Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Yiwen marah


__ADS_3

Kita harus hati-hati dan sangat waspada untuk menjaga harta karun peninggalan kakek kamu itu" ucap Changmin. "Apaalgi banyak sekali yang mengincarnya, bahkan dari kalngan atas juga berlomba menadapatkan harta itu. Dan pantas saja mereka memperebutkan dokumen milik kamu itu" lanjutnya.


"Domumen itu bukanlah harta sebenarnya" ucap Lian yin. 


"Saol dokumen aku sudah memaskukan ke koper kamu saat kamu akan pergi ke rumah Ywien nanti. Ada koper kecil di kamar kamu, nanti kamu bisa lihat dulu" saut Lay.


"Iya aku akan lihat nanti." Jawab lian yin. 


"Aku harap jangan sampai harta ini jatuh ke orang yang salah" gumam Lian Yin, an melupakan soal dokumen lian yin tadi.


"Tapi apa kamu tahu di mana potongan selanjutnya?" Tanya Lay, menatap ke arah Lian yin. 


"Aku belum tahu di mana potongan selanjutnya, aku baru ingin mencarinya." Ucap Lian yin. "Dan kamu Lay, kamu ikut aku ke tempat tak bepenghuni itu dua hari lagi. Dan setelah aku bicara dengan kakek dan ayah Yiwen. Dia pasti tahu, tentang ini semua tapi mereka tidak mau cerita padaku. Bahkan pada Yiwen dia juga tidak mau cerita. Sepertinya ini sangat rahasia" gumam Lian yin, dengan mata seakan ia menunjukan sedang berpikir apa yang harus di lakukan lagi. 


"Apa kamu gak ajak Yiwen sekalian?" Tanya Lay.


"Aku akan bawa dia, kalau dia gak ikut mana bisa aku menemukan bukti nantinya. Lagian aku yakin dia pasti tahu tempat itu. Setiap detail tempat itu" gumam Lian yin.


Lay serta Changmin gak tahu apa yang di maksud Lian yin tadi. 


"Gimana soal gadis yang ada dalam perjodohan yang di tulis kakek kamu. Siapa dia?" Tanya Lay, yang teringat jika Lian yin pernah cerita soal perjodohan.


"Dia adalah Yiwen, aku gak nyangka jika kakek yiwen dan kakek aku adalah teman lama. Pantas saja saat pertama kali melihat kakek Yiwen aku sangat familiar tapi aku lupa pernah bertemu dengannya di mana. Dan sekarang semua sudah jelas. Aku tidak ragu atau takut lagi temtang perjodohan itu." Ucap Lian yin, yang mulai mengambil lagi botol minuman, dan segera meneguknya habis.


"Jadi kamu mau ajak yiwen ke tempat itu, karena dia punya masa lalu di sana" sambung Lay, menyondongkan tubuhnya agak ke depan. 


"Iya, dia pernha tinggak di sana, menghabisakn masa kecilnya di sana." Gumam Lian yin. 


"Jadi kemarin rumah di pohon itu bukan kuburan, aku kira di sana kuburan. Ternyata foto itu hanya hiasan" saut Changmin di balas pukulan di kepalanya oleh Lay.


"Kenapa kamu memukulku?" Tanya Changmin, menatap ke arah Lay. 


"Kamu itu mana mungkin itu kuburan, kamu tahu sendiri kuburan orang tua Lian yin itu di mana. Jadi jangan asal bicara kalau Yin marah dengan kamu gimana?" Ucap Lay kesal, ia mencoba mengingatkan Changmin agar tidak sembarangan bicara. 

__ADS_1


"Sudah Lay, aku tidak marah denganya, dia hanya bercanda. Lagian foto itu sebenarnya hanya sebagai kenangan kakek Yiwen" ucap Lian yin. 


"Ya sudah, sekarang kita harus buat perlindungan yang tidak bisa tembus siapapun untuk menjaga lembaran kertas itu" ucap Changmin, menawarkan sebuah idr untuknya.


"Kamu mau berapa lama buatnya, apa bisa 1 atau 3 jam jadi. Kita butuh perlindungan itu seceepatnya. Tapi aku yakin jika ayah Yiwen yang pegang pasti aman. Sia menciptakan semuanya tidak butuh waktu lama." Gumam Lay, menatap ke arah Lian yin. 


"Apa yang kamu katakan, ini akan jadi hal yang sangat membosankan, pekerjaan yang membuat kepala pusing. Apalagi kita juga tidak tahu di mana tempatnya. Kita harus menyusin satu persatu, melihat detail peta yang tidak kita tahu. Dan melakukan sebuah hak yang tidak kita ketahui sebelumya" gumam Lian Yin, ia mulai merasa sangat resah, apa yang harus di lakukan selanjutnya. 


"Yin, apa kamu sudah tanya pada ayah Yiwen soal potongan kertas itu. " tanya Lay yang teringat apa Yiwen tahu tentang hal itu. 


"Dia yang memberi tahu aku jika dia tidak memegang potongan kertas itu lagi. Semua ada di tangan Yiwen. Dan sekarang entah Yiwen sudah membuangnya atau ia simpan. Aku juga belum sempat bertanya dengannya. Ingin aku bertanya dengannya tapi aku ragu" gumam Lian yin, memegang kepalanya yang terasa sangat penat. 


"Lebih baik kita sekarang keluar, soal robot itu. Kita bisa bahas lagi. Changmin dan Grace akan membuat sketsnya lebih dulu. Dan aku juga akan melanjutkan penyelidikan aku. Soal pengawal ayah Grace sudah aku tangkap dan dia ada di penjara bawah tanah, jadi aku harus segera introgasi dia sekarang" ucap Lay, yang mulai mengakhiri pembicaraan mereka. 


