya Chengyi.
"Baiklah!! Aku setuju, kapan aku akan menikahinya." tanya Lie Wei.
"Itu butuh waktu. Dan dia gak mungkin bisa menerima kamu lagi dengan mudah. aku harus meyakinkan dia lebih dulu." ucap Chengyi.
"Tapi dia tidak ada di sini?"
"Aku tahu, serahkan semuanya pada kakak kamu ini. Kakak yang sudah pengalaman dalam masalah cinta. Jadi kamu ikuti petunjuk arahan aku saja. Dan kamu bis menikmati hasilnya nanti." Chengyi meneguk satu gelas air putih di depannya, lalu meletakkan kembali di meja.
"Sekarang aku akan atarkan kamu di kamar kamu," ucap Chengyi beranjak berdiri.
"Iya, aku bereskan piringnya dulu.!!"
__ADS_1
Lie Wei dan Chengyi bergegas menuju kamarnya, Dan Chengyi tak hentinya terus memberikan sebuah nasehat untuk Lie wei, agar dia bisa memilih dan memilah cinta yang benar tulus nantinya. Jika salah dalam memilih maka akan menimbulkan penyesalan yang dalam seperti yang di alami Chengyi dulu bersama dengan Mei, yang sekarang sudah bahagia dengan Jack, dan sudah hamil 5 bulan.
"Kamu tahu apa yang kakak kamu katakan?" tanya Chengyi.
"Aku paham, duku aku terlalu bodoh percaya dnegan cinta kau kira dia tulus. Dari saat dia menangis aku tak sadar jika air matanya adalah palsu." ucap Chengyi, memutar pikirannya tentang Mei dulu, saat bersamanya meski indah sesaat, tapi perasaan itu berubah jadi benci. Bahkan sekarang sama sekali dia tidak menyapa Mei, menatap wajahnya saja ia tidak ingin dan terasa malas untuk menatapnya.
"Aku akan pulang dnegan kamu annyinya, tapi sekarang aku belum bisa. Mungkin setelah 2 bulan lagi. Baru akan pulang lagi ke kota."
"Tinggalah di rumah aku. Sekarang aku punya rumah baru,"
"Aku tahu, kamu sekarang sudah jadi orang yang sukses. Kamu bersama Lian yin benar-benar menjadi orang yang sangat berguna," Luhan menepuk bahu Chengyi "aku juga ingin berterima kasih padanya? telah membuat kamu bisa seperti ini," Aku harap kakak juga menikmati jadi kerja kerasku. Agar kamu tidak seperti ini lagi. Aku gak mau kakak hidup menderita dengan kehidupan sederhana seperti ini"
"Sederhana tapi membuat aku dan Grace bahagia,"
Kalian masih terus berbincang di sini?" tanya Grace berdiri di depan pintu kamar Lie Wei.
"Enggak!!" jawab Lie Wei.
"Sudah kamu sekarang istirahat dulu. Dan menyalakan ponsel kamu agar aku bis menghubungi kamu lagi. Tapi gak hanya aku, aku yakin jika Lian yin dan yang lainya juga khawatir,"
"Iya, selama.ini kamu hidup bersama dengannya. Jika kamu tiba-tiba pergi hanya karena aku. Sama saja kamu menyakiti hati Lian yin. Dia juga menganggap kamu sebagai adiknya, bahkan seperti adik kandungnya sendiri,"
"Baiklah!! nanti aku akan menghubunginya," ucap Lie Wei.
"Ya, udah aku mau pergi kerja dulu dnegan Luhan. Dan kamu jaga rumah gak apa-apa kan, ku hanya tinggal sebentar!!" Grace menyipitkan matanya, tersenyum mandi di hadapan adik iparnya.
"Gak masalah, aku juga mau hubungi keluarga aku di sana. Ley dan Lian yin pasti akan khawatir denganku."
"Kalian kerja apa?" tanya Lie Wei, penasaran.
"Aku kerja part time di restauran. Dan dia juga kerja part time bagian dapur," jelas Grace.
"Bye... Aku tinggal dulu," ucap Grace dan Chengyi bergegas pergi. Sia memang kerja serabutan saat tinggal di Irlandia hanya untuk bertahan hidup. Dan sekarang hanyalah mobil dan rumah ini yang jadi hartanya. Entah kenapa luhan meninggalkan semua harta yang sudah di miliknya dulu. Sekarang dia jadi memilih hidup sederhana dengan semua kesederhanaan cinta mereka.
__ADS_1
Lie Wei menutup pintu kamarnya. Dai segera berbaring di ranjangnya. Dia teringat ponselnya di dalam mobil, Lie Wei segera berlari ke dalam.mobil mencari ponselnya dan kembali lagi ke kamarnya. Dia ingin menghubungi Lian yin dan Ley. Sudah 4 bulan berlalu dia tidak menghubungi mereka semua. Apa kabar mereka. Apakah Yiwen sudah melahirkan. dia juga penasaran dengan keponakan barunya itu.
Pasti sekarang Lyli juga sudah hamil. Mereka bemar-benar sungguh bahagia. Sedangkan aku harus hidup tanpa cinta. Gumam Lie Wei tersenyum semringai, meratapi semuanya.