"Baiklah, kita pergi. Jangan sampai semua ada yang tahu tentang masalah tadi termasuk para wanita. Aku juga mau bertanya dengan Yiwen." Ucap Lian yin, yang mulai bangkit dari duduknya. 


"Yin, apa aku boleh bawa Grace untuk berada di sini. Hanya di sini tempat yang aman." Ucap Changmin. 


"Lay kamu nanti bantu aku bawa Grace di sini, aku mau merawatnya di sini sekalian melakukan apa yang kita rencanakan. Tapi kamu jangan tinggalkan aku berdua. Kamu harus tetap temani aku juga nantinya." Gumam Changmin.


"Baiklah, aku akan temani kamu sama dia, lagian ini juga tugas aku. Tapi aku mau pergi dulu. Para pengawal itu sudah menunggu untuk di introgasi" ucap Lay, yang mulai melangkahkan kakinya pergi di susul dengan Changmin yang berjalan di belakangnya.


Lian yin berjalan mencari Yiwen yang entah sekarang dia pergi kemana. Tapi saat terakhir melacak tadi, ia sudah berada di ruang keluarga.sedang nonton tv di sana sendirian.


Lian yin yang sudah tahu keberadaan Yiwen. Ia langsung menuju ke tempat di mana Yiwen sekarang berada. Ia berjalan menuju ke ruang keluarga dengan langkah sangat hati-hati. Ia tidak mau mengganggu Yiwen yang lagi sibuk dengan tv-nya, dan berencana untuk mengejutkannya nanti.


"Hayoo siapa aku" ucap Lian yin menutup ke dua mata yiwen dengan telapak tangannya, dari belakang.


Yiwen ememgang ke dua tangan lian yin di matanya. "Yin apa-apan kamu" ucao Yiwen. 


"Ternyata kamu tahu jika aku Lian yin." Ucap Lian yin, yang kangaung meloncat ke depan, dan duduk tepat di samping Yiwen. 


"Kamu sudah gak marah lagi dengan aku?" Tanya Yiwen.

__ADS_1


"siapa yang marah, aku hanya pergi ingin bertemu dengan Changmin sebentar, karena ada hal yang aku ingin bicarakan padanya. Nanti kalau kota audaj sampai di rumah akan bicarakan semuanya pada kamu." Ucap Lian yin, menarik kepala Yiwen pelan, agar bersandar di pundaknya. Jemari tangan terus mengusap lembut kepala Yiwen. 


"Baiklah, kamunjanji ya ceita semuanya padaku" ucap Yiwen. 


"Iya aku janji. Lagian ada juga yang ingin aku tanyakan pada kamu nanti syang" gumam Lian yin, menempelkan kepalanya dengan pandangan menatap ke depan tv. "Oya, gimana syang apa ayah kamu sudah menghubungi kamu?" Tanya Lian yin yang duduk bersandar di sofa. Dengan ke dua tangan di rentangkan di atas sofa. Ia memang sengaja melepaskan tangannya di kepala Yiwen. Dan membiarkan Yiwen bersandar di dadanya


"Kata ayah, kita selesaikan masalah kita dulu di sini. Setelah itu besok kita balik. Ayah tahu kalu kamu dalam situasi sulit. Dan ayah juga gak mau terlalu membebankan kamu" ucap Yiwen, bersandar di dada Lian yin, dengan tangan memegang dada bidangnya. 


"Ya sudah sekarang apa perlu kita ikut Lay intrpgasi para pengawal yang membuat rusuh kantor kita?" Ucap Lian yin.


"Bentar aku mau ambil minum dulu syang, aku haus nih" ucap Yiwen bangkit dari duduknya, dan mulai mengambil beberapa minuman dingin di kulkas. 


"Syang sini duduk, aku ingin bicara" ucap Lian Yin.


"Kenapa aku harus diduk di situ, kalau aku gak mau gimana?" Ucap Yiwen, dengan senyum menggodanya. Ia meletakkan minuman di dekapannya di atas meja.


"Kalau kamu nggak mau ya sudah" gumam Lian yin pura-pura kesal pada Yiwen. 


"Ya, marah. Aku itu maunya duduk di sini" ucap Yiwen, yang langsung duduk di pangkuan lian yin.


Lian yin tersenyum, dan langsung mengecup pipi Yiwen lembut.


"Istri aku ini suda pandai merayu ya" gumam Lian yin.


"Sekali-sekali aku ingin bermanja dengan suami aku apa gak boleh syang" gukam Yiwen, dengan jemari menyentuh wajah Lian yin.


"apa kamu gak mau jika di lihat Changmin dan Lay nantinya" ucap lian yin, memegang pinggang yiwen


"Kenapa harus malu syang, lagian kita juga tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin saling mesra saja. " ucap Yiwen. "Mereka juga pasti pernah melakukan hal yang sama dengan pasangannya masing-masing. Jadi gak usah canggung algi dengan mereka" lanjutnya


"Kalau kamu mau goda aku, nanti saja syang di kamar" gumam Lian yin, mengecup bibir Yiwen agar tidak banyak bicara lagi.


Yiwen membalas kecupan lian yin, tanpa rasa malu di depan ruang keluarga, dengan tangan memeluk leher Lian yin. Mereka bermain bibir dengan sangat lihainya saling membalas satu sama Lain. Dan tangan Lian yin memegang punggung Yiwen

__ADS_1


__ADS_2